USAHA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU - PowerPoint PPT Presentation

peta
usaha peningkatan profesionalisme guru n.
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
USAHA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU PowerPoint Presentation
Download Presentation
USAHA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

play fullscreen
1 / 66
Download Presentation
USAHA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
524 Views
Download Presentation

USAHA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. USAHAPENINGKATAN PROFESIONALISME GURU Disampaikan Oleh: Drs. Agus Suharjana, M.Pd.HP: 08121553534

  2. Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dsb) • Profesionalisme diartikan sebagai mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. • Profesionalisme ditandai dengan adanya standar atau jaminan mutu seseorang dalam melakukan suatu upaya profesional.

  3. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. (UU RI No.14 th. 2005) • Etos kerja merupakan semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.

  4. Etos kerja seorang guru adalahselalu membangun suasana ilmiah, memberikan kesempatan kepada siswa belajar dari berbagai sumber belajar dan membangun makna baik melalui interaksi sosial maupun personal serta menginternalisasi cara ilmu pengetahuan diperoleh, substansi ilmu pengetahuan, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Kemampuan yang harus dimiliki agar guru Professional : • Mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajar. • Menguasai secara mendalam mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya kepada siswa. • Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi • Mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. • Merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

  6. Prinsip profesionalitas dari profesi guru : • Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme. • Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan ahlak mulia • Memiliki kualitas akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas. • Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. • Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.

  7. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja. • Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat. • Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. • Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

  8. Kompetensi Guru Berbagai masalah yang berkaitan dengan kondisi guru : 1. Adanya keberagaman kemampuan guru dalam proses pembelajaran dan penguasaan pengetahuan. 2. Belum adanya alat ukur yang akurat untuk mengetahui kemampuan guru. 3. Pembinaan yang dilakukan belum mencerminkan kebutuhan. 4. Kesejahteraan guru belum memadai.

  9. Rendahnya kualitas pendidikan antara lain: • Kemampuan siswa dalam menyerap mata pelajaran yang diajarkan guru kurang maksimal. • Kurang sempurnanya pembentukan karakter yang tercermin dalam sikap dan kecakapan hidup yang dimiliki siswa.

  10. Badan Akreditasi dan Sertifikasi mengajar, sebagai upaya peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan secara nasional. • Pada Bab IV pasal 8 UURI No. 14 tahun 2005, menyebutkan bahwa: • Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

  11. Kualifikasi akademik dapat diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program Diploma IV. KOMPETENSI diartikan sebagai pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Standar Kompetensi Guru adalah: suatu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perilaku perbuatan seseorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas, kualifikasi dan jenjang pendidikan.

  12. Kompetensi guru ada 4 kompetensi,yaitu: • Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. • Kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan kepribadian yang mantap, beraklak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. • Kompetensi profesional, yaitu kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. • Kompetensi sosial, yaitu kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat seikitar.

  13. Dittendik 2003 telah merumuskan 7 komponen kompetensi guru, yaitu: • Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran t.d.: • Penyusunan Rencana Pembelajaran. • Pelaksanaan interaksi belajar mengajar • Penilaian prestasi belajar peserta didik. • Pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik.

  14. Komponen Kompetensi Pengembangan Potensi terdiri atas: 5. Pengembangan profesi. • Komponen Kompetensi Penguasaan Akademik , terdiri atas: 6. Pemahaman wawasan kependidikan. 7. Penguasaan bahan kajian akademik.

  15. Gambaran kompetensi dalam bentuk indikator, sebagai berikut: KOMPETENSI : 1. Penyusunan Rencana Pembelajaran. INDIKATOR: • Mampu mendeskripsikan tujuan pembelajaran. • Mampu memilih/menentukan materi. • Mampu mengorganisasi materi. • Mampu menentukan metode/strategi pblj. • Mampu menentukan media/alat peraga pblj. • Mampu menyusun perangkat penilaian. • Mampu menentukan teknik penilaian. • Mampu mengalokasi waktu.

  16. KOMPETENSI: 2. Pelaksanaan interaksi belajar mengajar. INDIKATOR: • Mampu membuka pelajaran. • Mampu menyajikan materi. • Mampu menggunakan metode/strategi. • Mampu menggunakan alat peraga/media. • Mampu menggunakan bahasa yang komunikatif. • Mampu memotivasi siswa. • Mampu mengorganisasi kegiatan. • Mampu berinteraksi dengan siswa. • Mampu menyimpulkan pembelajaran. • Mampu memberikan umpan balik. • Mampu melaksanakan penilaian. • Mampu menggunakan waktu.

  17. KOMPETENSI: 3. Penilaian prestasi belajar peserta didik. INDIKATOR: • Mampu memilih soal berdasarkan tingkat kesukaran. • Mampu memilih soal berdasarkan tingkat pembeda. • Mampu memperbaiki soal yang tidak valid. • Mampu memeriksa jawaban. • Mampu mengklasifikasi hasil-hasil penilaian. • Mampu mengolah dan menganalisis hasil penilaian. • Mampu menyusun laporan hasil penilaian. • Mampu membuat interpretasi kecenderungan hasil penilaian. • Mampu menentukan korelasi antar soal berdasarkan hasil penilaian. • Mampu mengidentivikasi tingkat variasi hasil penilaian. • Mampu menyampaikan dari hasil penilaian secara jelas dan logis.

  18. KOMPETENSI: 4. Pelaksanaan TL (tindak lanjut) hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. INDIKATOR: • Menyusun program TL hasil penilaian. • Mengklasifikasikan kemampuan siswa. • Mengidentifikasi kebutuhan TL hasil penilaian. • Melaksanakan TL . • Mengevaluasi hasil TL hasil penilaian. • Menganalisis hasil evaluasi program TL hasil penilaian

  19. KOMPETENSI: 5. Pengembangan Profesi INDIKATOR: • Mengikuti informasi perkembangan IPTEK yang mendukung profesi melalui berbagai kegiatan ilmiah. • Mengalihbahasakan buku pelajaran/karya ilmiah. • Mengembangkan berbagai model pembelajaran. • Menulis makalah. • Menulis/menyusun diktat pelajaran. • Menulis buku pelajaran. • Menulis modul pelajaran.

  20. 8. Menulis karya ilmiah populer. 9. Melakukan penelitian ilmiah (action research). 10. Menentukan teknologi tepat guna. 11. Membuat alat peraga. 12. Menciptakan karya seni. 13. Mengikuti pelatihan terakreditasi. 14. Mengikuti pendidikan kualifikasi. 15. Mengikuti kegiatan pengembangan kurukulum.

  21. KOMPETENSI: 6. Pemahaman Wawasan Kependidikan INDIKATOR: 1. Memahami visi dan misi pendidikan nasional. 2. Memahami hubungan pendidikan dan pengajaran. 3. Konsep pendidikan dasar dan menengah. 4. Memahami fungsi sekolah. 5. Mengidentifikasi permasalahan umum pendidikan dalam hal proses dan hasil penilaian. 6. Membangun sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan sekolah dan luar sekolah.

  22. KOMPETENSI: 7. Penguasaan bahan kajian akademik. INDIKATOR: 1. Memahami struktur pengetahuan. 2. Menguasai substansi materi. 3. Menguasai substansi khusus sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan siswa.

  23. PENUTUP GURU MERUPAKAN KUNCI UTAMA KEBERHASILAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. PROFESIONALISME GURU DAPAT DITINGKATKAN MELALUI: 1. PENDIDIKAN 2. PELATIHAN PEMBINAAN TEKNIS SECARA BERKELANJUTAN. 3. PEMBENTUKAN WADAH PEMBINAAN PROFESIONALISME GURU ( KKG dan MGMP) SLMT BERJUANG. TMKSH

  24. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KTSP • Berpusat pada potensi,perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. • Beragam dan terpadu • Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,teknologi dan seni. • Relevan dengan kebutuhan kehidupan • Menyeluruh dan berkesinambungan • Belajar sepanjang hayat • Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

  25. ACUAN OPERASIONAL PENYUSUNAN KTSP • Peningkatan iman dan takwa serta ahlak mulia • Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik • Keragaman potensi dan karakter daerah dan lingkungan • Tuntutan pembangunan daerah dan nasional • Tuntutan dunia kerja

  26. 6. Perkembangan IPTEKS 7. Agama 8. Dinamika perkembangan global 9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan 10.Kondisi sosial budaya masyarakat setempat 11.Kesetaraan Jender 12.Karakteristik satuan pendidikan

  27. KOMPONENTSP A. TUJUAN PENDIDIKAN TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN B. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN C. KALENDER PENDIDIKAN

  28. TUJUANPENDIDIKANTINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut: • Tujuan pendidikan dasar adalah meletakan dasar kecerdasan,pengetahuan,kepribadian,ahlak mulia,serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. • Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. • Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan,pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

  29. STRUKTUR DAN MUATANKTSP • Struktur KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam Standar Isi, yg dikembangkan dari kelompok mata pelajaran sbb. • Agama dan ahlak mulia • Kewarganegaraan dan kepribadian • Ilmu Pengetahuan dan Teknologi • Estetika • Jasmani, olahraga dan kesehatan

  30. Lanjutan ….. • Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. • Mata pelajaran • Muatan lokal • Kegiatan Pengembangan diri • Pengaturan beban belajar • Kenaikan Kelas, Penjurusan, dan kelulusan • Pendidikan kecakapan Hidup • Pendidikan berbasis Keunggulan Lokal dan Global

  31. 1. Mata Pelajaran, beserta alokasi waktu untuk tiap-tiap tingkat satuan pendidikan tertera pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi 2. Muatan lokal • merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. • Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Isi berarti bahwa dalam satu tahun, satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal.

  32. 3. Kegiatan Pengembangan Diri • Kegiatan pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengeskpresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. • Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

  33. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan kepramukaan, kepemimpinan, dan kelompok ilmiah remaja. • Pengembangan diri BUKAN merupakan mata pelajaran. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.

  34. 4. Pengaturan Beban Belajar • Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB baik kategori standar maupun mandiri, SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori standar • Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) dapat digunakan oleh SMP/MTs/SMPLB kategori mandiri, dan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori standar.

  35. Beban belajar dalam SKS digunakan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri. • Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah MAKSIMUM EMPAT JAM PEMBELAJARAN PER MINGGU SECARA KESELURUHAN. • Pemanfaatan jam PEMBELAJARAN TAMBAHAN MEMPERTIMBANGKAN KEBUTUHAN PESERTA DIDIK DALAM MENCAPAI KOMPETENSI, DISAMPING DIMANFAATKAN UNTUK MATA PELAJARAN LAIN YANG DIANGGAP PENTING DAN TIDAK TERDAPAT DI DALAM STRUKTUR KURIKULUM YANG TERCANTUM DI DALAM STANDAR ISI.

  36. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% - 40%, SMP/MTs/SMPLB 0% - 50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% - 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran ybs. Pemanfaatan alokasi waktu tsb mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi • Alokasi waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.

  37. Alokasi waktu untuk tatap muka, penugasan struktur, dan kegiatan mandiri tdk terstruktur untuk SMT/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yg menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sbb. • Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas : 40 menit tatap muka, 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. • Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas : 45 menit tatap muka, 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.

  38. 5. Ketuntasan Belajar • Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam satu kompetensi dasar berkisar antara 0 – 100%. • Kriterian ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. • Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangan kompleksitas SK dan KD tingkat kemampuan ratarata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. • Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal

  39. Pelaporan hasil belajar (raport) peserta didik diserahkan pada satuan pendidikan dengan memperhatikan ramburambu yang disusun oleh direktorat teknis terkait. 6. Kenaikan kelas, dan Kelulusan • Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait.

  40. Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: • Menyelesaiakan seluruh program pembelajaran; • Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani,olahraga, dan kesehatan; • Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran IPTEK; dan • Lulus Ujian Nasional.

  41. 7. Penjurusan • Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. • Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. • Penujuran pada SMK/MAK didasarkan pada spektrum pendidikan kejuruan yang diatur oleh direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

  42. 8.Pendidikan Kecakapan Hidup a.Kurikulum untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK dpt memasukan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, sosial, akademik dan/atau kecakapan vokasional. b.Dapat merupakan bagian dari pendidikan semua mata pelajaran c. Dapat diperoleh dari peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yg sudah memperoleh akreditasi.

  43. 9. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global a.Kurikulum untuks semua satuan pendidikan dapat memasukan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. b.Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran. c.Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yg sudah memperoleh akreditasi. 10. Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.

  44. PENGEMBANGAN SILABUS A.Pengertian Silabus • Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. pencapaian kompetensi untuk penilaian. • Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

  45. B. Prinsip Pengembangan Silabus • ILMIAH,yaitu keseluruhan materi dan kegiatan yg menjadi muatan dlm silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. • RELEVAN, yaitu cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik. • SISTEMATIS , yaitu komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. 4. KONSISTEN, yaitu adanya hubungan yg konsisten (ajeg,taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian. 4. KONSISTEN, yaitu adanya hubungan yg konsisten (ajeg,taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

  46. 5. MEMADAI, yaitu cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penialian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. 6. AKTUAL DAN KONTEKSTUAL, yaitu cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. 7. FLEKSIBEL, yaitu keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. 8. MENYELURUH, yaitu komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif,afektif, dan psikomotor)

  47. c. Unit Waktu Silabus 1.Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tngkat satuan pendidikan. 2.Penyusunan dilabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. 3.Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dng alokasi waktu yg tersedia pada struktur kurikulum. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi.

  48. D. Pengembang Silabus Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau kelompok dalam sebuah sekolah/madarsah atau beberapa sekolah/madrasah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. • Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/madrasah dan lingkungannya. • Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah/madrasah tsb.