1 / 48

UPAYA PERBAIKAN Gizi

LAILA FATMAWATI 101111102 RISKA HARMASDIYANI 101111066 ANNISA NUR L 101111045 ATINA HUSNAYAIN 101111042. UPAYA PERBAIKAN Gizi. Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan

zion
Download Presentation

UPAYA PERBAIKAN Gizi

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. LAILA FATMAWATI 101111102 RISKA HARMASDIYANI 101111066 ANNISA NUR L 101111045 ATINA HUSNAYAIN 101111042 UPAYA PERBAIKAN Gizi

  2. Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan Visi pembangunan gizi adalah mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi keluarga yang optimal. Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, pemeliharaan dan aktifitas. Setelah mengetahui penyebab masalah kurang gizi, perlu adanya strategi program gizi khususnya pada program perbaikan gizi makro. Agar program terlakasana perlu kerjasama berbagai pihak (pemerintah, swasta, dan pihak terkait lainnya) Pendahuluan

  3. Permasalahan gizi di Indonesia  masalah gizi makro dan mikro Masalah gizi di Indonesia erat kaitannya dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan penghasilan A. Permasalahan Gizi di Indonesia

  4. B. Status Gizi pada Balita Tabel Jumlah balita gizi buruk (BB/U<-3SD) dan gizi kurang (BB/U <-2SD) Susenas 1989-2003

  5. Tabel Prevalensi balita gizi buruk (BB/U<-3SD) dan gizi kurang (BB/U <-2SD) Susenas 1989-2003

  6. Jumlah penderita gizi buruk meningkat dari tahun 1989 ke tahun 1995, lalu cenderung fluktuatif sampai tahun 2003. Masalah tingginya prevalensi gizi kurang pada anak balita  berhubungan dengan tingginya BBLR  masalah pertumbuhan anak usia masuk sekolah  wanita usia subur  melahirkan anak dengan risiko BBLR disertai dengan masalah anemia dan gizi mikro lainnya.

  7. C. Penyebab Permasalahan Gizi

  8. 1. Penyebab Langsung : Berasal dari makanan dan penyakit 2. Penyebab Tak Langsung : a. Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. b. Pola pengasuhan anak kurang memadai. c. Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. 3. Pokok masalah di masyarakat Kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat 4. Akar Masalah Interaksi antara kemiskinan dan faktor sosial,seperti pendidikan, pekerjaan, perilaku merokok, menikah usia muda, dan cakupan pelayanan kesehatan yang belum optimal, juga menyebabkan masalah gizi menjadi kronis

  9. Seimbang dan Bermutu • Peran Berbagai Kementerian • Gerakan Nasional Sadar Gizi D. Upaya Perbaikan Gizi

  10. Penanganan masalah gizi tidak bisa dilakukan oleh Kementerian Kesehatan. Peningkatan peran aktif Kementerian Pertanian  Badan Ketahanan Pangan  menyediakan makanan yang bergizi, berimbang dan beragam Kementerian Kelautan dan Perikanan  mendorong produksi perikanan nasional dan diikuti gerakan gemar makan ikan. 1. Seimbang dan Bermutu

  11. Penanganan masalah kurang gizi tidak hanya dilakukan oleh Kemenkes melalui upaya perbaikan gizi  perlu peran serta dan kerjasama dari kementerian lain : - Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan - Kementerian Sosial 2. Peran Berbagai Kementrian

  12. Diawali dengan gerakan sadar gizi “Empat Sehat Lima Sempurna”  Gerakan Nasional Sadar Gizi (GNSG) dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan. 3. Gerakan Sadar Gizi

  13. Kadarzi merupakan suatu gerakan yang terkait dengan program Kesehatan Keluarga dan Gizi (KKG), yang merupakan bagian dari Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) Dalam rangka meningkatkan mutu konsumsi makanan  status gizi masyarakat PENGANTAR

  14. Tujuan : Setengah dari keluarga Indonesia menjadi Keluarga Sadar Gizi Mewujudkan pola konsumsi makanan yang baik dan benar PENGANTAR

  15. Kadarzi adalah keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mampu mengenali dan mengatasi masalah gizi anggota keluarganya. Hal ini tercermin dari konsumsi pangan yang beraneka ragam dan bermutu gizi seimbang. Disebut Kadarzi jika sikap dan perilaku keluarga dapat secara mandiri mewujudkan keadaan gizi yang sebaik-baiknya. PENGERTIAN

  16. Menimbang berat badan secara teratur • Berat badan merupakan petunjuk yang baik akan keadaan gizi dan kesehatan. • Perubahan berat badan menunjukkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan. Indikator Keluarga Sadar Gizi

  17. 2. Memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi sejak lahir sampai umur enam bulan (ASI Eksklusif) • Bayi sejak lahir hingga usia enam bulan hanya diberikan ASI saja, karena ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, bersih dan sehat. • ASI saja cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan untuk tumbuh kembang normal. • ASI juga praktis dan murah serta dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi serta bisa menjalin kasih sayang antara ibu dan anak. Indikator Keluarga Sadar Gizi

  18. 3. Makan beraneka ragam • Satu jenis bahan makanan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan gizi. • Dengan makan beraneka ragam dapat memenuhi semua kebutuhan gizi yang diperlukan tubuh. • Untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi, makanan sehari-hari yang dikonsumsi sebaiknya terdiri dari makanan pokok (sumber karbohidrat), lauk pauk (sumber protein), sayuran dan buah (sumber vitamin, mineral, serat) serta cukup mengkonsumsi cairan / air. Indikator Keluarga Sadar Gizi

  19. 4. Menggunakan garam beryodium • Garam beryodium yang dikonsumsi setiap hari bermanfaat untuk mencegah timbulnya Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). • GAKY dapat menghambat perkembangan tingkat kecerdasan pada anak-anak, penyakit gondok endemik dan kretin. Indikator Keluarga Sadar Gizi

  20. 5. Minum suplemen gizi sesuai anjuran Kebutuhan suplemen gizi adalah kapsul Vitamin A untuk bayi dan balita dan tablet Fe (zat besi) untuk ibu hamil. Indikator Keluarga Sadar Gizi

  21. Depkes RI, 2006 : Makanantambahanpadabayiadalahmakananatauminuman yang mengandungzatgizi yang diberikanpadabayiatauanakberusia 6-24 bulanuntukmemenuhikebutuhangiziselaindari ASI WHO, 2003 : Makanantambahanadalahmemberimakanan lain selain ASI olehkarena ASI merupakanmakananalamipertamauntukbayidanharusdiberikantanpamakanantambahansekurang-kurangnya 6 bulan PMT Bayi

  22. Melengkapizat-zatgizi yang kurangkarenakebutuhanzatgiziakansemakinmeningkatsejalandenganbertambahnyausiabayiatauanak • Mengembangkankemampuanbayiuntukmenerimabermacam-macammakanandenganberbagaibentuk, tekstutdan rasa, • Melakukanadaptasiterhadapmakanan yang mengandungkadarenergi yang tinggi • Mengembangkankemampuanuntukmengunyahdanmenelan Tujuan PMT Bayi

  23. Campuranbahanpanganuntukmakananbayi • Campurandasar (basic mix), terdiridariserelia (biji-bijian) atauumbi-umbiandankacang-kacangan. • Campuranganda (multi mix) terdiridarimakananpokoksebagaibahanpanganutamadanzatgizi lain. • Jenismakanantambahan • Makanantambahanlokal • Makanantambahanolahanpabrik

  24. UNICEF dan WHO menyatakanadabeberapaalasanibutidakinginmenyusuibayinyayaitu: • Ibu yang pernahmengalami stress sehinggaproduksi ASI berkurangdantidakinginmenyusuilagisetelahkeadaanibusudahpulihkembali. • Kekurangangiziibuakanmengurangiproduksi ASI sehinggasusu formula danmakanantambahanpadabayimenjadijalankeluarpemenuhannutrisibayi • Bayi yang mengalamidiareakandiberikancairantambahan yang seharusnyapemberian ASI sajasudahcukup. • Banyakjugaibu yang beranggapanjikaanaknyakelaparandanakantidurjikadiberimakan. • Mitosbayi yang diberimakanpisangsewaktuberusia 2 bulanakanmenjadipintardikemudianhari • Terjaditekanandarilingkungansepertipekerjaan, danpromosiprodusenmakananbayi yang belummengindahkan ASI eksklusifselama 6 bulan. AlasanPemberianMakananTambahanpadaBayiUsiakurangdariEnamBulan

  25. Padabulan-bulanpertama, saatbayiberadapadakondisi yang sangatrentan, pemberianmakananatauminuman lain selain ASI akanmeningkatkanrisikoterjadinya, infeksitelinga, alergi, meningitis, leukimia, Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atausindromkematiantiba-tibapadabayi, penyakitinfeksi, danpenyakit-penyakit lain yang biasaterjadipadabayi. RisikoPemberianMakananTambahanpadaBayiUsiakurangdariEnamBulan

  26. Untukmenambahasupangiziibuhamilsehinggakebutuhangiziselamahamildapatterpenuhi. Syaratmakanantambahan yang sehatbagiibuhamil: Menyediakanenergi yang cukup (kalori) untukkebutuhankesehatantubuhibudanpertumbuhanbayi. Menyediakansemuakebutuhanibudanbayi (meliputi protein, lemak, vitamin, dan mineral). Dapatmenghindaripengaruhnegatifbagibayi. Mendukungmetabolismetubuhibudalammemeliharaberatbadansehat, kadarguladarah, dantekanandarah. PMT IbuHamil

  27. Prinsipdalampemberianmakanbagilansiadalamkeadaandaruratadalahsebagaiberikut:Prinsipdalampemberianmakanbagilansiadalamkeadaandaruratadalahsebagaiberikut: Lansiaharusmampumengaksessumber-sumberpangantermasukbantuanpangandenganlebihmudah. Makanandisesuaikandengankondisilansiasertamudahdisiapkandandikonsumsi. Makanan yang diberikanpadalansiaharusmemenuhikebutuhan protein tambahanserta vitamin dan mineral. PMT Lansia

  28. Angkakecukupanenergidanzatgizi yang dianjurkanuntuklansiadalamsehari.

  29. Panti Pemulihan Gizi Atina Husnayain-101111042

  30. GIZI BURUK Kriteria Gizi Buruk Seberapa parah?

  31. Pengertian • Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai (selama 3 bulan berturut-turut tidak naik) dan tidak disertai tanda-tanda bahaya. Kriteria 1. Gizi Buruk Tanpa Komplikasi • a. BB/TB: < -3 SD dan atau; • b. Terlihat sangat kurus dan atau; • c. Adanya Edema dan atau; • d. LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan 2. Gizi Buruk dengan Komplikasi • Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah satu atau lebih dari tanda komplikasi medis berikut: • a. Anoreksia • b. Pneumonia berat

  32. Seberapa parahkah gizi buruk di Jatim? • Berdasarkan hasil survey Pemantauan Status Gizi (PSG) Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) tahun 2010 diketahui bahwa prevalensi gizi buruk di Jawa Timur adalah sebesar 2,5 %. Sedangkan dari hasil laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk tahun 2011 di Jawa Timur terdapat 6925 anak yang menderita gizi buruk.

  33. SOLUSI? Panti Pemulihan Gizi

  34. Panti Pemulihan Gizi Panti Pemulihan Gizi adalahpusat pemulihan gizi buruk dengan perawatan serta pemberian makanan anak secara intensif dan adekuat sesuai usia dan kondisinya, dengan melibatkan peran serta orang tua (ibu) agar dapat mandiri ketika kembali ke rumah.

  35. Apa itu Panti Pemulihan Gizi Aspek Pelayanan: -Medis -Gizi -Perawatan Pemeriksaan & Diagnosa Pengobatan Medis & Terapi Diet

  36. Tujuan: Meningkatkan status gizi dalam rangka perbaikan gizi masyarakat

  37. Panti Pemulihan Gizi Sasaran Tempat Pelaksanaan

  38. Panti Pemulihan Gizi Waktu Pelaksanaan Tenaga kesehatan bertugas merawat pasien secara bergantian selama 24 jam, yaitu selama 7 hari dalam seminggu. Waktu kerja dapat dibagi menjadi 3 shift, yaitu: • pukul 07.00 – 14.00 • pukul 14.00 – 21.00 • pukul 21.00 – 07.00 Pada kondisi tertentu dokter diharapkan dapat bertugas selama 24 jam, jika menjumpai pasien dengan keadaan gawat darurat.

  39. Tenaga Pelaksana Dokter Perawat Supervisor Perawat Ahli gizi Tenaga masak Ibu yang anaknya dirawat

  40. Sarana dan Kelengkapan 1. Tempat tidur dan kelengkapannya 2. Ruang administrasi 3. Ruang konseling kesehatan dan gizi 4. Ruang bermain anak-anak 5. Ruang penyimpanan obat 6. Ruang pembuatan dan penyimpanan makanan formula 7. Dapur dan gudang penyimpanan bahan makanan 8. Sumur, kamar mandi, WC, tempat mencuci dan menjemur 1. Peralatan medis dan obat-obatan 2. Antropometri set 3. Media penyuluhan (KIE) 4. Peralatan dapur 5. Bahan pembuat makanan formula

  41. Tahapan Pelaksanaan Advokasi dan Sosialisasi Penjaringan Sasaran Pelatihan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Pelayanan

  42. Terapi Gizi meliputi 3 Fase yaitu Fase Stabilisasi, Fase Transisi, dan Fase Rehabilitasi. a. Fase Stabilisasi - Energi : 80 – 100 kkal/kg BB/hari - Protein : 1- 1,5 gram/kg/BB/hari - waktu pemberian : hari ke 1 – 7 - Jenis makanan : F75 - Frekuensi pemberian : 12 x (bebas ) - Porsi makanan kecil dengan frekuensi makanan sering - ASI tetap diberikan b. Fase Transisi - Energi : 100 – 150 kkal/kg BB/hari - Protein : 2- 3 gram/kg/BB/hari - waktu pemberian : hari ke 8 – 14 - Jenis makanan : F100 - Frekuensi pemberian : 6 x (bebas) - Porsi makanan kecil dengan frekuensi makanan sering - ASI tetap diberikan c. Fase Rehabilitasi - Energi : 150 –220 kkal/kg BB/hari - Protein : 3- 4 gram/kg/BB/hari - waktu pemberian : minggu ke 2 – 6 - Jenis makanan : makanan lunak/makanan lembik dan sari buah - Frekuensi pemberian : 3 x (bebas) - Porsi makanan kecil dengan frekuensi makanan sering - ASI tetap diberikan

  43. Makanan formula WHO F75 Bahan: - susu skim bubuk 25 gram ( 2,5 sdm ) - gula pasir 100 gram (10 sdm ) - minyak sayur 30 gram ( 3 sdm) - mineral mix @ 8 gram dilarutkan dalam 20 ml - tambahkan air s/d 1000 ml Cara membuat: Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan mineral mix @8 gram dilarutkan dalam 20 ml, kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak selama 4 menit bagi anak yang diare persisten/disentri. Makanan formula WHO F100 Bahan: - susu skim bubuk 25 gram ( 2,5 sdm ) - gula pasir 70 gram ( 7 sdm ) - minyak sayur 27 gram ( 2,5 sdm ) - mineral mix @ 8 gram dilarutkan dalam 20 ml - tambahan air s/d 1000 ml

  44. Melalui dukungan dana APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, ataupun swadana Puskesmas, maka di Jawa Timur telah dikembangkan TFC di: 1. Kabupaten Jombang: - Puskesmas Mojoagung - Puskesmas Tembelang 2. Kabupaten Situbondo: - Puskesmas Panarukan 3. Kabupaten Probolinggo: - Puskesmas Pajarakan 4. Kabupaten Gresik: - Puskesmas Alun-alun 5. Kota Surabaya: - Puskesmas Dupak 6. Kabupaten Bangkalan: - Puskesmas Kota 7. Kabupaten Ponorogo: - Puskesmas Balong - Puskesmas Jambon

  45. Sekian Terima kasih

More Related