1 / 1

Saksi Kasus Sawito

Saksi Kasus Sawito

todd
Download Presentation

Saksi Kasus Sawito

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Saksi Kasus Sawito Kedekatan yang antara saya dan Bung Hatta, kiranya lebih jauh dari sekadar hubungan hormat antara menantu dan mertua. Bagi saya, Bung Hatta adalah pula tokohku, patriot pujaanku. Saya beruntung mempunyai masa kanak-kanak yang mungkin lebih baik dari nasib anak-anak zaman sekarang. Saya katakan, saya lebih beruntung karena saya mempunyai pujaan, mempunyai tokoh. Pada zaman saya, anak-anak tidak ragu-ragu mengakui Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Bung Tomo sebagai “jagoan” mereka. Apa yang ada sekarang lain. Kalau Ali Murtopo tidak memulai mengangkat kembali nama Sukarno, pasti tidak seperti sekarang ini Sukarno dipuja-puja lagi. Kebutuhan kanak-kanak memiliki model “jagoan” atau figur ketokohan telah menemukan Mannix, Kojak, atau Petrocelli. Nama-nama yang tanpa mengandung risiko, pembela-pembela kebenaran yang jauh dari budaya yang ada di sekeliling kita. Tokoh Muhammad Hatta utuh dalam konsepsi ketokohan. Namun dalam kenyataan tidak semua pemuja-pemujanya, atau lebih tepat saya katakan pengagum-pengagumnya, berani di setiap saat terang-terangan. Ibarat mendekat jika bermadu, menjauh jika bergetah. Bukan Bung Hatta yang pernah berubah, atau pernah goyah kepribadiannya maka beliau dijauhi, seperti di kala Bung Karno memasuki bekas wakil presiden pertama ini, atau seperti di saat setelah disiarkannya ‘ Kasus Sawito’ oleh Menteri Sudharmono semacam itu, tetapi karena unsur ketakutan dan risiko memang masih sangat berperan di dalam kultur kita. Untuk waktu yang lama kiranya kultur politik semacam ini akan tetap berlaku di negeri kita. Betapa menyedihkan bahwa untuk masa-masa mendatang masih akan terjadi bagi seseorang, yang bukan karena soal kepribadiannya, sekarang dipuja dan nanti dicerca. Saya merasa sangat beruntung, betapapun saya terkena “getah”, dapat menemani Bung Hatta di dalam ketersendiriannya. Saya bersyukur bisa mendampingi dan mengamati raut muka beliau, menatap mata beliau yang tajam bersinar, yang mengungkapkan kekerasan sikap dan keteguhan hati. Pada suatu saat, sehabis Bung Hatta selesai menjawab secara tertulis pertanyaan-pertanyaan Jaksa Agung mengenai ‘Kasus Sawito’ beliau keluarkan isi hati beliau kepada saya, “Aneh, saya telah datang menemui Soeharto, dan saya jelaskan duduk perkaranya, tetapi mengapa Sudharmono demikian Jaksa Agung pun demikian.” Saya dampingi mertua saya yang rapuh fisik itu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tertulis Jaksa Agung, yang dikatakan sebagai formalitas. Dimulai dari pertanyaan pertama, “Bila Bapak kenal dengan Sawito Kartowibowo, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo, Mayor Jendral TNI Iskaq Djuarsa, dan Drs. Singgih” sampai pertanyaan “Apa benar Bapak mengundang Sawito dalam acara pemberian gelar Doktor H.C. dari Universitas Indonesia untuk Bapak?” dan seterusnya. Nampak ketulusan budidayanya dari tangannya yang memegang pena, menulis jawaban-jawaban itu dengan halusnya. Kesabaran yang selalu nampak di samping ketekunannya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu menenangkan hati saya. Pertanyaan-pertanyaan tertulis itu adalah tanggal 1 Desember 1976. Hadir di rumah kediaman Bung Hatta pada waktu itu adalah Menteri Sudharmono, Jaksa Agung, Menteri Bung Hatta. Bung Hatta minta kepada saya dan istri saya, dan bukan orang lain, untuk menyerahkan jawaban-jawaban tertulis beliau mengenai Sawito itu ke Jaksa Agung seorang yang baik hati dan tugas kedinasan dan kemanusiaan. Bagi saya, ‘Kasus Sawito’ adalah kasus kesederhanaan dan kepolosan Bung Hatta yang disalahgunakan. ‘Kasus Sawito’ telah pula “menggetahi” diri saya. Saya terima itu semua dengan kerelaan dan kesabaran. Pernah seorang profesor mengirim surat kepada Rektor agar berhati-hati terhadap saya. Saya sebagai Pembantu Rektor dan menantu Bung Hatta dapat menyalahgunakan Universitas Indonesia untuk kepentingan mertuanya, demikian peringatannya. Kebetulan beliau seorang wanita, jadi dengan halus saja saya menanggapinya. Sri- Edi Swasono, Pribadi Manusia Hatta, Seri 3, Yayasan Hatta, Juli 2002

More Related