1 / 150

Oleh Agus Suryono

TEORI ILMU-ILMU SOSIAL. Oleh Agus Suryono. SUBSTANSI PEMBELAJARAN TEORI ILMU-ILMU SOSIAL.

camila
Download Presentation

Oleh Agus Suryono

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. TEORI ILMU-ILMU SOSIAL Oleh Agus Suryono

  2. SUBSTANSI PEMBELAJARAN TEORI ILMU-ILMU SOSIAL Mata kuliah ini mengajarkan berbagai konsep dasar dan teori-teori ilmu sosial terutama yang terkait dengan perspektif sosiologi, antropologi, politik, ekonomi, psikologi sosial, hukum, administrasi publik, dan pengembangannya (prospek)

  3. POKOK BAHASAN • Daftar Bacaan (Referensi) • Konsep dan Teori • Memahami Teori Ilmu-Ilmu Sosial • Awal Sejarah Perkembangan Teori Ilmu-Ilmu Sosial • Dasar Pengamatan Ilmu-Ilmu Sosial • Permasalahan Sosial • Kategorisasi Teori Ilmu-Ilmu Sosial

  4. Sifat Hubungan Antar Teori Ilmu-Ilmu Sosial • Persyaratan Studi Teori Ilmu-Ilmu Sosial • Perspektif Perkembangan Teori Ilmu-Ilmu Sosial • Anatomi dan Jenis Teori Ilmu Sosial • Paradigma Ilmu Sosial • Peta Teori Ilmu-Ilmu Sosial • Pertanyaan Besar Teori Ilmu-Ilmu Sosial, tbk

  5. DAFTAR BACAAN (Referensi)

  6. Agger, Ben, 2007, Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan dan Implikasinya, Yogyakarta, Kreasi Wacana. Baert, Patrick, 1998, Social Theory in the Twentieth Century, Cambridge, Polity Press. Beilharz, Peter,2002, Teori-Teori Sosial: Observasi Kritis terhadap Para Filosof Terkemuka, Yogyakarta, Pustaka Pelajar Campbell, Tom, 1994, Tujuh Teori Sosial, Sketsa, Penilaian, Perbandingan, Yogyakarta, Kanisius. Craib, Ian, 1986, Teori-Teori Sosial Modern: Dari Parson Sampai Habermas, Jakarta, Rajawali. Delanty, Gerard, 1999, Social Theory in a Changing World, Conception of Modernity, Cambridge, Polity Press. Doyle, Paul Johnson, 1986, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, (Robert MZ Lawang, penterjemah), Jilid 1,2, Jakarta, Gramedia.

  7. Effendi, Sofian, dkk, 1996, Membangun Martabat Manusia: Peranan Ilmu-Ilmu Sosial Dalam Pembangunan, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press. Giddens, Anthony, 2009, Problematika Utama dalam Teori Sosial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. Hardiman, F.Budi,1993, Menuju Masyarakat Komunikatif, Ilmu, Masyarakat, Politik dan Postmodernisme menurut Jurgen Habermas, Yogyakarta, Kanius. Hoogvelt, Ankie MM, 1995, Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang, (Alimandan, Penyadur), Jakarta, Rajawali. Jackson, Stevi dan Jackie Jones, 2009, Teori-Teori Feminis Kontemporer, Yogyakarta, Jalasutra. Jones, Pip, 2009, Pengantar Teori-Teori Sosial, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia

  8. Kuhn, Thomas,S, 2000, The Structure of Scientific Revolutions: Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains, Bandung, Remaja Rosda Karya . Lechte, John, 2001, 50 Filsuf Kontemporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, Yogyakarta, Kanisius. Polanyi, Michael, 1996, Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama . Ritzer, George, 2002, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Alimandan:Penyadur), Cetakan ketiga, Jakarta, Rajawali . ------------------,2003, Teori Sosial Post Modern, Yogyakarta, Kreasi Wacana. Salim, Agus, 2001, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial: Dari Denzin Guba dan Penerapannya, Yogyakarta, Tiara Wacana.

  9. Sanderson, Stephen.K, 2000, Makro Sosiologi: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial, Jakarta, RajaGrafindo Persada. Sindhunata, 1983, Dilema Usaha Manusia Rasional, Jakarta, Gramedia Soedjatmoko, 1984, Dimensi Manusia dalam Pembangunan, Jakarta, LP3ES Supardan, Dadang, 2008, Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, Jakarta, Bumi Aksara. Suryono, Agus,2004, Pengantar Teori Pembangunan, Malang, Universitas Negeri Malang, UM Press. ------------,2006, Ekonomi Politik Pembangunan dalam Perspektif Teori Ilmu Sosial, Malang, UM Press.

  10. Turner, Bryan, 2000, Teori-Teori Sosiologi: Modernitas-Postmodernitas, Yogyakarta, Pustaka Pelajar . Veeger, KJ, 1990, Realita Sosial, Refleksi Filsafat Sosial Atas Hubungan Individu Masyarakat Dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi, Jakarta,Gramedia Pustaka Utama . Wallace, Walter,L,1990, Metoda Logika Ilmu Sosial, Jakarta, Bumi Aksara. Waters, Malcolm, 1994, Modern Sociological Theory, London-New Delhi, Sage Publications, Thousand Oaks . tbk

  11. KONSEP DAN TEORI

  12. PENDAHULUAN • BERTEORI SOSIAL DIAWALI DENGAN KEMAMPUAN UNTUK MENGERTI DAN MEMAHAMI KONSEP-KONSEP SOSIAL • TEORI SOSIAL MERUPAKAN GABUNGAN ATAU KUMPULAN DARI KONSEP-KONSEP SOSIAL YANG TELAH DIUJI KEBENARANNYA SECARA UMUM (OBYEKTIF, METODOLOGIS) DAN MEMILIKI SIFAT GENERALISASI • BELAJAR TEORI SOSIAL BERBEDA DENGAN PRAKTEK TEORI SOSIAL (AKTUALISASI – REAKTUALISASI)

  13. KONSEP TEORI METODOLOGI

  14. APA ITU KONSEP ? • MERUPAKAN GAMBARAN (WACANA) ABSTRAK DARI FENOMENA ALAMI DAN FENOMENA SOSIAL • WACANA FENOMENA ALAMI, MELAHIRKAN ALIRAN POSITIVISTIK –NATURALISTIK (NATURAL LAW) • WACANA FENOMENA SOSIAL, MELAHIRKAN ALIRAN HUMANISTIK – KULTURALISTIK (SOCIAL LAW)

  15. KONSEP • Fenomena alami, berkaitan dengan: posisi dan lokasi wilayah/geografi, kondisi sumberdaya alam, kondisi kependudukan (SDM) – disebut Trigatra/Sikayamampu

  16. Fenomena sosial, berkait dengan: peristiwa ideologi, peristiwa politik, peristiwa ekonomi, peristiwa sosial, peristiwa budaya, dan peristiwa pertahanan dan keamanan masyarakat (IPOLEKSOSBUDHANKAM) • Ilmu sosial merupakan kajian-kajian yang banyak berkaitan dengan fenomena-fenomena sosial (konsep sosial) yang disebut dengan aspek kemasyarakatan (Pancagatra)

  17. KONSEP-KONSEP DASAR DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL : • Realita atau fenomena • sosial • Individu dan masyarakat • Interaksi sosial • Proses sosial • Kategori sosial • Kolektivitas sosial • Kelompok sosial • Posisi/kedudukan sosial • Peran sosial • Fungsi sosial • Status sosial • Struktur sosial • Kebudayaan • Lembaga/Pranata sosial • Stratifikasi sosial • Kekuasaan dan otoritas sosial • Integrasi/solidaritas sosial • Konflik sosial • Sikap dan perilaku sosial • Penyimpangan/Patologi sosial • Nilai dan norma sosial • Sosialisasi dan akulturasi • Sistem sosial • Organisasi sosial • Harmonisasi/Tertib sosial

  18. FUNGSI KONSEP DALAM TEORI SOSIAL • Memberi pengertian dan pemahaman ttg sesuatu (kognitif dan afektif atau understanding) • Memberikan penjelasan atau keterangan ttg sesuatu (explanasi) • Menilai suatu kondisi obyek sosial (evaluatif) • Dapat memberitahu ttg sesuatu (informatif dan komunikatif) • Menghasilkan suatu istilah yang sifatnya praktis dan sederhana (pragmatis)

  19. TUJUAN KONSEP DALAM TEORI SOSIAL • Sebagai reduksi atau refleksi dari peristiwa, realita, gejala atau fenomena sosial yang berisikan data dan fakta-fakta sosial • Untuk merumuskan kesepakatan (komitmen) definisi, pengertian, istilah, kata-kata, kalimat atau label-label dari fenomena sosial sebagai konsep-konsep sosial

  20. Untuk merumuskan simbol-simbol, kategorisasi, mitos, formula/dalil, dan kode-kode (morse) sebagai hasil konstruksi kelompok tertentu yang sifatnya lebih halus daripada peristiwa dan konsep-konsep sosial yang dirumuskan sebelumnya

  21. MANFAAT KONSEP • Dengan konsep, manusia dapat berkomunikasi dengan manusia lain dan bahkan dengan machluk lain, karena adanya kesamaan pemahaman (mutual understanding) dan kesamaan pemaknaan (mutual meaning)

  22. KONSEP-KONSEP DASAR DALAM ILMU SOSIAL : • Realita atau fenomena • sosial • Individu dan masyarakat • Interaksi sosial • Proses sosial • Kategori sosial • Kolektivitas sosial • Kelompok sosial • Posisi/kedudukan sosial • Peran sosial • Fungsi sosial • Status sosial • Struktur sosial • Kebudayaan • Lembaga/Pranata sosial • Stratifikasi sosial • Kekuasaan dan otoritas sosial • Integrasi/solidaritas sosial • Konflik sosial • Sikap dan perilaku sosial • Penyimpangan/Patologi sosial • Nilai dan norma sosial • Sosialisasi dan akulturasi • Sistem sosial • Organisasi sosial • Harmonisasi/Tertib sosial • Perubahan Sosial

  23. PROSES KONSEP KE TEORI Halus KODE (Askripsi, Morse) FORMULA (dalil, rumus, stikma) MITOS (legenda, cerita) SIMBOL (Bahasa) KATAGORISASI (Teoritisasi) Kasar KONSEP (Istilah) PERISTIWA, FENOMENA Sensing, Persepsi dan Interpretasi Fakta dan Realita

  24. FOKUS PEMBELAJARANTEORI ILMU-ILMU SOSIAL N O N E M P I R I S REALITA E M P I R I S FENOMENA/PERISTIWA KONSEP TEORI METODOLOGI

  25. Peristiwa/Fenomena/Realita/Gejala Proses dan kemampuan Penginderaan (sensing) Definisi konsep (sbg knowledge) Pembentukan proposisi (postulat/aksioma dan teorem) TEORI Non Uji Hipotesis (kualitatif) Uji Hipotesis (kuantitatif) Variabel dan Indikator Definisi operasional Fokus

  26. MEMAHAMI TEORI ILMU-ILMU SOSIAL

  27. MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN

  28. AAH…TEORI!!

  29. KANKER GIGI DAN RONGGA MULUT

  30. UNSUR-UNSUR TEORI(Tom Campbell, 1994) • DEFINISI/ TERMINOLOGI (KONSEP) • DISKRIPTIP (EMPIRIS, FAKTA, DATA, INFORMASI) • PENJELASAN (EKSPLANASI, NARASI, URAIAN, ANALISIS, SINTESA, KONKLUSI, TEMUAN, INOVASI)

  31. TEORI ILMU-ILMU SOSIAL Ilmu Politik/ Adm Teori Politik/ Adm A - Z ILMU-ILMU SOSIAL (UMUM) Ilmu Ekonomi Teori Ekonomi A - Z Sosiologi Teori Sosiologi A - Z

  32. TEORI-TEORI ILMU SOSIAL Teori A - Z TEORI ILMU POLITIK/ADM (KHUSUS) Teori A - Z TEORI ILMU EKONOMI (KHUSUS) Teori A - Z TEORI SOSIOLOGI (KHUSUS)

  33. TEORI • Serangkaian asumsi, konsep, konstrak, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial dan alami secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep • Gabungan dari konsep-konsep yang telah diuji kebenarannya secara sistematis dan metodologis sehingga memiliki sifat obyektif (generalisasi) sebagai kesepakatan dunia akademis

  34. Teori adalah alat untuk memahami kenyataan atau realitas sosial • Teori sebagai alat untuk menyatakan hubungan sistematik antara fenomena atau gejala yang hendak diteliti • Teori selalu lahir dari kenyataan dan selalu diuji pula di dalam kenyataan • Teori merupakan hasil kesepakatan masyarakat akademis sebagai perspektif etik (agenda akademis)

  35. Teori memberikan pola bagi interpretasi data • Teori menghubungkan satu studi dengan studi lainnya • Teori menyajikan kerangka sehingga konsep dan variabel memiliki arti dan makna penting • Teori memungkinkan interpretasi makna yang lebih besar (siap pakai) daripada hasil temuan yang diperoleh dari penelitian (kegunaan laten/hidden)

  36. PERSOALAN POKOK TEORI SOSIAL • Adalah bagaimana memandang dan memahami kenyataan kehidupan sosial sebagai realita yang harus dihadapi secara bijaksana (wisdom) dan bebas nilai (values free/ neutral/ non- etic)

  37. TUJUAN TEORI SOSIAL • Untuk memberikan pengertian dan pemahaman (understanding) terhadap realita/fenomena sosial • Untuk memberikan penjelasan (explanation) terhadap realita/fenomena sosial • Untuk kepentingan prediksi atau peramalan (forcasting) terhadap fenomena-2 sosial • Sebagai kritik dan pengawasan (control) terhadap perkembangan konsep dan teori-teori sosial • Melatih kepekaan dan tanggungjawab sosial (sensitivity and responsebelity)

  38. MANFAAT TEORI SOSIAL • Sebagai alat (instrument) dalam menjelaskan realita/fenomena sosial • Sebagai alat analisis (tools of analysis) terhadap fenomena sosial yang diamati • Sebagai sarana atau upaya peneliti untuk melakukan konstruksi, rekonstruksi atau dekonstruksi teori terhadap realita/ fenomena sosial yang diamati dengan persyaratan: relevan (cocok, layak), aplikabel/manajebel (dapat dilaksanakan), replikan (dapat di daur ulang), dan konsisten (runtut dan sistematik)

  39. INTENSITAS TEORI SOSIAL • Jika situasi dan kondisi dalam keadaan normal (stabil), maka wacana teori memiliki intensitas rendah, tetapi aplikasinya tinggi • Jika situasi dan kondisi dalam keadaan tidak normal (labil), maka wacana teori memiliki intensitas tinggi, tapi aplikasinya rendah bahkan tertolak

  40. STRUKTUR TEORI SOSIAL GRAND THEORY (Analisis Menyeluruh) I MIDDLE RANGE THEORY/ MESO THEORY (Analisis Sebagian) II CASE/SUBSTANTIVE/ IDEOGRAFIS THEORY (Analisis Kasus/Isu dari Fakta Empiris) III

  41. PAHAM TEORI SOSIAL DALAM PRAKTEK IDEALISME TEORI PRAGMATISME UTOPIANISME

  42. METODOLOGI TEORI ILMU-ILMU SOSIAL • HEURISTIK = Menghimpun jejak-jejak dan dokumen sejarah perkembangan teori sosial • VERIFIKASI = Menguji kebenaran dari data dan informasi (referensi) tentang perkembangan konsep dan teori-teori sosial • INTERPRETASI = Melakukan penafsiran suatu peristiwa / pandangan realistis empiris dari sejarah perkembangan teori sosial

  43. METODE KRITIK TEORI • Kejelasan • Konsistensi • Kecukupan Empiris • Kecukupan Eksplanatoris • Rasionalitas Normatif

  44. AWAL SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI ILMU-ILMU SOSIAL

  45. IBNU KHALDUN(ABDURRACHMAN ABU ZAID WALIUDDIN BIN KHALDUN) (1332 – 1350 M) Buku Muqaddimah (Lajnah al-Bayan al-Arabi) = Membahas pengaruh letak geografis (letak bumi) terhadap gejala, perilaku dan aktivitas masyarakat

  46. IL PRINCIPE (Politik Kekuasaan, 1513) atau RES PUBLICA (Kekuasaan Rakyat) dan DISCORSI (Politik Kerakyatan, 1519) • THE AIM JUSTIFY THE WAY (Tujuan menghalalkan cara) • JADILAH SEKUAT SINGA, SEKALIGUS SELICIK RUBAH (1469 – 1559)

  47. SEKULARISME(Nichollo Machiavelli) • Sekularisme adalah ide dasar yang mengesampingkan peran agama dari pengaturan kehidupan (dunia) • Sekularisme menuntun manusia untuk menempatkan agama hanya pada ranah individu dan wilayah spiritual (moral, teologi) • Sekularisme mengharamkan agama ikut andil dalam mengatur kehidupan • Sekularisme mengajarkan bahwa manusia bebas mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan Tuhan/ Allah

  48. AWAL SEJARAH PENGEMBANGAN TEORI SOSIAL ISIDORE AUGUSTE MARIE FRANCOIS XAVIER COMTE (1789-1857)

  49. HUKUM TIGA TAHAP(Law of Three Stages) Bahwa sejarah umat manusia, baik secara individual maupun secara kolektif, berkembang menurut tiga tahap, yaitu: 1. Tahap teologi atau fiktif (Mitologi) 2. Tahap metafisik atau abstrak (Ideologi) 3. Tahap positif atau ilmiah atau riel (Ilmu) *) *)Tahap positif atau filsafat positivisme = sebagai sesuatu yang nyata, pasti, jelas, bermanfaat, serta lawan dari sesuatu yang negatif

  50. REAKSI TERHADAP FILSAFAT POSITIVISME (ABAD KE 20) • Ketidakpuasan terhadap dominasi positivisme, terutama terhadap latarbelakangnya yang naturalistik dan deterministik. Naturalisme dan determinisme inilah yang dimasa lalu telah mendorong berkembangnya metafisika yang materialistik (kuantitatif), dengan implikasinya yang luas dalam segi kehidupan umat manusia

More Related