1 / 46

IDENTIFIKASI TINGKAT RESIKO BENCANA TSUNAMI BERBASIS SPASIAL

IDENTIFIKASI TINGKAT RESIKO BENCANA TSUNAMI BERBASIS SPASIAL. Kasus: Kawasan Industri Kota Cilegon. Pembimbing:. Dodi Julkarnaen. Teti Armiati Argo, Ir., MES., Ph.d. 25405018. 1. LATAR BELAKANG.

Download Presentation

IDENTIFIKASI TINGKAT RESIKO BENCANA TSUNAMI BERBASIS SPASIAL

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. IDENTIFIKASI TINGKAT RESIKO BENCANA TSUNAMI BERBASIS SPASIAL Kasus: Kawasan Industri Kota Cilegon Pembimbing: Dodi Julkarnaen Teti Armiati Argo, Ir., MES., Ph.d 25405018

  2. 1. LATAR BELAKANG • Posisi geologis indonesia memiliki tingkat ancaman bencana tinggi, terutama ancaman gempa bumi, beberapa diantaranya berpotensi tsunami • Kota Cilegon salah satu kota dengan tingkat ancaman yang tinggi karena relatif berhadapan dan berdekatan dengan sumber pembangkit gempa berpotensi tsunami yaitu subduksi lempeng indo-Australia dan Eurasia yang berlokasi relatif sebelah selatan selat sunda • Kota cilegon memiliki tingkat kerentanan yang tinggi sebagai salah satu pusat pertumbuhan Provinsi Banten dan memiliki aktivitas perekonomian yang intensif di sekitar wilayah pesisir dengan adanya kawasan industri besar

  3. 2. PERUMUSAN MASALAH Posisi Kota Cilegon relatif berada disekitar ancaman bencana tsunami Aktivitas ekonomi yang relatif tinggi diwilayah pesisir Pemahaman tingkat resiko bencana sebagai salah satu upaya pada tahap perencanaan pembangunan wilayah untuk menekan tingkat kerentanan wilayah.

  4. 3. TUJUAN mengetahui tingkat resiko bencana alam tsunami di Kota Cilegon berdasarkan pengolahan data spasial serta data statistik kewilayahan 4. SASARAN • Mengidentifikasi ancaman bencana • Inventarisasi komponen kerentanan wilayah • Melakukan pemetaan kerentanan wilayah • Menyusun analisis resiko bencana alam tsunami • Melakukan analisis ambang batas (threshold analysis) berdasarkan analisis resiko bencana tsunami

  5. 5. MANFAAT DAN RELEVANSI PENELITIAN TERHADAP PERENCANAAN Pemahaman mengenai resiko bencana merupakan bagian dari penyusunan perencanaan tata ruang. Dengan mengetahui tingkat resiko bencana, proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan wilayah dapat diselaraskan dengan kondisi alami Pemahaman kerentanan serta tingkat resiko menjadi masukan dalam melakukan deliniasi zona ambang batas untuk menentukan zona limitasi, kendala serta zona yang dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi resiko yang ada 6. RUANG LINGKUP KAJIAN • Lokasi studi di Kecamatan Ciwandan dan Citangkil, Kota Cilegon, tepatnya di zona 1 kawasan Industri Cilegon. Unit analisis adalah wilayah administrasi pesisir, yaitu kelurahan / desa yang memiliki garis pantai dan sekitarnya yang masih terpengaruh oleh ancaman bencana yang ada secara fisik, dalam hal ini adalah berpotensi tergenang tsunami. • Ruang lingkup kajian yang dilakukan dalam melakukan studi ini adalah sebagai berikut: • Kajian literatur mengenai kebencanaan disekitar lokasi pekerjaan • Penyusunan kriteria kerentanan wilayah • Penentuan metoda pembobotan kriteria • Analisis spasial dari komponen faktor-faktor kerentanan • Penilaian Resiko bencana wilayah • Penilaian umum kerugian yang ditimbulkan bencana • Kajian kebijakan melalui analisis ambang batas.

  6. 7. TINJAUAN LITERATUR (1) 7.1TSUNAMI Gelombang panjang yang diakibatkan karena adanya perubahan dasar laut atau karena adanya perubahan badan air secara tiba-tiba dan impulsif yang disebabkan karena adanya gempa bumi, erupsi letusan gunung berapi, longsor di dasar laut, runtuhan gunung es dan jatuhan benda angkasa. Tsunami yang merupakan gelombang panjang pada istilah oseanografi atau kelautan, akan menjalar memasuki paparan benua dengan kecepatan yang semakin menurun tetapi dengan amplitudo gelombang yang semain tinggi. Dimana secara fisis umumnya Tsunami terdiri dari deretan gelombang yang mendekati pantai dengan perioda antara 5 s/d 9 menit. Kejadian Tsunami di Indonesia, 90,5% gempa bumi akibat aktivitas tektonik dasar laut; 8,6% erupsi vulkanik; 1%longsor bawah laut. (Latief, 2000). Muka laut Normal

  7. 7. TINJAUAN LITERATUR (2) 7.2INDONESIA SEBAGAI KAWASAN RAWAN BENCANA TSUNAMI (Hall,1997) (Triyoso, 2002) (Latief dkk, 2002)

  8. 7. TINJAUAN LITERATUR (3) 7.3POTENSI BAHAYA TSUNAMI DI SELAT SUNDA Tatanan dan patahan-patahan dari gempa-gempa utama antar-lempeng yang terjadi di sepanjang Sunda megathrust (Subarya, dkk, 2006)

  9. 7. TINJAUAN LITERATUR (4) 7.4MITIGASI BENCANA (1) MITIGASI adalah tindakan atau langkah (struktural dan non-struktural) yang diambil dalam upaya untuk membatasi atau mengurangi dampak yang merugikan dari suatu bencana alam, degradasi lingkungan dan bencana teknologi (ISDR, 2004). • Upaya mengurangi dampak bencana alam, khususnya Tsunami (Kawata, Yoshiaki., Research Center for Disaster Reduction system, Kyoto University, 2001) yaitu: • Memahami resiko bencana (memahami mekanisme dari tsunami) • Memahami kerentanan wilayah (mengenali kelemahan dari sosial atau fisis wilayah). • Memahami countermeasures(early warning system, Peta rawan bencana dan lain- lain). • TROIKA (Tsunami Reduction of Impact throught Three Key Action) yaitu: • Hazzard assessment • Mitigation • Warning guidence • (Eddie N. Berdarnd, NOAA / Pasific Marine Environmental Laboratory, USA, 2001)

  10. RISK = HAZARD X VULNERABILITY • Catatan sejarah tsunami • Surat kabar (berita) • Tide gauge • Tinggi Gelombang • Level Run-up • Statistik • Lingkungan bangunan • Infrastruktur • Peta topografi • Peta hidrografi • Potensi kerusakan • Kerusakan ikutan (collatteral damage) • Sosial, ekonomi • Tsunami Katalog • Sumber pembangkit tsunami • Peta waktu tiba tsunami • Perencanaan bencana (Disaster Management) • Emeregency Management • Local response RISK ASSEMENT – TSUNAMI ZONATION MAP MITIGATION POLICY FOR TSUNAMI WARNING 7. TINJAUAN LITERATUR (5) 7.4MITIGASI BENCANA (2) BENCANA (ISDR, LIVING WITH RISK, 2004) “a serious disruption of the functioning of a community or a society causing widespread human, material, economic or environmental losses which exceed the ability of the affected community or society to cope using its own resources” Rynn, (1999)

  11. 7. TINJAUAN LITERATUR (6) 7.4MITIGASI BENCANA (3) Resiko suatu kemungkinan yang dapat menyebabkan kerugian baik itu berupa materi, korban nyawa, kerusakan lingkungan, tatanan sosial, masyarakat dan lingkungan yang disebabkan oleh interaksi antara ancaman dan kerentanan Bahayaatau ancaman suatukejadianataukondisi yang dapatmenyebabkankerusakanlingkungan, kerugianmateriataukorbanjiwa. Kerentanan suatu kondisi yang menentukan bilamana bahaya alam (Natural hazard) yang terjadi dapat menimbulkan bencana alam (Natural Disaster). Kerentanan menunjukkan nilai dari potensi kerugian pada suatu wilayah akibat bencana alam, baik itu nilai lingkungan, materi, korban jiwa, tatanan sosial dan lainnya

  12. 7. TINJAUAN LITERATUR (7) 7.4 PERENCANAAN PEMBANGUNAN (1) Sumber: Living With Risk, ISDR, 2003

  13. 7. TINJAUAN LITERATUR (8) 7.4 PERENCANAAN PEMBANGUNAN (2) • Perencanaan pembangunan berdasarkan pertimbangan bencana dimana penanganannya dibagi menjadi 2 tipe, yaitu (UNDP, 2004): • Prospective disaster risk management, hal ini harus terintegrasi dalam perencanaan pembangunan berkesinambungan. Program pembangunan dan projek kerja harus diarahkan untuk mengurangi atau menekan tingkat kerentanan dan bencana. • Compensatory disaster risk management, (misalnya persipan atau respon dari bencana), terpisah dari perencanaan pembangunan umum dan lebih terfokus pada penekanan tingkat kerentanan dan penurunan tingkat bencana yang telah direncanakan masa lalu.

  14. 8. KERANGKA PIKIR PENELITIAN • Identifikasi ancaman bencana alam (natural hazard) • Kajian Kerentanan Wilayah • Penyusunan Resiko Bencana • Identifikasi Kerugian akibat bencana serta deliniasi zona ambang batas (threshold)

  15. 9. METODE PENELITIAN (1) Resiko R = H x V Ancaman Bencana (H) Studi Literatur  Hasil pemodelan matematis penjalaran dan rendaman tsunami Kerentanan (V) V = va + vb + vc + vd va = Faktor Fisis vb = Faktor Sosial Demografi vc = Faktor Ekonomi vd = Faktor Lingkungan

  16. Bobot rank sum dihitung dengan formula berikut: 9. METODE PENELITIAN (2) 9.1 Metoda Peringkat (Ranking methode) Kriteria Adaduamacamsistemperingkat, yaitu: Straight Ranking (1 = paling penting, 2 = kepentingankedua, dst) danInverse Ranking (1 = paling tidakpenting, 2 = keduatidakpenting, dst) Peringkat Pembobotan Peringkat Metoda pembobotan yang dipergunakan adalah rank sum dihitungdengan formula berikut Dimanawjadalahbobotnormalisasiuntukkriteria j, n adalahbanyaknyakriteria yang diperhitungkan (k = 1,2,…,n) danrjadalahposisiperingkatkriteria (Malczewski, 1999).

  17. 9. METODE PENELITIAN (3) 9.2 Metoda Perbandingan Berpasangan / Pairwise Comparison methode (1)

  18. 9. METODE PENELITIAN (4) 9.2 Metoda Perbandingan Berpasangan / Pairwise Comparison methode (2)

  19. 9. METODE PENELITIAN (5) 9.2 Metoda Perbandingan Berpasangan / Pairwise Comparison methode (3) Penyusunan matrik Pairwise ab, ac, cb  justifikasi intensitas kepentingan antar kriteria berdasarkan tabel perbandingan intensitas Saaty Normalisasi matrik Pairwise

  20. 9. METODE PENELITIAN (6) 9.3 Uji Konsistensi Consistency Index (CI). CI = (max – n) / (n-1) mengukurseluruhkonsistensipenilaiandenganmenggunakanConsistency Ratio (CR) yang dirumuskansebagaiberikut : CR = CI / Random Consistency Index (RI) BilahargaCR lebihkecilatausamadengan 10 % (0,10) makanilaitersebutakanmenujukantingkatkonsistensi yang lebihbaikdandapatdipertanggungjawabkan, ataudapatdikatakaneigen value maksimumataumaksdiperolehdarihasilpembobotan yang konsisten. Tetapijika CR lebihbesardari 10 % (0,10) makapenilaian yang telahdibuatsecara random perludirevisi.

  21. 9. METODE PENELITIAN (8) 9.3 Analisis data keruangan Teknik pengolahan data ini dipergunakan untuk memperoleh suatu perangkat data yang didapatkan dari tumpang susun beberapa data melalui suatu operasi tertentu (penjumlahan, perkalian, pengurangan, dll)

  22. 10. PENGOLAHAN DATA 10.1 Penyusunan tingkat ancaman bencana (H) Kriteria tingkat ancaman berdasarkan tinggi rendaman tsunami (Iida, 1963)

  23. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN 11.1 Faktor Fisis

  24. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (2) 11.1 Faktor Fisis (2) Bobot elemen ancaman faktor kerentanan fisis Normalisasi dan bobot kriteria elemen ancaman Menghitung vektor bobot 1,822 / 0,589 = 3,094 0,481 / 0,159 = 3,023 0,767 / 0,252 = 3,044 Menghitung nilai λ = (3,094 + 3,023 +3,044) / n ; n = 3 = 3,054 CI = 0,027 CR = 0,046 ( < 0,1, justifikasi matrik pairwise konsisten) Perhitungan Matrik pairwise komponen faktor kerentanan untuk masing-masing elemen ancaman

  25. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (3) 11.1 Faktor Fisis (3) Kriteria Komponen Faktor Kerentanan d. Sempadan Sungai 50 dari kiri/kanan ruas sungai a. Komponen geologi (dalam Dita ,2004) b. Komponen slope (SK Mentan 1981) Klasifikasi sempadan sungai di ranking berdasarkan jarak rata-rata penetrasi rendaman tsunami dilokasi studi c. Sempadan Pantai (Kepres No. 32 Tahun 1990, tentang Pengelolaan Kawasan Lindung) 100 m dari garis pantai  sangat rentan

  26. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (4) 11.1 Faktor Fisis (4) + + Komponen Geologi = Komponen Sempadan pantai dan Sungai Komponen Slope

  27. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (5) 11.2 Faktor Sosial Demografi (1)

  28. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (6) 11.2 Faktor Sosial Demografi (2) Bobot elemen ancaman faktor kerentanan Sosial Demografi Normalisasi dan bobot kriteria elemen ancaman Tidak dilakukan uji konsistensi karena jumlah suku dari komponen faktor kerentanan n = 2. Selanjutnya dilakukan Pairwise untuk komponen faktor kerentanan sosial demografi

  29. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (7) 11.2 Faktor Sosial Demografi (3) Kriteria Komponen Faktor Kerentanan a. Komponen Kepadatan (SNI 03-1733-2004 mengenai Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan) c. Infrastruktur Sosial (diadaptasi dari ADPC, 2004) b. Komponen vulnerable group – perempuan, anak, lansia (Maureen Fordham, 2007) Klasifikasi vulnerable group dihitung dari distribusi normal persentase objek dari total penduduk

  30. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (8) 11.2 Faktor Sosial Demografi (4) + =

  31. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (9) 11.3 Faktor Ekonomi (1)

  32. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (10) 11.3 Faktor Ekonomi (2) Bobot elemen ancaman faktor kerentanan Ekonomi Normalisasi dan bobot kriteria elemen ancaman Tidak dilakukan uji konsistensi karena jumlah suku dari komponen faktor kerentanan n = 2. Selanjutnya dilakukan Pairwise untuk komponen faktor kerentanan demografi

  33. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (11) 11.3 Faktor Ekonomi (3) Kriteria Komponen Faktor Kerentanan a. Komponen vulnerable group – perempuan, anak, lansia (Maureen Fordham, 2007) c. Infrastruktur Sosial (diadaptasi dari peringkat kontribusi PDRB Kota Cilegon, 2006, ke dalam unit penggunaan lahan produktif) Klasifikasi vulnerable group dihitung dari distribusi normal persentase objek dari total penduduk

  34. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (12) 11.3 Faktor Ekonomi (4) = +

  35. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (13) 11.4 Faktor Lingkungan (1)

  36. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (14) 11.4 Faktor Lingkungan (2) Bobot elemen ancaman faktor kerentanan Lingkungan Normalisasi dan bobot kriteria elemen ancaman Tidak dilakukan uji konsistensi karena jumlah suku dari komponen faktor kerentanan n = 2.

  37. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (14) 11.4 Faktor Lingkungan (3) Kriteria Komponen Faktor Kerentanan a. Komponen respon vegetasi terhadap genangan tsunami (diadaptasi dari kriteria pada USDA – NRCS, 1986) b. Jarak berpotensi terkontaminasi zat berbahaya dari industri (Alamsyah, 2007)

  38. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (15) 11.4 Faktor Lingkungan (5) = Kerentanan respon vegetasi + Kerentanan potensi jangkauan kontaminasi zat berbahaya industri

  39. 11. KRITERIA DAN BOBOT KERENTANAN (16) Kerentanan Total Wilayah V = va + vb + vc + vd Kerentanan Lingkungan (vd) Kerentanan Ekonomi (vc) Kerentanan SosDemog (vb) Kerentanan Wilayah (V) Kerentanan Fisis (va)

  40. 12. PENYUSUNAN PETA RESIKO BENCANA TSUNAMI Resiko Bencana Tsunami R = H x V x

  41. 13. ELEMEN ANCAMAN BENCANA

  42. 13. KERENTANAN EKSISTING

  43. 14. KERUGIAN LANGSUNG (DIRECT LOSS)

  44. 14. KERUGIAN TIDAK LANGSUNG (INDIRECT LOSS) Potensi masyarakat kehilangan matapencaharian sektor industri

  45. REFERENCE Marine and Coastal Zoning Plan Guide, Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan, 2004 Reducing Disaster Risk, A Challenge for Development, United Nation Development Programme, 2004 Living with Risk, Towards Effective Disaster Reduction, Asian Disaster Reduction Center, 2004 Coastal Zona Management Handbook, John R. Clark, 1995 Perencanaan Pembangunan Wilayah Pesisir di Indonesia, Subandono Diposaptono, Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005 Kajian Resiko Bencana Tsunami di Indonesia serta Upaya Mitigasinya, Hamzah Latief, Pusat Riset Tsunami, KPPKL – ITB, 2005 Penyusunan Konsep Basis Data Sumber Tsunami dan Sistem Informasi Geografis Tsunami, Hamzah Latief, Pusat Riset Tsunami, KPPKL – ITB, 2002

More Related