RESUME JURNAL QUALITY IMPROVEMENT INITIATIVES FOR SUPPORT FUNCTIONS IN AN INDUSTRY: TWO CASES - PowerPoint PPT Presentation

resume jurnal quality improvement initiatives for support functions in an industry two cases n.
Download
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
RESUME JURNAL QUALITY IMPROVEMENT INITIATIVES FOR SUPPORT FUNCTIONS IN AN INDUSTRY: TWO CASES PowerPoint Presentation
Download Presentation
RESUME JURNAL QUALITY IMPROVEMENT INITIATIVES FOR SUPPORT FUNCTIONS IN AN INDUSTRY: TWO CASES

play fullscreen
1 / 21
RESUME JURNAL QUALITY IMPROVEMENT INITIATIVES FOR SUPPORT FUNCTIONS IN AN INDUSTRY: TWO CASES
161 Views
Download Presentation
philana-candice
Download Presentation

RESUME JURNAL QUALITY IMPROVEMENT INITIATIVES FOR SUPPORT FUNCTIONS IN AN INDUSTRY: TWO CASES

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. RESUME JURNALQUALITY IMPROVEMENT INITIATIVES FORSUPPORT FUNCTIONS IN AN INDUSTRY:TWO CASES Oleh : Tri Adhie Sativa 3333071279

  2. PENDAHULUAN • Pada awal dunia manufaktur, pekerjaan yang dilakukan operator, perlu diperiksa dan dibuat keputusan untuk menerima atau menolak hasil pekerjaannya tersebut. • Seiring munculnya fungsi inspeksi, maka masalah lain pun muncul , diantaranya : • Semakin banyak masalah teknis, keterampilan khusus, yang tidak dimiliki pekerja produksi. • Pengawas kurang pelatihan • Pengawas diperintahkan untuk menerima barang cacat, sebagai usaha untuk meningkatkan output. • Pekerja yang terampil, dipromosikan untuk menangani pekerjaan operasional.

  3. PENDAHULUAN Masalah di atas menyebabkan timbulnya inspeksi terpisah oleh pengawas kepala bertambah tanggungjawabnya lebih dari sekedar penerimaan produk dan kebutuhan untuk mengatasi cacat. Oleh karena itu, departemen kualitas berevolusi menjadi manajemen pengendalian kualitas yang bertanggung jawab untuk inspeksi dan rekayasa kontrol kualitas.

  4. PENDAHULUAN - Pada tahun 1920, teori statistik mulai diaplikasikan untuk mengontrol kualitas. - Pada tahun 1924, shewhart membuat sketsa pertama dari peta kendali yang modern.Teori ini kemudian dikembangkan oleh Deming, yang kemudian dikenal dalam teori pengendalian kualitas yaitu dodge and roming. - Pada tahun 1940 – 1980 an, teori pengendalian kualitas sangat berkembang, hingga muncul TQM

  5. PENDAHULUAN • Seiring berkembangnya TQM, negara- negara barat berupaya menyaingi teori dari jepang ini, yang kemudian mereka membuat standar kualitas masing – masing untuk negaranya. Misalnya Inggris mengeluarkan BS nya. • Sejak saat itu ISO diakui untuk menjadi standar internasional untuk seluruh perusahaan dalam memenuhi kualitas produknya.

  6. PENDAHULUAN • Setelah era TQM, muncul teori Six Sigma, yang mendefinisikan cacat sebagai sesuatu yang bisa menyebabkan ketidakpuasan pelanggan. • Six sigma pertama kali diterapkan oleh Bill Smith di Motorola. • Six Sigma terkadang dikombinasikan dengan lean manufacturing sehingga memunculkan yang metodologi bernama lean six sigma. • Teori six sigma menegaskan bahwa : • Upaya terus – menerus untuk mencapai stabil dan hasil sesuai dengan proses yang sudah diprediksikan. • Proses bisnis dan manufaktur memiliki karakteristik yang bisa diukur, dianalisis, diperbaiki dan dikendalikan. • Mencapai perbaikan terus– menerus dalam kualitas membutuhkan komitmen dari seluruh organisasi terutama manajemen atas.

  7. Studi Kasus 1 :Pelatihan Peningkatan Keterlibatan • Pernyataan Masalah : • Sebuah organisasi di India yang menyediakan jasa pelatihan menghadapi masalah rendahnya keterlibatan peserta dalam pelatihan yang mereka selenggarakan. • Organisasi tertentu mengenal pelatihan berkualitas jika mencakupi beberapa aspek diantaranya : • Pelatihan soft skill • Pelatihan proses dan produk • Pelatihan yang berkaitan dengan kualitas • Pelatihan untuk sertifikasi profesional. • Masalah dapat dipresentasikan di gambar berikut :

  8. Beberapa komentar mengenai Pelatihan :a. Topik sulit dimengertib. Sesi harusnya bisa lebih menarikc. Sulit untuk memahami teorid. Seharusnya bisa dilakukan cara yang lebih jelase. Monoton dan tidak menarikf. Peserta tidak nyaman karena kurangnya interaksi.Tindakan perbaikan :- Program pelatihan dirancang ulang terutama dalam hal penyampaian materi.- metode yang digunaka adalah latihan melatih, atau disebut juga belajar mengajar.Hasilnya tersaji dalam tabel berikut :

  9. Komentar setalah adanya perubahan metode :a. Saya suka bila ada kesalahan umum ditangani oleh proyek yang kompletb. Upaya ini dilakukan oleh pelatih agar terlihat semenarik mungkinc. Interaksi dari pelatih membuat kami tidak enggan untuk memahami topik.d. Upaya yang dilakukan oleh pelatih yang awalnya membosankan menjadi menarik seperti diiringi musik.e. Pelatih sangat persuasif dalam menyampaikan materif. Materi sangat menarikg. Meskipun isi materi sangat teknis, tapi pelatih menyampaikannya dengan sesederhana mungkin.Komentar tersebut membuktikan bahwa data kualitatif pun bisa dijadikan sebagai ukuran untuk melakukan perbaikan kualitas.

  10. Studi Kasus 2 :Reduction of Lead Time in Recruitment (LTR) • Pernyataan masalah : • Rata – rata dalam melakukan recruitment membutuhkan waktu 77 hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengurangi LTR menjadi 54 hari atau 30%. • Tujuan proyek ini secara detail untuk : • Mempelajari kegiatan di tingkat mikro pada proses saat ini • Mengidentifikasi penyebab LTR tinggi • Menghilangkan/ mengendalikan penyebab LTR • Meningkatkan kepuasan pelanggan.

  11. Pendekatan Proses

  12. Identifikasi penyebab LTR

  13. Diagram aktifitas

  14. Usulan perubahan dan manfaat yang diharapkan

  15. Diagram proses usulan

  16. Manfaat

  17. Waktu yang dibutuhkan sebelum dan sesudah perbaikan

  18. Kesimpulan Kasus 1 : Analisa kualitatif dapat meningkatkan kualitas keterlibatan peserta pelatihan di sebuah organisasi di India Kasus 2 : LTR dapat turun dari 77 hari menjadi 43 hari dengan menggunakan diagram fishbone, dan kerangka pemecahan masalah.

  19. SEKIAN TERIMA KASIH