1 / 61

HUJAN (PRESIPITASI)

HUJAN (PRESIPITASI). Adi Prawito. Tipe Hujan. Hujan Siklonik Hujan Konvektif Hujan Orografik Hujan Siklonik : berasal dr naiknya udara yg dipusatkan di daerah dgn tek rendah Hujan Konvektif : berasal dr naiknya udara ke rempat yg lbh dingin

archer
Download Presentation

HUJAN (PRESIPITASI)

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. HUJAN (PRESIPITASI) Adi Prawito

  2. TipeHujan • Hujan Siklonik • Hujan Konvektif • Hujan Orografik Hujan Siklonik: berasal dr naiknya udara yg dipusatkan di daerah dgn tek rendah Hujan Konvektif: berasal dr naiknya udara ke rempat yg lbh dingin Hujan Orografik: berasal dr naiknya udara krn adanya rintangan pegunungan

  3. Data Hujan: • Curah hujan • Waktu hujan • Intensitas hujan • Frekuensi hujan Ch: tinggi hujan dlm 1 hari, bulan atau thn dgn satuan mm, cm, inch. Misal:124 mm/hr, 462 mm/bln, 2158 mm/th Wh: lama tjdnya 1x hujan, mis: 42 menit, 2 jam

  4. Ih: banyak hujan yg jatuh dlm periode ttt, misal: 48mm/jam dlm 15’, 72mm/jam dlm 30’ Fh: kemungkinan tjdnya besaran hujan yg melampaui suatu tinggi hujan ttt, mis: ch 115 mm/hr akan tjd atw dialampaui 1x dlm 30 th, 2500 mm/th akan tjd atw dilampaui dlm 10 th

  5. NETWORK STASIUN HUJAN Tabel 1: Juml penakar hujan pd suatu daerah yg diwakili Sumber: Wilson (1974:17)

  6. Tabel 2: Network stasiun hujan di Indonesia Sumber: Murni D., Sri (1976:6)

  7. ALAT PENAKAR HUJAN • Pencatatan manual, tdr dr corong 8”, tabung pengukur, dan penyangga, mis: standard 8” precipitation gauge (US National Weather Service), didapat data hujan harian • Penakaran otomatis, didapat data hujan mingguan pd kertas grafik, mis: 1. weighing bucket rain gauge 2. tipping bucket rain gauge 3. syphon automatic rainfall recorder

  8. PENYAJIAN DATA HUJAN • Bentuk tabel • Bentuk diagram • Bentuk grafik

  9. Penyajiandalamtabel Tabel 3: Hujan harian maksimum Sumber: Data hujan pd stasiun Bantaran G. Kelud Jatim

  10. PenyajianDalamBentuk diagram R (mm) 15 10 5 10 11 12 13 14 15 16 t (jam)

  11. Bentuk diagram

  12. PENYAJIAN DLM BENTUK GRAFIK R (mm) 150 100 50 0 t (bulan) J P M A M J J A S O N D

  13. CukuPNYA JUML PENAKAR HUJAN Prosedurnya adl sbb (7 langkah): • Hitung tot hujan utk n penakar hujan • Hitung rata2 aritmatik hujan di daerah aliran • Hitung juml dr kuadrat utk n data hujan • Hitung variansnya • Hitung koefisien variasinya • Juml penakar hujan yg optimum N yg diperlukan utk memperkirakan hujan rata2 dgn % kesalahan (p) • Jumlah penakar hujan yg hrs ditambahkan • Contoh soal lihat Sholeh (h.34)

  14. MELENGKAPI DATA HUJAN YG TDK KONTINYU • Cara rata2 aritmatik • Cara rasio normal • Cara korelasi

  15. MENGECEK DATA HUJAN THD PERUBAHAN2 Penyebab: • Stasiun hujan dipindah • Tipe penakar hujan diganti Utk mengecek digunakan: Analisa Double Mass Curve (perub kemiringan korelasi menunjukkan adanya perubahan) Contoh Double Mass Curve lihat Sholeh (h.37)

  16. VARIASI HUJAN • Variasi tahunan • Variasi bulanan • Variasi harian

  17. Variasitahunan R (mm) 10000 Mass Curve 7500 Massa hujan rata2 5000 2500 90 91 92 93 94 95 96 97 98 • Disebut tahun basah apabila kemiringan mass curve > kemiringan massa hujan rata2, begitu pula sebaliknya

  18. VARIASI BULANAN • Bulan basah (100 mm <…) • Bulan kering (…< 60 mm) • Bulan normal (60 – 100 mm)

  19. VARIASI HARIAN • Konsentrasi hujan yg berbeda tiap2 jamnya • Berlangsung setiap hari dalam satu bulan

  20. HUJAN RATA2 DAERAH ALIRAN • CARA ARITHMATIC MEAN • CARA THIESSEN POLYGON • CARA ISOHYET

  21. CARA ARITHMATIC MEAN • Dipakai pd daerah yg datar • Banyak stasiun penakar hujan • Curah hujan bersifat uniform • R = 1/n . (R1 + R2 + R3 + … + Rn) dimana: R = tinggi hujan rata2 daerah aliran (area rainfall) R1,R2,R3,…,Rn = tinggi hujan masing2 stasiun (point rainfall) n = banyaknya stasiun hujan

  22. CARA THIESSEN POLYGON • Tdp faktor pembobot (weighing factor) / koefisien Thiessen • Besar faktor pembobot tgt luas daerah yg diwakili sta yg dibatasi oleh polygon2 yg memotong tegak lurus pd tengah2 grs penghubung • R = A1/A .R1 +…+ An/A . Rn dimana: A = luas daerah aliran Ai = luas daerah pengaruh stasiun i Ri = tinggi hujan pd stasiun i

  23. CARA ISOHYET • Isohyet: grs yg menunjukkan tinggi hujan yg sama • Isohyet diperoleh dgn cara interpolasi harga2 tinggi hujan local (point rain fall) • Besar hujan antara 2 isohyet: R1,2 = ½(I1 + I2) • Hujan rata2 daerah aliran: R = A1,2/A . R1,2+…+ An,n+1/A . Rn,n+1 dimana: Ai,i+1 = luas antara isohyet I1 dan I1+1 Ri,i+1 = tinggi hujan rata2 antara isohyet I1 dan I1+1

  24. INTENSITAS DAN TINGGI HUJAN • Intensitas: kemiringan dr grafik pencatatan hujan (harga tangen) • I = R/t dimana: I = intensitas hujan dlm mm/jam R = hujan selama interval (mm) t = interval waktu (jam) • Pola intensitas = hyetograph (gambar 4.16, Sholeh, h.43)

  25. 4 POLA INTENSITAS • Uniform pattern • Advanced pattern • Intermediate pattern • Deleyed Pattern • Gambar 4.17, Sholeh, h.44

More Related