1 / 53

Kuliah Hidrologi

HUJAN. Kuliah Hidrologi . Presipitasi. Presipitasi : turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi, yang bisa berupa hujan, hujan salju, kabut, embun dan hujan es.

hashim
Download Presentation

Kuliah Hidrologi

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. HUJAN Kuliah Hidrologi

  2. Presipitasi • Presipitasi : turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi, yang bisa berupa hujan, hujan salju, kabut, embun dan hujan es. • Di daerah tropis, termasuk Indonesia, yang memberikan sumbangan paling besar adalah hujan, sehingga seringkali hujanlah yang dianggap sebagai presipitasi.

  3. Tipe Hujan • Hujan terjadi karena udara basah yang naik ke atmosfer mengalami pendinginan sehingga terjadi proses kondensasi. • Naiknya udara ke atas dapat terjadi secara siklonik, orografik dan konvektif.

  4. HUJAN KONVEKTIF • Hujan jenis ini biasanya terjadi sebagai hujan dengan intensitas yang tinggi, akibat massa udara yang terangkat ke atas oleh pemanasan lahan. Hujan jenis ini biasanya terjadi di daerah yang relatif luas dan bergerak sesuai dengan pergerakan angin. Pembentukan hujan konvektif

  5. HUJAN SIKLONIK • Hujan jenis ini biasanya terjadi karena udara lembab panas terangkat ke atas oleh lapisan udara yang lebih dingin dan lebih rapat. Penyebaran hujan jenis ini sangat dipengaruhi oleh landai pertemuan antara udara panas dan dingin dan biasanya merupakan hujan dengan daerah penyebaran terbatas dan dalam waktu pendek. Pembentukan hujan siklonik

  6. HUJAN OROGRAFIK • Hujan jenis ini terjadi karena massa udara lembab terangkat keatas oleh angin karena adanya gunung/pegunungan. Udara lembab yang melintasi daerah pegunungan akan naik dan mengalami pendinginan, sehingga terbentuk awan dan hujan. Pembentukan hujan orografik

  7. Alat Pengukur Hujan • Alat ukur hujan dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu penakar hujan biasa (manual raingauge) dan penakar hujan otomatis (automatic raingauge). • Data curah hujan dapat berupa data curah hujan harian atau curah hujan pada periode waktu yang lebih pendek, misal setiap menit. Data hujan tipe pertama dapat diukur dengan penakar hujan biasa terdiri dari bejana dan corong seluas 200 cm2 yang dipasang setinggi 120 cm dari permukaan tanah. Data hujan untuk periode pendek didapat dari alat penakar hujan otomatis ARR (automatic rainfall recorder) yang dapat merekam setiap kejadian hujan selama jangka waktu tertentu. Berdasarkan mekanisme perekaman data hujan ada tiga jenis ARR, yaitu tipe weighing bucket, tipping bucket dan float.

  8. Stasiun Hujan

  9. Stasiun Hujan

  10. ALAT PENAKAR HUJAN BIASA • Alat penakar hujan biasa terdiri dari corong dan botol penampung yang berada di dalam suatu tabung silinder. Hujan yang jatuh pada corong akan tertampung di dalam tabung silinder, kemudian kedalaman hujan di dapat dari pengukuran volume air yang tertampung dan luas corongnya. Curah hujan kurang dari 0,1 mm dicatat sebagai 0,0 mm, sedangkan jika tidak ada hujan dicatat dengan garis (-).

  11. Alat Penakar Hujan Biasa

  12. PENAKAR HUJAN JENIS TIMBANGAN • Tipe timbangan (weighing bucket) dapat merekam jumlah kumulatif hujan secara kontinyu. Alat ini tidak dilengkapi dengan sistem pengurasan otomatik.

  13. Bucket Silinder dibungkus kertas berskala Pan Pena Pemberat PENAKAR HUJAN JENIS TIMBANGAN

  14. ALAT PENAKAR HUJAN JENIS TIMBA JUNGKIT • Alat penakar hujan otomatis dengan tipping bucket digunakan untuk pengukuran khusus. • Air hujan yang tertampung ke dalam corong akan diteruskan ke saringan kemudian masuk ke dalam tipping bucket. Kapasitas bucket ini didesain khusus setara dengan 0.5 mm, sehingga apabila tampungan air hujan tercapai akan terjungkir (tipping) yang akan diteruskan dengan proses perekaman.

  15. ALAT PENAKAR HUJAN JENIS TIMBA JUNGKIT Saringan Tipping bucket Pipa pembuang

  16. Penakar hujan jenis pelampung • Prinsip mekanisme kerja alat penakar hujan otomatis tipe ketiga yaitu float adalah dengan memanfaatkan gerakan naik pelampung dalam bejana akibat tertampungnya curah hujan. Pelampung ini berhubungan dengan sistem pena perekam di atas kertas berskala yang menghasilkan grafik rekaman data hujan. Alat ini dilengkapi dengan sistem pengurasan otomatis, yaitu pada saat air hujan yang tertampung telah mencapai kapasitas receivernyaakan dikeluarkan dari bejana dan pena akan kembali pada posisi dasar kertas rekaman data hujan.

  17. Penakar hujan jenis pelampung Corong Jam pencatat Kertas perekam data hujan Pelampung Sifon

  18. Syarat teknis Penempatan dan pemasangan alat pada stasiun hidrologi • Penakar hujan ditempatkan pada lokasi sedemikian sehingga kecepatan angin di tempat tersebut sekecil mungkin dan terhindar dari pengaruh penangkapan air hujan oleh benda lain di sekitar alat penakar hujan. • Penempatan setasiun hujan hendaknya berjarak minimum empat kali tinggi rintangan terdekat. • Lokasi di suatu lereng yang miring ke satu arah tertentu hendaknya dihindarkan. • Penempatan corong penangkap hujan diusahakan dapat menghindari pengaruh percikan curah hujan ke dalam dan disekitar alat penakar sebaiknya ditanami rumput atau berupa kerikil, bukan lantai beton atau sejenisnya.

  19. Penentuan Hujan Kawasan/Hujan DAS • Stasiun penakar hujan hanya memberikan kedalaman (tinggi) hujan di titik di mana stasiun tersebut berada, sehingga hujan pada suatu luasan harus diperkirakan dari titik pengukuran tersebut. • Apabila pada suatu daerah terdapat lebih dari satu stasiun pengukuran yang ditempatkan secara terpencar, hujan yang tercatat di masing-masing stasiun dapat tidak sama.

  20. METODE • Dalam analisis hidrologi sering diperlukan untuk menentukan hujan rerata pada daerah tersebut. • Terdapat 3 metode : • Aritmatik • Poligon Thiessen • Isohiet

  21. 1. Metode rerata aritmatik (aljabar) • Metode ini adalah metode yang paling sederhana. Pengukuran dengan metode ini dilakukan dengan merata-ratakan hujan di seluruh DAS. Stasiun hujan yang digunakan untuk menghitung dengan metode ini adalah yang berada di dalam DAS, akan tetapi stasiun yang berada di luar DAS dan jaraknya cukup berdekatan masih bisa diperhitungkan. Metode aljabar ini memberikan hasil yang tidak teliti, metode ini memberikan hasil yang cukup baik jika penyebaran hujan merata, serta hujan tidak terlalu bervariasi. • Hujan DAS dengan cara ini dapat diperoleh dengan persamaan: • dengan: p = hujan rerata di suatu DAS pi= hujan di tiap-tiap stasiun n = jumlah stasiun

  22. D = 25 mm C = 30 mm B = 28 mm A = 22 mm Contoh Ilustrasi Hitung hujan rerata dengan metode aljabar! Jika stasiun D di luar DAS ikut diperhitungkan maka:

  23. 2. Metode Thiessen • Metode ini digunakan untuk menghitung bobot masing-masing stasiun yang mewakili luasan disekitarnya. Metode ini digunakan bila penyebaran hujan di daerah yang ditinjau tidak merata.

  24. PROSEDUR HITUNGAN METODE POLIGON THIESSEN Hitungan poligon Thiessen dilakukan dengan cara: • Stasiun hujan digambar pada peta daerah yang ditinjau. • Stasiun-stasiun tersebut dihubungkan dengan garis lurus, sehingga akan didapatkan bentuk segitiga. • Tiap-tiap sisi segitiga dibuat garis berat sehingga saling bertemu dan membentuk suatu poligon yang mengelilingi tiap stasiun. Tiap stasiun mewakili luasan yang dibentuk oleh poligon, sedangkan untuk stasiun yang berada di dekat batas daerah, garis batas daerah membentuk batas tertutup dari poligon. • Luas tiap poligon diukur, kemudian dikalikan dengan kedalaman hujan di tiap poligon. Hasil jumlah hitungan tersebut dibagi dengan total luas daerah yang ditinjau.

  25. A1 A2 A3 A4

  26. Prosedur hitungan ini dijelaskan pada persamaan dan gambar berikut ini. Dimana: • P = curah hujan rata-rata, • P1,..., Pn = curah hujan pada setiap setasiun, • A1,..., An = luas yang dibatasi tiap poligon.

  27. Contoh Ilustrasi D = 25 mm AB = 53 km2 Garis ini membagi sisi segitiga menjadi 2 bagian sama panjang (di tengah-tengah) dan tegak lurus terhadapnya. AC = 45 km2 B = 28 mm C = 30 mm x x A = 22 mm AA = 50 km2 Gambar tidak berskala, luas bagian dan tinggi hujan hanya merupakan perumpamaan

  28. Hujan rerata cara Thiessen

  29. Poligon Thiessen dengan melibatkan stasiun hujan D yang berada di luar DAS AD = 20 km2 D = 25 mm AB = 37 km2 C = 30 mm B = 28 mm AC = 41 km2 A = 22 mm AA = 50 km2

  30. Hujan rerata cara Thiessen

  31. 3. Metode Isohiet • Pada prinsipnya isohiet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan tinggi/kedalaman hujan yang sama, Kesulitan dari penggunaan metode ini adalah jika jumlah stasiun di dalam dan sekitar DAS terlalu sedikit. Hal tersebut akan mengakibatkan kesulitan dalam menginterpolasi.

  32. Metode pembuatan garis Isohiet sebagai berikut: • Pada peta yang ditinjau, digambarkan lokasi daerah hujan dan kedalaman hujan. • Di stasiun hujan yang saling berdampingan dinilai kedalaman hujannya dan dibuat interpolasinya. Kemudian hasil interpolasi yang mewakili kedalaman hujan yang sama dihubungkan satu sama lain. • Luas daerah diantara 2 garis isohiet diukur luasnya, dan dikalikan dengan nilai rerata di kedua garis isohiet. Kemudian jumlah dari hasil hitungan tersebut dibagi dengan total luasan daerah yang ditinjau.

  33. A1 I1=100 A2 I2=95 A3 I3=90 A4 I4=85 I5=80

  34. Hujan DAS menggunakan Isohiet dapat dihitung dengan persamaan: Dengan: p = hujan rerata kawasan Ai = luasan dari titik i Ii= garis isohiet ke i

  35. Catatan: tinggi hujan dalam mm B = 22 A = 18 30 D = 33 A1 = 50 km2 35 I1 E = 41 A6 = 25 km2 C = 36 A3 = 180 km2 40 45 I2 A2 = 20 km2 A4 = 45 km2 50 I3 F = 42 60 G = 65 I = 63 A5 = 15 km2 H = 49 I5 I4 I6

  36. Hujan DAS menggunakan Isohiet

  37. KONDISI DAN SIFAT DATA Data hujan yang baik diperlukan dalam melakukan analisis hidrologi, namun untuk mendapatkan data yang berkualitas biasanya tidak mudah. Data hujan hasil pencatatan yang tersedia biasanya dalam kondisi tidak menerus. Apabila terputusnya rangkaian data hanya beberapa saat kemungkinan tidak menimbulkan masalah tetapi untuk kurun waktu yang lama tentu akan menimbulkan masalah di dalam melakukan analisis. Dalam hal ini perlu dilihat kepentingan atau sasaran dari perencanaan drainase yang bersangkutan.

  38. Melengkapi Data dengan: R= curah hujan rata-rata setahun di tempat pengamatan R datanya harus lengkap rA= curah hujan ditempat pengamatan RA RA= curah hujan rata-rata setahun di A Jika ada data hilang atau tidak lengkap

  39. PETA WILAYAH SUNGAI DI PROVINSI JAWA TENGAH(A3).pdf

  40. PETA DAS KALI WULAN

  41. CAT SEMARANG-DEMAK

More Related