1 / 73

cedera kepala

trauma kapitis

Download Presentation

cedera kepala

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat “Cedera Kepala”

  2. Definisi Cedera Kepala • Suatu injuri yang dapat melibatkan seluruh struktur kepala mulai dari lapisan kulit kepala atau tingkat yang paling ringan, tulang tengkorak, duramater, vaskuler otak sampai dengan jaringan otak sendiri baik berupa luka tertutup maupun tembus • Injuri otak traumatik sering disinonimkan dengan trauma kepala

  3. Lanjutan definisi……. • Injuri otak traumatik mrpk insufisiensi otak nondegeneratif, nonkongenital, akibat kekuatan mekanik eksternal yang dapat menyebabkan gangguan kognitif, fisik, psikologis baik permanen maupun temporal yang di hubungkan dengan gangguan tingkat kesadaran

  4. Mekanisme Cedera Kepala • Akselerasi Terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam. • Deselerasi Terjadi jika kepala membentur objek yang diam • Kompresi atau penekanan

  5. British Society of Rehabilitation Medicine membagi cedera kepala menjadi: • Cedera kepala ringan (GCS 13-15) • Cedera kepala sedang (GCS 9-12) • Cedera kepala berat (GCS < 9)

  6. Glasgow Coma Scale (GCS) • Respon Membuka Mata • Spontan : 4 • Perintah : 3 • Stimulus Nyeri : 2 • Tidak ada respon : 1

  7. Lanjutan GCS…… • Respon Motorik • Mengikuti perintah : 6 • Lokalisasi terhadap nyeri : 5 • Pergerakan widrawl thd nyeri : 4 • Fleksor (dekortikasi) thd nyeri : 3 • Ekstensor (deserebrasi) thd nyeri : 2 • Tidak ada respon : 1

  8. Lanjutan GCS…… • Respon Verbal • Orientasi terhadap orang, tempat, waktu : 5 • Bahasa Kacau : 4 • Kata-kata tidak adekuat : 3 • Suara tidak dapat dimengerti : 2 • Tidak ada respon : 1

  9. American Congress of Rehabilitation Medicine • Cedera kepala ringan “Gangguan fungsi fisiologis otak akibat trauma “ yang dimanifestasikan satu diantara berikut : • Periode hilangnya kesadaran • Hilangnya memori kejadian secara tiba–tiba sebelum atau setelah kejadian. • Gangguan mental saat terjadi kecelakaan • Defisit neurologis fokal

  10. Lanjutan……. Kriteria lain cedera kepala ringan : • GCS >12 • CT Scan normal • Lesi non operatif • LOS < 48 jam

  11. Lanjutan……. Kriteria cedera kepala sedang : • LOS > 48 jam • GCS 9 – 12 • Lesi intracranial operatif • CT Scan -- abnormal

  12. Patofisiologi • Cedera kepala dapat terjadi pada skalp, tulang kepala, dan otak yang terjadi secara sendiri-sendiri atau kombinasi • Berdasarkan penyebabnya cedera kepala dapat dibagi menjadi 2 kategori: • Cedera kepala primer, terjadi secara langsung akibat injuri

  13. Lanjutan patofisiologi….. • Cedera kepala sekunder, terjadi segera setelah trauma dan dapat berlangsung untuk waktu lama. Bisa disebabkan oleh hipoksia, hipovolemia, peningkatan TiK karena edema cerebral atau hematom dan infeksi cerebral

  14. Cedera Kepala Primer • Dimanifestasikan dengan fokal injuri ( fraktur tengkorak, hematom intracranial, laserasi, kontusio, luka penetrasi). • Fraktur tulang basal selalu disebabkan oleh kekuatan yang menghancurkan dan berhubungan dengan injuri pada syaraf kranial dan adanya discharge dari telinga, hidung.

  15. Lanjutan cedera primer…… • Disfungsi Vestibular / Auditory • Pukulan pada bagian temporal mungkin tidak menyebabkan fraktur tetapi dapat menyebabkan hilangnya konduktivitas atau sensorineural pada pendengaran • Hilangnya konduktivitas pendengaran akibat perforasi timpanik, hemotimpanum, atau tulang-tulang pendengaran yang patah (malleus, incus, stappes)

  16. Lanjutan….. • Hilangnya sensoneural pendengaran terjadi karena kerusakan sekunder pada pendengaran bagian dalam (kerusakan kohlear)

  17. Lanjutan….. • Hemoragi Intrakranial • Epidural Hematom : terjadi bila benturan kepala menyebabkan laserasi pembuluh darah arteri dan vena dural, selalu disertai fraktur tulang dan robeknya arteri meningeal. • Subdural hematom ; terjadi pada pasien dengan injuri pada vena kortikal atau arteri pial– menyebabkan cedera otak berat. Mortality rate : 60 – 80%

  18. Lanjutan…….. • Hemoragi Intracerebral, merupakan akibat sekunder laserasi parenkim cerebral atau kontusio pembuluh darah otak yang lebih besar dan lebih dalam.

  19. Lanjutan……. • Hemoragi Intraventrikular Menyebabkan cedera otak berat – prognosis tidak baik • Hemoragi subarakhnoid Akibat sekunder rupturnya aneurisma karena laserasi pembuluh darah mikrosuperfisial pada ruang subarakhnoid.

  20. Lanjutan……… Hemoragi subarakhnoid dapat menyebabkan hidrosefalus communikata jika darah menyumbat villi arakhnoid atau menyebabkan hidrosefalus non komunikata bila clot/gumpalan darah menyumbat ventrikel ketiga atau keempat • Coup & Countrecoup Coup terjadi pada area yang mengalami benturan langsung pada kepala Countrecoup terjadi pada sisi berlawanan dari area yang mengalami benturan

  21. Cedera Kepala Sekunder • Cedera kepala sekunder merupakan akibat lanjut kerusakan seluler efek dari injuri primer • Terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah terjadi trauma • Cedera kepala sekunder menyebabkan keluarnya mediator neurochemical al: Pengeluaran asam amino : Asam amino termasuk glutamat dan asparat meningkat setelah trauma otak

  22. Lanjutan…….. As amino ,menyebabkan sel edema, vakuolisasi dan kematian neuron. As amino jg menyebabkan peningkatan chlorida dan sodium yang menyebabkan neuron mengalami edema akut Proses biokimia lain yang menyebabkan meningkatnya keparahan trauma termasuk peningkatan pottasium ekstraseluler yang menyebabkan edema, peningkatan cytokinin yang menyebabkan inflamasi, dan penurunan magnesium intraseluler yang menyebabkan influks kalsium.

  23. Lanjutan…….. • Peningkatan Tekanan Intra Kranial : Trauma berat menyebabkan peningkatan TIK Peningkatan TIK juga menyebabkan hipoksia serebral, iskemia serebral, edema serebral, hidrosefalus dan herniasi otak.

  24. Lanjutan…….. • Edema Otak Edema disebabkan oleh peningkatan transmiter neurochemical dan peningkatan TIK Kerusakan barier otak dan kelemahan autoregulasi vasomotor menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak. • Hidrosefalus Hidrosefalus komunikata lebih sering terjadi pada cedera otak.

  25. Lanjutan…….. • Herniasi Otak Herniasi supratentorial dapat mengiringi terjadinya kompresi mekanik secara langsung dengan adanya akumulasi massa atau peningkatan TIK • Herniasi Cerebellar Injuri ini ditandai dengan herniasi infratentorial dimana tonsil cerebellum terdorong melalui foramen magnum dan menekan medula yang menyebabkan bradikardia dan gagal pernapasan

  26. Manajemen Cedera Kepala MANAJEMEN CEDERA KEPALA PADA PASIEN TIDAK SADAR • Lakukan pengkajian lengkap airway, breathing dan sirkulasi (A,B,C) Lakukan resusitasi jika perlu. Perlu diingat resusitasi yang tidak adekuat menyebabkan injuri otak sekunder yang lebih berat. • Panggil bantuan • Pasang cervical collar

  27. Lanjutan……. • Bersihkan jalan napas (keluarkan debris, dan pasang orofaringeal) • Berikan oksigen aliran tinggi • Lakukan intubasi jika gag refleks menurun/hilang • Pastikan pernapasan adekuat • Pasang monitor jantung, catat HR, TD, RR dan temperatur. Apakah sirkulasi adekuat atau pasien dalam keadaan syok?

  28. Lanjutan……. • Atasi hipotensi dengan pemberian cairan kristaloid. Tapi perlu diingat terlalu banyak cairan menyebabkan edema otak berat. Hentikan pemberian jika pasien normotensive • Berikan darah bila perlu, periksa gula darah dg glukostik dan berikan glukosa jika kadar GDA menurun • Periksa BGA

  29. Lanjutan……. • Hiperkapnia menyebabkan vasodilatasi cerebral dan meningkatkan TIK.Koreksi Ventilasi • Periksa adanya bradikardia dan hipertensi merupakan tanda peningkatan TIK • Kurangi faktor-faktor sistemik yang menyebabkan cedera otak sekunder

  30. Lanjutan….. • Kaji riwayat trauma dengan menanyakan pada crew ambulance, saksi, keluarga. Apakah pasien mengalami perubahan kesadaran setelah trauma? Adakah riwayat obstruksi jalan napas? Bagaimana mekanisme injuri dan kecepatan saat terjadi benturan? Kaji secara lengkap riwayat penyakit dan pengobatan

  31. Lanjutan……. • Catat GCS dan periksa ulang secara teratur ( tiap 15 menit ). Periksa respon pupil • Periksa muka, kulit kepala, laserasi, memar dan deformitas Jangan lupa pemberian tetanus profilaksis

  32. Lanjutan……. • Periksa telinga adakah darah, cairan cerebrospinal atau hemotimpanum, mrpkn tanda fraktur basis cranii. Tanda lain fr basis cranii adanya racoon eyes, battle sign, rhinorrhoea. • Cek ulang jalan napas, hindari retensi pada pasien lepaskan baju • Lakukan pemeriksaan foto Ro, CT scan

  33. MANAJEMEN TRAUMA KEPALA PADA PASIEN SADAR • Kaji riwayat trauma, lakukan pemeriksaan dan investigasi untuk mengidentifikasi pasien • Kaji apakah pasien dapat mengingat kejadian.apakah terjadi amnesia retrograd atau aterograd? Pd orang tua cidera kepala akan menyebabkan gangguan jantung atau cerebrovaskuler yang memerlukan perhatian khusus.

  34. Lanjutan……… • Lakukan pemeriksaan sama dengan pasien yang mengalami cedera kepala berat • Hati-hati pada pasien intoksikasi karena alkohol atau obat. Jika ragu lakukan observasi

  35. Lakukan foto Ro/ CT Scan Indikasi Pasien yang harus di CT Scan : • Koma setelah resusitasi • Mamburuknya GCS • Adanya Fraktur tengkorak yang disertai dengan : • Gangguan kesadaran • Kejang • Gangguan neurologis • Fraktur tulang kepala terbuka (Termasuk Basis cranii)

  36. Pemeriksaan diagnostik yang perlu dilakukanpada pasien cedera kepala • CT Scan ( tanpa/dengan kontras) untuk mengidentifikasi adanya hemoragik, keadaan ventrikel, pergeseran jaringan otak. Pemeriksaan berulang mengkuin diperlukan karena pd iskemia/ infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam • Sinar X : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur),pergeseran struktur dari garis tengah (karena perdarahan, edema) adanya fragmen tulang.

  37. Lanjutan………. • Gas Darah Arteri ; mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang dapat meningkatkan TIK Kimia/ elektrolit darah • Pemeriksaan toksikologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran • Pungsi lumbal,CSS : Dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan subarakhnoid

  38. Lanjutan…… • MRI : sama dengan CT Scan dengan/tanpa kontras • Angiografi Serebral : Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan, trauma • EEG : Untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang patologis

  39. Lanjutan…….. • BAER ( Brain Auditory Evoked Respons) : Menentukan fungsi korteks dan batang otak • PET (Positron Emission Tomografi) : menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme pada otak

  40. Pengkajian Pasien Dengan Cedera Kepala • DATA SUBJEKTIF : Keluhan pasien ? Tanyakan mekanisme kejadian kepada saksi, crew ambulance, keluarga muntah ? Amnesia ? Riw penyakit ?

  41. Lanjutan…….. • DATA OBJEKTIF A : Airway Periksa kepatenan jalan napas pasien B : Breathing Frekuensi pernapasan? Kualitas pernapasan? C : Circulation Frekuensi nadi? Kualitas? Tekanan darah? Warna kulit? Akral dingin / hangat?

  42. Lanjutan…….. D : Disability GCS, Pupil E : Eksposure Laserasi, hematom ? Luka penyerta ? F : Full Vital Signs TD, N, R, S ? G : Give Confort Apakah pasien memerlukan pengaman, bidai, selimut ? H : Head to Toe Assesment I : Inspeksi Adakah trauma Tulang belakang ?

  43. Diagnosa Keperawatan • Inefektif bersihan Jalan napas berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran Tujuan : Pasien dapat mempertahankan kepatenan jalan napas dengan kriteria : • Tidak ada tanda dan gejala obstruksi jalan napas al stridor, dyspnoea, suara serak • Pernapasan; irama, kedalaman, pola napas reguler • Ekspansi dada bilateral • Pasien mampu mengeluarkan sekret

  44. Lanjutan…….. Intervensi • Buka jalan napas • Pasang cervical colar • Pasang oropharingeal tube atau nasopharingeal tube • Pasang Endotracheal Tube • Suction

  45. Lanjutan…….. • Resiko terjadinya aspirasi berhubungan dengan : - Penurunan tingkat kesadaran - Gang refleks menurun - Adanya sekret dan debris pada jalan napas Tujuan : Tidak terjadi aspirasi pada pasien : • Jalan napas paten • Suara napas normal, bilateral

  46. Lanjutan…….. • Nilai Analisa Gas Darah PaO2 80-100 mmHg SaO2 >95% PaCo2 35-45 mmHg Ph darah 7,35-7,45 • Ro Foto bersih tanpa infiltrat • Pasien mampu mengeluarkan sekret

  47. Lanjutan…….. Intervensi • Buka jalan napas • Stabilisasi dengan cervical colar • Pasang oropharingeal tube/nasopharingeal tube • Pasang Nasogastric tube • Suction • Ambil darah untuk analisa gas darah arteri

  48. Lanjutan………. • Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan : - Edema cerebral, hematom - Hipoksia cerebral, hipotensi - Hipovolemia Tujuan : Perfusi jaringan cerebral optimal dengan kriteria: • GCS 14-15 • VS normal sesuai umur

  49. Lanjutan……… • Ukuran pupil normal, refleks cahaya positif • Tidak ada tanda dan gejala kenaikan tekanan intrakranial al ; pusing, muntah, letargi,perubahan orientasi atau kesadaran • Analisa Gas darah Arteri dalam batas normal • Urine output 1 ml/kgBB/hr

More Related