Download

ORGANISASI PRODUKSI DAN FUNGSI PRODUKSI






Advertisement
/ 41 []
Download Presentation
Comments
selena
From:
|  
(1025) |   (0) |   (0)
Views: 67 | Added:
Rate Presentation: 0 0
Description:
ORGANISASI PRODUKSI DAN FUNGSI PRODUKSI. PRODUKSI Transformasi masukan (inputs) atau sumbedaya (resources) menjadi keluaran (outputs) barang dan jasa yang mempunyai nilai tambah. Keluaran bisa saja merupakan produk akhir spt komputer atau setengah jadi spt karet remah dsb.
ORGANISASI PRODUKSI DAN FUNGSI PRODUKSI

An Image/Link below is provided (as is) to

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use only and may not be sold or licensed nor shared on other sites. SlideServe reserves the right to change this policy at anytime. While downloading, If for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.











- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -




Slide 1

ORGANISASI PRODUKSI DAN FUNGSI PRODUKSI

PRODUKSI

Transformasi masukan (inputs) atau sumbedaya (resources) menjadi keluaran

(outputs) barang dan jasa yang mempunyai nilai tambah. Keluaran bisa saja

merupakan produk akhir spt komputer atau setengah jadi spt karet remah dsb.

Keluaran dapat juga berupa jasa spt pendidikan, jasa perbankan, pengangkutan,

jasa konsultasi dsb.

Masukan (inputs) adalah sumberdaya yang digunakan dalam produksi barang dan

jasa. Masukan dapat berupa masukan tetap (fixed inputs) dan masukan berubah

(variable inputs).

Masukan tetap adalah masukan yang tidak berubah jumlahnya dalam proses produksi

kendati keluaran berubah (bertambah atau berkurang), misalnya tanah, gedung,

pabrik dsb.

Masukan berubah (variable inputs) adalah masukan yang berubah sejalan dengan perubahan keluaran, misalnya tenaga kerja, bahan baku, dsbnya.

JANGKA PENDEK

Periode waktu ketika terdapat salah satu masukan tetap (fixed input) dalam proses produksi.

JANGKA PANJANG

Periode waktu ketika terdapat salah satu masukan tetap dalam proses

Slide 2

PRODUKSI TOTAL, PRODUKSI IMBUH DAN PRODUKSI RATA-RATA, DAN ELASTISITAS PRODUKSI

  • Produksi Total adalah jumlah seluruh keluaran yang dapat dihasilkan dengan mengubah sejumlah masukan berubah dan masukan tetap. Perhatikan bahwa untuk fungsi produksi gemaris Q = 20 + 2L, dengan penggunan 5 unit tenaga kerja akan diperoleh 30 unit Q, jadi produksi total adalah 30 unit.

  • Produksi rata-rata adalah jumlah produksi rata-rata untuk penggunaan satu unit masukan. Dengan notasi sederhana dapat ditulis bahwa produksi rata-rata adalah

    Q/X = f(X)/X

    Untuk fungsi produksi Q = 20 + 2L produksi rata-rata adalah

    Q/X = (20 + 2L)L dan dengan penggunaan 5 unit tenaga kerja, produksi rata-rata menjadi

    =[20 + 2(5)]/5 = 30/5 = 6

    Produksi imbuh adalah tambahan produk total sebagai hasil dari penambahan satu unit masukan berubah (variable input) yang dalam contoh sebelumnya adalah 2, yakni Q/X = 2.

Slide 3

ELASTISITAS PRODUKSI

  • Elastisitas Produksi adalah nisbah persentase perubahan keluaran dengan persentase perubahan masukan. Rumusan itu dapat disederhanakan dalam bentuk

  • p = (Q/Q)/(X/X) atau Q/(X)(X/Q)

  • Akan tetapi Q/Q adalah produksi imbuh (marginal product) atau disingkat MP sedangkan X/Q = 1/(Q/X) atau 1/AP, sehingga elastisitas produksi tidak lain daripada

  • (Q/X)(X/Q) = (MP)(1/AP) = MP/AP.

Slide 4

FUNGSI PRODUKSI

Hubungan teknis antara masukan dengan keluaran dalam proses transformasi

masukan menjadi keluaran disebut fungsi produksi. Fungsi produksi dapat berupa

persamaan, tabel, grafik yang menunjukkan keluaran maksimum yang dapat

dihasilkan oleh produsen pada periode waktu tertentu dengan sejumlah masukan.

Q = f(L,K) (1)

Q =keluaran, L=tenaga kerja, K=modal

Hubungan perilaku pada Persamaan (1) dapat berbentuk gemaris (linear function)

dan nirgemaris (nonlinear funcion).

Fungsi gemaris

Q = a + bL (2)

Q = a + b1L + b2K (3)

Fungsi nirgemaris

Q = a + Lb (4)

Q = a + L b1+ Kb2 (5)

Slide 5

  • Gambar 1 Fungsi gemaris dengan satu peubah berubah (single variable input)

  • Q = 20 + 2L

  • Q

    L

    Q

    20

    Q = 20 +2L

    0

    40

    10

    80

    60

    20

    80

    30

    60

    40

    20

    0

    10 20 30

    L

    Slide 6

    Fungsi Nirgemaris (Nonlinear Function)

    • Bentuk fungsi nirgemaris acap dalam pangkat (power function) misalnya

      Q=AX (6)

      di mana Q=keluaran, X=masukan, A=tetapan pelipat, dan b=parameter.

      Jika >1 misalnya 2 dan A=5, maka bentuk tersebut menjadi

      Q=5X2 (7)

      Hubungan fisik antara Q dan X dapat diringkas dalam tabel berikut

      X 2 4 6 8 10

      Q 20 80 180 320 500

      Hubungan tersebut dalam dunia nyata kurang realistis karena setiap pertambahan masukan menambah total produksi yang makin meningkat.

    Slide 7

    Gambar 2 Fungsi Produksi Nirgemaris

    Q

    Q=5X2

    500

    0

    X

    Slide 8

    Gambar 3 Fungsi Produksi Nirgemaris

    Q

    Q=5X1/2

    X

    Q

    30

    4

    10

    9

    15

    16

    20

    25

    25

    15

    36

    30

    0

    18

    36

    X

    Slide 9

    PERLU DIPERHATIKAN HUBUNGAN FUNGSIONAL GEMARIS DAN NIRGEMARIS

    • FUNGSI GEMARIS

      Jika pertambahan produksi terjadi menurut fungsi gemaris maka setiap penambahan masukan (resources) akan selalu memberi tambahan produk total yang selalu meningkat pula. Dengan istilah sederhana setiap penambahan masukan akan selalu menambah keluaran sehingga cukup dengan menambah masukan akan selalu menambah keluaran. Jika demikian halnya, kita cukup menanam benih dalam polybag akan diperoleh keluaran yang selalu bertambah. Tentu hal itu tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata.

    • FUNGSI NIRGEMARIS

      Jika pertambahan produksi terjadi menurut fungsi nirgemaris maka setiap penambahan masukan (resources) akan selalu memberi tambahan produk total yang selalu meningkat pula sesuai dengan kelipatan fungsi itu (>1). Dengan istilah sederhana setiap penambahan masukan akan selalu menambah keluaran sehingga cukup dengan menambah masukan akan selalu menambah keluaran. Jika demikian halnya, kita cukup menanam benih dalam polybag dan akan diperoleh keluaran yang selalu bertambah. Hal ini juga tentu hal itu tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata.

    Slide 10

    FUNGSI PRODUKSI NEO KLASIK

    Fungsi produksi gemaris dan nirgemaris kurang realistis oleh karena jarang ada produksi yang terus menaik baik secara gemaris maupun secara nirgemaris. Ada kecenderungan bahwa produksi bila sudah mencapai titik tertentu, hasil imbuhnya akan menurun. Hukum ini yang disebut hukum hasil yang makin menurun (law of diminishing marginal product). (Bandingkan dengan hukum hukum hasil guna yang makin menurun dalam teori perilaku konsumen). Hukum hasil yang makin menurun menyatakan bahwa penambahan masukan berubah (variable inputs) akan menghasilkan tambahan produksi total yang makin menurun setelah mencapai tingkat prosduksi tertentu. Perhatikan bahwa hukum itu ditunjukkan oleh Gambar 1 setelah penggunaan 2 unit masukan yang menyebabkan produksi imbuh turun dari 10 unit menjadi 8 unit (berkurang 2 unit), kendati produksi total naik dari 16 unit ke 24 unit. Dapat juga dilihat bahwa ketika masukan ditambah dari 1 unit menjadi unit, produksi total naik dari 6 unit ke 16 unit sedangkan produk imbuh dari 6 unit ke 10 unit yang berarti meingkat sebanyak 4 unit.

    Slide 11

    Tabel 1 Produk Total, Produk Imbuh, Produk Rata-rata, dan

    Elastisitas Produksi

    PRODUK TOTAL, IMBUH, RATA- RATA, DAN ELASTISITAS PRODUKSI

    Slide 12

    GAMBAR 4 PRODUK TOTAL, IMBUH, RATA- RATA, DAN ELASTISITAS PRODUKSI

    Gambar berdasarkan data pada Tabel 1

    Q

    28

    14

    Produksi Total

    L

    6

    0

    2

    4

    7

    Slide 13

    Gambar 4 Produk Imbuh, Produk Rata-rata dan Elastisitas Produksi

    MP,AP

    10

    • Produk Imbuh, Produk Rata-rata, dan Elastisitas Produksi

    p=MP/AP=1

    MP=AP

    A

    Produk Imbuh

    p=MP/AP>1

    MP>AP

    5

    Produk Rata-rata

    p=MP/AP<1

    MP<AP

    p=MP/AP<0

    MP<0

    0

    X

    B

    1 2 3 4 5 6 7

    p=MP/AP=0

    MP=0

    Slide 14

    TABEL 2 HASIL IMBUH, NILAI IMBUH, DAN BIAYA IMBUH MASUKAN

    Slide 15

    PEROLEHAN TERHADAP SKALA (RETURNS TO SCALE) DAN DERAJAT KESERAGAMAN (DEGREE OF HOMEGENEITY)

    • Perolehan terhadap skala (returns to scale)

      Derajat yang menunjukkan perubahan keluaran (output) sejalan dengan perubahan sejumlah tertentu (a bundle) dari semua masukan (inputs).

    • Fungsi produksi Q = X (8)

    • Jika persamaan (8) dilipatgandakan dengan , maka,

      Q = ( X) (9)

      = X

      Untuk =1, maka derajat perubahan keluaran sama besarnya dengan kelipatan masukan. Jika >1maka derajat perubahan keluaran lebih besar daripada perubahan masukan. Jika <1maka derajat perubahan keluaran lebih kecil daripada perubahan masukan.

    Slide 16

    POSTULAT

    • Jika =1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan tetap (constant returns to scale).

    • Jika >1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan menaik (increasing returns to scale).

    • Jika <1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan menaik (decreasing returns to scale).

    • Pengertian yang sama dapat diterapkan pada fungsi produksi dengan lebih daripada satu masukan, misalnya

      Q = XY (10)

    Slide 17

    POSTULAT

    • Jika =1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan tetap (constant returns to scale).

    • Jika >1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan menaik (increasing returns to scale).

    • Jika <1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan menurun (decreasing returns to scale).

    • Pengertian yang sama dapat diterapkan pada fungsi produksi dengan lebih daripada satu masukan, misalnya

      Q = XY (11)

    Slide 18

    Derajat perolehan dengan dua masukan

    • Jika persamaan (9) dilipatgandakan dengan , maka,

      Q = (X) (Y) = XY

      = +XY (12)

    • Untuk +=1, maka derajat perubahan keluaran sama besarnya dengan kelipatan masukan.

    • Jika +>1maka derajat perubahan keluaran lebih besar daripada perubahan masukan.

    • Jika +<1maka derajat perubahan keluaran lebih kecil daripada perubahan masukan.

    Slide 19

    POSTULAT

    • Jika +=1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan tetap (constant returns to scale).

    • Jika +>1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan menaik (increasing returns to scale).

    • Jika +<1 maka derajat perubahan keluaran sebagai hasil dari perubahan masukan disebut derajat perolehan menurun (decreasing returns to scale).

    • Latihan: Terapkan pengertian tersebut di atas untuk n masukan,

      Q = XY…Z (13)

    Slide 20

    DERAJAT KESERAGAMAN

    Derajat keseragaman (degree of homgeninity) berkaitan erat dengan perolehan terhadap skala dan elastisitas produksi. Derajat keseragaman menunjukkan derajat keseragaman suatu fungsi jika dikalikan dengan tetapan tertentu, misalnya untuk persamaan

    Q =  (X) (Y)(14)

    = XY

    = +XY

    Jika + = 1 maka fungsi persamaan (11) disebut berderajat keseragaman satu dan jika + = 0 maka disebut berderajat keseragaman nol Fungsi produksi pada umumnya berderajat keseragaman satu. Mengapa?

    Slide 21

    ELASTISITAS PRODUKSI UNTUK FUNGSI PRODUKSI NIR GEMARIS

    • Elastisitas produksi fungsi produksi nir gemaris adalah parameter fungsi produksi itu. Perhatikan dari persamaan (9) tersebut di atas bahwa Q = XY dapat ditransformasi ke dalam bentuk log natural menjadi

    • Ln Q = ln  + ln X +  ln Y (15)

      ln Q/ln X = 

    • Akan tetapi ln Q/ln X = (Q/Q)(X/X)

      = (Q/X)(X/Q)

    Slide 22

    PENGGUNAAN OPTIMAL DARI MASUKAN

    Penggunaan optimal dari masukan dicapai pada saat nilai hasil imbuh sama dengan harga masukan atau biaya faktor imbuh (marginal factor cost). Perhatikan bahwa

     = PQ – WX (16)

     = laba

    P = harga keluaran

    Q = keluaran

    W = harga masukan

    X = masukan

    Persamaan tersebut di atas dapat pula ditulis sebagai

     = TVP – TFC

     = laba

    TVP = nilai total produksi (total value production)

    TFC = nilai masukan total (total factor cost)

    Harap diperhatikan bahwa TFC dalam konsep ini berbeda dengana konsep total fixed cost yang biasa digunakan dalam analisis biaya.

    Slide 23

    Persamaan tersebut masih dapat ditulis ulang menjadi  = Pf(X) – WXTurunan pertama dari persamaan tersebut terhadap X menghasilkan

    /X = P f(X)/X – W = 0 (17)

    Akan tetapi harap diingat bahwa Q = f(X) sehingga

    /X = P Q/X – W = 0, sehingga

    /X = P.MP – W = 0

    Perhatikan bahwa P.MP tidak lain daripada nilai hasil imbuh, yaitu harga keluaran Q dikalikan dengan hasil imbuh. Jadi,

    P.MP = VMP sehingga (18)

    VMP = W merupakan syarat pertama untuk alokasi optimum penggunaan masukan.

    Slide 24

    Syarat kedua alokasi optimum

    • Syarat kedua menuntut bahwa

      • 2/X2 = VMP/X < 0 (19)

        yang berarti bahwa lereng tiku VMP harus negatip.

        Perhatikan bahwa sepanjang VMP berlereng positip dan VMP>VAP, laba selalu negatip! Mengapa demikian?

    Slide 25

    Gambar Alokasi Optimum

    • Alokasi Optimum

    VMP,

    VAP,

    W

    E

    F

    W

    G

    A

    B

    VAP

    H

    C

    VMP

    0

    XA

    XB

    X

    Slide 26

    LABA ATAU RUGI

    VMP,

    VAP,

    W

    E

    F

    W

    G

    A

    B

    VAP

    C

    VMP

    Slide 27

    LABA ATAU RUGI?

    • Bagaimana posisi pada titik A dan B, apakah berlaba atau merugi? Perhatikan bahwa  = PQ – WX. PQ tidak lain dari TVP padahal

      VAP = PQ/X=TVP/X, sehingga TVP = VAP  X.

      Jadi, pada titik A

      PQ = TVP = VAP x XA (20)

      yang ditunjukkan oleh bidang OXACH sedangkan biaya faktor total (total factor cost) adalah W.X yang ditunjukkan oleh bidang OXAAG.

      Jadi pada titik A,

       = PQ – WX

      = OXAAG – OXAAG

      sehingga  < 0.

    Slide 28

    Pada titik B,

    • Perhatikan lagi bahwa  = PQ – WX.

    • PQ tidak lain dari TVP padahal

    • VAP = PQ/X=TVP/X, sehingga TVP = VAP  X.

      Jadi, pada titik B

      PQ = TVP = VAP  XB (21)

      yang ditunjukkan oleh bidang OXBEF sedangkan biaya faktor total (total factor cost) adalah W x XB yang ditunjukkan oleh bidang OXBBG.

      Jadi pada titik B,

       = PQ – WXB

      = OXBEF – OXBBG

      sehingga  > 0.

    Slide 29

    POSTULAT

    • Posisi laba atau rugi ditentukan oleh VMP, VAP, dan VMP.

    • Alokasi yang efisien dicapai pada saat VMP=W.

    • = PQ-WX

      = TVP – WX

      = VAP  X – WX

      = (VAP – W)X (22)

      Jadi  lebih besar, sama atau lebih kecil daripada nol, hanya dan hanya jika VAP lebih besar, sama, atau lebih kecil daripada nol.

    Slide 30

    ISOQUANT, ISOCOST, THE LEAST COST COMBINATION, DAN EXPANSION PATH

    • Isoquant

      Kombinasi dua masukan atau lebih yang menghasilkan keluaran yang sama

    X2

    Lereng Isoquant = –dX2/dX1=MP1/MP2

    A

    B

    Q0

    0

    X1

    Slide 31

    ISOCOST

    • Isocost adalah garis yang menghubungkan semua kombinasi masukan yang mempunyai biaya yang sama

    X2

    Lereng Isocost = -dX2/dX1

    = Wx1/Wx2

    0

    X1

    Slide 32

    The Least-Cost Combination

    • The Least-Cost Combination adalah titik keseimbangan antara isoquant dan isocost atau kombinasi masukan yang dengan alokasi yang efisien.

    X2

    A

    Pada titik E, -dX2/dX1=

    MP1/MP2=Wx1/Wx2

    MP1/Wx1=MP2/Wx2

    E

    X2E

    MPi/Wxi=MPj/Wxj

    Q

    B

    0

    X1E

    X1

    Slide 33

    JALUR EKSPANSI

    • Jalur Ekspansi

      Jalur ekspansi adalah garis yang menghubungkan semua titik kombinasi biaya dengan alokasi yang efisien (the least-cost combination)

    X2

    Jalur ekspansi meng-

    hubungkan titik-titik

    the least-cost combination

    A,B, dan C.

    Jalur ekspansi

    (expansion path)

    C

    B

    Q2

    A

    Q1

    Q0

    0

    X1

    Slide 34

    HOTELLING’S LEMMA

    • Hotelling’s Lemma merupakan turunan dari fungsi laba optimal terhadap

      o harga masukan menghasilkan

      fungsi permintaan masukan

      o harga keluaran (output)

      menghasilkan fungsi penawaran

    Slide 35

    HOTELLING’S LEMMA

    •  = pQ - wixi

      Turunan pertama menghasilkan

      /xi = pf’(xi) – wi = 0

      Jika terdapat solusi optimal maka xi* = xi(p,w) merupakan fungsi permintaan masukan sehingga

      *(p,w) = pf[(x(p,w)] – wixi (p,w)

      Turunan pertama terhadap harga masukan menghasilkan

      *(p,w)/wi=p[(f/x1)(x1/w1) + p[(f/x2)(x2/w2) + …

      + p[(f/xn)(xn/wn) – wj(xj/wi) –xi(p,w)

      Akan tetapi,

      p[(f/x1)(x1/w1) = w1 danp[(f/x2)(x2/w2) = w2 dan ….

      p[(f/xn)(xn/wn) wn sehingga

      *(p,w)/wi =wj(xj/wi) – wj(xj/wi) –xi(p,w)

      = –xi(p,w)

      permintaan terhadap masukan. Akan tetapi harap diingat bahwa hasilnya

      mempunyai tanda negatif sehingga tanda itu harus dicermati dalam penelitian empiris.

    Slide 36

    HOTELLING’S LEMMA

    Turunan pertama terhadap harga keluaran menghasilkan

    *(p,w)/p=p[(f/xj)(xj/p) + f(x(p,w) –wj(xj/wi)

    = wj(xj/wi) + f(x(p,w) –wj(xj/wi)

    = f(x(p,w)) = Q(p,w)

    Jadi turunan pertama dari fungsi laba optimal terhadap

    harga keluaran menghasilkan fungsi penawaran keluaran (supply funtion)

    Slide 37

    DUALITY

    Perhatikan fungsi produksi Cobb-Douglas:

    Q = AKaLb

    Transformasi ke dalam bentuk logaritma natural menjadi

    lnQ = ln A + a ln K+ b ln L

    Hasil imbuh karena perubahan K adalah

    Q/K = aAKa-1Lb

    Hasil imbuh karena perubahan L adalah

    Q/L = b AKaLb-1

    Slide 38

    Syarat untuk efisiensi produksi adalah

    MPK/r = MPL/w

    Sulihan manipulasi sebelumnya ke dalam syarat efisiensi menghasilkan

    aAKa-1Lb/r = b AKaLb-1/w

    Penyederhanaan hasil tersebut di atas untuk peubah K menghasilkan

    K = awL/br

    atau

    L = brK/aw

    Slide 39

    Perhatikan bahwa

    TC = rK +wL

    Sulihan hasil tersebut sebelumnya pada persamaan biaya total menghasilkan

    TC = rawL/b + wL

    TC = [r(a/b)(w/r)L] + wL

    TC = [(r/b) + 1]L + wL

    Fungsi biaya total acap dinyatakan sebagai fungsi

    keluaran (output), yakni TC = f(Q), sehingga

    Q = A[aw/brL]a Lb

    Slide 40

    = A[aw/br]a La+b

    Solusi terhadap L menjadi

    La+b = [Q/A][aw/br]-a

    sehingga

    L= [Q/A]1/(a+b[aw/br]-a/a+b

    TC = [r(a/b)(w/r)L] + w [(Q/A)1/(a+b(aw/br)-a/a+b]

    TC = c[Q/A]1/(a+b

    Oleh karena a+b = 1 maka

    TC = c[Q/A]

    Slide 41

    Atau

    TC = (c/A)Q = c’Q

    di mana c’ = c/A sebagai tetapan

    Perhatikan bahwa

    ATC = c’Q/Q

    = c’

    dan

    MC = dTC/dQ

    = c’

    Jadi ATC = MC dan tiku biaya rata-rata dan biaya imbuh merupakan garis datar (horizontal) dan berhimpitan. Industri dalam skala perolehan tetap (constant returns to scale) dan cenderung menjadi industri dengan biaya konstan (constant-cost industry). Contoh dalam dunia nyata adalah industri minyak dan industi semen.


    Copyright © 2014 SlideServe. All rights reserved | Powered By DigitalOfficePro