1 / 53

Oleh : Jamzani Sodik

PERTUMBUHAN EKONOMI REGIONAL DAN KETIMPANGAN PENDAPATAN ANTAR KECAMATAN Studi Kasus Kotamadya Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 2004-2007. Oleh : Jamzani Sodik. Latar Belakang. P embangunan dalam lingkup negara secara spasial tidak selalu berlangsung secara seimbang dan merata .

Download Presentation

Oleh : Jamzani Sodik

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. PERTUMBUHAN EKONOMI REGIONAL DAN KETIMPANGAN PENDAPATAN ANTAR KECAMATAN StudiKasusKotamadya Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 2004-2007 Oleh : JamzaniSodik

  2. LatarBelakang • Pembangunan dalam lingkup negara secara spasial tidak selalu berlangsung secara seimbang dan merata. 2. Kecenderungan peranan modal (investor) lebih memilih daerah perkotaan atau daerah yang telah memiliki fasilitas yang lengkap 3. Adanya ketimpangan redistribusi pembagian pendapatan dari Pemerintah Pusat kepada daerah

  3. lanjutan 4. Kesenjangan pembangunan ekonomi antar daerah dan antar wilayah serta antarsektor ekonomi.

  4. RumusanMasalah 1. BagaimanapoladanstrukturpertumbuhanekonomikecamatandiKotamadya Yogyakarta berdasarkanpertumbuhanekonomidan PDRB per kapita. 2. Apakah terdapat ketimpangan pendapatan regional antar kecamatandiKotamadya Yogyakarta.

  5. TujuanPenelitian 1. Untukmengetahuipoladanstrukturpertumbuhanekonomikecamatanberdasarkanpertumbuhanekonomidan PDRB per kapita 2. Untukmenganalisisketimpanganpendapatan regional antarkecamatan

  6. LandasanTeori 1. MenurutTeori Neo-klasikpertumbuhanekonomisuatudaerahakansangatditentukanolehkemampuandaerahtersebutuntukmeningkatkankegiatanproduksinya. 2. Keynesian yang menekankanpadasisipermintaan. Aliraninimenempatkanisusentralpadaekspor regional sebagaipenggerakpertumbuhan output.

  7. Lanjutan 3. Teoripenyebabkumulatif (cumulatif causation theory). Teoriinipadaawalnyadikemukakanolehahli-ahliteoripusatpertumbuhansepertiPerroux (1950), Myrdal (1957) dan Hirschman (1958) dalam Armstrong and Taylor (2007). Apabilasuatuindustrimempunyaiskalaekonomi internal (internal economies of scale) yang signifikan, perusahaan yang tumbuhsecaracepatakanmenambahkeunggulankompetitiflebihbesardaripadasaingannyadanakanterjadipertumbuhankumulatif.

  8. StudiEmpiris • Akita (2001) melakukan penelitian ketimpangan pendapatan daerah di China pada periode 1995-1998. Permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh Pemerintah China adalah masalah pemerataan pendapatan dan pemerataan pertumbuhan ekonomi antar provinsi. 2. Sjafrizal(2002) untukperiode 1993-2000. Disampingmengukurtingkatketimpangandantendensinya, studiinijugamencobamelihatpengaruhibukota Jakarta terhadapketimpanganpembangunanantarwilayah. Temuan yang menarikdaristudiiniadalahnbahwapengaruhibukota Jakarta terhadapketimpanganantarwilayahdi Indonesia ternyatacukupbesarKarenastukturekonomikota yang sangatberbedadibandingkandenganpropinsi.

  9. Lanjutan 3. Studi Akita danAlisyahbana (2002) denganmenggunakanTheil Index sebagaialatukurketimpanganpembangunanantarwilayahdandalamwilayahMasalahketimpangandistribusipendapatantidakhanyatampakpadawajahketimpanganantarapulauJawadanluarJawasajamelainkanjugaantarawilayahdidalamPulauJawaitusendiri. Bahkanketimpanganjugaseringterjadisecaranyataantaradaerahkabupaten/ kotadidalamwilayahpropinsiitusendiri. Lebihlanjutdikatakanbahwakesenjanganantardaerahterjadisebagaikonsekuensidaripembangunan yang terkonsentrasi.

  10. Lanjutan 4. Sutarno dan Kuncoro (2003) mengidentifikasi pola dan struktur pertumbuhan ekonomi dan mengetahui ketimpangan antar Kabupaten di Kabupaten Banyumas. Melalui pendekatan analisis ketimpangan Williamson dan indeks entropi Theil, diperoleh kesimpulan bahwa tingkat ketimpangan PDRB per kapita antar Kabupaten di Kabupaten Banyumas yaitu rata-rata 0,426 untuk Indeks ketimpangan Williamson dan 0,0396 untuk Indeks Entropy Theil.

  11. Lanjutan 4. Etharina (2005) menganalisisdisparitaspendapatanantardaerahdi Indonesia danmelihatpengaruhsuatuwilayahataugruppropinsiterhadapdisparitas yang terjadi. PenelitiandilakukandenganmenggunakanTheil Entropy Indexuntukmelihatdimensispasialdandisparitas regional. Hasilpenelitianmenemukanbahwadisparitaspendapatan per kapita yang terjadiantara (between) wilayahJawadanluarJawa, sertaantaraKawasan Barat danKawasanTimur Indonesia relative kecil. Disparitaspendapatanperkapita yang lebihbesarterjadiantara DKI Jakarta dandaerahlainnya, sertaantaragruppropinsikayadangruppropinsimiskin. Selainitupenelitianjugamenemukanbahwadisparitasjustrusemakinnyataterjadididalam (within) suatuwilayahyaitudidalamwilayahJawa, LuarJawa, KBI dan KTI.

  12. MetodePenelitian AlatAnalisis 1. TipologiKlassendapatdigunakanuntukmengetahuigambarantentangpoladanstrukturpertumbuhanekonomidaerah. MenuruttipologiKlassen, masing-masingdaerahdapatdiklasifikasikansebagaidaerah yang tumbuhcepat (Rapid Growth Regioan), daerah yang tertekan (Retarded Region), daerahsedangtumbuh (Growth Region) dandaerahrelatiftertinggal (Relative Backward Region).

  13. Lanjutan (I) Jikari > rndan Yi > Yn = Daerah MajudanTumbuhCepat (MT) (II) Jikari > rndan Yi < Yn = Daerah BerkembangCepat (B) (III) Jikari < rndan Yi > Yn = Daerah MajutapiTertekan (M) (IV) Jikari < rndan Yi < Y­n = Daerah KurangBerkembang (KB) Dimana : • ri = lajupertumbuhan PDRB daerahke-i (Kecamatanke-I) • rn = lajupertumbuhan PDRB rata-rata Kotamadya/Kabupaten • Yi = Pendapatanperkapitadaerahke-I (Kecamatanke-i) • Yn = Pendapatanperkapita rata-rata Kotamadya/Kabupaten

  14. Lanjutan

  15. Lanjutan 2. INDEKS ENTROPHY THEIL Digunakanuntukmengukurkesenjanganatauketimpangan (ketimpangan regional, ketimpanganindustri/derajataglomerasiindustri, ketimpangankemiskinandll)

  16. Lanjutan… • Keterangan: • T = indeks entropi Theil • Yi = PDRB per kapita Kecamatani • Y = Rata-rata PDRB per kapita Kotamadya/Kabupateni • Pi = Jumlah penduduk Kecamatani • P = Jumlah penduduk Kotamadya/Kabupaten

  17. Lanjutan 3. INDEKS WILLIAMSON Digunakanuntukmengukurkesenjangan/ketimpangan regional

  18. HasilAnalisis

  19. Lanjutan

  20. Lanjutan 2. Indekskesenjangan Entropy Theilmenunjukkankecenderunganpeningkatankesenjangan/ketimpangandaritahun 2006 sampaitahun 2007. Padatahun 2004 nilaiindeks Entropy Theilsebesar 1,32 padaperiodetahun 2005 nilaiindeks Entropy Theil 1,24 padatahun 2006 mengalamipenurunanmenjadi 1,22, danpadatahun 2007 mengalamipeningkatansehingganilaiindeks Entropy Theilnyamenjadi 1,24.

  21. Lanjutan

  22. Lanjutan 3. Indeks Williamson menunjukkankecenderunganpeningkatankesenjangan/ketimpangandaritahun 2006 sampaitahun 2007. Padatahun 2004 nilaiindeks Williamson sebesar 0,99 padaperiodetahun 2005 nilaiindeks Williamson naikmenjadi 1,47 padatahun 2006 mengalamipenurunanmenjadi 1,22, danpadatahun 2007 mengalamipeningkatansehingganilaiindeks Williamson menjadi 1,14.

  23. HipotesisKuznet • HipotesisKuznetdapatdibuktikandenganmembuatgrafikantarapertumbuhanPDRB danindeksketimpangan. Grafiktersebutmerupakanhubunganantarapertumbuhan PDRB denganIndeksketimpangan Williamson maupunpertumbuhan PDRB denganindeksketimpanganEntropiTheilpadaperiodepengamatan. Tetapikarenaperiodepengamatanpadapenelitianinihanya 4 tahunmakapembuktianhipotesisKuznettidakbisasempurna. Hal inidisebabkankarena data PDRB perkapitakecamatan di Kotamadya Yogyakarta barudimulaitahun 2004.

  24. HasilHipotesisKuznet • Dari tabeldiatasterlihatbahwapertumbuhanekonomi yang meningkatakandiikutiolehIndeksEnthropy yang menaikjuga. Hal inisesuaidenganhipotesisKuznetbahwapadasaatawalpertumbuhanekonomiketimpanganjugaakanmeningkattetapi lama kelamaanakanturunatausemakinmerata. Hanyadidalamperiodepenelitianinibelumtergambarjelaskarenaperiodenyabaruempattahun. Hal yang samajugaterjadipadatabel 4.6. terlihatbahwaapabilapertumbuhanekonomimeningkatmakaakandiikutiolehkenaikannilaiindeks Williamson.

  25. Kesimpulandan Saran Kesimpulan 1. Berdasarkantipologidaerahmenurutpertumbuhandanpendapatan per kapita, daerah/kecamatandiKotamadya Yogyakarta dapatdiklasifikasikanmenjadiempatkelompok, yaitusebagaidaerah yang tumbuhcepat (Rapid Growth Regioan), daerah yang tertekan (Retarded Region), daerahsedangtumbuh (Growth Region) dandaerahrelatiftertinggal (Relative Backward Region).

  26. Lanjutan 2. Indekskesenjangan Entropy Theilmenunjukkankecenderunganpeningkatankesenjangan/ketimpangandaritahun 2006 sampaitahun 2007. NilaiIndeks Entropy Theil yang semakinmembesarmenunjukkankesenjangan/ketimpangan yang semakinmembesar pula. Demikian pula sebaliknya, bilaindeksnyasemakinkecil, makakesenjangan/ketimpanganakansemkinrendah/kecilataudengankata lain semakinmerata.

  27. Lanjutan 3. Indeks Williamson menunjukkankecenderunganpeningkatankesenjangan/ketimpangandaritahun 2006 sampaitahun 2007. NilaiIndeks Williamson yang semakinmembesarmenunjukkankesenjangan/ketimpangan yang semakinmembesar pula. Demikian pula sebaliknya, bilaindeksnyasemakinkecil, makakesenjangan/ketimpanganakansemkinrendah/kecilataudengankata lain semakinmerata.

  28. Lanjutan Saran • Dalammengambilkebijakanpembangunan, pemerintahkotamadya Yogyakarta danpropinsiharusmemperhatikandimensispasial, tidaksepertipadawakusebelumnya yang menggunakanpendekatan non spasial. Dalamprakteknya, selaluterjadi trade-off, tarikmenarik, antarastrategipercepatanpertumbuhanekonomidenganpemerataanpendapatanantardaerah. Salahsatukebijakan yang dapatditempuholehPemerintahKotamadya Yogyakarta adalahperencanaanpembangunandiarahkan/diprioritaskanpada : 1. Daerah-daerah yang relative tertinggal, khususnyadenganstrategimeningkatkanpertumbuhandanpenanggulangankemiskinan. 2. Untukdaerah-daerah yang cepatmajudanberkembangdenganstrategimenaikinvestasidanpromosidaerahperluditingkatkan.

  29. BagaimanauntukwilayahJawa Tengah

  30. Hipotesis “U” terbalik • Kecenderunganpenurunandisparitaspendapatan yang ditunjukkandenganindeks Williamson danindeksEntropiTheilbelummenunjukkanberlakunyaHipotesis “U” terbalikdari Kuznets di kabupaten/kota di PropinsiJawa Tengah. Hipotesis Kuznets dapatdibuktikandenganmembuatgrafikantarapertumbuhan PDRB danindeksketimpangan. Grafiktersebutmerupakanhubunganantarapertumbuhan PDRB denganindeks Williamson maupunpertumbuhan PDRB denganindeksTheilselamaperiodepengamatan.

  31. Jawa Tengah tahun 2009

More Related