Social behavior tindak kekerasan terhadap perempuan
This presentation is the property of its rightful owner.
Sponsored Links
1 / 18

Social behavior: tindak kekerasan terhadap perempuan PowerPoint PPT Presentation


  • 168 Views
  • Uploaded on
  • Presentation posted in: General

Social behavior: tindak kekerasan terhadap perempuan. Elli Nur Hayati Rifka Annisa, Yogyakarta. APAKAH KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN?.

Download Presentation

Social behavior: tindak kekerasan terhadap perempuan

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Presentation Transcript


Social behavior tindak kekerasan terhadap perempuan

Social behavior: tindak kekerasan terhadap perempuan

Elli Nur Hayati

Rifka Annisa, Yogyakarta


Apakah kekerasan terhadap perempuan

APAKAH KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN?

“Segala tindakan kekerasan yang berbasis gender yang ditujukan pada perempuan, yang mengakibatkan atau mungkin akan mengakibatkan penderitaan secara fisik, seksual, atau psikologis; termasuk tindakan mengancam, memaksa atau membatasi kebebasan; baik yang terjadi di ranah publik maupun domestik”

Declaration on the elimination on violence against women;

passed by UN General Assembly, 1993.


Berbagai bentuk ktpbg

Berbagai bentuk KTPBG


Historical background 1

Historical background (1)

  • Persoalan KDRT mulai muncul ke permukaan sekitar awal tahun 70-an di Inggris.

  • Pada saat itulah temporary safe house atau yang dikenal dengan “shelter” mulai dibuat untuk menampung perempuan yang terpaksa lari dari rumahnya karena teraniaya dalam perkawinannya.


Historical background 2

Historical background (2)

  • Pada pertengahan tahun 70-an, survey besar tentang kekerasan dlam rumah tangga mulai dilakukan di AS oleh Gelles dan Strauss.

  • Hasil survey mereka menunjukkan bahwa 3.8% perempuan AS telah mengalami penganiayaan dari pasangannya dalam 12 bulan terakhir.

  • Riset mereka kemudian menjadi milestone bagi penelitian KDRT di seluruh dunia.


Theoretical background 1

Theoretical background (1)

  • Hasil riset Gelles & Strauss kemudian melahirkan teori “family violence” yang memandang ahwa KDRT terjadi semata-mata karena anggota keluarga sedang menghadapi stressor psikososial sehingga muncul konflik dalam keluarga yang kemudian diselesaikan dengan cara-cara abusive.

  • Jadi KDRT merupakan fenomena resolusi konflik keluarga.


Theoretical background 2

Theoretical background (2)

  • Teori Family violence dari Gelles & Strauss kemudian mendapat banyak kritik karena gagal memberi jawaban: “mengapa lebih banyak perempuan (dalam hal ini pasangan perempuan) yang menjadi sasaran tindak kekerasan dalam keluarga?”

  • Gelles & Strauss semata-mata menjawab bahwa hal itu lebih disebabkan karena lelaki memang lebih agresif dan temperamental dibanding perempuan.


Theoretical background 3

Theoretical background (3)

  • Pada awal tahun 80-an Dobash & Dobash mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

  • Mereka tidak hanya melakukan survey tetapi juga melakukan studi dokumen di kantor-kantor Polisi dan rumah sakit tentang pengaduan kasus penganiayaan.

  • Mereka menemukan fakta bahwa memang perempuan merupakan target terbanyak tindak kekerasan, terutama kekerasan di wilayah domestik.


Theoretical background 4

Theoretical background (4)

  • Penelitian Dobash & Dobash melahirkan teori “power relation” yang menggaris bawahi KDRT sebagai suatu bentuk kontrol suami atau pasangan lelaki terhadap isteri atau pasangan perempuannya.

  • Teorinya didukung banyak temuan lain yang mengungkap pengalaman para perempuan korban kekerasan, juga pengakuan kaum lelaki soal hak yang membolehkan mereka menggunakan cara kekerasan dalam mendidik isterinya


Fakta tentang kdrt

Fakta tentang KDRT


Fakta tentang kdrt1

Fakta tentang KDRT

  • Foto-foto di atas menunjukkan bahwa kekerasan seringkali terjadi secara berulang

  • Itu karena kekerasan memang bersiklus

kekerasan

reda

konflik

bulan madu


Kekerasan terhadap perempuan ktpbg adalah masalah kesehatan masyarakat 1

Kekerasan terhadap perempuan (KTPBG) adalah masalah kesehatan masyarakat ? (1)

Di seluruh dunia, diperkirakan bahwa KTP adalah penyebab utama kematian dan keterpurukan perempuan pada usia subur sebesar jumlah penderita kanker, dan penyebab utama ketidaksehatan perempuan sebesar kombinasi penderita kecelakaan lalin + malaria (WHO, 1999)


Kekerasan terhadap perempuan ktpbg adalah masalah kesehatan masyarakat 2

Kekerasan terhadap perempuan (KTPBG) adalah masalah kesehatan masyarakat ? (2)

Di seluruh dunia, setidaknya satu dari tiga perempuan mengalami pemukulan, dipaksa melakukan tindakan seksual, dan dianiaya

(Population Report, 1999)


Dampak kekerasan terhadap perempuan 1

DAMPAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN (1)

  • Kesehatan fisik (cedera, kecacatan permanen, kesehatan buruk, gangguan fungsional tubuh, dsb.)

  • Kesehatan mental (depresi, PTSD, kecemasan, insomnia, dsb.)

  • Kesehatan reproduksi (kehamilan tak dikehendaki, keguguran, BBLR, STIs/HIV, dsb.)

  • Perilaku kesehatan yang negatif (merokok, alkohol, obesitas, dsb.)

  • Intergenerational transmission of violence


Mengapa terjadi ktp

Mengapa terjadi KTP?

“The ecological framework”

(Lori Heise, 1998).

Faktor individual

Faktor Keluarga

Faktor komunitas/masyarakat

Faktor sistemik negara


Mengapa terjadi ktpbg

Mengapa terjadi KTPBG?

“The ecological framework” menerangkan bahwa kerasan terhadap perempuan (termasuk KDRT) terjadi karena kontribusi berbagai faktor, yaitu:

  • Faktor individual: adanya temperamen, karakter individual yang menyebabkan seseorang melakukan tindak kekerasan.

  • Faktor keluarga: adanya pola asuh yang tidak adil gender, figur ayah yang dominan & ibu yang subordinat.

    3. Faktor komunitas: adanya kultur masyarakat yang mentoleransi dominasi lelaki terhadap perempuan, masalah kemiskinan, pengangguran, dsb.

    4. Faktor struktural negara: ketiadaan pengakuan negara atas masalah kekerasan berbasis gender, sehingga tidak ada perlindungan hukum bagi perempuan & hukuman bagi pelaku kekerasan


  • Login