1 / 22

Standar Kompetensi: Memahami H ukum I slam tentang Waris

FIQH. Standar Kompetensi: Memahami H ukum I slam tentang Waris. Kompetensi Dasar: Menjelaskan ketentuan hukum-hukum waris Menjelaskan contoh pelaksanaan hukum waris. Tadarus.

chin
Download Presentation

Standar Kompetensi: Memahami H ukum I slam tentang Waris

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. FIQH Standar Kompetensi: Memahami Hukum Islam tentang Waris • Kompetensi Dasar: • Menjelaskan ketentuan hukum-hukum waris • Menjelaskan contoh pelaksanaan hukum waris

  2. Tadarus لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا (7) وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفًا (8) وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا (9) إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا (10) يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَـيـَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأُِمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلأُِمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لاَ تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (11) [النساء/7-11]

  3. WARIS A. KetentuanMawaris Mawaris berarti hal-hal yang berhubungan dengan waris dan warisan. Ilmu yang mempelajari mawaris disebut ilmu faraid • Tidakberhakjika: • BudakBelian • Membunuh • Murtad • Beda Agama • Berhakjikaada: • Ikatankekeluargaan • Ikatanpernikahan • Wala’ • Hubunganseagama Ahliwaristerhadapwarisan

  4. B. Harta yang Dikeluarkan Sebelum Diwariskan • Zakat • Biaya pengurusan jenazah • Utang • Wasiat

  5. C. AhliWaris • AhliWarisLaki-Laki: • Anaklaki-laki • Cuculaki-lakidarianaklaki-laki • Bapak • Kakekdaribapak • Saudaralaki-lakisekandung • Saudaralaki-lakisebapak • Saudaralaki-lakiseibu • Anaklaki-lakisaudaralaki-lakisekandung • Anaklaki-lakisaudaralaki-lakisebapak • Paman yang sekandungdenganbapak • Paman yang sebapakdenganbapak • Anaklaki-lakipaman yang sekandungdenganbapak • Anaklaki-lakipaman yang sebapakdenganbapak • Suami • Laki-laki yang memerdekakansipewaris

  6. Ahli Waris Perempuan: • Anak Perempuan • Cucu perepmuan dari anak laki-laki • Ibu • Nenek dari ibu • Nenek dari bapak • Saudara perempuan sekandung • Saudara perempuan sebapak • Saudara perempuan seibu • Istri • Wanita yang memerdekakan si pewaris

  7. Istilah-istilah Dalam Mawaris • Zawil Furudh • Ketentuan perolehan harta waris bagi ahli waris. Bagiannya antara lain 1/2, 1/4, 1/8, 1/3, 2/3 dan 1/6 • Ashobah • Sisa perolehan harta waris bagi ahli waris yang tidak tertentu. Ashobah terbagi tiga: • - Ashobah fi nafsihi, dengan sendirinya dapat sisa harta waris • - Ashobah bi ghairihi, dapat sisa karena ditarik oleh ahobah bi gahirihi • - Ashobah ma’a ghairihi, dapat ashobah karena berbarengan dengan ahli waris tertentu dari golongan zawil furudh

  8. Hijab • Hijab Nuqsan • Hijab yang dapat mengurangi bagian dari harta warisan bagi ahli waris dikarenakan berbarengan dengan ahli waris tertentu • Hijab Hirman • Hijab yang menyebabkan ahli waris kehilangan hak atas harta waris dikarenakan berbarengan dengan wali waris tertentu

  9. AhliWarisdanBagiannya • Anak laki-laki • Ashobah bi nafsihi. • Cucu laki-laki dari anak laki-laki • Ashobah bi nafsihi jika tidak ada anak laki-laki • Bapak • - 1/6 jika ada anak atau cucu dari anak laki-laki • - Ashobah bi nafsihi jika tidak ada anak laki-laki atau cucu dari anak laki-laki • Suami • - 1/2 jika tidak ada anak atau cucu • - 1/4 jika ada anak atau cucu • Kakek dari bapak • menempati posisi bapak jika tidak ada bapak • Saudara laki-laki sekandung • Ashobah bi nafsihi jika tidak ada anak laki-laki dan bapak

  10. Saudara laki-laki sebapak • Ashobah bi nafsihi jika tidak ada anak laki-laki, bapak dan saudara laki-laki sekandung • Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung • Ashobah bi nafsihi jika tidak ada anak laki-laki, bapak, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak • Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak • Ashobah bi nafsihi jika tidak ada anak laki-laki, bapak, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak dan anak laki-laki saudara sekandung • Begitu seterusnya dari ahli waris laki-laki semakin jauh dari pewaris semakin kecil peluangnya dikarenakan terhalang oleh ahli waris terdekat dengan pewaris

  11. Anak perempuan • - 1/2 jika anak tuggal • - 2/3 dua orang atau lebih • - Ashobah bi ghoirihi jika ada anak laki-laki • Cucu perempuan dari anak laki-laki • - 1/2 jika tidak ada anak perempuan • - 1/6 sendiri atau lebih jika ada anak perempuan sendiri • - 2/3 dua orang atau lebih jika tidak ada anak perempuan • - Ashobah bi ghairihi jika ada cucu laki-laki • - tidak mendapatkan harta waris selama ada anak laki-laki dan bapak • Ibu • - 1/3 jika tidak ada anak atau cucu dari anak laki-laki atau dua orang saudara • pewaris • - 1/6 jika ada anak atau cucu dari anak laki-laki atau dua orang saudara pewaris • Nenek • - 1/6 seorang taau lebih jika tidak ada ibu

  12. Istri • - 1/4 seorang atau lebih jika tidak ada anak atau cucu • - 1/8 seorang atau lebih jika ada anak atau cucu dari anak laki-laki • Saudara perempuan sekandung • - 1/2 seorang jika tidak ada anak perempuan • - 2/3 dua orang atau lebih jika tidak ada anak perempuan • - Ashobah ma’a ghairihi jika ada anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki • - Ashobah bi ghairihi jika ada saudara laki-laki sekandung • - tidak mendapatkan harta waris selama ada anak laki-laki dan bapak • Ibu • - 1/3 jika tidak ada anak atau cucu dari anak laki-laki atau dua orang saudara • pewaris • - 1/6 jika ada anak atau cucu dari anak laki-laki atau dua orang saudara pewaris • Nenek • - 1/6 seorang atau lebih jika tidak ada ibu

  13. Saudara perempuan sebapak • - 1/2 seorang jika tidak ada saudara perempuan sekandung • - 2/3 dua orang atau lebih jika tidak ada saudara perempuan sekandung • - 1/6 seorang atau lebih jika ada saudara perempuan sekandung • - Ashobah ma’a ghairihi jika ada anak atau cucu perempuan dari anak laki- laki • - Ashobah bi ghairihi jika ada saudara laki-laki sebapak • - tidak mendapatkan harta waris selama ada anak laki-laki, cucu laki-laki, bapak, saudara laki-laki sekandung dan saudara perempuan ketika berashobah dengan anak perempuan atau cucu perempuan • Saudara perempuan seibu • - 1/6 seorang baik laki-laki mapun perempuan • - 1/3 dua orang atau lebih baik laki-laki maupun perempuan

  14. D. PerhitunganWarisan Perhitungan warisan dilakukan setelah di tentukan ahli warisnya. Dan dibagikan sebagaimana bagian-bagian yang sudah dibahas sebelumnya. Macam-Macam Perhitungan Waris Perhitungan waris menyalahi ketentuan umum ketika pokok masalah tidak sama dengan jumlah bagian zawil furudh atau ahli warisnya hanya terdiri dari istri (suami), bapak dan ibu.

  15. a. Al Garawain Al Garawain terjadi ketika ahli waris terdiri dari istri (suami), bapak dan ibu. Bagian bapak menjadi 2/3 dan ibu menjadi 1/3. dan di bagi setelah di kurang hak suami (istri) Contoh: Seorang pewaris (perempuan) meninggalkan harta warisan sebanyak 300 gram emas. Ahli waris terdiri atas suami, ibu dan bapak. Berapakah bagian masing-masing ahli waris tersebut? Jawaban: Suami 1/2 x 300 gram = 150 gram  sisa harta (300-150 = 150 gram) Ibu 1/3 x 150 gram = 50 gram Ayah 2/3 x 150 gram = 100 gram

  16. b. al ‘Aul al ‘Aul terjadi ketika jumlah bagian zawil furudh melebihi pokok masalahnya. Contoh: Seorang pewaris (perempuan) meninggalkan harta warisan sebanyak Rp. 600.000.000,00. Ahli waris terdiri atas suami, ibu, seorang saudara perempuan sekandung san seorang saudara perempuan sebapak. Berapakah bagian masing-masing ahli waris tersebut? Jawaban: Ketentuan semula: Suami 1/2 Ibu 1/6 Seorang saudara perempuan sekandung 1/2 Seorang saudara perempuan sebapak 1/6 Bagian suami 1/2 x 6 = 3 bagian, ibu 1/6 x 6 = 1 bagian, saudara perempuan sekandung 1/2 x 6 = 3 bagian dan saudara perempuan sebapak 1/6 x 6 = 1 bagian. Total jumlah bagian ahli waris adalah : 3 + 1 + 3 + 1 = 8 Pokok masalahnya 6

  17. Lanjutan…. Jika perhitungan peda umumnya dilakukan maka harta waris tidak mencukupi sebesar Rp. 200.000.000,00, maka langkah yang tepat harus di ‘Aul kan dengan cara mengganti pokok masalah yang asalnya 6 menjadi 8. Sehingga menjadi: Suami 3/8 x Rp. 600.000.000,00 = Rp. 225.000.000,00 Ibu 1/8 x Rp. 600.000.000,00 = Rp. 75.000.000,00 Saudara perempuan sekandung 3/8 x Rp. 600.000.000,00 = Rp. 225.000.000,00 Saudara perempuan sebapak 1/8 x Rp. 600.000.000,00 = Rp. 75.000.000,00 + Rp. 600.000.000,00

  18. c. Rad Rad terjadi jika jumlah bagian zawil furudh lebih kecil dari jumlah pokok masalahnya. Contoh: Seorang pewaris (laki-laki) meninggalkan harta warisan sebanyak 69.000 m2.Ahli waris terdiri atas istri, ibu dan 2 anak perempuan. Berapakah bagian masing-masing ahli waris tersebut? Jawaban: Ketentuan semula: Istri 1/8 Ibu 1/6 2 anak perempuan 2/3 Bagian istri 1/8 x 24 = 3 bagian, ibu 1/6 x 24 = 4 bagian, 2 anak perempuan 2/3 x 24 = 16 Jumlah total bagian ahli waris adalah 3 + 4 + 16 = 23

  19. Lanjutan…. Jika perhitungan peda umumnya dilakukan maka harta waris mengalami kelebihan dan tentu ini akan mengakibatkan pertentangan. Maka langkah yang tepat harus di ‘Rad kan dengan cara mengganti pokok masalah yang asalnya 24 menjadi 23. Sehingga menjadi: Istri 3/23 x 69.000 m2 = 9.000 m2 Ibu 4/23 x 69.000 m2 = 12.000 m2 2 anak perempuan 16/23 x 69.000 m2 = 48.000 m2 + 69.000 m2

  20. E. Perundang-UndanganWarisdiIndoensia • Perundang-undangan waris di Indoensia terdapat pada Kompilasi Hukum Islam Buku II Hukum Kewarisan. Buku II Hukum Kewarisan terdiri dari 5 Bab, 43 Pasal. • Beberapa hal yang perlu diketahui dari Buku II Hukum Kewarisan: • Pengertian Hukum Kewarisan • Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan bagiannya masing-masing • Penghalang memperoleh Harta Waris terhalang menjadi ahli waris apabila: • -dipersalahkan telah membunuh atau menoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris • -dipersalahkan karena secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan kejahatan

  21. Kelompok-Kelompok Ahli Waris dan Besarnya Bagian Waris • pada prinsipnya sama dengan hukuim waris islam • Kewajiban Ahli Waris Terhadap Pewaris • terhalang menjadi ahli waris apabila: • - Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai • - Menyelesaikan utang-utang • - Menyelesaikan wasiat pewaris • - membagi harta warisan di antara ahli waris yang berhak

  22. F. HikmahMawaris • Memperkuat keyakinan bahwa Allah swt betul-betul Maha adil, karena keadilan Allah swt tidak hanya terdapat pada alam ciptaan-Nya tetapi juga terdapat pada hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Adapun prinsip-prinsip keadilan tersebut antara lain: • - Semua ahli waris yang mempunyai hubungan darah langsung dengan pewaris tentu terlebih dahulu mendapat harta warisan. • - Baik suami atau istri daro pewaris pasti akan mendapatkan bagiannya tanpa terhijab siapapun • - Anak laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari anak perempuan dikarenaka laki-laki ke depan yang memiliki kewajiban untuk membiayai keluarganya sedangkan kewajiban ini tidak ada pada pihak perempuan • Mematuhi hukum waris islam dengan dilandasi rasa ikhlas karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya

More Related