1 / 50

dr. Danny A. Hermawan, Dip Derm Medical Faculty of Ukrida JAKARTA

PENYAKIT PARASIT HEWANI PADA MANUSIA. dr. Danny A. Hermawan, Dip Derm Medical Faculty of Ukrida JAKARTA. Pendahuluan. Penderita penyakit kulit di Indonesia tinggi Menkes RI: no.3 setelah: penyakit saluran pernapasan dan penyakit saluran pencernaan

yardan
Download Presentation

dr. Danny A. Hermawan, Dip Derm Medical Faculty of Ukrida JAKARTA

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. PENYAKIT PARASIT HEWANI PADA MANUSIA dr. Danny A. Hermawan, Dip Derm Medical Faculty of Ukrida JAKARTA

  2. Pendahuluan • Penderita penyakit kulit di Indonesia tinggi • Menkes RI: no.3 setelah: penyakit saluran pernapasan dan penyakit saluran pencernaan • Skabies & pedikulosis (ektoparasit) merupakan penyakit rakyat • Zainal Hakim, dkk (1978):”Skabies No.1 di RSU Dr. Jamil, Padang” • Siti Aisah • (1981 & 1982): “Skabies No.2 di Subbag kulit anak, RSCM Jakarta” • (1986 – 1988): “Peringkat sama, setelah dermatitis”

  3. Pendahuluan • Segi epidemiologi: penting, sangat menular  epidemi • Gatal hebat  produktivitas kerja menurun • Willcox (1981): Skabies & pedikulosis  STD (PHS/ PMS) • Perlu dikenal & didalami  pengobatan tepat & pemberantasan tuntas

  4. Insects Hymenoptera  Bee & wasp stings; Ants bites Lepidoptera  Caterpillar dermatitis Coleoptera  Blister from cantharidin Diptera  Mosquito & Myasis Aphaniptera  Human/animal fleas Hemiptera  Beg bugs Anaplura  Lice infestations Ref: J.A.A. Hunter et all; Clinical Dermatology Mites Demodex folliculorum normal flora of facial hair follicles Sarcoptes scabei  Human/animal scabies Food mites  Grain itch, grocer’s itch House dust mite  Possible role in atopic eczema Cheyletiella  Papular urticaria Ticks  Tick bites; ricketsial vector infections & erythema migrans Manifestations of Parasites Infestations

  5. SKABIES Sinonim • Scabies; “Itch Mite” • Gudik, kudis, penyakit A Go Go Definisi • Penyakit kulit menular akibat infestasi & sensitisasi thdp tungau Sarcoptes scabieiserta produknya berada dalam terowongan lapisan tanduk pada tempat predileksi

  6. Etiologi • Sarcoptes (Acarus) scabiei var.hominis • Phylum Arthropoda; Class Arachnida; Ordo Acarina; Famili Sarcoptidae Parasitologi • Sarcoptes scabiei = tungau atau kutu yang kecil, transulen • Bentuk bulat lonjong, konveks bagian dorsal & pipih bagian ventral • Ukuran: • ♀= 0,20 – 0,25 mm • ♂= 0,33 – 0,45 mm

  7. 4 pasang kaki • 2 depan + alat isap • 2 belakang + bulu keras • Jantan dan betina berkopulasi. Stlh kopulasi jantan mati. Mati enak niyee !? • Betina membuat terowongan, lalu bertelur 2 – 5 butir/ hari lalu mati • Siklus hidup Telur  larva  nimfa sarkoptes dewasa (tiap siklus berlangsung selama +/- 3 hari)

  8. Epidemiologi • Kosmopolit t.u di daerah tropis & subtropis • Insiden tinggi pd masy sos-ekonomi kurang dan hygiene buruk • Endemis  epidemis Cara Penularan • Kontak langsung  lama-erat; seksual (STD or STI) • Kontak tak langsung  alat-alat rumah tangga, Kasur, pakaian, dll

  9. Simtomatologi • Keluhan utama: - gatal hebat t.u malam hari (= Pruritus nokturna ) • Predileksi: • Sela jari tangan & kaki, ekstensor ekstremitas • Lipat ketiak, sekitar pusar dan ikat pinggang • Daerah genital dan bokong • Pada bayi  seluruh tubuh !! • Efloresensi: gambaran polimorf, kecuali infeksi sekunder • Papulo-vesikulae • Erosi & ekskoriasi + krustae • Khas: kunikulus (terowongan) di lapisan korneum

  10. Komplikasi  penyulit diagnosis • Infeksi sekunder • Pustulae • Folikulitis • Furunkulosis, dll • Pengobatan sendiri a.l dermatitis kontak

  11. Diagnosis • Ideal • Temukan terowongan pada kulit • Buktikan adanya sarcoptes dewasa, larva dan telur • Praktis: atas dasar keluhan + data klinis • Gatal hebat malam hari • Anamnesis keluarga  • Efloresensi polimorf pada tempat predileksi

  12. Diagnosis Banding • Pitiriasis rosea • Liken planus • Pedikulosis korporis • Pioderma • Prurigo

  13. Terapi1. Umum • Kebersihan perorangan • Kebersihan lingkungan • Obati keluarga & kontak personal 2. Anti Skabies • obat tidak toksis & tidak iritatif • membunuh semua stadium • Preparasi belerang (4 – 10%) • Emulsi benzil benzoas (15-25%) • Gama benzen heksa klorida ( ½ - 1%) • Krotamiton 10% • Permethrin 5% 3. Antibiotika: bila ada infeksi sekunder, dermatitis

  14. Bentuk-bentuk Klinis Scabies • Scabies Impetigenisata scabies + infeksi sekunder • Scabies pada bayi seluruh tubuh + infeksi sekunder • Scabies hewan pada peternak anjing, kucing, ayam, babi, kuda, dll • Scabies bentuk STD pada genitalia orang dewasa

  15. Bentuk-bentuk Klinis Scabies 5. Scabies nodularnodul post scabies 6. Scabies norwegika atau scabies hiperkeratotika (Norwegian scabies; Hyperkeratotic scabies; Crusted Scabies) akibat penurunan respons imunologik tubuh Antara lain: • malnutrition • kelainan neurologik: mongolism • kelainan immunologik: terapi steroid/sitostatik AIDS, T-cell leukemia • penderita lepra

  16. Prognosis • Dengan terapi adekuat  baik kecuali ada kelainan immunologik

  17. Obat-obat anti scabies 1. Salap 2-4 • Murah dan aman • Tidak bunuh telur • Bau belerang  iritasi • Minimal 3 hari

  18. 2. Benzil benzoas emulsi 20% • Efektif utk semua stadium • Iritasi  gatal > • Jangan diberi kpd anak < 6 tahun • 3 malam 3.Scabicid, Scabex • Efektif semua stadium • Neurotoksik (SSP) • Jangan diberi kpd anak-anak dan wanita hamil • 2 malam

  19. 4. Crotaderm, eurax • Anti gatal • Anti bakteri • Iritasi mukosa 5. Nix • Obat baru • Paling aman dan efektif

  20. PEDIKULOSIS Sinonim: Pediculosis; Phthiriasis Definisi: • Penyakit kulit menular akibat infestasi pedikulus (tuma), sejenis kutu yang hidup dari darah manusia, pada rambut kepala & kemaluan atau baju, memberi keluhan gatal akibat gigitannya

  21. Etiologi ada 2 jenis yaitu: 1. Pediculus humanus • Var. Capitis = Pedikulosis kapitis (Head Louse; tuma kepala) • Var. Corporis = Pedikulosiskorporis(Body louse; tuma badan) 2. Phthirus pubis = Phthiriasis pubis (Crab louse; tuma kemaluan)

  22. Epidemiologi • Tuma  parasit obligat manusia • Kosmopolit tidak dipengaruhi musim • Insiden: kebersihan << (org dan lingk), sos ekonomi << • Penularan • Kontak langsung erat (tmsk STD) • Melalui alat-alat a.l topi, sisir, tempat tidur, dll • Di EROPA tuma sebagai vektor dari: • Ricketsia: Tifus epidemik, demam parit • Spirochaeta (Borrelia recurrentis) menyebabkan demam berulang

  23. Pedikulosis Kapitis Sinonim: Pediculosis capitis; Penyakit tuma kepala Etiologi: Pediculus humanus var. capitis (Head louse) Insiden: Anak dan wanita berambut panjang

  24. Pedikulosis Kapitis Simtomatologi: • Gatal digaruk lalu infeksi, keluar serum  terjadi infeksi sekunder dan timbul impetigo atau furunkulosis • Predileksi di regio occipital & post-auricular • Rambut kering & tak mengkilap • Jika bernanah + krusta + bau busuk Plica polonica (rambut gimbal)

  25. Pedikulosis Kapitis Diagnosis: • Gatal  pada predileksi • Telur/ tuma  (diagnosis pasti) • Impetigo; furunkulosis + KGB > pada anak

  26. Pedikulosis Kapitis DD/: • Pioderma • Tinea kapitis • Dermatitis seboroika • Hair casts • Trichorrhexis nodosa

  27. Pedikulosis Kapitis Penatalaksanaan: (hilangkan/ basmi kutu dan telurnya) • Umum: jaga kebersihan rambut  cukur • Topikal: • emulsi/ bubuk DDT 5 – 10% • emulsi benzyl benzoas 20 – 25% • Gameksan 0,5 – 1% • Gama Benzen Hexachloride 1% • Bubuk malathion 1% • Sistemik: antibiotika/ kemoterapeutika  infeksi sekunder

  28. Pedikulosis Korporis Sinonim: Vagabond’s disease; penyakit kutu badan Etiologi: Pediculus humanus var. capitis (Body Louse)

  29. Pedikulosis Korporis Simtomatologi: • Gigitan menyebabkan bintik merah di dada & perut, bahu & punggung • Papel  urtika + gatal hebat • Erosi & ekskoriasi + infeksi sekunder • Likenifikasi dan hiperpigmentasi Vagabond’s disease (kronis, kering, pada orang tua, kebiasaan menggaruk)

  30. Pedikulosis Korporis Diagnosis: • Rasa gatal hebat • Lesi-lesi di predileksi • Kutu & telur +  pakaian

  31. Pedikulosis Korporis DD/ : • Skabies • Pioderma • Gigitan kutu busuk (Bed bugs;kutu bangsat)

  32. Pedikulosis Korporis Penatalaksanaan: • Umum : pakaian & peralatan tempat tidur direbus, autoklaf (> 60C, 15’), fumigasi (Metil bromida) • Obat-obat: insektisida • Bedak DDT 10%  tuma • Bedak BHC 1%  dewasa & telur • Bedak malathion 1%

  33. Phthiriasis Pubis Sinonim: Pediculosis pubis; penyakit Tuma kelamin Etiologi: Phthirus pubis (Crab louse) Insiden: Dewasa muda (seksual aktif)

  34. Phthiriasis Pubis Simtomatologi • Gigitan  papel kecil + krusta  gatal hebat !!! • Gigitan juga mengeluarkan liur yang mengubah bilirubin menjadi biliverdin. Maculae caerulae: bercak biru abu-abu, bulat,  3 – 15 mm, ditekan tak hilang • Predileksi: regio genital & perianal yang berambut, rambut ketiak, alis/ bulu mata • Penularan: kontak seksual, alat-alat (tempat tidur, handuk)

  35. Phthiriasis Pubis Diagnosis: • Gatal hebat !!! (biasa pada malam hari)  predileksi • Maculae caerulae • Tuma & telur 

  36. Phthiriasis Pubis Diagnosis diferensial: • Skabies • Dermatitis kontak + infeksi

  37. Phthiriasis Pubis Penataksanaan: • Cukur rambut pubis + obat sesuai P.kapitis • Untuk bulu mata + sol isoflurofanat 0,025% Gunakan forsep (pinset) alis/ bulu mata • Obati partner sex

  38. LARVA MIGRANS(= Creeping Eruption ) Larva Migran Cutan Larva Migran Visceral

  39. Larva Migran Cutan Sinonim: Cutaneus Larva Migrans, Sand Worms Eruption, Creeping Eruption Etiologi: • Ankilostoma brasiliense • Ankilostoma caninum • Ankilostoma duodenale • Necator americanus • Strongyloides sterconalis

  40. Larva Migran Cutan Epidemiologi • Daerah tropis & subtropis  tanah pasir a.l pantai, pertambangan • Faeces + telur  larva  lesi kulit (di bawah stratum Basale)

  41. Larva Migran Cutan Simtomatologi • Papel gatal (port d’entre) digaruk terjadi migrasi larva ke sub-epidermis, lalu membuat terowongan berkelok-kelok • Lesi serpiginosa + eritematosa  bekas hiperpigmentasi • Vesikulasi  pecah  skuama

  42. Larva Migran Visceral Etiologi • Toxocara canis & Toxocara cati • Ascaris lumbricoides Simtomatologi • Lesi papular & urtikaria • Granuloma milier pada hepar & hepatomegali • Eosinofilia & hiperglobulinemia

  43. Larva Migran Visceral Penatalaksanaan • Thiabendazole 50 mg/ kgBB/ hari  2 x sehari/ oral (2-3 hari) • Bedah beku klor etil, CO2, N2cair • Bedah kimia (kaustik)  asam triklor asetat • Bedah listrik  elektro-kauterisasi

  44. AMUBIASIS KUTAN Etiologi Entamoeba hystolitica Epidemiologi • Insiden jarang • Frekuensi <  daerah endemis, disentri amuba

  45. AMUBIASIS KUTAN Patogenesis • Primer: genitalia eksterna, akibat PMS • Sekunder: penjalaran amubiasis dari tempat lain misalnya fistula akibat amubiasis hati & disentri amuba

  46. AMUBIASIS KUTAN Simtomatologi • Ulkus kronis, fagedenis yang nyeri  tak sembuh-sembuh • Batas tegas & dikelilingi cincin eritema • Dasar banyak eksudat & hemo-purulen • Di abdomen, gluteal, genitalia & bekas operasi perut

  47. AMUBIASIS KUTAN Diagnosis • Kerokan lesi  pewarnaan gram & preparat basah • Pemeriksaan faeces • Biopsi & pemeriksaan PA • Tes serologi

  48. AMUBIASIS KUTAN Penatalaksanaan • Emetine HCl 1 mg/kgBB/ hari  dosis max 60 mg/ hari I.M • Diiodo-hidroksikinolin 3 x 650 mg/ oral/ hari  20 hari • Metronidazole 3 x750 mg/ hari  10 hari • Topikal: kompres rivanol & PK • Antibiotika untuk infeksi sekunder

  49. Finish

More Related