1 / 7

PRIHESTI SETIA WULANDARI, 2102407018 Lelewaning Basa Panyandra Pengantin Jawa Di Wilayah Kebumen

PRIHESTI SETIA WULANDARI, 2102407018 Lelewaning Basa Panyandra Pengantin Jawa Di Wilayah Kebumen. Identitas Mahasiswa.

sue
Download Presentation

PRIHESTI SETIA WULANDARI, 2102407018 Lelewaning Basa Panyandra Pengantin Jawa Di Wilayah Kebumen

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. PRIHESTI SETIA WULANDARI, 2102407018Lelewaning Basa Panyandra Pengantin Jawa Di Wilayah Kebumen

  2. Identitas Mahasiswa • - NAMA : PRIHESTI SETIA WULANDARI - NIM : 2102407018 - PRODI : Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah (Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa) - JURUSAN : Bahasa & Sastra Indonesia - FAKULTAS : Bahasa dan Seni - EMAIL : Crescent_night1603 pada domain yahoo.co.id - PEMBIMBING 1 : Dr. Teguh Supriyanto, M.Hum. - PEMBIMBING 2 : Sucipto Hadi Purnomo, S.Pd., M.Pd. - TGL UJIAN : 2011-06-30

  3. Judul • Lelewaning Basa Panyandra Pengantin Jawa Di Wilayah Kebumen

  4. Abstrak • Panatacara di wilayah Kebumen masih eksis keberadaannya. Panatacara mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengatur acara dalam pernikahan. Dari berbagai ragam tuturan panatacara salah satunya adalah panyandra pengantin. Bahasa panyandra pengantin merupakan lelewaning basa panatacara dan mempunyai makna kias yang disebut juga gaya bahasa kias. Penggunaan gaya bahasa kias yang berupa panyandra mempunyai jenis-jenis dan fungsi secara khusus. Lelewaning basa panyandra pengantin di wilayah Kebumen tidak terlepas dari tuturan dialek Banyumasan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaiamana bentuk lelewaning basa yang terdapat dalam panyandra pengantin di wilayah Kebumen dan (2) Apa fungsi lelewaning basa pada panyandra pengantin di wilayah Kebumen. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah khasanah penelitian lelewaning basa, khususnya lelewaning basa panatacara dalam panyandra pengantin yang berada di wilayah Kebumen, serta fungsi lelewaning basa dalam panyandra pengantin. Secara praktis, untuk memahami bahasa yang digunakan oleh panatacara dan mengetahui fungsi lelewaning basa yang digunakan oleh panatacara dalam panyandra pengantin di Kebumen. Teori yang digunakan sebagai dasar penelitian ini adalah panyandra, objek panyandra, gaya bahasa, jenis-jenis gaya bahasa, dan fungsi lelewaning basa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan stilistika dengan sumber data panyandra pengantin Jawa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik rekam, simak dan catat. Analisis data menggunakan metode struktural semiotik. Teknik pemaparan data menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis lelewaning basa panyandra pengantin di wilayah Kebumen secara umum tetap pada pakem Jogja-Solo dan tidak terpengaruh olek dialek Banyumasan, yang membedakannya dengan pakem Jogja-Solo adalah pada acara Begalan. Dalam acara tersebut dialek Banyumasan banyak digunakan. Lelewaning basa yang digunakan dalam panyandra pengantin di wilayah Kebumen yaitu pepindhan yang berupa majas perumpamaan (simile), perumpamaan epos, metafora, sanepa, paribasan, wangsalan, allegori serta personifikasi dan rura basa yang berupa majas metonimi dan sinekdoke. Fungsi yang ditimbulkan dari penggunaan lelewaning basa adalah untuk menciptakan kekonkritan, kedekatan, dan kesegaran. Pada majas perumpamaan (simile), perumpamaan epos, metafora, sanepa, allegori dan personifikasi fungsi yang ditimbulkan adalah fungsi kekonkritan. Penggunaan majas-majas tersebut memberikan gambaran konkrit tentang apa yang dilukiskan oleh panatacara sehingga pendengar mempunyai gambaran yang sama dengan apa yang dikatakan oleh panatacara. Fungsi kedekatan digunakan pada majas metonimi. Penyebutan nama khusus suatu hal menjadikan terasa lebih dekat dan familiar, sedangkan fungsi kesegaran ditimbulkan pada acara begalan. Acara begalan menjadikan suasana terasa lebih segar dan tidak membosankan. Saran yang dapat diusulkan yaitu, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan masukan bagi penelitian berikutnya khususnya penelitian tentang lelewaning basa (gaya bahasa). Selain itu, untuk menambah pengetahuan yang lebih mendalam tentang panyandra pengantin perlu diadakan penelitian selanjutnya pada ranah lain.

  5. Kata Kunci • panyandra pengantin, lelewaning basa, fungsi lelewaning basa

  6. Referensi • Aminudin. 1995. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press. Balai Bahasa Yogyakarta. 2006. Bausastra Jawa (Edisi 6). Yogyakarta: Kanisius. Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi 4). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Jabrohim, Chaerul Anwar, dan Suminto A. Sayuti. 2003. Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kawuryan, Megandara W. 2008. Kamus Lengkap Jawa-Indonesia Indonesia- Jawa. Yogyakarta: Bahtera Pustaka Keraf, Gorys. 2002. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Koentjaraningrat. 2002. Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan (Edisi 20). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Natawijaya, P. Suparman. 1986. Apresiasi Stilistika (Edisi 1).___: PT Intermasa Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi (Edisi 8). Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Prabowo, Dhanu Priyo. et al.2002. Geguritan Tradisional dalam Sastra Jawa. Jakarta: Pusat Bahasa Pradopo, Joko Rahmat. 1993. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: UGM Press. Pranowo. 2004. Pranatacara Cara Populer (Edisi 1). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Purwadi. 2005. Kamus Jawa-Indonesia Indonesia-Jawa. Yogyakarta: Bina Media Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika (Kajian Pustaka Bahasa, Sastra, dan Budaya). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. S, Padmosoekotjo.___.Ngengrengan Kasusastan Djawa (Edisi I dan II). Yogyakarta: Hien Hoo Sing. Sukiyat, B.R dkk. 1997. Kawruh Sapala Basa (Edisi 1). Klaten: PT Intan Pariwara Supriyanto, Teguh. 2011. Kajian Stilistika dalam Prosa. Yogyakarta: Elmatera Publishing Sutawijaya, Danang dan Yatmana, Sudi.___. Upacara Penganten (Tata Cara Kejawen). Semarang: Aneka Ilmu Suwarna. 2009. Bahasa Pewara (Edisi 1). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Teew. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra (Edisi 2). Jakarta: Pustaka Jaya Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kasusastraan. Jakarta: Gramedia _____. 2009. Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Permadani-Jawa Tengah. Semarang: Dewan Pengurus Permadani _____.____. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Jawa yang Disempurnakan. Semarang: Griya Jawi

  7. Terima Kasih • http://unnes.ac.id

More Related