1 / 31

Pendahuluan

GUPAYA MEWUJUDKAN GERAKAN BUDAYA RUKUN DI MASYARAKAT ( DLM PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA ) TRIROSO, S.Ag.,MA ( Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Sumsel). Pendahuluan

santo
Download Presentation

Pendahuluan

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. GUPAYA MEWUJUDKAN GERAKAN BUDAYA RUKUN DI MASYARAKAT ( DLM PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA )TRIROSO, S.Ag.,MA( Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Sumsel)

  2. Pendahuluan • Pengertian rukun adalah baik, damai, tidak bertengkar. Sedangkan kerukunan adalah perihal hidup rukun, rasa rukun, kesepakatan hidup beragama. KBBI, Departemen Pendidikan Nasional, Palai Pustaka, jakarta 2005, hal 966

  3. Kebencian tidak akan berakhir bila di balas dengan kebencian, kebencian akan berakhir bila di balas dengan tidak membenci/cintakasih (Dhammapada)

  4. Sidharta Gautama mencapai Bodhi (mendapatkan penerangan sepurna/mendapatkan kesucian) yang kemudian disebut Buddha artinya seseorang yang telah mencapai kesempurnaan/kesucian tepatnya pada tahun 588 SM, setelah beliau mencapai kesucian kemudian mengajarkan ajarannya keseluruh penjuru dunia dengan di bantu oleh para siswanya. Dalam Kitab Suci Tipitaka Sang Buddha telah menyampaikan ajaran kepada siswanya dengan amat jelas, dan dalam penyampaian ajarannya tidak pernah dilakukan dengan pertumpahan darah walaupun cuma setetes, tak pernah ada anjuran perang, perkelahian, bahkan tidak pernah menjelek-jelekan atau merendahkan ajaran lain, Sang Buddha selalu menerapkan cintakasih bukan hanya kepada manusia melainkan kepada semua makhluk. Masuknya agama Buddha di Indonesia juga dilakukan dengan tanpa kekerasan penindasan ataupun intimidasi, agama Buddha berkembang selalu mengedapan tingkah laku yang nyata atau karya nyata didalam kehidupun bermasyarakat, sehingga agama Buddha dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat yang terdiri dari banyak suku dan ras.

  5. Masyarakat Buddhis Umat Buddha apabila dilihat dari cara untuk menjalankan kehidpuan dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu: • Gharavasa (perumahtangga) adalah orang yang menjalani hidup keluarga atau tidak, mempunyai pekerjaan seperti: petani, pedagang, militer dan lain sebagainya yang memberikan penghasilan untuk biaya kehidupan mereka. • Pabbajitta (bhikkhu) adalah orang yang meninggalkan kehidupan berumah tangga(keduniawian) dan menjalankan hidup suci (brahmacarya)untuk mencapai Nibbana. Pabbajjita menerima dana yang layak dari gharavasa yang memiliki sadha, bhakti, sila dan simpati [1]

  6. Dari dua kelompok umat Buddha, mempunyai perbedaan cara dalammenjalani kehidupan yaitu Pabbajjita meninggalkan keduniawiaan sedangkan Gharavasa masih belum meninggalkan kehidupan duniawi. Perbedaan dalam menjalani kehidupan ini bukan berarti membedakan tujuan akhir agama Buddha. Tujuan akhir agama Buddha hanya satu yaitu merealisasikan Nibbana. Seorang Gharavasa dapat mencapai kesucian walaupun tanpa menjalani kebhikkhuan. Kedua masyarakat Buddhis ini saling mendukung satu sama lainya, kelompok gharavasa menyokong kelangsungan kehidupan para Pabbajitta (Bhikkhu), para Bhikkhu bertugas membimbing dan menuntun gharavasa [1] Rasid, S.M.,Teja “Sila dan Vinaya” Buddhis Bodhi, Jakarta, 1995, Hal.5

  7. Sila sebagai dasar tingkah laku oleh masyarakat Buddhis dalam mewujudkan kerukunan umat beragama • Sila dalam masyarakat Buddhis merupakan hal yang mendasar yang harus dimiliki oleh setiap umat Buddha baik itu perumah tangga (gharavasa) seperti petani, pedagang nelayan, pegawai dan lain-lainya, maupun pabbajjita yaitu orang yang meninggalkan kehidupan rumah tangga (keduniawiaan) dan menjalankan hidup suci (brahmacari) untuk merealisasikan Nibbana. Sila adalah sikap batin atau kehendak yang tercetus sebagai ucapan benar, perbuatan benar dan penghidupan benar benar.[1]

  8. Dari definisi diatas menunjukan bahwa bila seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari tidak waspada, bertingkah laku tidak sesuai dengan sila, maka seseorang tersebut telah melanggar sila sebagai pedoman dasar umat Buddha. Sang Buddha telah menjelaskan sila tersebut secara rinci dan jelas dalam Kutandanta Sutta bagian dari Sutta Pitaka Digha Nikaya sebagai beriklut: Jika seseorang dengan keyakinan melaksanakan sila yaitu menghindarkan diri dari • pembunuhan makluk hidup, • mengambil barang yang tidak diberikan, • pemuasan nafsu dengan cara yang salah, • Berbicara kasar atau tidak pantas, fitnah, dusta dll • minum-munuman yang dapat menyebabkan ketidakwaspadaan : inilah cara yang menghasilkan pahala dan manfaat yang lebih besar…4 • [1] Rasid, S.M.,Teja “Kitab Suci Vinaya Pitaka I” Dirjend Bimas Hindu dan Buddha & UT, Jakarta, 1995, Hal.23 • 4 Tim Penterjemah “Kitab Suci Sutta Pitaka Digha Nikaya IV” Proyek Sarana Keagamaan Buddha Departemen Agama RI, Jakarta, 1993, hal.17

  9. Hiri dan otapa pendukung kerukunan • Dalam agama Buddha ada faktor pendukung untuk dapat terlaksananya sila dengan baik, sehingga seseorang tidak melakukan perbuatan jahat atas dasar karena takut dari aturan suatu Negara dan sebagainya. Namun agama Buddha sudah menanamkan budaya malu untuk berbuat jahat dan takut akan akibat perbuatan jahat yang akan diterima bukan hanya dalam kehidupan sekarang melainkan juga dalam kehidupan yang akan datang. Sang Buddha telah mengajarkan dalam Dasuttara Sutta yang terdapat dalam Digha Nikaya 34 sebagai berikut: Dalam hal ini, kawan-kawan seorang Bhikkhu berdiam dekat seorang guru atau seorang teman kehidupan suci yang menggantikan kedudukan guru, sehingga ia menjadi teguh dalam rasa • malu untuk berbuat jahat (hiri) • takut akan akibat perbuatan jahat (ottapa), memiliki rasa hormat dan cinta kepada mereka. Inilah sebab pertama, kondisi pertama yang membantu untuk memperoleh kebijaksanaan dalam unsur-unsur kehidupan suci yang belum diperoleh; untuk menambah, memperbanyak, mempertinggi, memperbesar, mengembangkan dan menyempurnakan apa yang telah dicapai.5

  10. Pada saat Sang Buddha berada di Nalanda (India Utara), seorang hartawan terpandang, Upali, siswa Nighatha Nataputta (seorang guru ajaran Jaina Mahavira) yang termashyur, diutus oleh gurunya untuk menemui Sang Buddha dengan maksud berdebat tentang beberapa pandangan yang bverbeda antara ajaran Jaina Mahavira dengan ajaran Buddha. Di luar dugaan, pada akhir perdebatan, Upali menyadari bahwa ajaran Buddha yang benar dibandingkjan dengan ajaran Jaina Mahavira. Upali memeohon kepada Sang Buddha agar diterima sebagai murid. Sang Buddha memperingatkan Upali untuk berpikir masakmasak mengenai hal itu. Setelah mempertimbangkan dengan seksama, Upali tetap memohon kepada Sang Buddha agar dijadikan murid-Nya. Akhirnya Sang Buddha menerima permohonan tersebut dengan syarat agar Upali tetap memberi penghormatan dan membantu kebutuhan hidup gurunya yang terdahulu. (Sumeddha Widyadharma, 1994).

  11. Musyawarah salah satu cara menyelesaikan masalah yang timbul • Sebagai manusia yang mempunyai pemikiran dan wawasan serta analis yang tinggi dibandingkan makhluk lain, diharapkan tidak bosan dengan kata-kata dialog, dialog karya ataupun musyawarah. • Agama Buddha yang muncul di tengah-tengah masyarakat plural yang terdiri dari berbagai suku, ras dan kepercayaan lebih dari 2500 tahun yang lalu, sudah tentu banyak menghadapi beraneka ragam pula permasalahan yang timbul pada waktu itu. Untuk menyelesaikan masalah-salah yang timbul Sang Buddha telah menemukan formula yang ampuh yang sampai sekarang metode itu masih dipakai dan sangat relevan dimasa seperti ini, metode tersebut adalah musyarawarah. Sang Buddha telah mengajarkan tentang syarat-syarat kesejahteraan suatu bangsa kepada suku Vajji, kemudian suku Vajji melaksanakan syarat-syarat tersebut dengan baik dan benar maka terjadilah apa yang telah disampaikan Sang Buddha yaitu kesejahteraan dan kemakmuran didapat oleh suku Vajji sehingga keadaan tersebut dijadikan contoh oleh Sang Buddha kepada bangsa-bangsa lain. Hal itu disampaikan kembali oleh Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda di hadapan Brahmana Vaskara yang berkunsultasi kepada Sang Buddha berkaitan dengan rencana penyerangan terhadap Negara tersebut. Sang Buddha menjelsakan demikian;

  12. “Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji itu sering berkumpul untuk mengadakan musyarawarah, dan musyawarah mereka berlangsung lancer serta selalu dicapai kata mufakat; • Pernahkah kau mendengar, apakah suku Vajji itu dalam permusyawaratannya selalu menganjurkan perdamaian, dan dalam nyelesaikan berbagai masalah yang mereka hadapi selalu dapat menyelesaikan dengan damai; • Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji telah menetapkan adanya hukum-hukum yang baru dan telah merubah tradisi yang lama yang tidak sesuai atau mereka meneruskan pelaksanaan peraturan-peraturan yang lama yang sesuai dengan dhamma;

  13. Pernahkah kau mendengar selalu menunjukan rasa hormat dan bhakti serta menghargai orang yang lebih tuadan menganggap sangat berhargadan bermanfaat untuk selalu mengindahkan mereka; • Pernahkah kau mendengan bahwa suku Vajji melarang keras penculikan dan penahan wanita-wanita atau gadis-gadis; • Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji sangat menghormati dan menghargai tempat-tampat suci atau tempat-tempat ibadah dan mereka selalu taat dan melaksankan puja bhakti, baik di tempat suci yang ada di kota maupun yang ada di luar kota;

  14. Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji melindungi serta menjaga orang-orang suci itu dengan sepatutunya, bagi yang belum punya pekerjaan diusahakan supaya memiliki pekerjaan, hidup dengan aman dan damai. • Demikianlah yang pernah aku dengar bhante, kalau demikian halnya, perkembangan dan kemajuan suku waji yang terjadi bukan sebaliknya.”[1] • Demikianlah Sang Buddha selalu menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah, dan musyawarah tersebut dalam rangka perdamaian bukan saling mencari kesalahan satu dengan lainya. Sang Buddha juga selalu menganjurkan untuk menghormati tempat-tempat suci ataupun tempat ibadah karena tempat itu sebagai salah satu sarana untuk mengolah batin menjadi berkwalitas. • [1] Wowor Cornelis, “Maha Parinibbana Sutta” CV. Lovina Indah, Jakarta, 1989, hal. 3-5.

  15. DANDA VAGGA, 3; DHAMMAPADA; X : 131 • Barang siapa mencari kebahagiaan dari diri sendiri dengan jalan menganiyaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia tidak akan memperoleh kebahagiaan (sorga) BUDDHA VAGGA, 7; DHAMMAPADA XIV : 185 • Tidak menghina, tidak menyakiti, dapat mengendalikan diri sendiri sesuai dengan peraturan, memiliki sikap madya (seimbang) dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah ajaran Para Buddha”

  16. HA VAGGA, 5; DHAMMAPADA XV : 201 • Kemenangan menimbulkan kebencian, dan yang kalah hidup dalam penderitaan. Setelah dapat melepaskan diri dari kemenangan dan kekalahan, adalah orang yang penuh damai akan hidup bahagia”

  17. Agama Buddha mengajarkan kepada umat manusia agar senantiasa menempatkan persatuan dan kesatuan bagi kepentingan dan keslamatan bangsa diatas kepentingan pribadi maupun golongan. Dalam Kitab Suci Sutta Pitaka : Brahmajala Sutta, Sang Buddha dilukiskan sebagai seorang yang cinta persatuan, seorang yang pemersatu dan yang selalu mengembangkan persahabatan. Ajaran mengenai persatuan dan kesatuan tersebut terdapat pada Culla Sila dalam Brahmajala Sutta yaitu : “Tidak memfitnah”.

  18. Samana Gotama menjauhkan diri dari memfitnah. Apa yang didengar disini, tidak akan diceriterakan di tempat lain, terutama yang menyebabkan timbulnya pertentangan. Apa yang ia dengar di sana tidak akan diceriterakan di sini, lebih-lebih yang dapat menimbulkan pertentanggan. Sepanjang hidupnya, ia selalu berusaha untuk mempersatukan mereka yang berlawanan, selalu mengembangkan persahabatan diantara semua golongan .Ia memang pemersatu, yang benar-benar dapat menghayati dengan hati nurani mengenai hakekat persatuan, karena ia cinta persatuan dan tidak henti-hentinya mengumandangkan ajaran untuk bersatu.

  19. Menurut Sang Buddha berkembangnya perpecahan dan hancurnya persatuan dan kesatuan (kerukunan) mengakibatkan pertentangan dan pertengkaran, karena orang tidak menyadari akibatnya. Jika setiap orang menyadarinya semestinyalah mereka akan berdamai kembali, sehingga disebutkan dalam Dhammapada, 6 : “ Mereka tidak tahu bahwa dalam pertikaian mereka akan hancur dan musnah, tetapi mereka yang melihat dan menyadari hal ini, akan damai dan tenang.”

  20. Oleh karena itu pada masa sekarang corak kerukunan hidup umat beragama harus lebih diwarnai dengan pengamalan sifat-sifat baik “Paramitta“, karena paramitta merupakan faktor yang sangat penting bagi seluruh manusia untuk mencapai kesucian, yang apa bila setiap batin manusia senantiasa dihiasi dengan sifat-sifat suci maka hal ini dapat merupakan pegangan bagi umat untuk mewujudkan kehidupan beragama yang rukun. Paramitta tersebut adalah : • 1) Dana Paramitta, sifat-sifat luhur untuk beramal, berkorban, membantu orang lain, tangap dan peka terhadap penderitaan setiap mahkluk. • 2) Sila Paramitta, sifat-sifat luhur yang senantiasa mendorong setiap umat manusia untuk selalu berbuat baik, melakukan perbuatan-perbuatan bermoral. • 3) Viriya Paramitta, sifat-sifat luhur yang senantiasa mendorong manusia untuk senantiasa bekerja giast, aktif, kreatif dan inovatif menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan pergeseran nilai-nilai hidup. • 4) Sacca Paramitta, Sifat-sifat luhur yang senantiasa mendorng kepada manusia untuk selalu mengembangkan perbutan baik dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan. • 5) Metta paramitta, sifat-sifat luhur cinta kasih tanpa keinginan untuk memiliki, tanpa membedakan ras, bangsa dan agama, yang mendorong manusia untuk saling tenggang rasa. • Sifat-sifat luhur “ Paramitta “ tersebut merupakan jati diri yang harus dikembangkan didalam menghadapi tatangan pergeseran nilai, pegeseran moral dan etik manusia. Dalam menghadapi pergesaran-pegesaran tersebut masyarakat luas hendaknya mampu mempertahankan moral etik yang berdasarkan metta dan karuna yang terwujud melalui pikiran, ucapan dan perbuatan yang bajik.

  21. orang sudah membuang jauh rasa permusuhan, membenci, curiga dan prasangka yang lain. Syair-syair atau Sabda-sabda Sang Buddha yang telah dijelaskan di atas adalah merupakan sebagian contoh tentang kerukunan antar umat beragama yang patut dijadikan teladan bagi bagi umat Buddha semua sehingga kerukunan antar umat beragama akan dapat terpelihara sepanjang masa. Dalam memantapkan kerukunan antar umat beragama dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat dengan tidak memandang latar belakang, asal-usul, suku, ras dan agama. Agama dijadikan sebagi dasar moral dari masing-masing individu dalam berinteraksi dan berkomunikasi dalam mewujudkan kerukunan. Agama bukan untuk diperdebatkan atau dibanding-bandingkan melainkan dijalankan dan diamalkan.

  22. Kerukunan setelah Sang Buddha Parinibbana (mangkat) Pada masa Maharaja Asoka • Sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama yang berbeda-beda itu merupakan sikap umat Buddha diseluruh dunia sejak zaman dahulu, seperti apa yang telah dilakukan oleh seorang Maharaja penganut Buddha yang saleh dan tekun yaitu Raja Asoka. Beliau memimpin suatu negar yang besar yang berlandaskan ajaran Sang Buddha yang selalu menerapkan sikap gotong-royong dan kebersamaan dalam melaksanakan seutu pekerjaan tanpa pernah membedakan satu dengan yang lainya. Hal ini terbukti dengan adanya Prasasti Batu Kalingga No. XXII dari raja Asoka yang telah menjadi murid Sang Buddha dan dalam memerintah negara Jambudhipa selalu mengacu pada ajaran Buddha. Prasasti didirikan pada abad III sebelum masehi yang berbunyi sebagai berikut :

  23. Pilar Asoka

  24. janganlah kita menghormat agama (mazhab) sendiri dan mencela agama (mazhab) orang lain tanpa sesuatu dasar yang kuat …. Sebaliknya, agama (mazhab) orang lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat demikian, kita telah membantu agama (mazhab) kita sendiri untuk berkembang, di samping menguntungkan pula agama (mazhab) orang lain. Dengan berbuat sebaliknya, maka kita telah merugikan agama (mazhab) kita sendiri, di samping merugikan agama (mazhab) orang lain. Oleh karena barang siapa menghormati agama (mazhab)-nya sendiri dan mencela agama (mazhab) orang lain semata-mata karena terdorong oleh rasa bakti kepaada agama (mazhab)-nya sendiri dengan berpikir : Bagaimana aku dapat memuliakan agama (mazhab)-ku sendiri’, dengan berbuat demikian ia malah merugikan agama (mazhab)-nya sendiri. Oleh karena itu, kerukunanlah yang dianjurkan, dengan pengertian bahwa semua orang hendaknya mendengarkan dan bersedia mendengarkan ajaran yang dianut oleh orang lain.[1] [1] Widyadharma Sumedha, MP. “Dhamma Sari” Yayasan Pendidikan Tinggi Buddhis Nalanda, Jakarta, 1994, hal. 140.

  25. Raja Asoka telah menunjukkan bahwa penghormatan terhadap agama sendiri bukanlah berarti dengan cara mencela agama orang lain. bahkan menghormat agama lain sampai “batas-batas tertentu” atas “dasar tertentu” pula merupakan penghormatan terhadap agama sendiri. Kepentingan hidup bermasyarakat dan bernegara dapat dijadikan “dasar tertentu” bagi penghiormatan agama lain

  26. kerukunan Agama Buddha di Indonesia pada masa kerajaan • Doktrin gotong-royong dan saling membantu sesama makluk hidup sudah diajarkan oleh Sang Buddha, kemudian doktrin tersebut juga menjadi dasar penganut Buddhis dalam kehidupan sehari-hari, dan itu juga dijadikan landasan dalam pemerintahan pada masa kerajaan yang dimping oleh raja penganut Buddhis. Dalam hal mengerjakan suatu pekerjaan dengan kebersamaan ini juga bukan hanya konsep belaka melainkan telah terbukti. Contoh yang masih tampak jelas dan sebagai bukti sejarah adalah pendirian Candi-candi di Indonesia adalah merupakan merupakan ujud kerja sama atau hidup dengan gotong royong saling mambantu satu dengan lainnya. Hal ini tidak hanya candi-candi Buddhis saja melainkan candi hindu dan tempat pemujaan atau tempat ibadah lain pun dikerjakan secara bersama sama. Kita tahu pada masa itu sudah beragam pula agama dan keyakinannya, maka munculah semboyan kebersamaan dan saling membantu yang sangat terkenal dan sampai sekarang masih dipakai dalam simbul negara yaitu: dalam buku Sotasoma yang ditulis oleh pujangga Buddhis yang agung Mpu Tantular dengan syair sebagai berikut: Ciwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.[1] Semboyan ini sampai sekarang oleh umat Buddha masih dipegang teguh di seluruh tanah air Indonesia. • [1] Tim Penyusun “Kuliah Agama Buddha untuk Perguruan Tinggi” Yayasan Sanata Dharma Indonesia, Jakarta, 1997, hal.227.

  27. Kerukunan zaman Sriwijya Dalam prasasti Talang Tuo Kemakmuran, keberuntungan Tahun Saka, hari kedua paruh terang bulan Caitra: pada saat itulah taman ini (yang dinamai) Srikerta dibuat di bawah pimpinan Sri baginda Sri Jayanasa. Inilah niat Sri Baginda: semoga segala yang ditanam disini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur wuluh dan pattum, dan sebaginya; dan semoga juga tnaman-tnaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya dan semua amal yang saya berikan, dapat dipergunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak...

  28. Dan semoga semua hamba mereka setia kepada mereka dan berbakti, lagi pula semoga temen-temen mereka tidak menghianati mereka dan semoga istri bagi mereka istri yang setia. Lebih-lebih lagi di manapun mereka berada, semoga tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau berzinah. Selain itu semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagi penasehat baik; semoga dalam pikiran dia lahir dengan bodhi dan persahabatan...

  29. Banyak hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk memantapkan kerukunan antar umat beragama yang tidak bersinggungan dengan doktrin agama masing-masing agar senantiasa melaksanakan kegiatan bersama. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut orang jangan melihat perbedaan-perbedaan sara melainkan saling bahu membahu untuk menyukseskan kegiatan tersebut, tapi perlu diingat untuk memulai seatu kegiatan masing-masing individu sudah dibekali moral yang baik sesuai dengan doktrin agama masing-masing.

  30. Dari uraian di atas dapat disimpulkan sesungguhnya budaya dialog karya sudah sudah menjadi nafas kehidupan nenek moyang, namun pada saat ini budaya tersebut sudah mulai luntur. Untuk itu perlu dibangkitkan kembali tradisi-tradisi yang baik untuk dpat dilestarikan dan dikenalkan kepada generasai muda, agar kelak penerus bangsa ini tidak lupa denga budaya dialog karya warisan nenek moyang kita. • Budaya kebersamaan atau gotong-royong patut kita bangkitkan kembali dengan menanamkan nilai-nilai kepada anak usia dini antara lain: • Meberikan Pengertian Agama secara Benar • Menanamkan Etika dan moral yang baik • Menggali Budaya tradisional yang sesuai • Memberikan pendidikan yang baik • Dengan mengembangkan keempat hal tersebut untuk membentuk manusia dan berintegritas sehingga akan menekan permasalahan-permaslahan yang ada pada umat di masa mendatang. • Agama Buddha mempunyai dasar-dasar dialog karya untuk menjaga kerukunan umat beragama penulis mengidentifikasikan menjadi dua pendekatan yang dapat memecahkan problematika umat yaitu: • Mencegah terjadinya permasalah yang terjadi di masyarakat dengan selalu menjalankan sila. • Mengadakan musyawarah dan dialog karya untuk memecahkan permasalahan dalam kerangka perdamaian • Pada kitab agama Buddha banyak kotbah yang menekankan tentang kerukunan ini karena agama Buddha memandang kerukunan ini merupakan suatu yang mutlak dan tidak boleh ditawar-tawar lagi untuk dijunjung tinggi dan dilestarikan, hal ini selalu ditekankan oleh Sang Buddha kepada siswanya, kerukunan dan

More Related