FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM - PowerPoint PPT Presentation

filsafat pendidikan islam n.
Download
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM PowerPoint Presentation
Download Presentation
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

play fullscreen
1 / 195
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
512 Views
Download Presentation
salim
Download Presentation

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM H. NUR SYAHID

  2. PENDAHULUAN (PermasalahanPendidikan) • PerkembanganIlmupengetahuandanteknologi yang dikuasaioleh Barat • GlobalisasiInformasi yang membawavisidanmisi • Sekularisme: Suatu paham yang memisahkan dunia dan akhirat, memisahkan kehidupan dunia dan kehidupan agama. Pengamalan agama adalah masalah pribadi

  3. PENDAHULUAN (PermasalahanPendidikan) • Liberalisme: faham freedom of choice (kebebasan memilih) yang meliputi freedom of worship (kebebasan dalam hal peribadatan), ownership (kepemilikan), politics (politik), and ekspression (berekspresi). Liberalisme ini juga melanda kepada keluarga, sehingga sangat sulit anggota keluarga diatur, dibimbing, disuruh beribadah dan lain-lain demi atas nama liberalisme

  4. PENDAHULUAN (PermasalahanPendidikan) • Hedonisme: kebahagiaan adalah kesenangan. Kesenangan itu berkat gerakan yang lemah gemulai, sedangkan rasa sakit berkat gerakan kasar. Kesenangan sesaat yang dinikmati itulah yang dihargai. Suatu perbuatan disebut baik sejauh dapat menyebabkan kesenangan dan memberi kenikmatan.

  5. PENDAHULUAN (PermasalahanPendidikan) • Krisis etika dan moral sebagai akibat dari kurang efektifnya proses sosialisasi atau internalisasi sikap-sikap dan nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran atau akibat dipisahkannya urusan agama dan dunia. • Terjadinya inefisiensi eksternal berupa tidak dipakainya keluaran pendidikan Islam pada pasar tenaga kerja. Kalaupun dipakai, pekerjaan itu berbeda dengan pendidikan yang diperoleh di bangku kuliah (missmatch).

  6. PENDAHULUAN (PermasalahanPendidikan) • Nilai-nilai Islam yang diberikan dalam lembaga pendidikan tidak sesuai dengan realitas sosial yang ada. Pembelajar menjadi bingung ketika nilai dan norma yang diterima di lembaga pendidikan sangat jauh berbeda dengan prilaku masyarakat. • Krisis keteladanan dari pemegang kendali dalam masyarakat, seperti orang tua, tokoh masyarakat, pemerintah, dan para guru.

  7. PENDAHULUAN (PermasalahanPendidikan) • Kurang sepadannya sistem penghargaan (reward system) masyarakat terhadap orang-orang yang mengamalkan ajaran agamanya.

  8. KOMPONEN PENDIDIKAN ISLAM DALAM SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 PENDIDIK LINGKUNGAN BELAJAR PEMBELAJARAN SUMBER BELAJAR PESERTA DIDIK

  9. VISI PENDIDIKAN NASIONAL VisiPendidikanNasionalmenurut UU No. 20/2003 tentangSisdiknasadalah: Terwujudnyasistempendidikansebagaipranatasosial yang kuatdanberwibawauntukmemberdayakansemuawarganegara Indonesia berkembangmenjadimanusia yang berkualitassehinggamampudanproaktifmenjawabtantanganzaman yang selaluberubah . SejalandenganVisiPendidikanNasionaltersebut, Depdiknasberhasratuntukpadatahun 2025 menghasilkan: INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF (InsanKamil / InsanParipurna)

  10. INSAN INDONESIA CERDAS KOMPREHENSIF DAN KOMPETITIF

  11. INSAN INDONESIA CERDAS KOMPREHENSIF DAN KOMPETITIF

  12. PENGERTIAN FILSAFAT • Pengertian Filsafat : (1) berpikir bebas, (2) radikal, (3) sistimatis dan (4) menyeluruh tentang sesuatu termasuk pendidikan Islam.

  13. PENGERTIAN TARBIYAH • Kata tarbiyah berasal dari tiga kata yaitu: (1) raba; (2) rabiya; dan (3) rabba. Kata raba - yarbu, dengan arti nama- yanmu, yang berarti bertambah; tumbuh menjadi besar. Kata rabiya – yarba, dengan wazankhafia-yakhfa, artinya naik, menjadi besar/dewasa, tumbuh, berkembang. Kata rabba- yarubbu, dengan arti: aslahahu (memperbaikinya), tawalla amrahu (mengurusi perkaranya, bertanggung jawab atasnya), sasahu (melatih; mengatur; memerintah), qama ’alaihi (menjaga, mengamati, membantu), ra’ahu (memelihara, memimpin).

  14. TARBIYAH DARI SEGI ETIMOLOGIS • Tigaasalkatatarbiyahyakniraba; rabiya;danrabba. • Katatarbiyahmencakupmakna yang sangatluasyakni: • al-nama: bertambah, berkembangdantumbuhmenjadibesarsedikitdemisedikit, • Aslahahu:memperbaikipembelajarjikaprosesperkembanganmenyimpangdarinilai-nilai Islam, • tawallaamrahu yang berartimengurusiperkarapembelajar, bertanggungjawabatasnyadanmelatihnya, • ra’ahu : memeliharadanmemimpinsesuaidenganpotensi yang dimilikidantabiatnya, • al-tansyi’ah :mendidik, mengasuh,dalamartimateri (fisiknya) danimmateri (kalbu, akal, jiwa, danperasaannya).

  15. TARBIYAH DARI ISTILAH • Murabbi (pendidik) yang sebenarnya hanyalah Allah, karena Dialah Pencipta fitrah, potensi kekuatan dan kelemahan, dan Paling Tahu tentang hakikat manusia itu sendiri, karenanya perlu dipelajari terus menerus siapa sebenarnya manusia itu sesuai dengan cetakan Tuhan.

  16. TARBIYAH DARI ISTILAH • Penumbuhan dan pengembangan secara sempurna semua dimensi manusia baik materi, seperti fisiknya, maupun immateri seperti akal, hati, kehendak, kemauan adalah tanggung jawab manusia sebagai fungsi hamba Tuhan (QS. al-Dzariyat [51]:56) dan fungsi khalifah (QS. al-Baqarah, [2]:30).

  17. TARBIYAH DARI ISTILAH • Proses tarbiyah seharusnya mengambil nilai dan dasarnya dari Alquran-Sunnah dan berjalan sesuai dengan sunnatullah yang digariskan-Nya. • Setiap aktivitas tarbiyah mengarah kepada penumbuhan, pengembangan, perbaikan, kepemimpinan, atau penjagaan setiap dimensi dalam diri manusia, baik aktivitas itu direkayasa atau secara natural.

  18. TARBIYAH DARI ISTILAH • Tarbiyah yang disengaja mengharuskan adanya rencana yang teratur, sistimatis, bertahap, berkelanjutan dan fleksibel. • Yang menjadi subjek sekaligus objek dalam aktivitas tarbiyah adalah manusia. Untuk itu semua aktivitas tarbiyah harus mengikuti fitrahnya tanpa merampas hak-haknya sebagai manusia dan hamba.

  19. TARBIYAH DARI ISTILAH • Kata tarbiyah tidak terbatas pengertiannya sebagai sekedar transfer ilmu, budaya, tradisi, dan nilai tetapi juga pembentukan kepribadian (transformatif) yang dilakukan secara bertahap.

  20. KATA TAKLIM LEBIH LUAS PENGERTIANNYA DARI TARBIYAH • Pertama, ketika mengajarkan membaca Alquran kepada kaum muslimin, Rasulullah SAW tidak terbatas pada membuat mereka sekedar dapat membaca, melainkan membaca dengan perenungan yang berisikan pemahaman, pengertian, tanggung jawab, penanaman amanah sehingga terjadi pembersihan diri (tazkiyah) dari segala kotoran, menjadikan dirinya dalam kondisi siap menerimahikmah, dan mempelajari segala sesuatu yang belum diketahuinya dan yang tidak diketahuinya serta berguna bagi dirinya.

  21. Kedua, kata taklim tidak berhenti hanya kepada pencapaian pengetahuan berdasarkan prasangka atau yang lahir dari taklid semata-mata, ataupun pengetahuan yang lahir dari dongengan khayali dan syahwat atau cerita-cerita dusta (QS. Al-Baqarah, [2]:78): • وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّون • (Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga).

  22. Ketiga, kata taklim mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik. Hal tersebut pada QS. Yunus, [10]:5): • …مَاخَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ • (...Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui).

  23. Dalam ayat ini mencakup berbagai aspek antara lain : ilmu falak yang di dalamnya mencakup teoritis dan praktik. Mencakup juga aspek pembuktian bahwa Allah SWT adalah Pencipta. Dengan demikian kata taklim menurut Jalal mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dan berlangsung sepanjang hayat serta tidak terbatas pada masa bayi dan kanak-kanak, tetapi juga orang dewasa.

  24. ISTILAH TA’DIB • Istilah ini mencakup unsur-unsur pengetahuan (‘ilm), pengajaran (taklim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Istilah takdib dapat mencakup beberapa aspek yang menjadi hakikat pendidikan yang saling berkait, seperti ‘ilm (ilmu), ‘adl (keadilan), hikmah (kebajikan), ‘aml (tindakan), haqq (kebenaran), natq (nalar) nafs (jiwa), qalb (hati), ‘aql (akal), maratib dan derajat (tatanan hirarkis), ayah (simbol), dan adb (adab).

  25. SEBAB PEMILIHAN KATA TARBIYAH UNTUK PENDIDIKAN ISLAM: • tarbiyah ternyata dapat diperluas dari makna semantiknya, • tarbiyah lebih umum dapat di terima oleh masyarakat terutama masyarakat muslim di Indonesia, • nilai sosial atau istilah tarbiyah lebih umum diterima dalam situasi lokal tertentu daripada terma taklim dan takdib.

  26. HAKIKAT ISLAM • Islam: penyerahan diri kpd Allah, dan dengan (1) menyerahkan diri kepadaNya maka ia memperoleh (2) keselamatan dan (3) kedamaian

  27. PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM • Pemikiran filosufis yang diambil dari (1) sistem filsafat/aliran-aliran filsafat atau (2) jawaban filosufis terhadap masalah pendidikan yg tidak bertentangan dengan Islam untuk dijadikan pedoman dalam lapangan pendidikan.

  28. FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (1) • Teori umum bagi pendidikan, sepanjang filsafat pendidikan Islam tersebut mengarah pada apa dan bagai­mana seharusnya pendidikan itu baik dari segi teoritik maupun dari segi pelaksanaannya.

  29. PENGOLAHAN SUMBER FPI (1) • Alquran • Sunnah • Hasil Ijtihad

  30. PENGOLAHAN SUMBER FPI (2) • KhususmengenaiIjtihadini: • Hasilkajianilmiah yang betulmengenaiwatakmanusia, pertumbuhanjasmani, intelektual, emosi, spritual, kebutuhan-kebutuhandanprosespertumbuhannya. • Nilai-nilaidantradisi-tradisisosial yang baikdan yang islami, yang tidakmenghalangikemajuanmengikutisemangatzamandankeperluan-keperluanperadaban, sosial, ekonomidanpolitik.

  31. PENGOLAHAN SUMBER FPI (3) • Hasil-hasilpenyelidikandankajian-kajianpendi­dikandanpsikologi yang berkaitandengansifat-sifat, prosespendidikan, dantujuan-tujuanpendidikandanfung­si-fungsinyasangatpenting. • Prinsip-prinsip yang menjadidasarfilsafatpolitik, ekonomidansosial yang dilaksanakanolehnegara, perjanjian-perjanjian, prinsip-prinsiporganisasi regional daninternasionalkemanabergabungnegara Islam itu, selamaperjanjiandanprinsipitusesuaidenganprinsip­-prinsip Islam.

  32. FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (2) 2. Kritik terhadap asumsi-asumsi yang dipegangi oleh para pendidik dan tenaga kependidikan, jika pegangan filsafat pendidikannya tidak menjiwai nilai-nilai Islam baik dalam pembentukan teori, konsep maupun dalam proses praktiknya. Sangat tidak benar kalau pendidik tidak mempunyai filsafat pendidikan Islam sewaktu dia menjalankan tugas profesionalnya.

  33. FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (3) 3. Evaluasi terhadap kesenjangan-kesenjangan, pertentangan-pertentangan, antara teori dan praktiknya, antara satu teori dengan teori lainnya, antara satu metode dengan metode lainnya sehingga bila dapat ketidak cocokan, atau tidak sinkrun, maka dengan segera dapat diperbaiki.

  34. FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (4) 4. Analisis terhadap konsep-konsep dan istilah-istilah pendidikan. Banyak istilah dalam lapangan pendidikan yang harus didefinisikan dan dikembangkan, ditafsirkan dan dianalisis. Agar istilah-istilah, konsep-konsep dan ide-ide yang berkembang itu sinkrun, dan menjadi kesamaan persepsi di kalangan pendidikan dan tenaga kependidikan, maka perlu dianalisis, diselaraskan, dikaitkan satu dengan yang lain menjadi jalinan yang harmonis dan teratur.

  35. FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (5) 5. Normatif. Filsafat pendidi­kan dijadikan sebagai penentu arah, pedoman, petunjuk, pembimbing asas-asas, prinsip-prinsip, teori dan praktik pendidikan.

  36. RUANG LINGKUP FPI 1. Ontologi (Metafisika) (1) FPI berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik, logis, dan menyeluruh tentang pendidikan. Maka Masalah-masalah dalam ruang lingkup FPI adalah: Metafisika (Ontologi): cabang filsafat yg ingin mencari dan menemukan hakikat dari sesuatu yang ada (being). Dalam Islam hal ini dibicarakan dalam Ilmu Tauhid. Dasar-dasar pembahasan metafisika ialah (1) Tuhan, manusia dan alam dilihat dari pendidikan Islam. Being ada dua: menciptakan dan diciptakan, ada yg menyebabkan dan ada yang diakibatkan.

  37. Metafisika (2): • Setiap proses penciptaan, selalu ada beberapa factor yg menentukan adanya penciptaan; 1) adanya pencipta (subyek), 2) adanya ciptaan (obyek), 3) adanya bahan yg dipakai, 4) adanya tujuan, 5) adanya proses (ruang dan waktu). • Tahapan ada, yaitu ada yang konkrit dan ada abstrak (ghaib). Ada konkrit dapat dilihat, diraba, dirasa, diukur dlsb. Sedangkan ada abstrak hanya dapat dilihat dg penglihatan ghaib antara lain melalui konsep.

  38. Metafisika (3): • Ada yg ada dapat disandarkan kepada eksistensi Tuhan dan ada disandarkan kepada eksistensi manusia. Jika terjadi konflik antara ada disandarkan kpd Tuhan dan ada disandarkan kpd manusia, dalam konsep Islam harus dimenangkan oleh Eksistensi Tuhan. • Jika terjadi konflik antara otoritas manusia (kultur) terhadap alam (nature) maka seharusnya manusia tidak harus mempunyai otoritas mutlak terhadapnya. Karena manusia tidak terlibat mengadakan alam itu sendiri.

  39. Metafisika (4): • Yang Nyata (realitas) : sesuatu yang berada pada sesuatu yg merupakan bagian dari yg ada itu sendiri. Realitas selalu berdimensi ruang dan waktu, karenanya selalu mengandung pluralitas dan relativitas. Filsafat Islam memandang realitas pada hakikatnya adalah spiritual. Hakikat spritual dari relitas terdapat pada adanya dinamika dan perubahan, yang secara kodrati selalu terjadi dan akan terus terjadi, dan merupakan suatu sunnatullah.

  40. 2. Epistemologi (1): • Metode memperoleh Ilmu secara umum: (1) melalui Kasbi/Khushuli dan (2) Ladunni/Khudhori. • Kasbi: cara berpikir metodik, konsisten dan bertahap melalui proses observasi, research, eksprimen dan penemuan. • Ladunni: proses pencerahan ruhaniyah manusia dan karenanya kehadiran cahaya Ilahi dalam qalbu manusia. Dengan sinaran Ilahiy, qalbu manusia dapat membaca dg jelas dan terserap dalam kesadaran intelek, seakan-akan orang memperoleh ilmu dari Tuhan langsung.

  41. Epistemologi (2): • Kebenaran Ilmu: ilmu yg kasbi relatif kebenarannya sedangkan ilmu Allah pasti kebenarannya. • Tujuan memperoleh Ilmu: 1) ilmu untuk kenikmatan 2) ilmu untuk ilmu, 3) ilmu mengembangkan peradaban 4) ilmu untuk sarana mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Islam sebagai central poin ialah yang keempat untuk memayungi tujuan 1,2 dan 3. • Sarana Peroleh Ilmu: melalui inderawi dan potensi-potensi internal manusia (nafs, akal, qalb, dan lain-lain).

  42. 3. Aksiologi (1) : Ialah: cabang filsafat mencari hakikat nilai-nilai (value). Nilai bisa baik dan bisa pula jahat yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan tindakan seseorang (dataran aplikatif). Yang baik itu ialah ma’ruf dan yang jahat itu al-munkar. • Axiologi (Brameld) ada tiga sasaran yakni: moral conduct (tindak moral) melahirkan Ethica; Esthetic expression (ekspresi keindahan) melahirkan Esthetika; dan Socio-political life, (kehidupan sosia-politik), melahirkan ilmu filsafat sosio-politik.

  43. Aksiologi (2) : • Hakikat baik dan jahat itu bersifat universal dan absolute. Etika social misalnya harus berprinsip persamaan dan kebersamaan; keadilan social; keterbukaan dan musyawarah. • Etika agama membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan kebudayaan.

  44. Aksiologi (3): • Tiga Nilai Fundamental dalam FPI: • Nilai Sentral: ialah berada pada wilayah titik pusat nilai yang menjadi sumber pengambilan keputusan politik, hukum dan lainnya; • Nilai Sekuler: Sebagai penafsiran dan penerapan nilai sentral; • Nilai Operasional yakni lahir dari tindakan sehari-hari yang merupakan pengewajanthan dari nilai sekuler

  45. Aksiologi (4): • Nilai sentral (inti) dalam Islam ialah ma’rifatullah berupa iman dan tauhid dan mardatillah. Ada tiga tauhid menurut Ibnu Taimiyah: • (1) tauhid Ulu>hiyah ialah bahwa Allah Maha Tunggal yang paling berhak di sembah, ditaati, dan dipatuhi; • (2) tauhid Rububiyah, ialah Allah yang Maha Esa itu yang menciptakan, mengatur perkara-perkaranya dan yang mendidiknya, dan • (3) tauhid al-Asma>’ wa al-Sifah ialah bahwa tiap-tiap yang berlaku di alam ini bersumber dari perbuatan dan pengaturan Allah, dan kepada-Nya setiap kesudahan akhir, dan daripada-Nya pula bermula setiap sesuatu

  46. Aksiologi (5): • Nilaisekulerterdiridarienamhubungan: • Dengan Allah: ubudiyah dan istikhlaf; • Dengan Masyarakat: ta’a>wun, ‘ada>lah dan ihsa>n; • Kehidupan dunia: ibtila>’ • Dengan Ilmu: hubungan fard} ‘ain dan kifa>yah • Kehidupan akhirat: mas’u>liyah dan jaza>’ • Dg Alam: hubungan taskhi>r dan pembelajaran

  47. Aksiologi (6) • Hubungan manusia dengan Tuhan adalah hubungan antara hamba dengan Majikan, makhluk dan Khaliq, ciptaan dan Pencipta. Hubungan manusia dengan sesamanya hubungan adalah dan ihsan. Yakni hubungan patner yang mengemban amanah khalifah dari Tuhan; sederajat, sama-sama ciptaan dan karenanya sama dihadapan Tuhan kecuali tindak amal perbuatannya (taqwanya). Perbedaan hak dan kewajiban adalah karena perbedaan tugas dan profesinya sehingga melahirkan taklif (pembebanan) yang lebih. Maka dalam agama dikenal ada Wajib ‘ain dan wajib kifayah.

  48. Aksiologi (7): • Hubungan manusia dengan alam adalah hubungan pengelola (pemimpin) dan yang dikelola (dipimpin). Alam merupakan medan emperik bagi manusia untuk kemakmuran manusia dan alam bagian dari dirinya. Kesalahan pengelolaan akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia. • Hubungan manusia dengan ciptaannya (kebudayaan) adalah manusia pada dasarnya memegang otiritas dan kekuasaan yang penuh, artinya manusia bertanggungjawab untuk apa semua ciptaannya itu akan diperbuat, dan ciptaannya sepenuhnya bergantung pada manusia.Kebudayaan sebagai alat bukan sebagai yang dipertuhankan.

  49. Aksiologi (8): Nilai Operasional diwujudkan dalam: • al-wajiba>t (hal-hal yang diwajibkan); • al-manduba>t (hal-hal yang disunatkan); • Al-mahruma>t (hal-hal yang diharamkan); • Al-makruha>t (hal-hal yang dimakruhkan); • Al-jaiza>t (hal-hal yang diperbolehkan).

  50. STRUKTUR IDE DASAR FPI Pertama: Akidah tentang Alam (cosmocentris) Yang dimaksud dengan nilai-nilai (struktur) ide dasar pendidikan Islam ialah ide dasar yang menjadi titik tolak dalam membangun isi dan substansi persoalan-persoalan pendidikan Islam. Struktur ide itu ialah kepercayaan thd alam, kehidupan dan manusia