1 / 18

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PUISI INDONESIA

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PUISI INDONESIA. Maulfi Syaiful Rizal FIB UB. Lahirnya Puisi Modern Indonesia. Puisi modern Indonesia ditandai dengan lahirnya puisi Muhammad Yamin yang berjudul Tanah Air yang dimuat dalam Jong Sumatra .

polly
Download Presentation

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PUISI INDONESIA

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PUISI INDONESIA Maulfi Syaiful Rizal FIB UB

  2. Lahirnya Puisi Modern Indonesia • Puisi modern Indonesia ditandai dengan lahirnya puisi Muhammad Yamin yang berjudul Tanah Air yang dimuat dalam Jong Sumatra. • Benarkah Puisi tersebut merupakan cikal bakal lahirnya puisi modern Indonesia?

  3. Contoh Puisi Tanah Air Karya M. Yamin pada batasan, bukit barisan memandang aku, ke bawah memandang tampak hutan rimba dan ngarai lagi pun sawah sungai yang permai serta gerangan lihatlah pula langit yang hijau bertukar warna oleh pucuk daun kelapa itulah tanah, tanah airku sumatra namanya, tumpah darahku  .............................. • (Jong Sumtra, Th. III, no 4, april 1920, h. 52) Karya Rustam Efendi Bukan beta bijak berperi Pandai mengubah madahan syair Bukan bela budak negeri Musti menurut undangan mair Syarat sarat saya mungkiri Untai rangkaian seloka lama Beta buang beta singkiri Sebab laguku menurut sukma .................................. Bukan Beta Bijak Berperi

  4. Berdasarkan contoh di atas, kedua puisi tersebut merupakan cikal bakal lahirnya puisi modern Indonesia yang merupakn respons terhadap karya sastra Melayu Lama, yaitu: • Menyimpang dari konvensi puisi lama • Mulai adanya perasaan individu • Gabungan pantun dan syair

  5. Periode Pujangga Baru (1920-1942) Amir Hamzah • Cempaka Cempaka, aduhai bunga pelipur lara Tempat cinta duduk bersemayam Sampaikan pelukku, wahai kusuma Pada adinda setiap malam.Sungguh harum sedap malamSungguh pelik bunga kembojaTetapi tuan, aduhai pualamPakaian adinda setiap masa. ............................... MusafirMudik menghilirTak ketentuan tempat pergiSedang tak ada tempat untuk berdiriPengembaraLaut dan udaraTerkatung-katung di ombak rawanTergantung-gantung dia angan awan J.E. Tatengkeng

  6. Ciri-ciri estetik Puisi angkatan PB • Bentuknya teratur rapi, simetris • Mempunyai persajakan akhir • Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair • Sebagian besar puisi empat seuntai • Tiap-tiap barisnya terdiri atas dua periodus dan terdiri atas sebuah gatra • Tiap gatra terdiri atas dua kata • Menggunakan pilihan kata yang indah dan bergaya polos • Beraliran romantik yang mengisahkan perasaan

  7. Ciri-ciri ekstraestetik • Permasalahan yang diangkat berkaitan dengan kehidupan masyarakat perkotaan • Berisi ide nasionalisme, cita-cita nasional, dan keagamaan • Ungkapan perasaan jiwa tampak kuat • Masih bersifat didaktis, yaitu seolah-olah menggurui.

  8. Periode Angkatan 45 (1942-1945) Bukan Beta Berpijak Peri Karya Rustam Efendi Bukan beta bijak berperi Pandai mengubah madahan syair Bukan bela budak negeri Musti menurut undangan mair Syarat sarat saya mungkiri Untai rangkaian seloka lama Beta buang beta singkiri Sebab laguku menurut sukma .................................. • Kepada Peminta-minta Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku Jangan lagi kau bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari muka Sambil berjalan kau usap juga Chairil ANwar

  9. Ciri-ciri estetik puisi angkatan 45 • Lebih bebas dari ngkatan sebelumnya • Bergaya ekspresionis yang menonjolkan “keakuan” • Beraliran realisme • Menggunakan kosakata sehari-hari • Bahasa kiasan mendominasi • Gaya sajaknya prismatis • Mulai meninggalkan curahan perasaan dan mulai muncul dan berkembang gaya pernyataan • Majas ironi dan sinisme mendominasi

  10. Ciri-ciri ekstraestetik • Keberadaan individu atau diri pribadi menonjol • Mengekpresikan kehidupan batin manusia melalui sudut pandang sendiri • Mengemukakan masalah-masalah kemanusiaan secara umum dan kemasyarakatan • Filsafat eksistensialisme mulai dikenal

  11. Periode angkatan 50-60-an (1955-1970) • Oda pada Van Gogh Pohon sipres. Kafe tua Di ujung jalan Sepi. Sepi jua  Langit berombak Bulan di sana Sepi. Sepi namanya. 1964 Karya Siapakah puisi di atas?

  12. Ciri-ciri Estetik Puisi angkatan 50-60-an • Berkembangnya gaya epik yang bercerita dengan munculnya puisi belada • Gaya mantra mulai tampak • Gaya pengulangan mulai tampak • Gaya puisi liris masih berkembang dan meneruskan peride sebelumnya • Makin berkembang gaya sligan dan retorik

  13. Ciri Ekstraestetik • Pada umumnya menggambarkan suasana muram karena puisinya menggambarkan penderitaan • Mengungkapkan masalah-masalah sosial • Banyak dikemukakan cerita-cerita dan kepercayaan rakyat sebagai pokok-pokok sajak balada

  14. Periode angkatan 70-an (1970-1990) • Rumah Sakit Cikini 29 April 1978 Korrie Layun Rampan yang bangkit dalam waktu dalam sabda riang suara-suara gembira kami berpaling kami menatap ke depan dinding dan pilar-pilar pualam jajaran firman dahulu kala ................................

  15. Ciri-ciri estetik puisi periode 70-an • Bergaya mantra • Menggunakan kata-kata faerah secara mencolok • Mempergunakan asosiasi bunyi • Gaya penulisan yang prosais • Puisi lugu yang mngggunakan ide secara polos • Puisi-puisi imajisme menggunakan gambaran dan pengucapan tak langsung

  16. Ciri-ciri ekstraestetik • Puisi mengemukakan kehidupan batin religius • Cerita merupakan lukisan kehidupan yang bersifat alegoris • Sajak-sajak menuntuk HAM • Mengemukakan kritik sosial

  17. Bagaimana dengan puisi periode saat ini?

  18. RESONANSI BUAH APEL Karya: Ahmadun Yosi Fernanda  buah apel yang kubelah dengan pisau sajak tengadah di atas meja. Dan, dengan kerlingnya mata pisau sajakku berkata, ”Lihatlah, ada puluhan ekor ulat besar yang tidur dalam dagingnya!” memandang buah apel itu aku seperti memandang tanah airku. Daging putihnya adalah kemakmuran yang lezat dan melimpah sedang ulat-ulatnya adalah para pejabat yang malas dan korup tahu makna tatapanku pisau itu pun berkata, ”Kau lihat seekor ulat yang paling gemuk di antara mereka? Dialah presidennya!” buah apel dan ulat ibarat negara dan koruptornya ketika buah apel membusuk ulat-ulat justru gemuk di dalamnya Jakarta, 1999/2003

More Related