1 / 34

INDUSTRI PETERNAKAN

INDUSTRI PETERNAKAN. DI NEGARA MAJU USAHA BESAR MODAL BESAR INDUSTRI PROFESIONAL PETERNAKAN

giulio
Download Presentation

INDUSTRI PETERNAKAN

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. INDUSTRI PETERNAKAN DI NEGARA MAJU USAHA BESAR MODAL BESAR INDUSTRI PROFESIONAL PETERNAKAN PERUSAHAAN PETERNAKAN (SKALA USAHA BESAR) DI INDONESIA PETERNAKAN RAKYAT ( DI DAERAH PEDESAAN )

  2. SAPI ( CATTLE ) BERDASARKAN TIPE PENGGUNAAN 1. SAPI PEDAGING (BEEF CATTLE) 2. SAPI PERAH ( DAIRY CATTLE ) 3. HEWAN PENARIK (DRAFT ANIMAL)

  3. TAHUN 1960 POPULASI SAPI POTONG CENDERUNG MENINGKAT • MENINGKATNYA KEBUTUHAN DI NEGARA2 SEDANG BERKEMBANG 2. MENINGKATNYA KEBUTUHAN EKSPORT DARI NEGARA MAJU KE NEGARA SEDANG BERKEMBANG.

  4. SAPI POTONG (BEEF CATTLE) • NEGARA MAJU (DEVELOPED COUNTRY) DITERNAKKAN KHUSUS BIBIT SAPI POTONG (BEEF CATTLE ) : DISEMBELIH UMUR 1 -2 TH DISEMBELIH UMUR < 3 BULAN (VEAL ) • DI INDONESIA (DEVELOPING COUNTRY) MASIH BANYAK DISEMBELIH SAPI-SAPI YANG SUDAH BERUMUR TUA / TIDAK PRODUKTIF.

  5. INDUSTRI PETERNAKAN SAPI POTONG (DEVELOPED COUNTRY ) DIKELOMPOKKAN: 1. COW- CALF (INDUK-ANAK), ANAK SAPI DIPELIHARA S/D UMUR 6-10 BULAN, B.B. : 180 – 292,5 kg. 2. STOCKER-YEARLING(dipadangrumput) UMUR ± 1 TAHUN ( HANYA DIBERI HIJAUAN) B.B. : 292,5 – 382,5 kg. 3. FEEDLOT(dikandangkan) DIBERI PAKAN BERENERGI TINGGI. B.B. : 405 -585 kg.

  6. PETERNAKAN SAPI POTONG DI INDONESIA PENGGEMUKAN SAPI (FATTENING) SAPI JANTAN KEBIRI(STEER) UMUR 2-3 TAHUN. DIGEMUKKAN SELAMA 100 HARI ( KEREMAN) • SEKITAR TAHUN 1960. INDONESIA EKSPORT SAPI BALI KEBIRI KHUSUSNYA DARI NTB / NTT KE HONGKONG, MALAYSIA DAN SINGAPURA. B.B. : MINIMUM 385 kg. • SAAT INI IMPORT 450.000 EKOR/TAHUN.

  7. TABEL 4: POPULASI SAPI POTONG, PRODUKSI, DAN KONSUMSI DAGING (1889)

  8. SAPI PERAH (DAIRY CATTLE) SEBELUM TH. 1979 POPULASI SAPI PERAH DI INDONESIA 70.000 – 90.000 EKOR ( HAMPIR 90 % DI P. JAWA ) SEJAK TH. 1979 POPULASI SAPI PERAH DI INDONESIA MELONJAK

  9. UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI SUSU (TERMASUK EXPORT) • INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU ( IPS ) 1. DIPERBOLEHKAN IMPORT BAHAN BAKU SUSU (SUSU BUBUK) SAMPAI 85 % 2. SUPLAI SUSU LOKAL 15 % • PEMERINTAH 1. IMPORT INDUK SAPI PERAH (1979-1982) : 125.000 EKOR 2. MELAKUKAN INSEMINASI BUATAN (IB) 500.000 DOSIS SEMEN BEKU PER TAHUN.

  10. KOPERASI PERSUSUAN“KUD” ( KOPERASI UNIT DESA ) SAPI IMPORT / BANPRES DIBAGIKAN KE RAKYAT SECARA KREDIT TH. 1996 • POPULASI SAPI PERAH DI INDONESIA : 400.000 EKOR • PRODUKSI SUSU : 449.000 TON PER TAHUN. • SECARA BERANGSUR INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU (IPS) TERUS DIBATASI IMPORT SUSU BUBUKNYA

  11. BERLAKUNYA PEREKONOMIAN GLOBAL PEMERINTAHTIDAK LAGI DAPAT MEMBENDUNG IMPORT BAHAN BAKU SUSU ALASAN IPS, KARENA : KUALITAS LEBIH BAIK & HARGA LEBIH MURAH IPS MEMBERI BATAS KUOTA SUSU YANG DIBELI DARI PETERNAK LOKAL PETERNAK LOKAL MENGALAMI KESULITAN PEMASARAN SUSUNYA

  12. PRODUKSI SUSU RATA-RATA PER EKORNYA( PER LAKTASI = 305 HARI PRODUKSI ) ISRAEL : 8.550 kg KOREA SELATAN : 6.750 kg AMERIKA SERIKAT : 6.300 kg UNI SOVYET(dulu) : 2.565 kg INDONESIA : 2.440 kg SEBAGAI BANGSA KONSUMEN SUSU : NORWEGIA : RATA-RATA 230 kg/kapita/tahun (TERBESAR) INDONESIA : RATA-RATA HANYA 5,35 kg/kapita/tahun

  13. TABEL 5 : POPULASI SAPI PERAH, PRODUKSI SUSU, DAN KONSUMSI SUSU DI BEBERAPA NEGARA (1990) DAN INDONESIA (1996)

  14. PEMASARAN SUSU MERUPAKAN BAHAN MAKANAN YANG MUDAH RUSAK TIDAK HANYA DIPASARKAN DALAM BENTUK SEGAR (WHOLE MILK ), TETAPI SUSU BUBUK , SUSU KENTAL MANIS, SUSU SKIM (DIHILANGKAN LEMAKNYA), MENTEGA SUSU (BUTTER), KEJU DLSB. DI INDONESIA DIDOMINASI PETERNAKAN RAKYAT 1. PEMILIKANNYA 3-5 EKOR PER KELUARGA 2. SUSUNYA DIJUAL MELALUI KUD KE PENGOLAHAN SUSU 3. DIJUAL SEBAGAI SUSU SEGAR DARI RUMAH KE RUMAH

  15. DOMBA & KAMBING( SHEEP & GOAT) • LEBIH MUDAH BERADAPTASI DI DAERAH TROPIK YANG KERING DAN PANAS • KAMBING (80%) HIDUP DI DAERAH TROPIK DAN SUB TROPIK • DOMBA (60%) TERDAPAT DI DAERAH NON TROPIK (TEMPERATE) • TEMPERATUR DAN TIPE VEGETASI SANGAT MENENTUKAN KEHIDUPAN DOMBA & KAMBING

  16. 525 JUTA KAMBING DI DUNIA, TERBANYAK DI NEGARA-NEGARA INDIA, CHINA, KEMUDIAN PAKISTAN, NIGERIA, DAN SOMALIA. DI INDONESIA KAMBING (12.700.000 EKOR) > DOMBA (6.600.000 EKOR). DI BEBERAPA NEGARA YANG MAJU PETERNAKANNYA, DOMBA LEBIH POPULER. KAMBING SEBAGAI PENGHASIL DAGING DAN SEBAGIAN KECIL SEBAGAI KAMBING PERAH (DAIRY GOAT ) DOMBA SEBAGAI PENGHASIL DAGING, DI NEGARA2 NON TROPIK JUGA PENGHASIL WOOL, DAN SEDIKIT SEBAGAI PENGHASIL SUSU. DOMBA GARUT (JAWA BARAT) DIKENAL SEBAGAI DOMBA ADUAN, SELAIN ITU KULITNYA DIPAKAI DALAM INDUSTRI KULITNYA. MERUPAKAN KETURUNAN DOMBA MERINO.

  17. PEMELIHARAAN KAMBING DAN DOMBA DI INDONESIA • MERUPAKAN PETERNAKAN RAKYAT / KECIL SEBAGAI PENUNJANG PEREKONOMIAN RAKYAT DI PEDESAAN. • BELUM MAMPU MEMENUHI PERMINTAAN EXPORTKAMBING DAN DOMBA KE NEGARA TIMUR TENGAH. • BELUM ADA SPESIALISASI KAMBING / DOMBA PENGHASIL DAGING ATAU SUSU, APALAGI BULU ATAU WOOL. • YANG BERKEMBANG DI MASYARAKAT SAMPAI SAAT INI HANYA KAMBING / DOMBA PENGHASIL DAGING.

  18. TABEL 6 : POPULASI KAMBING DAN DOMBA DI BEBERAPA NEGARA DAN INDONESIA (JUTA EKOR)

  19. PERUNGGASAN YANG TERMASUK UNGGAS (POULTRY) ADALAH AYAM, ITIK, ANGSA, KALKUN, MERPATI DLSB.

  20. DALAM KULIAH INI HANYA MEMBAHAS AYAM KARENA DI INDONESIA PETERNAKAN AYAM SUDAH MAJU DI INDONESIA DIKENAL ADA 2 : 1. AYAM BUKAN RAS (BURAS)/ KAMPUNG YANG MERUPAKAN AYAM LOKAL. 2. AYAM RAS YANG DULUNYA DIIMPOR DARI LUAR NEGERI. ISTILAH AYAM BURAS KURANG TEPAT, KARENA SEMUA JENIS AYAM MEMPUNYAI RAS SENDIRI. MUNGKIN LEBIH TEPAT DISEBUT AYAM LOKAL.

  21. AYAM LOKAL • BANYAK DIPELIHARA SECARA TRADISIONAL DI : HALAMAN RUMAH KEBUN-KEBUN • MENUNJANG PEREKONOMIAN RUMAH TANGGA RAKYAT DI DAERAH PINGGIRAN DAN PEDESAAN MASIH CUKUP MENONJOL. CATATAN TAHUN 1996 : POP. AYAM LOKAL: TERCATAT 252,7 JUTA EKOR POP.AYAM RAS: BROILER (854,7 JUTA EKOR), LAYER (69,8 JUTA EKOR)

  22. AYAM RAS AWAL TH. 1960 MERUPAKAN AWAL KEMAJUAN PETERNAKAN AYAM DI INDONESIA. IMPORT ANAK AYAM UMUR SEHARI (DOC) DALAM BENTUK DOC KOMERSIAL (FINAL STOCK ). FINAL STOCK : JENIS AYAM INI TIDAK UNTUK DIKEMBANG BIAKKAN LAGI. HANYA DIPELIHARA DALAM SATU SIKLUS PRODUKSI ( BROILER : 8 MINGGU, LAYER : 73 MINGGU )

  23. AYAM-AYAM RAS KOMERSIAL MERUPAKAN HASIL KEMAJUAN ILMU PEMULIAAN TERNAK (ANIMAL BREEDING). PERSILANGAN BEBERAPA BANGSA AYAM GALUR MURNI (PURE BRED/LINE) M E N G H A S I L K A N A Y A M K O M E R S I A L SBB. : PRODUKTIVITAS TINGGI TAHAN PENYAKIT MEMILIKI SIFAT2 UNGGUL

  24. SEJAK TH. 1984 PEMERINTAH MELARANG IMPORT DOC FINAL STOCK HANYA BOLEH IMPORT GRAND PARENT STOCK(GPS) OR PARENT STOCK (PS) FINAL STOCK ( COMMERCIAL STOCK ) SAAT INI SUDAH BANYAK PERUSAHAAN BESAR (PMDN ATAU PMA) BERGERAK DI BIDANG PETERNAKAN AYAM SEBAGAI INDUSTRI ( JUTAAN ANAK AYAM/MGG.)

  25. PERANCIS DAN AMERIKA SERIKAT ADALAH NEGARA PENGEKSPOR AYAM TERBESAR DI DUNIA. THAILAND ADALAH PENGEKSPOR AYAM TERBESAR KE NEGARA2 EROPA JERMAN, JEPANG DAN USSR ADALAH NEGARA PENGIMPOR AYAM TERBESAR DENGAN PESATNYA INDUSTRI PERUNGGASAN, MAKA TERBENTUKLAH SPESIALISASI SEPERTI MISALNYA : PEMBIBITAN (BREEDER), PENETASAN (HATCHERY), PEMOTONGAN/PEMROSESAN AYAM PEDAGING, TELUR TETAS/KONSUMSI, PAKAN TERNAK, OBAT-OBATAN HEWAN, SARANA PRODUKSI DLSB.

  26. TABEL 7 : POPULASI AYAM DI BEBERAPA NEGARA (1989) DAN INDONESIA (1996)

  27. B A B I BABI MERUPAKAN TERNAK YANG SANGAT PRODUKTIF DAN EFISIEN

  28. SIFAT-SIFAT TERNAK BABI PERKEMBANG-BIAKANNYA CEPAT MASA BUNTING : 115 HARI JUMLAH ANAKPERKELAHIRAN (LITTER SIZE) : 8-10 EKOR ANAK DISAPIH : UMUR 2 BULAN INDUK BIRAHI LAGI MUDAH MENINGKATKAN MUTU GENETIKNYA ( MELALUI BREEDING ) KECUALI BABI GALUR MURNI, BANYAK BANGSA BABI KOMERSIAL YANG MEMPUNYAI SIFAT-SIFAT UNGGUL SESUAI YANG DIINGINKAN, SEPERTI: PRODUKTIVITAS TINGGI, TAHAN PENYAKIT, DAN EFISIEN

  29. USAHA PETERNAKAN BABI DI INDONESIA • DI DAERAH YANG TIDAK BANYAK UMAT MUSLIMNYA, MISALNYA : SUMATERA UTARA, NIAS, BALI, NTT, IRIAN JAYA, DAN INDONESIA BAGIAN TIMUR. • UMUMNYA MASIH DIPELIHARA SECARA TRADISIONAL OLEH RAKYAT PEDESAAN. • DIGUNAKAN SEBAGAI SIMBOL STATUS SOSIAL. • DI BEBERAPA DAERAH DI P. JAWA (PETERNAKAN MODERN), UNTUK MELAYANI KOTA2 BESAR. • DI P. BULAN (BATAM DAN RIAU) BABI DIKEMBANGKAN DALAM PERUSAHAAN BESAR KOMERSIAL EKSPOR KE SINGAPURA

  30. 846 JUTA EKOR BABI DI DUNIA 40% BERADA DI CHINA • KALAU DIHITUNG DARI PRODUKTIVITASNYA (KARKAS PER PENDUDUK) : 1. AMERIKA SERIKAT : 29 kg/orang 2. UNI SOVYET : 23 kg/orang 3. CINA : 20 kg/orang • POPULASI BABI DI INDONESIA 9,5 JUTA EKOR (1996) • KONSUMSI DAGING BABI TERTINGGI DI DUNIA 1. HONGARIA : 88 kg /kapita /tahun. 2. DENMARK : 65 kg /kapita/tahun

  31. DI NEGARA2 MAJU INDUSTRI PETERNAKAN BABI DILAKSANAKAN DALAM FASE-FASE : • PETERNAK BABI ANAKAN MEMELIHARA BABI INDUK DAN ANAK-ANAK SAPIHAN BERAT BADAN : ± 18 kg • PETERNAK BABI POTONGAN MEMBELI ANAK BABI DIBESARKAN/DIGEMUKKAN BERAT BADAN SIAP POTONG : ± 100 kg • PETERNAK BABI PEMBIBIT HANYA MEMELIHARA BABI-BABI UNGGUL DIJUAL SEBAGAI BABI BIBIT

  32. TABEL 8 : POPULASI DAN KONSUMSI DAGING BABI DI DUNIA

  33. K U D A DIDOMESTIKASIKAN UNTUK DIFUNGSIKAN SEBAGAI HEWAN SARANA TRANSPORTASI DENGAN MOBILITAS TINGGI

  34. JAMAN DULU • DIGUNAKAN UNTUK EKSPANSI WILAYAH • MENGEMBNGKAN PERTANIAN YANG INTENSIF SEBAGAI PENARIK BAJAK DAN PENGANGKUT HASIL BUMI. • SAAT INI • KUDA TUNGGANG, KUDA PACU (HOBI) • KUDA POLISI, KUDA MILITER, DAN ALAT TRANSPORTASI • POPULASI KUDA DI DUNIA AKHIR-AKHIR INI MENURUN • HANYA SEKITAR 60 JUTA EKOR • DI CINA : 10 JUTA EKOR (TERBANYAK) • DI INDONESIA : HANYA 720 EKOR • KUDA LIAR DI DUNIA • HANYA TINGGAL EQUUS PZHREVALSKI DI MONGOLIA. • KUDA TARPAN (SUDAH PUNAH) DI EROPA. • KUDA MUSTANG DI AMERIKA BUKAN KUDA LIAR ASLI (FERAL)

More Related