1 / 12

Imunitas humoral

Imunitas humoral. Yang bertanggung jawab: sel limfosit B (Bursa fabicus/Bone) Sel B membawa antibodi pada permukaan selnya, juga dapat mengeluarkan antibodi ke dalam plasma Sel B bertanggung jawab atas sintesis antibodi humoral yang bersirkulasi dikenal dengan imunoglobulin. Imunoglobulin (Ig).

freira
Download Presentation

Imunitas humoral

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Imunitas humoral • Yang bertanggung jawab: sel limfosit B (Bursa fabicus/Bone) • Sel B membawa antibodi pada permukaan selnya, juga dapat mengeluarkan antibodi ke dalam plasma • Sel B bertanggung jawab atas sintesis antibodi humoral yang bersirkulasi dikenal dengan imunoglobulin.

  2. Imunoglobulin (Ig) • Terdiri atas 2 rantai ringan (Light chain) yang identik (23 kDa) dan 2 rantai berat (Heavy chain) yang identik (53-75 kDa), disatukan ikatan disulfida. • Bagian yang mengarah ke ujung terminal karboksil disebut regio yang konstan, sedangkan bagian ujung amino merupakan regio variabel. • Proses pencernaan IG oleh enzim papain menghasilkan dua buah fragmen pengikat antigen (Fab) dan satu fragmen yang dapat membentuk kristal (Fc) • Bagian variabel dari rantai L dan H yang membentuk ujung Fab menentukan sifat khas/spesifik dari antibodi. • Bagian Fc dalam bagian konstan dari imunoglobulin menentukan aktivitas biologis dari antibodi, misalnya IgG mampu menembus placenta, meningkatkan kemampuan komplemen, perlekatan dengan makrofag, menyebabkan degranulasi sel mast)

  3. Imunoglobulin • Rantai L • Pada orang sehat, ada 2 macam yaitu: rantai-k(kappa) dan rantai-λ(lambda), selalu mengandung 2 rantai k atau λ, tidak pernah campuran • Rantai H • Ada lima macam : α, γ, δ, ε, μ • Tidak ada dua regio variabel yang identik

  4. Imunoglobulin G • IgG mampu menembus plasenta, sehingga memberikan proteksi utama thd infeksi pada bayi selama bulan pertama postpartum • IgG pada kolostrum dpt menembus mukosa usus bayi dan menambah daya kekebalan • IgG mudah menyebar ke celah ekstravaskuler dan berperan utama menetralisis toksin kuman dan melekat pada kuman sebagai persiapan fagositosis • Terdapat 4 subklas: IgG1, 2, 3, 4, perbedaanya pada rantai H • BM sekitar 150.000-160.000 dan mengandung 2-4 % karbohidrat

  5. Imunoglobulin A • Terdapat dalam serum, BM 180.000-400.000, mengandung karbohidrat 5-10%, • Paling utama terdapat dalam saluran intestin dan cairan tubuh (saliva, tears,bronchial secretions,nasal mucosa, prostatic fluid, vaginal secretions, mucous secretions of the small intestine) • IgA berperan pd mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi virus dan bakteri bukan untuk merusak antigen, tetapi lebih pada pencegahan akses benda asing pada sistem imun yang umum.

  6. Imunoglobulin M • Rangkaian protein yang terbesar, BM 900.000, kadar karbohidrat: 10-12% • IgM merupakan antibodi pertama yang dibentuk oleh bayi yang baru lahir • Mempunyai aktivitas “antibacterial lysis” • IgM dan IgD adalah imunoglobulin utama yang diekspresikan pada permukaan sel B • IgM merupakan respon imun awal yang paling dominan pada kebanyakan antigen • Pada infeksi toksoplasma baru---IgM meningkat • Pada infeksi lama-------IgG meningkat

  7. Imunoglobulin D • BM 180.000, normal pada serum dalam jumlah sedikit • Fungsi belum jelas, mungkin terlibat dalam differensiasi sel limfosit B. Imunoglobulin E Terdapat dalam serum, BM 190.000 IgE bila disuntikkan ke dalam kulit akan terikat pada sel mast Interaksi IgE dengan antigen menyebabkan pengeluaran zat-zat amin yang vasoaktif seperti serotonin dan histamin Kadar IgE akan naik pada penyakit alergi dan infeksi parasit tertentu terutama cacing

  8. Sitokin • Sekelompok molekul yang terlibat untuk mengantarkan sinyal antar sel dalam respon imun • Ada beberapa jenis : • Interferon (IFN): membatasi perluasan infeksi virus tertentu, dihasilkan pada proses infeksi dini • Interleukin (IL-1 s/d IL-10), komponen terbesar dari sitokin, fungsinya mempengaruhi sel lain untuk membelah dan diferensiasi • Colony Stimulating Factors (CSFs) berperan untuk mengarahkan proses pembelahan dan diferensiasi sel stem dari sumsum tulang dan prekursor leukosit darah • Sitokin lain termasuk TNF α dan β, dan transforming growth factors-β (TGF-β) • Fungsi TNF sebagai perantara proses inflamasi & reaksi sitotoksik

  9. Reaksi hipersensitivitas Tipe I Tipe anafilaktik • Antigen bereaksi dengan antibodi Ig E lalu berikatan dengan permukaan sel mast, mengakibatkan pelepasan mediator • Contoh: anafilaksis, alergi pernafasan Tipe II Sitotoksik Antibodi yang bersatu (IgG dan IgM) dengan antigen merupakan bagian sel atau jaringan tubuh; menyebabkan aktivasi komplemen, lisis atau fagositosis sel target Contoh : anemia hemolitik imun

  10. Reaksi hipersensitivitas Tipe III Kompleks imun • Penyatuan antigen dan antibodi membentuk kompleks yang mengaktivkan komplemen, menarik leukosit dan menyebabkan kerusakan jaringan produk leukosit • Contoh: penyakit serum, glomerulonefritis, lesi dari sistemik lupus eritomatosus (SLE)

  11. Reaksi hipersensitivitas Tipe IV Diperantarai sel • Reaksi limfosit T dengan antigen menyebabkan pelepasan limfokin, sitotoksisitas langsung dan pengerahan sel-sel reaktif. • Contoh: dermatitis kontak alergik, penolakan cangkokan, tuberkulosis (lesi dan tes kulit positif)

  12. Vaksinasi • Prinsip: berdasarkan adanya elemen imunitas adaptif yaitu spesifisitas dan memory • Tujuan vaksin: mengubah sifat patogenik dan efek toksinnya menjadi tidak berbahaya tanpa kehilangan antigenisitasnya. • Ini dimungkinkan karena antibodi dan sel T mengenal bagian2 dari antigen dan bukan organisme keseluruhan toksin • Contoh: vaksin difteri; bakteri difteri menghasilkan toksin yang dapat merusak sel otot. Toksin ini selanjutnya dimodifikasi dengan formalin, sehingga epitopnya tetap ada, tetapi toksisitasnya hilang. Jadi berupa toksoid untuk vaksinasi.

More Related