1 / 28

PENGALAMAN RSKO DALAM PENATALAKSANAAN PASIEN PENYALAHGUNA NAPZA

PENGALAMAN RSKO DALAM PENATALAKSANAAN PASIEN PENYALAHGUNA NAPZA. Dr. Diah Setia Utami Sp.KJ,MARS Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta. PROFIL RSKO. Beroperasi sejak tahun 1972 sebagai proyek DDU Tahun 1974 menjadi LKO  preventif, kuratif dan rehabilitatif

fauna
Download Presentation

PENGALAMAN RSKO DALAM PENATALAKSANAAN PASIEN PENYALAHGUNA NAPZA

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. PENGALAMAN RSKO DALAM PENATALAKSANAAN PASIEN PENYALAHGUNA NAPZA Dr. Diah Setia Utami Sp.KJ,MARS Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta

  2. PROFIL RSKO • Beroperasi sejak tahun 1972 sebagai proyek DDU • Tahun 1974 menjadi LKO  preventif, kuratif dan rehabilitatif • Tahun 1978/SK 138/Menkes menjadi unit pelaksana teknis Departemen Kesehatan • Rumah Sakit yang khusus melayani pasien ketergantungan zat • Unit pelayanan berkembang sesuai dengan berkembangnya masalah penyalahgunaan Napza

  3. PROFIL RSKO • Tahun 1990-1996 meningkatnya angka penyalahgunaan heroin  mulai peningkatan jumlah pasien  20 TT menjadi 40TT • 1996-2001: Jumlah pasien meningkat 4 kali lipat • 2001-2003 : pengembangan RS menjadi tipe B di lokasi Cibubur • Pengembangan jenis pelayanan khususnya yang terkait dengan dampak penggunaan narkoba suntik

  4. PROFIL PENGGUNAAN ZAT PASIEN RSKO • 1972–1980 : multiple drug use (morfin, ganja dan barbiturat) • 1982 - 1992 : sedatif- hipnotik, ganja dan alkohol • 1992 – 1994 : dominasi penggunaan tiga dmensi (ganja, alkohol dan benzodiazepine) • 1994 – 2002 : ekstasi mulai banyak beredar diikuti oleh peredaran heroin (putaw) • Pusat rehabilitasi (model TC) mulai berkembang • 2002 – saat ini : heroin (putaw) dengan berbagai dampaknya masih merupkan masalah utama

  5. JENIS PELAYANAN YANGTERSEDIA • Instalasi Rawat Jalan • Klinik Napza • Klinik Spesialis (Jiwa, Penyakit Dalam, Neurologi, Anak dan Kebidanan) • Klinik Gigi dan Mulut • Klinik Metadon • Instalasi Rawat Inap (Detoksifikasi) • Instalasi Rehabilitasi • Instalasi Rawat Inap Komplikasi • Instalasi Psikososial • Instalasi Diklat • Instalasi Penelitian dan Pengembangan

  6. Total Kunjungan Rawat Jalan

  7. Total Kunjungan Rawat Inap

  8. JENIS ZAT YANG DIGUNAKAN

  9. VIRUS YANG DITULARKAN MELALUI DARAH PADA PENASUN • Survey anonymous HIV pengunjung RSKO : • 1991 : 14,90% • 2000 : 40,80% • 2001 : 47,90% • Saat ini infeksi HIV mencapai 50-60% • Infeksi Hepatitis C : 80-90%

  10. MODALITAS TERAPI • Sifat penyakit Kronis Kambuhan dan perilaku pecandu yang berisiko  pengobatan sangat sulit • Sejak terdeteksi penularan berbagai penyakit infeksi pada pengguna narkoba suntik  perubahan fokus Demand Reduction menjadi Harm Reduction

  11. Modalitas Terapi (lanjutan) • A. Detosifikasi : 1. Medical detoxification 2. Social setting detoxification 3. Self detoxification

  12. Modalitas Terapi (lanjt) • Rawat Inap : 1. Perawatan di Rumah Sakit. 2. Perawatan yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat. 3. Perawatan jangka pendek. 4. Therapeutic Community. 5. Perawatan jangka panjang 6. Rumah Singgah (Halfway House) 7. Aversion Therapy Program.

  13. Modalitas Terapi (lanjt) C. Rawat Jalan : 1. Model Tradisional 2. Program Intensif 3. Subtitusi Treatment (Buphrenorphine, Methadone Maintenance Program dll)

  14. Modalitas Terapi (lanjt) D. Self-help Group : 1. Narcotic Anonimous 2. Alcohol Anonimous 3. Cocain Anonimous 4. Dll

  15. TERAPI RUMATAN DENGAN SUBTITUSI • Merupakan terapi jangka panjang > 6 bulan • Bertujuan untuk mengubah gaya hidup dan perilaku klien  lebih produktif • Umumnya berupa terapi pengganti (subtitusi) • Jenis obat yang digunakan dapat berupa : • Antagonis (Naltrekson) • Partial agonist (Buprenorfin) • Agonist (Metadon, LAAM, Oral Morfin)

  16. TUJUAN TERAPI RUMATAN DENGAN SUBTITUSI • Mengurangi risiko dan infeksi penularan HIV • Menggiring penyalahguna dari ‘pasar gelap’ menjadi pengguna narkoba legal • Mengurangi risiko overdosis • Menggiring penyalahguna narkoba suntik untuk memakai narkoba bukan suntikan • Mengurangi pemakaian narkoba yang membahayakan

  17. Tujuan Terapi Subtitusi (2) • Menurunkan tindak kriminal yang biasa dilakukan penyalahguna narkoba • Menjalin hubungan dengan pemakai narkoba • Menyediakan bimbingan, rujukan, dan perawatan • Menstabilkan kehidupan penyalahguna

  18. NALTREKSON • Merupakan antagonis opioida dengan waktu kerja panjang (kira-kira 24 jam) • Dosis diberikan 1x50-150mg/hari (24-72 jam) dengan waktu pemberian yang sama • Menyekat efek euforia dari opioid (heroin)  kurang disukai klien • Hasil tes urin opioid sebelum menggunakan harus negatif • Tidak dapat diberikan kepada klien dengan gangguan fungsi hati

  19. BUPHRENORPHINE • Merupakan partial agonist (mempunyai sifat agonist dan juga antagonist) • Dapat mencegah dan menghilangkan gejala putus zat • Mengurangi “sugesti” dan rasa sakit • Bisa digunakan sebagai short term, long term treatment maupun transisi dari metadon ke naltrekson • Dosis tinggi efeknya lebih ringan dibanding golongan agonist lain • Efek samping yang ditimbulkan : sulit b.a.b, pusing, mulut kering, mual • Diberikan setelah 6 – 8 jam setelah pemakaian opioid terakhir

  20. TERAPI RUMATAN METADON (1) • Metadon merupakan obat sintetik yang mempunyai efek jangka panjang • Digunakan sebagai terapi rumatan, khususnya di USA sejak tahun 1960 • Merupakan agonist opioid  efek sama dengan golongan narkotika lain • Bila diberikan dengan dosis yang tepat untuk terapi rumatan, metadon tidak menimbulkan euforia, mengantuk atau efek analgesik •  Dosis yang adekuat sangat menentukan

  21. Terapi Rumatan Metadon (2) • Tersedia dalam bentuk : tablet, bubuk dan liquid • Dosis dimulai dengan 20 – 30 mg (rendah) sampai diperoleh toleransi, dosis rata-rata 60-80 mg atau beberapa kasus dengan dosis tinggi 100 mg atau lebih • Seleksi untuk treatment ini cukup ketat  pilihan setelah terapi lain gagal • Interaksi dengan obat-obat tertentu dapat menurunkan atau meningkatkan kadar metadon dalam tubuh

  22. Terapi Rumatan Metadon (3) • Lama program diharapkan berjalan dalam 2 tahun  tergantung kebutuhan pasien • Metadon tidak mengontrol keinginan “high” dari klien tetapi dengan dosis yang adekuat melindungi pasien dari kebutuhan fisik opioid illegal • Dengan terapi rumatan ini klien akan memperoleh 3 hal utama : • Menghilangkan gejala putus opioid • Membuat pasien merasa nyaman dan lepas dari sugesti/craving • Mem “block” efek dari opioid illegal

  23. PILOT PROJECT PRM (Program Rumatan Metadon) DI RSKO • Dimulai sejak 27 Januari 2003 • Pilot project WHO dan Dep-Kes pada 2 lokasi (Jakarta dan Bali) • Dibuka setiap hari jam 9.00 – 15.00 • Dilayani oleh petugas yang merupakan suatu tim : psikiater, dokter umum, psikolog, pekerja sosial, Asisten Apoteker, perawat

  24. TERAPI NON FARMAKOLOGI/PENUNJANG • Terapi rumatan tidak akan memberikan hasil optimal tanpa terapi psikososial, antara lain: • Konseling • Psikoterapi • Terapi keluarga • Terapi perilaku • Terapi kelompok • Self Help Group • After Care Program

  25. REHABILITASI • Berbagai modalitas yang tersedia : • Pendekatan spiritual • Pendekatan psikososial • Pendekatan Perilaku (Therapeutic Community)

  26. Rehabilitasi (lanjt) Umumnya Program Rehabilitasi melakukan hal dibawah ini (4 tujuan dasar) : • Memaksimalkan kesehatan fisik dan mental • Meningkatkan motivasi utk abstinent melalui pendidikan • Membantu klien membangun kembali kehidupannya • Mengajarkan relapse prevention

  27. PASIEN RAWAT DENGAN KOMPLIKASI • Dalam 1 tahun terakhir di RSKO : • 68 pasien yang dirawat dengan rata-rata hari inap 3 – 14 hari • 88% diperkirakan menderita oportunistik infeksi akibat penyakit HIV/AIDS • Meninggal : 19 orang • Jenis IO : Tuberculosis pulmonum (40%), Pneumonia (26%), Candidiasis Oral (12%) and Toxoplasmosis (9%)

  28. TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA

More Related