1 / 22

Pertemuan VIII - IX

Pertemuan VIII - IX. m.zainal abidin – a.fauzi Uht = umsida. Macam teori tentang pengukuran psikologi. Teori Tes Klasik Teori Tes Modern. TEORI TES KLASIK.

Download Presentation

Pertemuan VIII - IX

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Pertemuan VIII - IX m.zainal abidin – a.fauzi Uht = umsida

  2. Macam teori tentang pengukuran psikologi • Teori Tes Klasik • Teori Tes Modern

  3. TEORI TES KLASIK • Unsur-unsur teori sudah dikembangkan dan diaplikasikan sejak lama, namun tetap bertahan, lebih-lebih jika dilihat dari arah penerapanya di berbagai bidang kehidupan • Teori tes klasik tidak tersusun sekali jadi, melainkan berkembang sedikit demi sedikit melalui unsur-unsur yang kemudian secara akumulatif merupakan bangunan teori yang utuh. • Inti : berupa asumsi-asumsi yag dirumuskan secara matematis • Model skor murni (true score model)

  4. Asumsi Teori Tes Klasik 1. X = T + E Keterangan : X = skor perolehan T = skor murni E = skor eror pengukuran

  5. Asumsi Teori Tes Klasik 2. ε(X) = T Keterangan ε(X) = nilai harapan X (expected value of X) Jika seseorang dikenai tes berulang-ulang, dengan asumsi bahwa pengulangan tes itu dilakukan tidak terbatas dan setiap pengulangan independen satu sama lain, maka T adalah harga rata-rata distribusi teoritik skor X

  6. Asumsi Teori Tes Klasik 3. Ρet = 0 Keterangan : Tidak ada korelasi antara eror pengukuran dengan skor murni. Dengan kata lain, skor murni yang tinggi tidak berhubungan dengan eror pengukuran yang rendah atau tinggi; dan sebaliknya

  7. Asumsi Teori Tes Klasik 4. Ρe1e2 = 0 Keterangan : Tidak ada korelasi antara eror pengukuran pada tes pertama dengan eror pengukuran pada tes kedua. Misalnya : karena faktor kelelahan, latihan dan sebagainya.

  8. Asumsi Teori Tes Klasik 5. Ρe1t2 = 0 Keterangan : Tidak ada korelasi antara eror pengukuran pada tes pertama dengan skor murni pada pengukuran kedua

  9. Asumsi Teori Tes Klasik 6. T = T’ dan σe2 = σe’2 • Rumus tes paralel : • dimana memiliki mean dan varians skor tampak (perolehan) yang setara

  10. Asumsi Teori Tes Klasik 7. T1 = T2 + C essentialy τ-equivalent (pada dasarnya memiliki skor murni yang setara) Dua tes dikatakan mempunyai sifat essentialy τ-equivalent apabila perbedaan skor murni pada kedua tes tersebut, untuk setiap subyek, besarnya selalu tetap. Dua tes yang bersifat essentialy τ-equivalent dapat saja memiliki eror pengukuran yang berbeda, karena keduanya belum tentu merupakan tes yang paralel, akan tetapi setiap dua tes yang paralel tentu memiliki syarat mutlak untuk disebut tes yang bersifat essentialy τ-equivalent

  11. Kelemahan • Sample bound • Item • subyek

  12. TEORI TES MODERN • Asumsi : • latent trait model, kemampuan latent yang mendasari kinerja (performance) atau respon subyek terhadap butir soal tertentu • Hubungan antara performansi subyek pada suatu item, dan perangkat kemampuan (abilitas) laten dapat digambarkan oleh suatu fungsi yang menaik secara monotonik (item characteristic function = item characteristic curve = ICC)

  13. Unsur-unsur

  14. Asumsi

  15. Unsur-unsur

  16. Unsur-unsur

  17. Unsur-unsur

  18. Unsur-unsur

  19. Model

More Related