Download
analisis kesehatan dan prediksi kebangkrutan bums dan bumn pert 25 26 n.
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
ANALISIS KESEHATAN DAN PREDIKSI KEBANGKRUTAN BUMS DAN BUMN Pert.25-26 PowerPoint Presentation
Download Presentation
ANALISIS KESEHATAN DAN PREDIKSI KEBANGKRUTAN BUMS DAN BUMN Pert.25-26

ANALISIS KESEHATAN DAN PREDIKSI KEBANGKRUTAN BUMS DAN BUMN Pert.25-26

430 Views Download Presentation
Download Presentation

ANALISIS KESEHATAN DAN PREDIKSI KEBANGKRUTAN BUMS DAN BUMN Pert.25-26

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. ANALISIS KESEHATAN DAN PREDIKSI KEBANGKRUTAN BUMS DAN BUMNPert.25-26 Matakuliah : F0274 – Manajemen Keuangan Perusahaan Tahun : 2006/2007

  2. Kesulitan keuangan dan prediksi kebangktutan Kebangkrutan adalah kondisi keuangan perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dalam jangka pendek (likuiditas atau technical solvency) dan mengalami insolvency (debt > asset). Pengertian lainnya dapat dikatakan bila total kewajiban melebihi total aktiva. Sebagai contoh di Indonesia tahun 1997-an, puluhan bank mengalami kebangkrutan. Tetapi pemerintah tidak ingin bank-bank tsb bangkrut maka diberikan bantuan (BLBI) yang sangat merugikan Negara dalam jumlah yang sangat besar sehingga berdampak kepada perekonomian Indonesia sampai saat ini. Pemerintah memberikan kredit BLBI karena menjaga kredibilitas pemerintah di mata maryarakat dan dunia. Kondisi incolvency ada dua pilihan yaitu likuidasi(kebangkrutan) dan reorganisasi (retrukturisasi).Hal-hal perusahaan dalam mengalami kebangkrutan al: kegagalan dibidang manajemen, operasional, penyelewengan, bencana, persaingan yang sangat tajam dan lainnya.

  3. Sebab-sebab kegagalan usaha dan perusahaan mengalami kesulitan keuangan : • Kekurangan pengalaman manajemen secara operasional dan tidak kompeten • Kurangnya pengalaman secara manajerial. • Keseimbangan antara keuangan, produksi, pemasaran dan fungsi lainnya tidak baik. • Penyelewengan dan korupsi atau KKN. • Bencana alam, tuntutan serikat buruh yang berlebihan, pungli, dan lainnya • Peraturan pemerintah yang memberatkan antara lain kenaikan BBM,perpajakan dan lainnya. • Karena persaingan yang sangat tajam antar perusahaan sejenis. • Mengalami kerugian terus menerus. • Faktor-faktor lainnya.

  4. Metode MemprediksiKebangkrutan • 1. Analisis Rasio Keuangan • 2. Z Score – Metode Altman • 3. Shut Down Point – Shut Down Cost • 4. Analisis Surat Keputusan MenNeg BUMN • Note: BUMS tidak menggunakan metode ke-4

  5. Analisis kebangkrutan 1. Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) Analisisnya dapat dibagi dalam 2 hal yaitu: 1) Analisis Univariate Rasio-rasio diuji secara terpisah untuk mengetahui penympangan Memperhatikan dengan teliti atas variabelitas al: pengaruh biaya tetap berbanding pendapatan operasi (operation income) atau rasio FC/OI tidak baik dan pengaruh Time Interest Earned (TIE) yang dibandingkan dengan laba (bunga lebih tinggi dari laba).Penilaian prediksi kebangkrutan dapat juga dilakukan dengan menilai rasio-rasio keuangan lainnya. 2) Analisis Multivariate. Analisis ini menggunakan 2 atau lebih varabelitas kedalam satu persamaan. Contohnya model regresi: Y = a+a1X1+a2X2+……+anXn Karena data analisis regresi adalah masa lampau, maka diadakan analisis diskriminan dengan menggunakan tehnik statistic.

  6. Analisis kebangkrutan Analisis kebangkrutan ini dipopulerkan oleh Edward I. Altman di New York University pertengahan tahun 1960 menggunakan “analisisdiskriminan” untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Altman adalah pioner memprediksi tentang kebangkrutan.Altman menganalisis perusahaan besar di USA dengan 22 rasio keuangan, tetapi hanya 5 rasio dominan dalam memprediksi perusahaan mengalami kebangkrutan atau tidak. Analisis diskriminan/ kebangjrutan terdiri 3 tahap: a. Menyusun klasifikasi kelompok bersifat mutually exclusive. Setiap kelompok dibedakan dengan satu distribusi peluang (probability distribution) sesuai cirri-cirinya. b. Mengumpulkan data untuk pengamatan dalam kelompok. c. Menurunkan kombinasi linier dari ciri-ciri tsb “paling baik” mendiskrimi nasikannya (membedakannya) diantara kelompok “paling baik”, artinya kombinasi yg meminumkan peluang ada kesalahan klasifikasi.

  7. Analisis kebangkrutan Altman Model”s., fungsi Z (Zeta) Z= ,012X1+0,14X2+0,033X3+0,006X4+0,999X5 Dimana: X1 = Modal Kerja/Total Aset ( %) X2= Laba ditahan/Total Aset (%) X3= Laba sebelum bunga dan pajak/Total Aset (%). X4= (Nilai pasar Saham Biasa dan Saham Preferen) / Nilai Buku Total Utang. (%) X5 = Penjualan /Total Aset.(kali)

  8. Analisis kebangkrutan Penggunaan model Altman ini untuk perusahaan yang “Go Public”, karena kalau perusahaan tidak “Go Public”, nilai pasar saham tidak dapat dihitung dengan teliti.Agar ini juga dapat digunakan untuk perusahaan “Non Go Public” Altman menggantinya, menggunakan nilai buku (book value) Common Stock dan Preferred Stock, kemudian model “Diskriminan Altman”, menjadi : Z= 0,717X1+0,847X2++3,107X3+ 0,42 X4 + 0,998 X5. Yang berbeda adalah kompenen X4 dari Market Value menjadi Book Value. Score Z untuk memnentukan suatu perusahaan bangkrut atau tidak,yaitu; Z score: 1) Secara Umum digunakan. a. 1.80 or less = Very high Probability of bankruptcy b. 1.81 – 2,70 = High Probability of Bankruptcy. c. 2,71 – 2,99 = Possible Bankruptcy. d. 3 or above = Far from being bankruptcy

  9. Analisis kebangkrutan 2) Menurut Book Value dan Market Value, Z score: Market Value Book Value 1. Very High Probability of Bankruptcy 1,80 or less 1,20 or less 2. High Probalbility Bankruptcy Z 1,81 -2,99 1,20 –2,90 3 Possible Bankrkuptcy Z> 2,99 2,90 4. Far from being bankruptcy 3,00 above 3,00 above Kemudian Altman, mengembangkan 4 versi variabel yang berlaku perusahaan public mapun pribadi, atau perusahaan manufaktur dan jasa. Z = 6,56X1+ 3,26X2 +6,72X3 + 1,05X4. Dalam 4 versi ini, tidak tercatat total penjualan dibagi total asset, sehingga analisisnya sempit bila dibanding dengan kedua model Altman diatas. Dalam kuliah MKP, yang kita pakai adalah kedua model tsb diatas ( 5 versi atau dari X1 s/d X5) dengan mengklasifiasikan perusahaan “Go public dan bukan Go public”.

  10. Contoh : Laporan keuangan Chrysler Company dalam $ jutaan a. Ikhtisar rugi-laba yang berakhir tgl.31-12-200x Penjualan $12.005 Biaya-biaya (kecuali depresiasi dan bunga) $12.710 Penyusutan $181 Bunga $215 Pajak penghasilan (kredit) $5 Rugi/laba bersih ($1.097) b. Neraca per 31 Desember 200X ( dlm juta) . Harta lancar 3.121 Hutang lancar $ 3.232 Harta tetap 3.500 Hutang jk.panjang . 1.597 Harta lannya 14 Total hutang $ 4.829 Saham preferen $ 51 Saham biasa (66.7 jt lbr @ $8,50) $567 Modal disetor penuh $692 Laba ditahan $496 Total modal sendiri $1.755 Jumlah Harta $6.635 Jumlah kewajiban dan modal$6.635

  11. X1. = (CA-CL)/TA = ( 3.121 - 3.232)/6.635= - 1,67% X2 = RE/TA = 496/6.635 = 7,47% X3 = EBIT/TA = -880 / 6.635 = - 13,35% X4 = Nilai Pasar Modal Sendiri/T.Debt = (66,7 x8,50)/4.829 = 567/4.829 = 11,74% X5 = Sales/T.Asset = 12.005/6.635 = 1,8 kali. Z = 0,012(- 1,67) + 0,014(7,47) + 0,033 (-13.35)+ 0,006(11,74)+0,999(1,8) = 1,512 Dibandingkan Z (Zeta) Scorenya, Posisi Perusahaan berada antara 1,81 or less, berarti perusahaan dalam konsisi Very High Probability Bankruptcy.

  12. Analisis Kebangkrutan 2. Badan Usaha Milik Negara ( BUMN). Untuk menilai kesehatan atau kebangkrutan BUMN, sampai saat ini berlaku Keputusan Menteri Negara BUMN No: 100/MBU/2002/ tanggal 4 Juni 2002. Setiap BUMN harus membuat analisis kesehatan suatu BUMN, yang dilaporkan ke Menteri BUMN. Dalam SK tersebut dikategorikan hal-hal sebagai berikut:

  13. Analisis Kebangkrutan A. Tingkat kesehatan:BUMN 1. Sehat, terdiri dari : a. AAA apabila total (TS) > 95 b. AA apabila 80 <=”95 c. A apabila 65 <TS<=”80. 2. Kurang Sehat, yang terdiri dari : a. BBB apabila 50<TS<=”65 b. BB apabila 40<.TS<=”50 c. B apabila 30<TS< =”40. 3. Tidak sehat, yang terdiri dari: a. CCC apabila 20<TS<”30 b. CC apabila 10<TS<=”20 c. C apabila TS<=”20 Tingkat kesehatan BUMN berdasarkan penilaian terhadap Kinerja perusahaan meliputi: A. Aspek Keuangan. B. Aspek Operasional. C. Aspek Administrasi.

  14. A. Aspek Keuangan.Indikator dan Bobot Keuangan BUMN Non Infra Struktur RASIO

  15. RASIO

  16. RASIO

  17. B. Aspek Operasional. Baik Sekali (BS),Skor =100%x Bobot indikator ybs. Baik(B), Skor =80%x indikator yang bersangkutan Cukup(C), Skor=50%x indikator yg bersangkutan Kurang(K), skor=20%x indicator yg bersangkutan Baik Sekali, dsb artinya sekurang-kurangnyamencapai standar normal atau di antara normal baik diukur dari segi kualitas(waktu, mutu dsb) dan kuantitas (produktivitas,rendemen). Baik, artinya menedekati standar normal atau sedikit di bawah standar normal namun telah menunjukkan perbaikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Cukup, artinya masih jauh dari standar normal baik diukur dari segi kualitas maupun segikuantitas dan mengalami perbaikan dari segi kualitas dan kuantitas. Kurang, artinya tidak tumbuh dan cukup jauh dari standar normal. Indikator yang dinilai adalah unsure-unsur kegiatan yang dianggap paling dominant dalam menunjang keberhasilan operasi sesuai dengan visi dan misi perusahaan.

  18. Contoh perhitungan indikatornya: Indikator Bobot Nilai Skor Unsur pertim digunakan bangan 1. Pelayanan kpd Turn Around time pelanggan dan waiting time dsb masyarakat 15 B 12 2. Peningkatan kualitas Peningkatan SDM 10 C 5 kesejahteraan Kaderisasi 3. Research&Devmt. 10 B 8 Kepedulian manajemen Total 35 25 Data mengenai aspek operasional ini umumnya diberikan oleh Persero BUMN.

  19. C. Aspek Administrasi(BUMN non infrastruktur) Laporan perhitungan tahunan Skor s/d akhir bulan ke 4 3 s/d akhir bulan ke 5 2 lebih dari akhir bulan ke 5 0 Indikator yang dinilai adalah: 1) Laporan Perhitungan Tahunan (LPT), kalau LPT diterima s/d akhir bulan ke 4, maka nilai BUMN =3. 2) Rancangan Rencana Anggaran dan AnggaranPerusahaan(RKAP), kalau diterima 2 bulan atau lebih cepat maka nilai BUMN= 3.

  20. 3) Laporan Periodik, kalau diterima Dekom/Pengawas dan Pemegang saham atau Menteri BUMN paling lambar 2 bulan setelah berakhirnya periode. Jumlah keterlambatan : Lebih cepat sama dengan nol hari skor= 3, dan 0<x< 30 hari skor = 2, 30<x<60 hari skor =1, dan <60 skornya =0 4) Laporan Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) merupakan hal yang harus dilakkan oleh BUMN. Indikatornya dengan menilai efketivitas penyaluran bantuan nilai skor = 3, dan Tingkat kolektibilitas pengembalian pinjaman dengan skor =3, Jumlah skor untuk PUKK ini = 6. Pada umumnya Persero, milik BUMN memberikan data maupun laporannya ke Menteri, Dekom, Pemegang Saham disampaikan tepat waktu begitu juga masalah PUKK dsbnya, karena para Direksi dapat melakukan koordinasi masalah ini dengan divisi-divisinya.

  21. Contoh: BUMN , Persero “KFM”, TBK, Non Infrastruktur,thn 2004. NERACA Persero “KFM” Audited ( Direvisi).Dalam Jutaan Rpa. Aktiva Lancar. Kas dan setara kas 316.592 Piutang usaha(net) +lainnya 160.458 Persediaan (net) 307.510 Aktiva lancar lainnya 86.419 Jumlah Aktiva lancar 870.979 Aktiva Tidak Lancar Piutang hubungan istimewa/dsb 71.643 Penyertaan saham 12.160 Aktiva tetap (net) 411.984. Jumlah Aktiva Tidak Lancar 495.787 Total Aktiva 1.366.766

  22. Kewajiban dan Ekuitas. Kewajiban Lancar. Hutang bank 41.368 Hutang usaha 216.325 Uang muka pelanggan/pajak 284.656 Pinjaman jatuh tempo/pemerintah 15.542 Hutang lainnya 15.157 Jumlah Kewajiban Lancar 573.048 Kewajiban tidak lancar Pinjaman j.pjg.dari Pemerintah 21.715 Kewajiban masa depan karyawan 17.547 Jumlah Kewajiban Tidak Lancar 39.262 Jumlah Kewajiban 612.310 Ekuitas. Modal saham @Rp.100.sebesar 20.000.000.000, ditempatkan dan disetor penuh 555.400.000 555.400 Tambahan modal disetor/opsi 43.796 Selisih penilaian kembali aktiva tetap 44.852 Saldo laba ditahan 110.408 Jumlah Modal Sham 754.456 Jumlah Kewajiban dan Ekuitas 1.366.766

  23. Persero “KFM” LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI Untuk Tahun Yg berakhir tanggal 31 Desember 2004 Penjualan bersih 1.816.384 Bebab pokok penjualan 1.273.699 Laba kotor 542.685 Beban usaha Beban umum dan administrasi 454.028 Laba usaha 88.657 Penghasilan(beban) dan hasil investasi (12.121) Laba sebelum pajak 76.536 Beban (penghasilan pajak) 33.607 Laba bersih 42.929 Laba Per Saham Dasar (EPS) 7,729

  24. Dihitung rasio-rasio keuangannya secara umum, maka hasilnya sbb: Rasio keuangan Tahun 2003 1.Rasio likuiditas a. Rasio lancar 1,52 x b. Rasio cepat 0,98x 2. Rasio Leverage a. Rasio hutang 44,79% b. TIER 7,21x 3. Rasio Aktivitas. a. Perputaran Persediaan 4,75x b. Collection Periode(CP)/DSO 31 hari c.Perputaran Aktiva Tetap 4,76x d.TATO(Perputaran Total Aktiva) 1,51x 4. Rasio Profitabilitas. a. Profit margin/laba kotor 2,4% b. Kemampuan dasar menghasilkan laba 6,5% c. ROA 3,14% d. ROE 5,7% e. ROI 10,90% Perhitungan ROI = ( EBIT+Depresiasi)/Capital Employed.Capital Employed adalah total aktiva dikurangi aktiva tetap. Dari neraca dan laba rugi dapat dihitung ROI = (76.536 + 18.440)/870.979 =10,90%

  25. 5. Rasio Pasar. a Rasio harga per saham/EPS 28,5x b. Rasio Nilai Pasar/Nilai Buku 1,55x Dari data diatas dapat menilai kesehatan BUMN,Tahun 2004 dari Persero ” KFM” , Audited, dengan SK Menteri Negara BUMN No:100/MBU/2002 tgl. 4 Juni 2002 sbb: Dengan menggunakan bobot dan skor diatas. Uraian Nilai Skor 1.Aspek Keuangan 1.1. ROE 6,15% 8,5 1.2.ROI 10,90% 9 1.3. Cash ratio 55,25 5 1.4. Current Ration 151,99 5 1.5. Collection Priode(CP) 32 hari 5 1.6 Perputaran persediaan 62 hari 4,5 1.7 TATO 134,58% 5 1.8 TotaL Modal sendiri terhadap aktiva 50,81% 8,5 Sub total 50,5

  26. 2.Aspek Operasional. 2.1. Produktivitas SDM(rp.juta) 5 2.2. Kontribusi penjualan Produk baru 5 2.3 Reseach & Development (R&D) 5 Sub total 15 3.Aspek Adminisrasi. 3.1. Laporan Perhitungan tahunan 3 3.2. Rancangan RKAP 3 3.3. Laporan periodic 3 3.4 Kinerja PUKK a. Efektivitas penyaluran 3 b. Tkt kolektibiltas Penggunaan Pinjaman 3 Sub Total 15 . TOTAL SKOR 80,50 . Sesuai dengan skor yang ditetapkan oleh pemerintah maka Persero” KFM” dalam keadaan SEHAT. Dengan kategori “AA”, karena berada 80>TS>=”95. Angka Total Skor(TS) 80,50 berada di kategori tersebut diatas.

  27. Analisis Shut Down PointMemprediksi Kebangkrutan – Penutupan Usaha • Alat yang dipakai adalah Cash BEP • (Shut Down Point) • Pada titik impas tidak ada laba dan tidak selalu perusahaan ditutup pada kondisi BEP karena perusahaan masih mendapatkan sisa uang. Biaya yang timbul pada suatu periode adalah biaya tunai (memerlukan pengeluaran uang = out of pocket cost) dan biaya yang tidak memerlukan pengeluaran uang (sunk cost atau penyusutan). • Shut Down Cost (SDC) adalah beban tetap yang harus dibayar oleh perusahaan walaupun perusahaan tidak melakukan aktivitas. Perusahaan yang tidak ada kegiatannya seperti pabarik harus membayar gaji saptam, asuransi gedung,abonemen listrik, air dan lainnya. Shut Down Point (SDP) adalah jumlah satuan barang yang harus dijual agar dapat menutup biaya tunai. SDP grafiknya hamper sama dengan cash break event point. • SDP = F / contirbution margin per unit. • Dapat dikatakan bahwa penutupan usaha dapat dilakukan pada saat titik impas kas terus menerus yaitu pada saat jumlah penjualan dengan biaya tunai atau pada saat titik impas kas. Grafik titik impas kas dapat dipakai sebagai gambaran SDP dalam Q dan rupiah/dolar.

  28. Pendapatan Pendapatan Biaya Total dan Biaya BEP Penyusutan Biaya Tetap Penyusutan BEP Cash - SDP Pengeluaran kas tetap 0 Q Cash BEP dan Penutupan Usaha

  29. Alternatif-Alternatif Mengatasi Kesehatan dan Prediksi Kebangkrutan Perusahaan. 1. Pemecahan Secara Informal, dilakukan dengan : a. Dilakukan dengan segera bila keadaan belum begitu parah(early warning system). b. Melakukan “Extension (perpanjangan) “yaitu melakukan negosiasi dengan kreditor dan pemasok untuk memperpanjang jatuh tempoh utang c. Composition (Komposisi) yaitu melakukan negosiasi dengan kreditor/pemasok untuk dapat mengurangi besarnya tagihan, atau klaim hutang dari 100% menjadi 60%. d. Melakukan likuidasi, jika nilai likuidasi lebih besar dibandingkan dengan “going concern atau terus menerurs”, bila perusahaan dilikuidasi secara formal. e. Melakukan merger/concolidation dengan perusahaan lainnya.

  30. 2. Pemecahan Secara Formal. dilakukan dengan a. Kesulitan keuangan sudah parah, kreditor dan pemasok ingin ada jaminan keamanan dananya dan keadilan secara hukum. b. Bila nilai perusahaan > Nilai perusahaan dilikuidasi, maka dilakukan reorganisasi,mengubah struktur modal dengan perubahan komposisi (composition) . c. Jika Nilai Perusahaan < Nilai Perusahaan dilikuidasi, maka dilakukan likuidasi lebih baik dengan menjual aset-aset kemudian dibayarkan kepada kreditur dan pemasok dibawah pengawasan pihak ketiga. d. Retrukturisasi untuk dapat “bernafas lega”, suatu cara untuk mengurangi beban-beban yang menghimpit perusahaan atau “collapse” untuk meringankan beban keuangan yang tetap (beban bunga). Retrukturisasi dapat dilakukan dengan “Extension dan Composition”

  31. Kebaikan perbaikan dengan alternative Formal ada 2 hal penting yaitu: a.COMMON POOL, Asumsikan perusahaan dengan nilai utang kepada 14 kreditor/pemasok masing-masing $ 2 juta atau $ 28 juta. Nilai pasar perusahaan hanya $ 23 juta, dan kalau dilikuidasi asetnya hanya dapat dijual sebesar $ 18 juta. Kondisi perusahaan sudah “collapse” tidak dapat membayar utang-utangnya, dan kreditor meminta agar perusahaan dibangkrutkan. ”Kebangkrutan pada salah seorang kreditor/pemasok dapat mengakibatkan kebangkrutan krediotor lainnya, atau kebangkrutan perusahaan secara keseluruhan, hal inilah disebut “Common Pool”..Kalau dilikuidasi nilanya $ 18 jutaHanya untuk 9 kreditor, sedangkan 5 kreditor tidak dapat apa- apa Kalau perusahaan tidak dilikuidasi, perusahaan masih dapat beroperasi dan utang masih dapat dibayarkan kepada 14 kreditur ( keseluruhan), hal ini diikuiti dengan masuknya kreditor sebgai manajemen perusahaan... Masalahnya apakah kreditor bersedia atau tidak ?

  32. b. HOLD OUT. Contoh diatas, perusahaan dapat menyakinkan kreditor/pemasoknya maka dilakukan “retrukturisasi”.Utang lama ( $ 2 juta setiap kreditor) diganti dengan “ utang baru”, asumsikan dari $ 2 juta turun menjadi $ 1,7 juta, sehingga jumlah utang 14 kriditur = 14 x $ 1,5juta = $ 21 juta, bandingkan dengan nilai pasar perusahaan $ 23 juta. Jika seorang atau lebih tidak setuju dengan kondisi tsb diatas dan dia tetap menuntut haknya 100% ditambah jasa bunganya 10%, maka haknya menjadi $2,2 juta.. Kalau ini terjadi, maka kreditor yang lainnya juga ingin mendapatkan hal yang sama. Kreditor-kreditor ingin menjadi kelompok terakhir ( HOLD –OUT) untuk mendapatkan haknya plus bunga, maka restrukturisasi gagal. Jadi semakin kecil kreditor semakin mudah “hold out”

  33. * Nilai Perusahaan. Untuk menilai perusahaan dilakukan dengan reorgnisasi. a. Misalkan kurator/pihak penilai memprediksi/ memperkirakan setelah reorganisasi mampu menghasilkan pendapatan bersih per tahun $ 20 juta.Tingkat kapitalisasi sebesar $ 20%. Nilai perusahaan = $ 20 juta/0,2= $100 jt. b. Menentukan struktur modal yang baru. Kompenen Jumlah Utang $ 10 juta Utang disubordinasikan 5 Saham preferen 5 Saham biasa 20 . Total $ 40 juta.

  34. Diadakan negosiasi dengan kreditor/pemasok dengan kurator dan hasilnya: 1). Sebesar 50% “ utang diturunkan statusnya menjadi utang disubordinasikan” 2). Sebesar 50% yang disubordinasikan statusnya diturunkan menjadi saham preferen. 3). Sebsar 50% saham preferen statusnya diturunkan menjadi saham biasa. Struktur Modal Baru. Kompenen Jumlah Utang $ 5 juta Utang disubordinasikan 7,5 Saham Preferen 5 Saham Biasa 2,5 Total $ 20 juta.

  35. Dalam kondisi diatas, Pemegang Saham yang lama tidak dapat apa-apa. Mungkin saja, Pemegang Saham Lama (PSL) dapat bagian, andaikata setiap kreditor/pemasok bersedia memberikan $ 1 juta kepada PSL. Maka PSL akan menerima sebesar $ 3 juta. Kalau ini terjadi maka struktur modal baru ke dua adalah: 1) Sebesar $ 4 juta utang lama diturunkan statusnya menjadi utang yang disubordinasikan. 2) Sebesar 50% utang disubordinasikan (setelah dikurangi bagian pemegang saham lama) statusnya diturunkan menjadi saham preferen. 3) Sebesar 50% saham pereferen (setelah dikurangi bagian pemegang saham lama) statusnya diturunkan menjadi saham biasa. Struktur Modal yang Baru ke II Kompenen Jumlah Utang $ 5 juta Utang disubordinasikan 6 Saham preferen 4 Saham biasa 5 . Total $ 20 juta Saham biasa $ 5 juta ini terdiri dari $ 3 juta pemegang saham lama dan $ 2 juta pemegang saham preferen lama.

  36. > Alternatif menyehatkan "Persero BUMN” Campur tangan Pemerintah, dengan memberikan dana untuk modal kerja dan investasi, subsidi dengan persetujuan DPR. Contohnya: Merpati Nusantara, Garuda Indonesia, PLN dan lainnya. Melakukan reorganisasi, struktur organisasi, mengganti manajemen, melakukan Pensiun Muda, pengurangan karyawan dan lainnya. Melakukan “Concolidation” seperti Bank Mandiri terdiri dari bank-bank pemerintah lainnya. Melakukan “Cost Reduction” disegala bidang dengan konsekuen Restrukturisasi, rescheduling utang-utang (Compososition dan Extension) kepada kreditor dengan bunga relatif rendah dengan jaminan pemeritnah.Penilaian kembali struktur modal baru. Pemerintah tidak banyak campur tangan dalam BUMN Membentuk Strategic Business Unit untuk “profit center”, RS Pertamina, RS Pelni, Garuda Maintenance Facility dan lainnya.. Melakukan evaluasi kontrak-kontrak yang merugikan Persero dan menjual asset yang tidak langsung berhubungan dengan operasi perusahaan, contoh menjual rumah-rumah dinas dllnya. Mengundang “Investor asing dandalam negeri” untuk membeli saham Persero, kecuali Persero sangat strategis, PLN, Garuda Indonesia dan lainnya. Melakukan aliansi strategi dengan perusahaan asing. Dan lainnya. Contoh : Likuidasi dan Reorganisasi.

  37. TERIMA KASIH