1 / 73

Pengapian dan Pengisian

Sistem Pengapian dan Pengisian

Download Presentation

Pengapian dan Pengisian

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. BAHAN AJAR Kelistrikan Otomotif KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KEBDARAAN RINGAN SMK NEGERI 1 PUNGGELAN 2014

  2. BUKU AJAR Kelistrikan Engine (Sistem Pengapian dan Pengisian) Penulis NUR FITRIJONO, S.Pd KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KEBDARAAN RINGAN SMK NEGERI 1 PUNGGELAN 2014 2

  3. KATA PENGANTAR Ucap syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat sehingga buku ajar dapat terwujud meskipun dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya. Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi bahan untuk menambah pengetahuan atau setidaknya dapat menjadi bahan diskusi di dalam pelaksanaan perkuliahan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penulisan buku ini. Mudah-mudahan isi buku ini dapat memenuhi harapan semua pihak yang terkait untuk tercapainya kemajuan bersama. Sumbang saran dan kritik membangun kami harapkan untuk kesempurnaan isi buku ini demi kebaikan kita bersama. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya. Banjarnegara, Juli 2014 Penulis 3

  4. DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL I KATA PENGANTAR Ii HALAMAN FRANCIS iii DAFTAR ISI iv DAFTAR GAMBAR vi PETA KOMPETENSI viii BAB I PENDAHULUAN 9 A. Deskripsi 9 B. Prasyarat 9 C. Petunjuk Belajar 10 D. Kompetensi dan Indikator 10 BAB II SISTEM PENGAPIAN 12 A. Kompetensi dan Indikator 12 B. Sistem Pengapian 12 1. Pendahuluan 12 2. Skema dan cara kerja 16 3. perhitungan tegangan sekunder 17 C. Latihan 19 D. Lembar Kegiatan 19 E. Rangkuman 19 F. Tes Formatif 20 BAB III SISTEM PENGAPIAN ELEKTRONIK 22 A. Kompetensi dan Indikator 22 B. Sistem Pengapian Elektronik 23 1. Pendahuluan 23 2. Sistem Pengapian Elektronik 25 a. Sistem pengapian induktif 26 b. Sistem pengapian Hall Effect 29 c. Sistem pengapian iluminasi 30 d. Sistem pengapian CDI 32 Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 4

  5. C. Latihan 38 D. Lembar Kegiatan 38 E. Rangkuman 38 F. Tes Formatif 38 BAB IV SISTEM PENGAPIAN TERKONTROL KOMPUTER 41 A. Kompetensi dan Indikator 41 B. Sistem Pengapian Terkontrol Komputer 42 1. Pendahuluan 42 2. Electronic Spark Advance (distributor) 46 3. Sistem Pengapian tanpa Distributor (DLI) 47 4. Sistem Pengapian Langsung (DIS) 49 5. i-DSI 50 C. Latihan 52 D. Lembar Kegiatan 52 E. Rangkuman 53 F. Tes Formatif 53 BAB V SISTEM PENGISIAN BATERAI 55 A. Kompetensi dan Indikator 55 B. Sistem Pengisian 56 1. Pendahuluan 56 2. Regulator Tipe Konvensional 57 3. Regulator tipe IC 59 4. Brushless Alternator 64 5. Permasalahan pada Sistem Pengisian 67 6. Menentukan Alternator untuk Kendaraan 68 C. Latihan 69 D. Lembar Kegiatan 69 E. Rangkuman 70 F. Tes Formatif 70 DAFTAR PUSTAKA 73 Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 5

  6. DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1 Komponen sistem pengapian 13 2.2 Detail komponen sistem pengapian 14 2.3 Diagram pembakaran pada motor bensin 15 2.4 Pemajuan saat pengapian 15 2.5 Skema sistem pengapian konvensional 16 2.6 Grafik arus primer koil 17 3.1 Perbandingan karakteristik sistem pengapian konvensional dan transistor 24 3.2 Kerja transistor 25 3.3 Diagram blok sistem pengapian elektronik 26 3.4 Diagram sistem pengapian transistor 26 3.5 Pengapian transistor model induktif 28 3.6 Prinsip Hall effect 29 3.7 Pembangkit pulsa Hall effect 29 3.8 Diagram blok dan skema sistem pengapian Hall effect 30 3.9 Pembangkit pulsa dengan sensor cahaya 31 3.10 Pengapian sistem cahaya 31 3.11 Diagram blok sistem pengapian CDI 35 3.12 Pengapian CDI dengan kontak poin 35 3.13 Rangkaian sistem pengapian CDI 37 3.14 Pengapian CI dengan magnetic pulse generator 37 4.1 Diagram blok sistem pengapian ESA 43 4.2 Penyederhanaan sistem pengapian ESA 43 4.3 Bagian-bagian dalam igniter 44 4.4 Pemajuan sinyal IGT 45 4.5 Sistem pengapian ESA dengan distributor 46 4.6 Skema sistem pengapian DLI untuk 4 silinder 47 4.7 Skema sistem pengapian DLI untuk 6 silinder 48 Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 6

  7. 4.8 Sistem pengapian CDI yang dikontrol komputer 48 4.9 Koil yang terpasang pada busi 49 4.10 Skema DIS model independen 50 4.11 Letak busi pada sistem pengapian i-DSI 51 4.12 Perubahan saat penyalaan busi pada beberapa putaran engine 52 5.1 Komponen sistem pengisian 57 5.2 Regulator tipe konvensional 58 5.3 Rangkaian sistem pengisian konvensional 58 5.4 Skema dasar regulator IC 59 5.5 Alternator kompak dan regulator IC 61 5.6 Skema sistem pengisian dengan regulator IC 62 5.7 Rangkaian regulator IC 64 5.8 Rangkaian regulator IC 64 5.9 Konstruksi dan penampang alternator tanpa sikat 65 5.10 Konstruksi dan komponen alternator tanpa sikat 66 5.11 Skema sistem pengisian dengan alternator tanpa sikat 67 Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 7

  8. PETA KOMPETENSI Menguasai Sistem Kelistrikan Otomotif Menguasai Sistem Menguasai Sistem Kelistrikan Engine Kelistrikan Body & ACC Menguasai Sistem Starter Menguasai Sistem Pengapian Menguasai Sistem Pengisian Buku ajar ini sebagai penunjang untuk mencapai kompetensi di bidang kelistrikan otomotif. Kelistrikan otomotif secara umum dibagi menjadi dua, yaitu sistem kelistrikan engine dan sistem kelistrikan bodi. Penguasaan sistem kelistrikan engine ditunjang oleh sub kompetensi sistem starter, sistem pengapian, dan sistem pengisian. Buku ini menunjang sebagaian kemampuan untuk mencapai penguasaan bidang kelistrikan engine. Posisi buku ajar ini dalam peta kompetensi kelistrikan digambarkan oleh bagan di atas. Kotak bergaris putus-putus di atas menggambarkan posisi kompetensi yang ingin dicapai oleh buku ajar ini.. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 8

  9. BAB I PENDAHULUAN A. Deskripsi Buku ini memuat materi sistem kelistrikan engine yang meliputi sistem pengapian (ignition system) dan sistem pengisian baterai (charging system) yang banyak mengalami kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat. Sistem pengapian yang dibahas dalam buku ini meliputi sistem pengapian konvensionnal dan nonkonvensional (elektronik). Pembahasan sistem pengapian konvensional tidak dibahas secara mendetil karena penekanannya di sistem pengapian nonkonvensional. Sistem pengapian konvensional dibahas singkat untuk menyegarkan kembali dan sebagai dasar mempelajari sistem pengapian nonkonvensional. Sistem pengapian nonkonvensional yang dibahas dalam buku ini adalah 1) sistem pengapian elektronik dengan penghasil pulsa model induktif, Hall effect, dan iluminasi atau cahaya, 2) sistem pengapian CDI (capasitive discharge ignition), dan sistem pengapian terkontrol computer / ESA (electronic spark advance dengan distributor, tanpa distributor, dan sistem pengapian langsung). Pembahasan sistem pengisian meliputi sistem pengisian dengan regulator konvensional, regulator IC, dan alternator model tanpa sikat (brushless alternator). Kompetensi yang ingin dicapai setelah mempelajari buku ini adalah peserta dapat menjelaskan, menganalisa, menentukan penyebab, mengatasi masalah, dan mejelaskan perbedaannya pada sistem pengapian dan sistem pengisian baik model konvensional maupun nonkonvensional. B. Prasyarat Kompetensi awal yang diperlukan untuk mempelajari buku ini adalah sudah menguasai 1) dasar-dasar kelistrikan dan rangkaian listrik, 2) dasar-dasar elektronika dan komponen elektronika, 3) alat-alat ukur kelistrikan dan penggunaannya. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 9

  10. C. Petunjuk Belajar Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mempelajari buku ini adalah sebagaii berikut. 1. Peserta harus sudah menguasai kompetensi awal yang sudah dijelaskan pada bagian prasyarat. 2. Sebelum mengikuti pekuliahan, materi dalam buku ini harap dipelajari untuk mempermudah dan mempercepat pencapaian kompetensi. 3. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca meliputi nama komponen, fungsi, dan cara kerja sistem serta informasi lain yang terkait. 4. Metode belajar yang dipakai adalah 1) ceramah singkat dengan bantuan alat pembelajaran untuk mendukung semua materi agar dapat mudah dipahami, 2) tanya jawab yang bersifat hafalan atau pengetahuan, analisa kerja sistem kelistrikan, analisa penyebab dan cara mengatasi gangguan, 3) diskusi, dan 4) tugas terstruktur untuk lebih memperkaya pengetahuan bidang kelistrikan engine. 5. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas yang terdapat pada tahap belajar. 6. Menuliskan kembali atau membuat laporan dari kegiatan belajar yang telah dilaksanakan.. 7. Belajar dan latihan berkelompok memungkinkan peserta untuk lebih mudah dalam memahami topik yang dipelajari. D. kompetensi dan Indikator Kompetensi dan indikator keberhasilan dalam mempelajari buku ini adalah dijelaskan pada table di bawah ini. Perlu dijelaskan bahwa table kompetensi berikut adalah standar kompetensi umum yang dituntut setelah mempelajari buku ini. Elemen kompetensi dan indikator keberhasilan secara detail diuraikan pada setiap bab dalam buku ini Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 10

  11. Tabel Kompetensi dan Indikator Standar Kompetensi Indikator Menguasai system pengapian konvensional Dapat menguasai system pengapian konvensional Menguasai system pengapian elektronik Dapat menguasai system pengapian elektronik Menguasai system pengapian terkontrol komputer Dapat menguasai system pengapian terkontrol komputer Menguasai system pengisian konvensional dan elektronik (IC) Dapat menguasai system pengisian konvensional Dapat menguasai system pengisian elektronik (IC) Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 11

  12. BAB II SISTEM PENGAPIAN A. Kompetensi dan Indikator Kompetensi dan indikator keberhasilan dalam mempelajari bagian ini adalah sebagai berikut. Tabel Kompetensi dan Indikator Kompetensi Elemen Kompetensi Indikator Menguasai Menjelaskan nama • Dapat menjelaskan nama komponen sistem pengapian konvensional system dan fungsi komponen pengapian sistem pengapian • Dapat menjelaskan fungsi komponen sistem pengapian konvensional konvensional konvensional Menggambar dan • Dapat menjelaskan kerja sistem pengapian konvensional pada saat kontak pemutus tertutup menjelaskan kerja rangakaian sistem pengapian • Dapat menjelaskan kerja sistem pengapian konvensional pada saat kontak pemutus terbuka • Dapat menjelaskan kerja sistem kondensor pada konvensional system pengapian konvensional • Dapat menggambar rangkaian system pengapian konvensional Menganalisa pengaruh kerusakan komponen sistem pengapian konvensional • Dapat menganaslia pengaruh sudut dwell terhadap kemampuan sistem pengapian • Dapat menganaslia pengaruh saat pengapian terhadap kemampuan sistem pengapian • Dapat menganaslia pengaruh kerusakan komponen terhadap kemampuan sistem pengapian • Dapat menjelaskan persamaan-persamaan untuk Menghitung tegangan tinggi pada koil sistem pengapian berdasarkan arus primer koil • Dapat menjelaskan mernerapkan persamaan- persamaan untuk menghitung tegangan tinggi sistem pengapian B. Sistem Pengapian 1. Pendahuluan Sistem pengapian berfungsi untuk menghasilkan percikan api yang kuat dan tepat untuk membakar campuran udara dan bahan bakar di dalam ruang bakar. Secara umum komponen sistem pengapian terdiri dari baterai, kunci kontak, koil, distributor, kabel tegangan tinggi dan busi. Di dalam distributor terdapat beberapa komponen pendukung lainnya yaitu kontak pemutus (atau Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 12

  13. pulse generator pada sistem pengapian elektronik), kondensor, cam, vakum dan sentrifugal advancer. Gambar 2.1. Komponen sistem pengapian Fungsi dari masing-masing komponen system pengapian adalah 1) baterai sebagai sumber arus, 2) kunci kontak untuk menghidupkan dan mematikan system pengapian, 3) koil untuk menaikan teggangan baterai menjadi tegangan tinggi di atas 10000 volt. Tegangan tinggi pada kumparan sekunder terjadi karena jumlah kumparan sekunder jauh lebih banyak dari kumparan primer, 5) distributor berfungsi untuk mendistribukan tegangan tinggi dari koil ke tiap busi sesuai dengan urutan penyalaannya, 6) kabel tegangan tinggi berfungsi untuk menghantarkan tegangan tinggi dari koil sampai ke busi, 7) busi berfungsi untuk meloncatkan bunga api. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 13

  14. Gambar 2.2. Detail komponen system pengapian Kontak pemutus (platina) berfungsi untuk memutuskan dan menghubungkan arus ke kumparan primer koil. Lamanya arus mengalir ke kumparan primer terjadi selama kontak pemutus tertutup. Sudut yang terbentuk pada cam di mana kontak pemutus dalam keadaan tertutup disebut sudut dwell. Kondensor berfungsi untuk mengurangi percikan bungan api pada kontak pemutus akibat adanya induksi diri kumparan pada primer. Cam berfungsi untuk mendorong tumit kontak pemutus sehingga bisa terbuka dan tertutup kembali oleh pegas. Vakum dan sentrifugal advancer berfungsi untuk memajukan atau memundurkan saat pengapian sesuai dengan putaran dan beban mesin. Saat pengapian (ignition timing) pada suatu motor bensin adalah saat di mana busi memercikan bungan api dengan tepat pada akhir langkah kompresi untuk memulai pembakaran di dalam ruang bakar. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 14

  15. Gambar 2.3. Diagram pembakaran pada motor bensin Gamba 2.4. Pemajuan saat pengapian Pembakaran pada motor bensin diawali dengan pecikan bungan api pada busi (titik 1) sekitar 100 menjelang titik mati atas (TMA = TDC) pada akhir langkah kompresi. Pembakaran dimulai pada titik 2 dengan mulai terjadinya perambatan Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 15

  16. 100 setelah TMA Proses api dan pembakaran maksimum terjadi di sekitar pembakaran di dalam ruang bakar membutuhkan waktu yang relative konstan baik pada putaran lambat maupun tinggi. Oleh karena itu, pada putaran tinggi saat pengapian harus dimajukan untuk memenuhi waktu pembakaran sehingga tekanan maksimum pembakaran tetap berada sekitar 100 setelah titik mati atas baik pada putaran rendah maupun tinggi. 2. Skema dan Cara Kerja Sistem Pengapian Secara sederhana sistem pengapian konvensional dapat digambarkan dengan skema berikut. Gambar 2.5. Skema system pengapian konvensional Prinsip kerja dari sistem pengapian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. Saat kunci kontak on, platina tertutup, arus baterai mengalir ke kunci kontak, Î (+) koil Î (-) koil Î kontak poin Î massa. Akibatnya terjadi kemagnetan pada coil. Saat platina terbuka, arus yang mengalir ke kumparan primer seperti dijelaskan di atas terputus dengan tiba-tiba. Akibatnya kemagnetan di sekitar koil hilang / drop dengan cepat. Karena medan magnet hilang dengan cepat, maka pada kumparan sekunder terjadi induksi tegangan tinggi, dan pada kumparan primer juga terjadi tegangan induksi. Tegangan pada kumparan sekunder disalurkan ke distributor dan kabel tegangan tinggi sehingga terjadi loncatan api pada busi. Tegangan pada kumparan primer disalurkan ke kondensor dan muatan yang diserap kondensator itu dibuang ke massa saat kontak poin tertutup. Proses tersebut terjadi secara terus menerus. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 16

  17. Gambar 2.6. Grafik arus primer koil Aliran arus primer koil pada saat kontak pemutus tertutup berbentuk eksponensial. Hal ini disebabkan adanya efek counter electromotor force pada saat arus mengalir pada kumparan primer koil yang menyebabkan terbentuknya medan magnet di sekitar koil. Semakin tinggi putaran mesin, maka semakin singkat kontak pemutus menutup sehingga arus primer koil juga menjadi semakin kecil bila dibandingkan dengan rendah atau sedang. Hal ini akan menurunkan kemampuan system pengapian. 3. Perhitungan Tegangan Sekunder Berdarkan Arus Primer Koil Saat kontak pemutus tertutup, arus primer koil naik berangsur-angsur (gradually) secara eksponensial (Helt, 1965 : 489). Lamanya rangkaian primer tertutup bervariasi tergantung kecepatan engine. Perubahan besarnya arus primer akibat perubahan waktu dinyatakan dengan persamaan berikut (Heywood, 1989 : 438). V − Rt/ L 0 p (1−e ) Amper 1) I p = R Ipadalah arus yang mengalir pada kumparan primer (Amper), t waktu rangkaian tertutup (detik), Vo tegangan sumber (Volt), R adalah tahanan total rangkaian Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 17

  18. primer, dan Lp induktansi rangkaian primer (Henry). Arus maksimum pada kumparan primer adalah 4 Amper dengan resistensi rangkaian primer 3 Ohm dan tegangan 12 Volt. Besarnya energi magnetik yang disimpan dalam suatu induktansi yang membawa arus I adalah (Heywood, 1989 : 439) 1 2 E s,max = LI Joule 2) 2 Apabila kontak pemutus terbuka, arus primer turun menjadi nol dan terjadi tegangan tinggi pada kumparan sekunder. Harga puncak tegangan ini adalah tegangan maksimum yang disebut available voltage (Va). Energi maksimum yang ditransfer ke rangkaian sekunder adalah (Heywood, 1989 : 439) 1 2 E s,max Joule 3) = C 2 Vs a 2E s,max 2 V = a C s 1 ⎡2E ⎤ 2 s,max V = Volt 4) ⎢ ⎥ a C ⎣ ⎦ s Csadakah kapasitansi rangkaian sekunder (Farad).Berdasarkan persamaan 2, jika energi yang tersimpan dalam rangkaian primer koil adalah ½ LpIp2, ditransfer ke rangkaian sekunder, maka 1 1 ⎡ 2 ⎤2 2(1/ 2)L Ip p 2 ⎡L p ⎤⎢ ⎥ ⎣C s ⎦ ⎥ = I p V a = ⎢ Volt 5) C s ⎣ ⎦ Energi yang dapat ditransfer ke kumparan sekunder akibat adanya kerugian-kerugian adalah 85% (Obert, 1973 : 540). Koil mempunyai kumparan sekunder sekitar 20000 lilit dan kumparan primer sebanyak 200 lilit, sehingga perbandingan kumparan sekunder dan primernya adalah 100. Untuk koil dengan perbandingan kumparan sekunder dan primer = 100, maka harga induktansinnya Lp = 5 mH, dan kapasitansi Cs = 60 pF (Obert, 1973 : 540). Dengan menggunakan persamaan 2 dan besarnya arus primer misalnya 2,7A, energi yang dapat disalurkan ke kumparan sekunder sekitar 85% (Obert, 1973 : 540) adalah Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 18

  19. 0.01526 joule sehingga dengan persamaan 4 atau 5 tegangan tinggi sekunder (Va) yang terjadi adalah 19,17 kV. Berapa tegangan sekunder koil jika arus pimer koil yang mengalir adalah 3,5A ? C. Latihan 1. Gambar rangkaian sistem pengisian konvensional dan diskusikan dengan teman cara kerjanya. 2. Diskusikan bersama teman pengaruh penyetelan celah kontak pemutus yang terlalu besar atau terlalu kecil, buat ringkasan hasil diskusinya 3. Buat ulasan mengapa tegangan baterai 12 volt dapat berubah menjadi tegangan tinggi lebih dari 10000volt. 4. Uraikan pendapat anda mengapa pada sistem pengapian konvensional harus dipasang kondensor. 5. Tentukan berapa tegangan sekunder koil jika arus primer koil sebesar 3 amper. D. Lembar Kegiatan Kegiatan pembelajaran ini adalah kegiatan yang utamanya untuk meningkatkan kemampuan akademik (tidak kemampuan praktik) peserta sehingga kegiatan yang yang harus dilakukan sesuai dengan yang tertuang dalam petunjuk belajar di BAB I bagian C. E. Rangkuman Sistem pengapian digunakan untuk menghasilkan percikan bungan api yang kuat dan pada saat yang tepat untuk membakar campuran udara dan bahan bakar. Sistem pengapian yang baik akan menghasilkan performa engine yang baik sehingga kondisi sistem pengapian harus selalu dijaga. Penyetelan celah kontak pemutus yang tidak tepat menyebabkan kurang optimumnya medan magnet yang terbentuk pada koil sehingga dapat mempengaruhi besar kecilnya api pada busi. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 19

  20. F. Tes Formatif Soal pilihan ganda : 1. Fungsi kontak pemutus dalam sistem pengapian adalah untuk A. mengaktifkan pengapian B. membangkitkan medan magnet C. mengatur saat pengapian D. memutus arus primer koil 2. Pada saat kontak pemutus tertutup terjadi , kecuali A. arus primer mengalir B. terjadi tegangan tinggi C. terjadi medan magnet di koil D. tidak terjadi tegangan tinggi 3. Pada saat kontak pemutus terbuka terjadi , kecuali A. pembuangan muatan kondensor B. kondensor terisi C. arus primer terputus D. terjadi tegangan tinggi 4. Terminal positif koil pada rangkaian sistem pengapian dihubungkan dengan A. kontak pemutus B. kondensor C. Ig kunci kontak D. B kunci kontak 5. Jika celah kontak pemutus terlalu kecil, maka , kecuali A. sudut dwell terlalu besar B. koil panas C. arus primer mengalir lebih lama D. ignition timing menjadi maju 6. Ignition timing terlambat dapat disebabkan oleh A. celah kontak pemutus terlalu besar B. kontak pemutus aus C. membran vakum advancer bocor D. pegas sentrifugal advancer lemah 7. Fungsi oktan selector adalah , kecuali A. menyesuaikan nilai oktan bensin B. memajukan/memundurkan timing C. menyetel sudut dwell D. menggeser posisi kontak pemutus 8. Percikan api pada busi terjadi pada saat , kecuali A. kontak pemutus terbuka B. medan pada magnet koil hilang C. 80 sebelum TMA D. Kondensor menerima arus induksi diri 9. Pola aliran arus primer koil berbentuk eksponensial, karena A. ada counter electromotor force B. ada resistor pada koil C. medan magnet tiba-tiba hilang D. kerja kontak pemutus terbuka-tertutup Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 20

  21. 10. Urutan penyalaan busi adalah A. 1-3-2-4 B. 1-3-4-2 C. 1-2-4-3 D. 1-4-2-3 Soal essay: 1. Jelaskan fungsi vakum dan sentrifugal advancer 2. Apa efek dari celah kontak pemutus yang sudah aus? 3. Gambar dan jelaskan cara kerja rangkaian sistem pengapian 4. Bagaimana kondensor pada sistem pengapian bekerja? 5. Jelaskan fungsi resistor pada koil sistem pengapian Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 21

  22. BAB III SISTEM PENGAPIAN ELEKTRONIK A. Kompetensi dan Indikator Kompetensi dan indikator keberhasilan dalam mempelajari bagian ini adalah sebagai berikut. Tabel Kompetensi dan Indikator Kompetensi Elemen Kompetensi Indikator Menguasai Menjelaskan • Dapat menjelaskan karakteristik system pengapian konvensional system perbandingan system pengapian pengapian konvensional • Dapat menjelaskan karakteristik system pengapian elektronik elektronik dan elektronik • Dapat membandingkan system pengapian konvensional dan elektronik Menjelaskan kerja transistor yang dipakai pada sistem pengapian • Dapat menjelaskan konstruksi transistor jenis PNP dan NPN • Dapat menjelaskan prinsip kerja transistor jenis PNP dan NPN • Dapat menjelaskan aplikkasi transistor jenis PNP dan NPN pada sistem pengapian Menjelaskan dan • Dapat menjelaskan prinsip pembangkitan membedakan sistem pulsa untuk memicu kerja transistor pada igniter pengapian elektronik model induktif, Hall effect, dan iluminasi • Dapat menjelaskan rangkaian sistem pengapian dengan pembangkit pulsa induktif • Dapat menjelaskan rangkaian sistem pengapian dengan pembangkit pulsa hall effect • Dapat menjelaskan rangkaian sistem pengapian dengan pembangkit pulsa iluminasi • Dapat membedakan system pengapian elektronik model induktif, Hall effect, dan iluminasi dengan Menjelaskan dan • Dapat menjelaskan bagian-bagian sistem pengapian CDI membedakan sistem pengapian CDI dengan lainnya • Dapat menjelaskan proses pengisian dan pembuangan muatan kapasitor • Dapat membedakan prinsip dasar sistem pengapian CDI dengan system pengapian lainnya • Dapat menganalisa kerja system pengapian CDI dengan kontak pemutus • Dapat menjelaskan bagian-bagian berbagai rangkaian system pengapian CDI dengan pembangkit pulsa elektronik Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 22

  23. B. Sistem Pengapian Elektronik 1. Pendahuluan Sistem pengapian berfungsi untuk menghasilkan percikan api yang kuat dan tepat untuk membakar campuran udara dan bahan bakar di dalam ruang bakar. Beberapa macam sistem pengapian diantaranya sistem pengapian kontak point, pengapian transistor, CDI dan pengapian terkontrol komputer. Metode pengapian transistor menggunakan cara dimana arus yang mengalir di coil primari pada ignition coil di interupsi (dimatikan sebentar) dengan menjalankan switching transistor untuk menginduksi tegangan tinggi pada kumparan sekunder. Untuk jenis kontak pemutus, begitu arus primer pada ignition coil diputus oleh kontak pemutus, maka akan terjadi percikan api pada saat kontak poinnya terbuka. Karena itulah tegangan sekunder yang dihasilkannya tidak akan stabil dan menimbulkan misfiring dengan mudah. Tabel 3.1. Perbandingan sistem pengapian Kontak pemutus Full transistor Computer control Pengapian contact point pada Performa pada kecepatan Performa pada kecepatan tinggi bisa berubah atau rendah dan tinggi cukup kecepatan rendah dan tidak stabil aman tinggi sangat aman. Tidak mempunyai kontak pemutus, maka tidak diperlukan lagi pemeriksaan Terjadi percikan api, maka kontak pemutus harus diperiksa dan diganti secara berkala Tidak mempunyai kontak pemutus, maka tidak diperlukan lagi pemeriksaan Karena waktu Bila vacuum dan centrifugal timing control tidak normal, maka pengipan mesin kurang pas Sama seperti gajala yang ada pada jenis kontak pengapiannya diatur oleh computer, maka sangat efisien. pemutus Sebagai perbandingan, untuk jenis pengapian transistor, arus primer diputus sebentar oleh transistor sehingga interupsi terhadap arusnya adalah stabil pada kecapatan rendah dan kumparan sekunder bisa mengasilkan tegangan tinggi dengan stabil. Karena adanya pembatasan gas buang, maka diperlukan peningkatan energi pembakaran agar pengapiannya akurat tanpa terjadi misfire meskipun kecepatannya rendah. Untuk melakukan hal tersebut, maka arus primer Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 23

  24. harus dinaikkan. Untuk jenis interruption contact, hal ini sulit dilakukan namun untuk jenis transistor, hal ini dapat dimungkinkan. Sebagai tambahan, untuk meningkatkan performa pengapian pada kecepatan tinggi, jumlah gulungan pada ignition coil primer harus dikurangi sehingga tahanan dan induksi pada kumparan primer dapat diturunkan. Gambar 3.1. Perbandingan karakteristik pengapian konvensional dan transistor Sistem pengapian dengan kontrol komputer menggunakan metode mendeteksi kondisi mesin menggunakan berbagai sensor dan input ke computer (ECU), kemudian computer menghitung waktu pengapian dan mengirimkan sinyal arus primer ke power transistor untuk menginduksikan tegangan tinggi ke ignition coil.Ignition coil yang dipakai adalah jenis mold. Yang terdiri dari tipe high-energy ignition (HEI) dan tipe distributor-less ignition (DLI). Keunggulan dari tipe ini adalah sebagai berikut; a. Api pembakarannya sangat stabil pada kecepatan rendah dan tinggi. b. Ketika terjadi knocking, waktu pengapiannya secara otomatis dimundurkan untuk menekan knocking. c. Mendeteksi kondisi mesin, mesin dikontrol melalui pengoptimalan waktu pengapiannya. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 24

  25. d. Apabila menggunakan ignition coil yang outputnya tinggi, maka pembakarannya dapat sempurna. Tabel 3.2. Perbandingan struktur masing-masing sistem pengapian Interrupter contacting Full transistor Computer control Arus primer pada power transistor diputus oleh computer. Arus primer diputus oleh interrupter contact point. Arus primer diputus melalui switching pada transistor. Ignition coil yang dipakai adalah tipe open magnetic circuit Ignition coil yang dipakai adalah tipe open magnetic circuit Ignition coil yang dipakai adalah tipe Mold Signalnya dihasilkan dari pemutusan cahaya melalui putaran disk yang dipasang Status buka-tutup interrupter contact point dilakukan oleh cam yang ada pada poros distributor. Pemutusan arus primer dilakukan melalui putaran signal rotor yang dipasang pada distributor shaft. pada distributor shaft diantara LED dan photo diode atau sensor Ne, G dan ECM 2. Sistem Pengapian Elektronik Sistem pengapian ini memanfaatkan transistor untuk memutus dan mengalirkan arus primer koil. Simbul dan kerja transistor digambarkan sebagai berikut. (a) (b) Gambar 3.2. Kerja transistor Untuk transistor (a) jenis PNP, bila ada arus mengalir dari E ke B, maka transistor akan on sehingga E dan C nya terhubung yang mengakibatkan arus (lebih besar) juga dapat mengalir dari E ke C. Untuk transistor (b) jenis NPN, bila ada arus mengalir dari B ke E, maka transistor akan on sehingga C dan E nya terhubung Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 25

  26. yang mengakibatkan arus (lebih besar) juga dapat mengalir dari C ke E. Diagram sistem pengapian transistor adalah sbb. Gambar 3.3. Diagram blok sistem pengapian elektronik a. Sistem Pengapian Model Induktif Sistem pengapian dengan pembangkit pulsa model induktif terdiri dari penghasil pulsa, ignitier, koil, distributor dan komponen pelengkap lainnya. Sistem pembangkir pulsa induktif terdiri dari kumparan pembangkit pulsa (pick up coil), magnet permanen, dan rotor pengarah medan magnet. Secara sederhana rangkaian sistem pengapian ini digambarkan seperti skema berikut. Gambar 3.4. Diagram sistem pengapian transistor Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 26

  27. Rangkaian pada igniter sebenarnya tidak sesederhana seperti yang diperlihatkan padagambar di atas karena di dalam igniter tersebut sebenarnya terdapat beberapa bagian, yaitu penstabil tegangan (voltage stabilizer), pembentuk pulsa (pulse shaper), pengatur sudut dwell (dwell angle control), penguat pulsa (amplifier), dan transistor power atau rangkaian Darlington. Pada beberapa model terdapat juga rangkaian pembatas arus primer (current limiting circuit). Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut. 1) Pada saat engine mati Pada saat kunci kontak ON arus mengalir menuju titik P. Besarnya tegangan pada titik ini (yang diatur oleh pembagi tegangan R1 dan R2) berada di bawah tegangan basis yang diperlukan untuk mengaktifkan transistor (melalui pick up coil). Hal ini menyebabkan transistor tidak aktif (OFF) selama engine mati sehingga tidak terjadi aliran arus pada kumparan primer koil. 2) Pada saat engine hidup Saat engine sudah hidup, rotor sinyal berputar (mendekati pick up coil) dan menyebabkan terjadinya pulsa tegangan AC pada pick up coil. Bila tegangan yang dihasilkan adalah positif, maka tegangan ini ditambahkan dengan tegangan yang terdapat pada titik P sehingga tegangan di titik Q naik dan besarnya melebihi tegangan basis transistor. Adanya arus basis ini menyebabkan transistor menjadi aktif (ON) sehingga kaki kolektor dan emitornya terhubung yang menyebabkan arus dari baterai mengalir ke kunci kontak, ke kumparan primer koil, ke kaki kolektor, ke emitor, kemudian ke massa. Aliran arus ke kumparan primer koil ini menyebabkan terjadinya medan magnet pada koil. Rotor selalu berputar, sehingga pada saat gigi rotor meninggalkan pick up coil terjadi tegangan AC dengan polaritas berbeda (negatif). Tegangan ini jika ditambahkan dengan tegangan yang terdapat dalam titik P menjadi tegangan yang besarnya di bawah tegangan kerja transistor. Akibatnya adalah transistor menjadi tidak aktif (OFF) dan antara kaki kolektor dan emitor transistor menjadi tidak terhubung. Hal ini menyebabkan aliran arus primer dengan cepat berhenti dan medan magnet pada koil dengan cepat berubah (collapse). Perubahan garis Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 27

  28. gaya magnet dengan cepat ini menyebabkan terjadinya tegangan induksi pada kumparan sekunder. Tegangan tinggi ini diteruskan ke distributor dan dibagikan ke tiap-tiap busi sesuai dengan urutan penyalaan (firing order). Salah satu model sistem pengapian transistor dengan rangkaian lengkap ditunjukkan pada gambar berikut. Gambar 3.5. Pengapian transistor model induktif Bagian-bagian sistem pengapian tersebut dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu 1) sistem pembangkit pulsa, 2) penstabil tegangan (voltage stabilizer), 3) pembentuk pulsa (pulse shaping stage), 4) pengontrol sudut dwell, dan 5) bagian driver dan Darlington output. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 28

  29. b. Sistem Pengapian Model Hall Effect Model pengapian di atas adalah model induktif. Model lainnya adalah Hall effect dan model iluminasi. Pembangkit pulsa untuk mengaktifkan power transistor dengan model hall effect digambarkan sebagai berikut. Gambar 3.6. Prinsip Hall effect Apabila bahan semikonduktor dialiri arus listrik dari sisi kiri ke kanan dan semikonduktor tersebut berada dalam suatu medan magnet, maka pada arah tegak lurus terhadap aliran arus itu akan timbul tegangan yang disebut dengan tegangan Hall Vh (Hall adalah nama ilmuwan yang meneliti fenomena tersebut). Apabila medan magnet yang berada di sekitar semikonduktor tersebut dihilangkan, maka tegangan yang tegak lurus terhadap aliran arus itu juga akan hilang. Pada gambar di atas (a) medan magnet dihalangi oleh plat logam sehingga tidak melewati semi konduktor, dalam hal ini Vh = 0. Bila bilah logam dihilangkan (gambar b), maka medan magnet dapat melewati semikonduktor dan Vh≠ 0. Bila bilah logam itu secara teratur melintasi medan magnet maka pada tegangan Hall akan muncul dan hilang membentuk pulsa tegangan kotak-kotak. Pulsa inilah yang digunakan untuk mentriger rangkaian transistor untuk memutus dan mengalirkan arus primer koil. Gambar 3.7. Pembangkit pulsa Hall effect Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 29

  30. Pembangkit pulsa model Hall Effect mempunyai tiga buah kabel atau terminal. Satu kabel merupakan sumber arus untuk dialirkan ke bahan semikonduktor yang terdapat di dalam system Hall, satu kabel ground, dan satu kabel adalah output tegangan. Bagian lainnya dari system ini adalah rotor yang berbentuk bilah dan magnet permanen. Gambar 3.8. Diagram blok dan skema sistem penggapian Hall effect c. Sistem Pengapian Model Iluminasi / Cahaya Pada sistem pengapian iluminasi, cahaya dimanfaatkan untuk mengaktifkan dan menonaktifkan phototransistor sehingga menghasilkan sinyal yang kemudian diperkuat oleh bagian amplifier untuk mentrigger power transistor. Pada saat power transistor ON, arus mengalir melalui kumparan primer koil Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 30

  31. sehingga terbentuk medan magnet pada koil. Pada saat transistor OFF, arus primer terputus sehingga medan magnet dengan cepat hilang yang menyebabkan terjadinya induksi tegangan tinggi pada kumparan sekunder koil. Gambar 3.9. Pembangkit pulsa dengan sensor cahaya Sumber cahaya bisanya berasal dari diode bercahaya yang menghasilkan sinar infra merah, dan cahaya tersebut diterima oleh phototransistor yang dapat aktif atau bekerja apabila terkena cahaya. Untuk menghalangi cahaya agar phototransistor OFF digunakan rotor yang berbentuk bilah-bilah dengan lebar coakan / celah sebesar sudut dwell. Bila cahaya tidak terhalangi dan mengenai phototransistor, hal ini identik dengan saat kontak pemutus tertutup (pada system pengapian konvensional) atau saat terjadi aliran arus pada kumparan primer koil. Saat cahaya terhalangi oleh bilah rotor identik dengan kontak pemutus terbuka dan arus primer koil terputus. Gambar 3.10. Pengapian sistem cahaya Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 31

  32. Berdasarkan rangkaian di atas, secara garis besar cara kerjanya adalah sebagai berikut. Saat cahaya mengenai phototransistor, phototransistor menjadi aktif sehingga transistor 1 dan transistor 2 aktif. Kondisi ini menyebabkan transistor 3 OFF sehingga transistor 4 ON. Dengan demikian arus dari baterai dapat mengalir ke kumparan primer koil sehingga pada koil timbul medan magnet. Pada saat bilah rotor menutupi cahaya, phototransistor menjadi OFF sehingga transistor 2 dan 3 menjadi OFF. Hal ini menyebabkan transistor menjdi ON dan transistor 4 menjadi OFF. Akibatnya OFFnya transistor 4, arus primer koil terputus dengan tiba-tiba yang menyebabkan medan magnet pada koil hilang dengan cepat. Perubahan garis gaya magnet pada koil dengan sangat cepat tersebut menyebabkan terjadinay tegangan tinggi pada koil dan diteruskan ke distributor dan ke busi sesuai dengan urutan penyalaannya. d. Sistem Pengapian CDI Kepanjangan dari CDI adalah Capasitive Discharge Ignition, yaitu sistem pengapian yang bekerja berdasarkan pembuangan muatan kapasitor. Konsep kerja sistem pengapian CDI berbeda dengan sistem pengapian penyimpan induktif (inductive storage system). Pada sistem CDI, koil masih digunakan tetapi fungsinya hanya sebagai transformator tegangan tinggi, tidak untuk menyimpan energi. Sebagai pengganti, sebuah kapasitor digunakan sebagai penyimpan energi. Dalam sistem ini kapasitor diisi (charged) dengan tegangan tinggi sekitar 300 V sampai 500 V, dan pada saat sistem bekerja (triggered), kapasitor tersebut membuang (discharge) energinya ke kumparan primer koil pengapian. Koil tersebut menaikan tegangan (dari pembuangan muatan kapasitor) menjadi tegangan yang lebih tinggi pada kumparan sekunder untuk menghasilkan percikan api pada busi. Ada perbedaan yang sangat penting dari sistem pengapian CDI dengan sistem pengapian induktif atau inductive storage system lainnya (yaitu sistem pengapian konvensional, dan transistor). Pada sistem pengapian induktif (selain CDI), tegangan tinggi pada coil dihasilkan saat arus pada kumparan primer Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 32

  33. diputus (oleh kontak pemutus, atau transistor), sedangkan pada sistem pengapian CDI tegangan tinggi pada koil dihasilkan saat arus dari pembuangan muatan kapasitor mengalir dengan cepat ke kumparan primer koil (Derato, 1982 : 95). Waktu yang diperlukan oleh tegangan tinggi untuk mencapai tegangan tertingginya disebut rise time. Pada sistem pengapian CDI, rise time sangat singkat, sekitar 0,1 sampai 0,3 ms (Heywood, 1989 : 441). Hal ini menguntungkan karena percikan api akan tetap terjadi meskipun busi kotor. Gambar 3.11. Diagram blok system pengapian CDI Secara sederhana sistem pengapian CDI digambarkan dengan skema seperti pada gambar di atas, dan rangakaian tersebut jika dikelompokkan menjadi elemen-elemen yang lebih kecil sesuai dengan kerjanya masing-masing maka dapat dikelompokkan menjadi enam blok seperti pada gambar. Keenam bagian utama dari sistem pengapian CDI tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. a. DC to DC converter. Bagian ini berfungsi untuk mensuplai tegangan untuk pengisian kapasitor. Bagian ini pada prinsipnya terdiri dari rangkaian pengubah arus searah (DC) dari baterai menjadi (seolah-olah) arus bolak- balik (AC) dengan rangkaian flip-flop. Arus AC yang dihasilkan kemudian dinaikan tegangannya oleh transformator step up menjadi sekitar 300 sampai 500 Volt dan kemudian disearahkan kembali dengan dioda sistem jembatan. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 33

  34. Tegangan tinggi inilah yang digunakan untuk mengisi kapasitor. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa bagian ini berfungsi untuk mengubah arus DC menjadi AC kemudian dinaikan tegangannya dan kemudian disearahkan kembali menjadi DC. b. Kapasitor. Bagian ini berfungsi untuk menyimpan energi listrik yang disuplai oleh DC to DC converter. c. Contact point atau pick up coil. Bagian ini berfungsi sebagai pemicu (trigger) atau penghasil sinyal untuk mengaktifkan thyristor. d. Amplifier. Bagian ini berfungsi sebagai penguat sinyal yang dihasilkan oleh bagian pembangkit sinyal sehingga sinyal tersebut cukup kuat untuk mengaktifkan thyristor. e. Thyristor switch. Bagian ini berfungsi untuk mengalirkan energi dari kapasitor ke koil pengapian. Thyristor ini merupakan komponen semikonduktor yang akan bekerja (ON) oleh adanya pulsa tegangan pada kaki gate-nya. Pada saat distributor berputar, pulsa tegangan dihasilkan oleh pick up coil. Pulsa ini dikuatkan oleh amplifier untuk kemudian meng-ON-kan thyristor. Pada saat ON inilah kapasitor mengeluarkan energinya ke kumparan primer koil. Kemudian thyristor kembali OFF dan kapasitor terisi kembali. f. Koil. Koil pengapian dalam hal ini berfungsi sebagai transformator yang menghasilkan tegangan tinggi untuk disalurkan ke busi. Metode pembuangan muatan kapasitor untuk menghasilkan tegangan tinggi sehingga terjadi percikan api pada busi dapat dicapai dengan menyimpan energi listrik dalam sebuah kapasitor. Apabila saat pengapian sudah tepat dan api siap untuk dipercikan, thyristor power akan aktif dan membentuk suatu rangkaian tertutup antara kapasitor dan kumparan primer koil. Kapasitor dengan cepat akan melepaskan energinya melalui kumparan primer koil. Aliran arus yang sangat cepat dalam kumparan primer ini akan menyebabkan terjadinya tegangan yang sangat tinggi pada kumparan sekunder dan tegangan tinggi ini akan disalurkan ke busi untuk menghasilkan loncatan bunga api di antara elektroda busi (Heisler, Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 34

  35. 1995 : 454). Berikut ini adalah gambar salah satu model sistem pengapian CDI yang masih menggunakan kontak pemutus. A B E D C Gambar 3.12. Pengapian CDI dengan kontak point Bagian A dalam kotak putus-putus merupakan bagian DC to DC converter yang berfungsi untuk mengubah arus DC menjadi AC kemudian dinaikan tegangannya dan kemudian disearahkan kembali menjadi DC. Bagian B adalah kapasitor utama, bagian C adalah sistem penghasil pulsa atau arus pemicu kerja thyristor, bagian D adalah thyristor, dan bagian E adalah koil pengapian. Secara singkat kerja dari rangkaian tersebut adalah sebagai berikut. Pada saat kunci kontak ON arus mengalir ke rangkaian A, dan akibat kerja rangkaian multivibrator yang dibentuk oleh kedua transistor yang ON dan OFF secara bergantian dan cepat, maka arus listrik dengan cepat dan bergantian mengalir ke transistor kiri dan kanan sehingga arus juga mengalir secara bergantian dengan cepat melalui kumparan di atas dan di bawah terminal 0 pada transformator. Hal ini menyebabkan pada kumparan akan timbul medan magnet dengan arah kutub yang berubah-ubah pula. Efek ini akan menghasilkan tegangan induksi pada kumparan sekunder dengan tegangan yang jauh lebih besar dibanding tegangan pada kumparan primer karena jumlah kumparan sekunder Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 35

  36. lebih banyak. Tegangan yang dihasilkan adalah tegangan AC dan kemudian disearahkan oleh dioda sistem jembatan. Output dari dioda berupa tegangan DC yang kemudian dialirkan untuk mengisi kapasitor. Sementara itu, apabila kontak pemutus dalam keadaan tertutup, arus dari baterai akan mengalir Î kunci kontak ÎdiodaÎ R 47 Î kontak pemutus Î massa. Pada kondisi ini tidak ada sinyal atau arus yang menuju thyristor sehingga kapasitor belum mengeluarkan muatannya. Pada saat kontak pemutus terbuka, arus dar R 47 mengalir dioda Î kapasitor 47 nF Î kaki gate thyristor. Arus ini akan menyebabkan thyristor aktif sehingga kaki anoda dan katodanya terhubung dan membentuk rangkaian tertutup antara kapasitor utama, thyristor, kumparan primer koil, dan kaki negatif kapasitor utama. Akibat adanya rangkaian tertutup ini maka kapasitor akan mengeluarkan muatannya (discharge) dengan sangat cepat melalui kumparan primer koil yang dengan cepat pula menyebabkan terjadinya medan magnet pada koil sehingga terjadi tegangan induksi pada kumparan sekunder koil. Apabila kontak pemutus kembali tertutup, arus akan mengalir ke massa lagi dan tidak ada arus yang masuk ke kaki gate sehingga menyebabkan thyristor OFF sehingga terjadi rangkaian terbuka pada kapasitor. Pada saat ini pengisian kapasitor kembali terjadi dengan cepat dan sampai kembali kontak pemutus terbuka muatan kapasitor kembali dibuang dengan cepat ke koil. Kejadian ini terjadi terus menerus selama sistem pengapian dan engine bekerja. Model lain rangkaian CDI dengan pemicu model induktif nampak seperti gambar di atas. Secara garis besar rangkaian tersebut juga tetap terdiri dari lima blok yaitu DC to DC converter (dalam kotak bergaris putus-putus), kapasitor (C6), pembangkit pulsa (induction pulse generator), rangkaian penguat pulsa (amplifier), dan thyristor (Th). Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 36

  37. Gambar 3.13. Rangkaian sistem pengapian CDI Secara umum, kerja dari rangkaian di atas sama dengan yang sudah dijelaskan sebelumnya, namun arus pemicu kerja thyristor berasal dari pulsa induktif yang diperkuat oleh rangkaian transistor untuk memperkuat dan membentuk pulsa yang dihasilkan oleh pulse generator. Model lain rari rangkaian pengapian CDI diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Gambar 3.14. Pengapian CDI dengan magnetic pulse generator Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 37

  38. C. Latihan 1. Diskusikan denga teman anda perbedaan prinsip sistem pengapian CDI dengan pengapian lainnya. 2. Gambar diagram blok sistem pengapian CDI dan jelaskan masing-masing bagiannya. 3. Buat resume proses pengisian dan pembuangan muatan kapasitor pada sistem pengapian CDI. 4. Cari referensi lain tentang thyristor, buat penjelasan tentang komponen tersebut, dan bagaimana pemanfaatan thyristor tersebut dalam sistem pengapian CDI D. Lembar Kegiatan Kegiatan pembelajaran ini adalah kegiatan yang utamanya untuk meningkatkan kemampuan akademik (tidak kemampuan praktik) peserta sehingga kegiatan yang yang harus dilakukan sesuai dengan yang tertuang dalam petunjuk belajar di BAB I bagian C. E. Rangkuman Sistem pengapian elektronik memamfaatkan kerja transistor untuk memutus dan mengalirkan arus primer koil. Kerja transistor ini dikontrol oleh pulsa tegangan yang berasal dari pembangkit pulsa yang telah dikuatkan untuk mentriger transistor.Sistem pengapian CDI bekerja dengan memanfaatkan kerja pengisian dan pembuangan muatan kapasitor. Tegangan yang diisikan ke kapasitor adalah tegangan tinggi (300 - 500 volt). Pada sistem pengapian ini tegangan baterai dinaikan oleh rangkaian converter untuk mencapai tegangan tinggi tersebut. Proses pembuangan muatan kapasitor terjadi pada saat terjadi rangkaian tertutup kapasitor dan kumparan primer koil melalui thyristor. F. Tes Formatif 1. Tegangan tinggi sekunder pada sistem pengapian CDI terjadi pada saat Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 38

  39. A. medan magnet pada koil hilang B. kapasitor terisi C. kapaitor mengeluarkan muatan D. kontak pemutus tertutup 2. DC to DC converter berfungsi untuk A. menghasilkan tegangan tinggi busi B. membuang muatan kapasitor C. mengisi kapasitor D. menghasilkan percikan api 3. Transistor NPN akan aktif pada saat A. ada arus mengalir dari B ke E B. ada arus mengalir dari E ke B C. ada arus mengalir dari B ke C D. ada arus mengalir dari C ke B 4. Transistor PNP yang sudah aktif dapat mengalirkan arus yang besar A. dari B ke E B. dari E ke B C. dari E ke C D. dari C ke E 5. Pengganti kontak pemutus pada sistem pengapian elektronik adalah A. pemangkit pulsa B. magnet C. kumparan D. phototransistor 6. Yang langsung memutus arus primer koil pada pengapian elektronik adalah A. transistor B. pulsa tegangan C. thyristor D. breaker point 7. Pulse generator terdiri dari , kecuali A. magnet B. kumparan C. transistor D. rotor 8. Koil yang difungsikan sebagai transformator adalah pada sistem pengapian.. A. induktif B. transistor C. hall effect D. CDI 9. Bilah rotor pada sistem pengapian cahaya digunakan untuk kecuali A. membuka-tutup cahaya B. mematikan pototransistor C. memutus arus primer koil D. mengaktifkan pototransistor 10. Pada sistem pengapian transistor, arus primer koil mengalir pada saat ... A. transistor ON B. transistor OFF C. kunci kontak ON D. breaker point menutup Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 39

  40. Soal essay : 1. Jelaskan tentang Hall effect 2. Jelaskan kerja dari DC to DC converter 3. Jelaskan proses pengisian dan pembuangan muatan kapasitor pada sistem pengapian CDI 4. Jelaskan perbedaan atau persamaan proses pembangkitan tegangan tinggi koil pada sistem pengapian konvensional dan transistor 5. Jelaskan tentang pembangkitan pulsa pada sistem induktif. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 40

  41. BAB IV SISTEM PENGAPIAN TERKONTROL KOMPUTER A. Kompetensi dan Indikator Kompetensi dan indikator keberhasilan dalam mempelajari bagian ini adalah sebagai berikut. Tabel Kompetensi dan Indikator Elemen Kompetensi Indikator Kompetensi Menguasai system pengapian Menggambar dan menjelaskan • Dapat menggambar diagram blok system pengapian terkontrol komputer terkontrol computer diagram blok system pengapian terkontrol computer (ESA) • Dapat menjelaskan diagram blok system pengapian terkontrol komputer Menjelaskan • Dapat menjelaskan macam-macam sensor- sensor pada system pengapian terkontrol sensor-sensor pada system pengapian terkontrol komputer komputer • Dapat menjelaskan efek masukan dari sensor terhadap system pengapian Menjelaskan sinyal yang masuk dan keluar dari sistem pengapian • Dapat menjelaskan sinyal masukan IGT ke sistem pengapian • Dapat menjelaskan sinyal keluaran IGF dari sistem pengapian • Dapat menjelaskan proses pemajuan dan pemunduran saat pengapian • Dapat menjelaskan proses pemutusan dan pengaliran arus primer koil pada sistem pengapian ESA Menjelaskan sistem pengapian ESA dengan distributor • Dapat menjelaskan prinsip kerja sistem pengapian ESA dengan distributor • Dapat menjelaskan sinyal yang keluar dari sistem pengapian ESA dengan distributor Menjelaskan sistem pengapian ESA tanpa distributor / DLI (distributorless igniton system) • Dapat menjelaskan konstruksi sistem pengapian ESA tanpa distributor / DLI • Dapat menjelaskan prinsip kerja sistem pengapian ESA tanpa distributor distributor • Dapat menjelaskan prinsip pengaturan urutan penyalaan sistem pengapian tanpa distributor distributor Menjelaskan sistem pengapian direct ignition system • Dapat menjelaskan konstruksi sistem pengapian DIS • Dapat menjelaskan prinsip kerja sistem pengapian DIS (DIS) • Dapat menjelaskan prinsip pengaturan urutan penyalaan sistem pengapian tanpa distributor Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 41

  42. distributor • Dapat membedakan sistem pengapian DIS model independent ignitiondan simultaneous ignition Menjelaskan prinsip • Dapat menjelaskan penempatan busi pada sistem pengapian sistem pengapian i-DSI intelegent Dual • Dapat menjelaskan prinsip penyalaan pada Squential Idgnition kedua busi di sistem pengapian i-DSI (i-DSI) B. Sistem Pengapian Terkontrol Komputer 1. Pendahuluan Sistem pengapian terkontrol komputer merupakan sistem pengapian yang ada pada engine yang sudah menggunakan sistem bahan bakar injeksi (EFI). Pengontrolan pengapian dilakukan oleh komputer (electronic control unit) yang juga sebagai pengontrol sistem penginjeksian bahan bakar. Pengontrolan ini terutama pada sistem pemajuan / pemunduran saat pengapian (ignition timing) yang disesuaikan dengan kondisi kerja engine. Pada sistem pengapian yang dikontrol komputer, engine dilayani dengan sistem pengapian yang sangat mendekati karakteristik saat pengapian yang ideal. Komputer unit menentukan saat pengapian berdasarkan masukan-masukan dari sensor dan memori internalnya yang memiliki data saat pengapian yang optimal untuk setiap kondisi putaran engine. Setelah menentukan saat pengapian, komputer unit memberikan sinyal saat pengapian ke igniter. Bila sinyal tersebut dalam posisi OFF, igniter akan memutus aliran arus primer koil dengan cepat sehingga terjadi tegangan tinggi pada kumparan sekunder. Sistem pengapian terkontrol komputer terbagi menjadi beberapa kategori dasar, yaitu : 1) sistem pengapian dengan distributor, 2) sistem pengapian tanpa distributor / distributorless ignition system (DLI), 3) sistem pengapian langsung / direct ignition system (DIS). Komponen utama sistem pengapian terkontrol komputer terdiri dari 1) sensor poros engkol (sinyal Ne), 2) sensor poros nok (sinyal G), 3) igniter, 4) koil, kabel-kabel, dan busi, 4) Komputer (ECM) dan input-inputnya. Diagram blok dari sistem pengapian terkontrol komputer / electronic spark advance (ESA) adalah sebagai berikut. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 42

  43. Gambar 4.1. Diagram blok sistem pengapian ESA Distributor pada gambar di atas diberi garis putus-putus berarti distributor pada sistem tersebut bisa tidak ada. Bila tidak terdapat distributor, maka sistem tersebut termasuk pada sistem pengapian DLI, sedangkan jika ada distributor maka sistem tersebut sistem pengapian ESA dengan menggunakan distributor. Gambar 4.2. Penyederhanaan sistem pengapian ESA Sinyal IGT digunakan untuk mengatur aliran arus primer koil melalui ECM (electronic control module) atau ECU (electronik control unit). Sinyal IGT adalah suatu tegangan untuk meng-on dan off -kan transistor utama (power transistor) di dalam igniter. Bila sinyal IGT masuk ke ignitier, sinyal tersebut menyebabkan power transistor menjadi ON sehingga arus dari baterai mengalir ke kumparan Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 43

  44. primer koil kemudian ke massa yang mengakibatnya timbul kemagnetan pada koil. Bila tegangan IGT menjadi 0V, transistor dalam igniter menjadi off sehingga arus primer terputus yang menyebabkan medan magnet pada koil hilang dengan cepat. Akibatnya, pada kumparan sekunder timbul tegangan tinggi yang kemudian di salurkan ke busi. Sinyal IGF digunakan oleh ECM untuk untuk menentukan apakah sistem pengapian bekerja atau tidak. Berdasarkan sinyal IGF, ECM akan tetap memberikan arus ke pompa bahan bakar dan injektor. Gambar 4.3. Bagian-bagian dalam igniter Igniter merupakan komponen sistem pengapian yang langsung menerima perintah dari komputer (ECM) melalui sinyal IGT untuk melakukan pengapian. Fungsi utama igniter adalah untuk memutus dan menghubungkan arus primer koil berdasarkan sinyal IGT, namun ada beberapa fungsi lainnya dari igniter, yaitu sebagai 1) unit pembangkit sinyal konfirmasi pengapian (IGF), 2) dwell angle control, yang berfungsi untuk mengontrol lamanya power transistor ON atau lamanya arus primer mengalir, 3) lock prevention circuit, rangkaian yang berfungsi untuk mematikan transistor jika arus mengalir ke kumparan primer koil dalam waktu yang lama, 4) over voltage prevention circuit, rangkaian yang berfungsi untuk mematikan transistor jika tegangan power supply terlalu tinggi, 5) current limiting control, rangkaian yang dapat menjamin arus primer yang konstan Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 44

  45. setiap saat baik pada putaran rendah maupun tinggi sehingga tegangan sekunder selalu tinggi, 6) tachometer signal. Sinyal Ne dan sinya G merupakan sinyal putaran poros engkol poros nok. Meskipun ada perbedaan pada sistem pengapian, penggunaan sinyal Ne dan G konsisten atau sama. Sinyal Ne menunjukkan posisi poros engkol dan putaran engine. Sinyal G (juga disebut sinyal VVT) memberikan identifikasi posisi tiap silinder. Dengan membandingkan sinyal G dan sinyal Ne ECM mampu mengidentifikasi silinder yang sedang melakukan langkah kompresi. Hal ini diperlukan untuk menghitung sudut poros engkol (sudut saat pengapian), saat sistem pengapian bekerja. Pengaturan maju mundurnya saat pengapian dilakukan dengan mengatur sinyal IGT oleh ECU. Gambar 4.4. Pemajuan sinyal IGT Sinyal IGT merupakan sinyal untuk mengaktifkan igniter sehingga koil dapat bekerja menghhasilkan tegangan tinggi. Oleh karena itu, memajukan atau memundurkan saat pengapian dilakukan dengan mempercepat atau memperlambat sinyal IGT ke igniter. Dengan berubahnya saat pemberian sinyal IGT, maka tegangan tinggi koil untuk menghasilkan percikan api dari busi juga menjadi maju atau mundur. ECM menghitung dan menetapkan sinyal IGT berdasarkan mode dan kondisi kerja engine. Pemberian sinyal IGT didasarkan terutama pada sinyal sensor posisi poros engkol, sinyal sensor posisi poros nok, beban engine, temperatur, sensor knock, dll. Secara global kontrol saat pengapian terbagi menjadi dua, yaitu 1) kontrol pengapian saat engine di start, dan 2) kontrol pengapian setelah start. Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 45

  46. Kontrol pengapian saat start adalah saat pengapian yang diset pada waktu yang tetap tanpa memperhatikan kondisi kerja engine dan disebut initial timing angle (5 - 100 sebelum TMA). Kontrol saat pengapian setelah start di dalamnnya meliputi 1) kontrol pengapian saat engine di start, 2) sudut pengajuan pengapian dasar (basic ignition advence angle), dan 3) kontrol pemajuan pengapian korektif (didasarkan pada warm up correction, over temperature correction, stable idling corection, EGR correction, AFR feedback correction, knocking correction, torque control correction, other correctionn, maximum and minimum advance angle control) 2. Elelectronic Spark Adavance (ESA) dengan Distributor Sistem pengapian ini masih menggunakan distributor untuk membagikan tegangan tinggi dari koil ke tiap busi sesuai dengan urutan penyalaannya (FO = firing order). Distributor memberikan masukan kepada ECM melalui sinyal Ne dan G. berdasarkan masukan itu, ECM mengolahnya dan memberikan input kepada igniter untuk melakukan pengapian. Pengaturan pembagian tegangan tinggi sepenuhnya dilakukan oleh distributor, pengaturan saat pengapian dilakukan oleh ECM dengan mengatur sinyal IGT yang masuk ke igniter. Gambar 4.5. Sistem pengapian ESA dengan distributor Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 46

  47. 3. Pengapian Tanpa Distributor / Distributorless Ignition System (DLI) Sistem pengapian ini adalah system pengapian ESA yang sudah tidak menggunakan distributor. Dengan menghilangkan distributor, akan meningkatkan reliabilitas system pengapian dengan mengurangi sejuml untukah komponen mekanik. Keuntungan lainnyaadalah 1) lebih banyak waktu untuk koil dalam menghasilkan medan magnet yang cukup untuk menghasilkan bunga api untuk membakar campuran udara bahan bakar di dalam silinder sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya missfiringi, 2) koil pengapian dapat ditempatkan pada atau dekat dengan busi sehingga mengurangi interferensi listrik dan meningkatkan reliabilitasnya, 3) saat pengapian dapat dikontrol dengan range yang lebih lebar karena tidak ada lagi rotor pada distributor yang dapat menyebabkan salah pengapian ke silinder yang lain. Gambar 4.6. Skema sistem pengapian DLI untuk 4 silinder Berdasarkan skema di atas, ECM memberikan sinyal IGT ke power transistor yang ada pada igniter dan tiap transistor akan memutus dan mengalirkan arus primer koil untuk menghasilkan percikan api pada busi. Pada sistem ini satu koil melayani dua busi yang akan menyala secara bersamaan. Percikan api busi yang bersamaan ini terjadi pada dua silinder pada proses yang berbeda, satu busi memercik pada saat akhir langkah kompresi, dan busi pasangannya memercik pada saat langkah buang. Pemberian sinyal IGT seperti Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 47

  48. sudah dijelaskan sebelumnya, tentu saja berdasarkan masukan dari sensor-sensor. Gambar 4.7. Skema sistem pengapian DLI untuk 6 silinder Gambar di atas adalah sistem pengapian DLI model indutive storage. Pada model pengapian CDI (gambar di bawah), DC to DC converter tetap berdiri sendiri sebagai penghasil tegangan tinggi untuk mengisi kapasitor. Kapasitor terletak setelah DC to DC converter dan terhubung langsung dengan salah satu ujung kumparan primer koil. Thyristor terpasang pada ujung lain kumparan primer koil. Kaki G dari thyristor terhubung dengan salah satu output microprocessor. Pulsa untuk mengaktifkan thyristor diperoleh dari crankshaft angle sensor yang kemudian dikuatkan dan diolah di dalam microprocessor untuk selanjutkan sinyal tersebut keluar melalui R1 atau R’1 untuk mengaktifkan thyristor. Gambar 4.8. Sistem pengapian CDI yang dikontrol komputer Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 48

  49. Gambar di atas merupakan rangkaian sistem pengapian CDI yang saat pengapiannya (ignition timing) dikendalikan oleh microprocessor berdasarkan sensor-sensor operasi engine. Sistem di atas termasuk dalam tipe pengapian distributorless ignition system (DLI) dengan satu koil untuk melayani dua busi. Pemberian sinyal melalui R1 atau R’1 untuk mengaktifkan thyristor diatur oleh microprocessor berdasarkan sensor posisi poros engkol sehingga saat penyalaan akan selalu tepat sesuai dengan kondisi operasi engine. 4. Sistem Pengapian Langsung / Direct Ignition System (DIS) Sistem pengapian langsung (DIS) memiliki koil yang terpasang langsung pada busi. Sistem pengapian DIS dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu 1) independent ignition, satu koil tiap silinder, dan 2) simultaneous ignition, satu koil untuk dua silinder. Pada model yang kedua, sebuah koil dipasangkan pada satu busi dan sebuah kabel tegangan tinggi dipasangkan pada busi lainnya. Loncatan bunga api terjadi pada kedua silinder secara bersamaan. Gambar 4.9. Koil yang terpasang pada busi Gambar di bawah ini memperlihatkan skema sistem pengapian DIS model independen. ECM memberikan sinyal IGT sejumlah silinder dan masing-masing sinyal IGT digunakan untuk mengaktifkan tiap transistor yang ada pada igniter sesuai dengan FO-nya.Transistor ini berfungsi untuk memutus dan mengalirkan Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 49

  50. arus primer masing-masing koil. Pengaturan sinyal IGT pada sistem pengapian ini juga tetap berdasarkan masukan sensor-sensor ke ECM. Gambar 4.10. Skema DIS model independen 5. i-DSI (Intelegent Double Sequential Ignition) Sistem pengapian iDSI menggunakan dua busi untuk tiap silinder. Kedua busi itu manyala secara berurutan atau bersamaan tergantung dari kondisi kerja engine. Sistem dapat mengoptimalkan saat pengapian tiap busi berdasarkan pada putaran dan beban engine. Pembakaran yang intensif pada semua putaran engine tidak hanya mengotrol knocking tetapi memungkinkan juga penggunaan rasio kompresi yang lebih tinggi untuk mencapai output yang lebih tinggi dengann konsumsi bahan bakar yang lebih kecil dibandingkan dengan engine konvensional. Keuntungan sistem ini adalah pembakaran yang lebih intensif, menggunakan dua busi yang dipasang secara diagonal berlawanan satu sama lain, sangat kompak, ruang bakar yang high-swirl. Setiap pasang busi memercikan api secara sekuensial dengan interval antara keduannya tergantung pada putaran dan beban engine. Busi yang terletak dekat saluran masuk menyala lebih dulu kemudian saat api merambat / propagasi, busi yang dekat pipa buang Dwi Widjanarko dan Abdurrahman 50

More Related