1 / 15

TEKNIK WAWANCARA Pertemuan 15 & 16

TEKNIK WAWANCARA Pertemuan 15 & 16. Ma t a kuliah : O 0 264 / TEKNIK WAW A NCARA MEDIA Tahun : 2008 / 2009. Learning Objectives.

Download Presentation

TEKNIK WAWANCARA Pertemuan 15 & 16

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. TEKNIK WAWANCARAPertemuan 15 & 16 Matakuliah: O0264 / TEKNIK WAWANCARA MEDIA Tahun : 2008 / 2009

  2. Learning Objectives Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa dapat menyimpulkan pengertianbahwa mempersiapkan wawancara dan teknik pelaksanaan wawancara sehingga mendapatkan hasil yang optimal.

  3. Pengertian Wawancara • Wawancara merupakan suatu metode pengumpulan berita, data atau fakta di lapangan. • Prosesnya dapat dilakukan: a. secara langsung dengan bertatap muka (face to face) dengan narasumber. b. secara tidak langsung seperti melalui telepon, intranet, internet atau surat (wawancara tertulis).

  4. Sifat-sifat Wawancara (1/2) Di Lingkungan Pers Internasional, wawancara sifatnya berbeda-beda, yaitu: • On the record: nama dan jabatan narasumber dapat digunakan sebagai sumber keterangan dan boleh dikutip langsung. • Background: boleh menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apa pun yang diberikan oleh narasumber, tetapi tanpa menyebutkan nama atau jabatan sebagai sumbernya. Biasanyafootnotedigunakan istilah “Sumber terpercaya di lembaga, departemenatau badan...” atau “sumber yang berwenang...” menurut persyaratan yang ditentukan oleh pemberi wawancara.

  5. Sifat-sifat Wawancara (2/2) • Deep Background: tidak boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebut nama jabatan atau instansi sumber berita. Footnote mengunakan istilah “Menurut keterangan….” atau : “Diperoleh kabar bahwa...” • Off the record: keterangan yang diberikan bukan untuk disiarkan. Wawancara semacam ini berguna bagi jurnalisuntuk memahami permasalahan.

  6. Jenis Wawancara(1/2) • Wawancara Berita (news peg interview) yaitu wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi atau pandangan dari narasumber tentang suatu masalah. • Wawancara Pribadi (personel interview) yaitu wawancara untuk memperoleh data tentang pribadi dan pemikiran seseorang (narasumber). Berita yang dihasilkan berupa profil narasumber, meliputi identitas pribadi, perjalanan hidupnya dan pandangan-pandangannya mengenai berbagai masalah yang terkait profesinya.

  7. Jenis Wawancara • Wawancara Ekslusif (exclusive inteview) yaitu wawancara yang dilakukan satu orang jurnalis atau lebih (tetapi berasal dari satu media) secara khusus berkaitan masalah tertentu di tempat yang telah disepakati bersama. • Wawancara KelilingatauJalanan (man in the street interview) yaitu wawancara yang dilakukan seorang jurnalis dengan menghubungi berbagai interview secara terpisah yang satu sama lain, tetapi mempunyai kaitan dengan satu masalah atau berita yang akan ditulis. Misalnya ada peristiwa kebakaran.

  8. KetrampilanJurnalis (1/2) Dalam peliputan, teknik wawancara yang benar-benar harus dikuasai oleh jurnalis adalah ilmu wawancara, misalnya memahami: latar belakang masalah atau peristiwa (penguasaan bidang liputan). Hal ini mengantisipasi agar materi yang diliput tidak salah persepsi atau salah tulis, dan dalam wawancara jangan pernah “dengan kepala kosong” (tidak paham materi wawancara). Dalam peliputan/wawancara, wartawan harus mampu fleksibel, adaptasi dengan situasi dan “tahan banting”.

  9. Ketrampilan Jurnalis (2/2) Intinya ketrampilan atau skill yang harus dikuasai seorang jurnalis yang utama adalah teknik jurnalistik, meliputi: • penguasaan masalah yang diliput • teknik reportase (yaitu ketrampilan meliputdengan wawancaraselengkapnya dan sesudah itumenuliskannya sebagai berita atau feature atau artikel) • ketaatan pada kode etik jurnalistik.

  10. Pelaksanaan Wawancara(1/3) Tahap ini merupakan tahap penting yang akan dilalui seorang jurnalis. Pada tahapan ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan, antara lain: a. Perhatikan penampilan, baju yang rapih.b. Datanglah tepat waktu, jangan terlambat.c. Perkenalkan diri kepada narasumber (khususnya nama dan media tempat tempat jurnalis bekerja)d. Perkenalkan masalah yang akan ditanyakan, sehingga narasumber mengetahui alasan dirinya akan dijadikan narasumber. e. Mulailah dengan pertanyaan ringan (untuk narasumber yang punya banyak waktu), tetapi langsung ke persoalan inti (to the point) untuk narasumber tertentu.

  11. Pelaksanaan Wawancara(2/3) • Hal yang ditanyakan tidak bersifat interogatif atau terkesan memojokkan narasumber, sehingga menjadikan narasumber seperti terdakwa di persidangan. • Hindari pertanyaan yang sifatnya menggurui. • Dengarkan dengan baik jawaban yang disampaikan oleh narasumber. Jurnalis boleh menyela apabila narasumber memberi penjelasan yang menyimpangdari topik yang dibicarakan.

  12. Pelaksanaan Wawancara(3/3) • Jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan baru yang muncul dari penjelasan narasumber. Sebab, hal ini senantiasa terjadi dalam setiap wawancara. • Setelah seluruh pertanyaan diajukan, jangan lupa memberikan kesempatan kepada narasumber untuk menjelaskan hal-hal yang mungkin belum ditanyakan. • Usai wawancara, sampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber.

  13. Kendala Wawancara Setiap jurnalis pasti mengupayakan hasil wawancara nya optimal. Namun seringkali ada saja kendala yang mungkin akan terjadi. Untuk menghasilkan sebuah berita yang baik sangat tergantung dari hasil wawancara di lapangan. Data yang diperoleh di lapangan seringkali hanya sedikit, hal ini akan menyulitkan jurnalis dalam menulis berita. Untuk itu, dalam melakukan wawancara, upayakan mendapatkan data yang selengkap-lengkapnya di lapangan, khususnya melalui proses wawancara.

  14. Closing Setelah memahami pengertian, sebenarnya tidak ada kiat yang mutlak untuk melakukan wawancara. Apalagi setiap jurnalis punya kiat-kiat tersendiri dalam menemui dan memancing simpati narasumber untuk mau melayani permintaan untuk wawancara.Namun demikian, ada beberapa hal umum yang perlu menjadi catatan para jurnalis sebelum melakukan wawancara. The End

More Related