Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi
This presentation is the property of its rightful owner.
Sponsored Links
1 / 67

Rancangan dan Prinsip dasar Penelitian Farmakoepidemiologi PowerPoint PPT Presentation


  • 153 Views
  • Uploaded on
  • Presentation posted in: General

Rancangan dan Prinsip dasar Penelitian Farmakoepidemiologi. Hypothesis generating. Hypothesis strengthening. Hypothesis testing. Prospective Study. Retrospective Study. Prospective vs. Retrospective Studies. Events Under Study. Time. Options in Research Design. Analytic Studies

Download Presentation

Rancangan dan Prinsip dasar Penelitian Farmakoepidemiologi

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Presentation Transcript


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Rancangan dan Prinsip dasar PenelitianFarmakoepidemiologi


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Hypothesis generating

Hypothesis strengthening

Hypothesis testing


Prospective vs retrospective studies

Prospective Study

Retrospective Study

Prospective vs. Retrospective Studies

EventsUnder Study

Time


Options in research design

Options in Research Design

  • Analytic Studies

    • Experimental Study

    • Prospective Cohort Study

    • Retrospective Cohort Study

    • Case-Control Study

  • Descriptive Studies

    • Analyses of Secular Trends

    • Case Series

    • Case Reports


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Case-Control Studies

Disease

Present(cases)

Absent

(controls)

Present(exposed)

A

B

Absent

(not exposed)

C

D

Factor

Cohort Studies


1 laporan kasus

1. Laporan kasus

  • Laporan kasus mendeskripsikan seorang pasien yang mengkonsumsi obat, kemudian mengalami efek samping.

  • Contoh, sebuah publikasi melaporkan seorang wanita muda mengkonsumsi kontrasepsi oral dan menderita embolisme paru.

  • Laporan kasus berguna untuk menyusun hipotesis tentang efek samping suatu obat, untuk kemudian diuji dengan rancangan studi yang lebih teliti.


1 laporan kasus1

1. Laporan kasus

  • Dalam laporan kasus tidak dapat dipastikan bahwa efek samping yang terjadi memang karena konsumsi obat atau karena sebab lain, sehingga jarang digunakan untuk membuat hubungan sebab akibat.

  • Kecuali jika efek samping sangat jarang atau sangat khusus, contoh kasus adenocarcinoma sel vagina terjadi pada wanita muda yang mengkonsumsi dietilstilbestrol.


1 laporan kasus2

1. Laporan kasus

  • Laporan kasus dapat digunakan untuk mendokumentasikan hubungan sebab akibat jika terapi menyebabkan perubahan pada penyakit, contoh pasien yang kembali pada kondisi sebelumnya jika terapi dihentikan, dapat diterapi kembali untuk mendapatkan efek.

  • Pasien yang overdosis metadon mengalami comatose, diterapi nalokson (antagonis narkotik).

  • Bila nalokson dihentikan pasien mengalami comatose lagi, dan sembuh setelah diberikan nalokson lagi, menunjukkan bahwa nalokson benar suatu antagonis narkotik.


2 seri kasus

2. Seri kasus

  • Seri kasus merupakan data klinis sekumpulan pasien dengan terapi tunggal.

  • Data dapat diperoleh dari satu tempat pelayanan kesehatan, atau dari sekumpulan pasien dengan kasus yang sama.

  • Contoh pengamatan terhadap 100 wanita di bawah 50 tahun yang menderita embolisme paru, ditemukan 30 di antaranya menggunakan kontrasepsi oral.


2 seri kasus1

2. Seri kasus

  • Setelah pemasaran obat, seri kasus sangat berguna untuk menghitung kejadian efek samping, dan memastikan bahwa efek samping tidak terjadi pada populasi yang lebih besar dibanding sampel pada studi pra-marketing.

  • Studi ini merupakan studi pengawasan post-marketing fase IV.

  • Contoh, dilakukan studi fase IV terhadap prazosin, seterlah dilaporkan menimbulkan efek samping.


2 seri kasus2

2. Seri kasus

  • Selain itu studi fase IV juga bisa dilakukan karena kejadian efek samping dari obat yang segolongan.

  • Metiamide (H2 bloker) ditarik dari peredaran karena menyebabkan agranulositosis.

  • Karena simetidin mempunyai struktur mirip metiamid, perlu dilakukan studi fase IV untuk mengetahui apakah simetidin juga menyebabkan agranulositosis.


2 seri kasus3

2. Seri kasus

  • Pada studi tipe ini, dengan tidak adanya kelompok kontrol, tidak dapat dipastikan deskripsi pasien, lebih cenderung pada paparan atau luaran.

  • Misalnya studi yang dilakukan terhadap 100 orang pasien RS Veteran dengan penyakit tertentu, di mana sebagian besar pasien berusia 60 tahun, dapat diperkirakan bahwa penyakit ini akan berhubungan dengan kondisi pada usia di atas 60 tahun.

  • Jadi seri kasus tidak terlalu berguna untuk menentukan hubungan sebab akibat, tapi memberikan deskripsi klinis tentang penyakit atau pasien yang mendapatkan terapi.


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Case Reports & Case Series

Cerivastatin (Baycol), an effective and inexpensive lipid lowering drug, was introduced in 1997. It was removed from the market in 2001 because of reports of fatal cases muscle breakdown (rhabdomyolysis).


3 analisis kecenderungan sekuler

3. Analisis kecenderungan sekuler

  • Analisis kecenderungan sekuler disebut juga studi ekologi, menguji kecenderungan obat yang diduga sebagai penyebab dan kecenderungan penyakit yang diduga sebagai akibat dan menguji apakah kecenderungan tersebut tepat.

  • Kecenderungan ini dapat ditentukan antar waktu atau antar lokasi.


3 analisis kecenderungan sekuler1

3. Analisis kecenderungan sekuler

  • Peran statistik sangat penting dalam studi ini.

  • Contoh perbandingan antara jumlah penjualan kontrasepsi oral dengan tingkat kematian akibat tromboembolisme vena, harus diperhatikan bahwa tingkat kematian akibat tromboembolisme vena akan meningkat secara paralel dengan peningkatan penjualan kontrasepsi oral hanya pada wanita usia reproduksi, bukan pada wanita geriatri atau pada pria.


3 analisis kecenderungan sekuler2

3. Analisis kecenderungan sekuler

  • Studi ini tidak dilakukan terhadap data individual sehingga hubungan tidak langsung tidak dapat dikontrol.

  • Contoh, tingkat kematian akibat kanker paru pada wanita meningkat, sejalan dengan peningkatan jumlah wanita merokok.

  • Tetapi harus diperhatikan juga kemungkinan resiko kanker paru akibat paparan pasif, mengingat jumlah wanita bekerja juga meningkat dimana memungkinkan sebagai perokok pasif.


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Ecologic studies

Obtain group-level exposure information and disease prevalence at the same point in time.


Ecologic studies breast cancer incidence by national fat intake

Ecologic Studies: Breast Cancer Incidence by National Fat Intake

USA

Switzerland

Italy

UK

Israel

N Zealand

Sweden

France

Yugoslavia

Spain

Romania

Poland

Hong Kong

Hungary

Japan


4 studi case control

4. Studi case-control

  • Studi ini merupakan studi yang membandingkan kasus dengan suatu penyakit untuk mengontrol kasus tanpa penyakit, mencari perbedaan dalam paparan sebelumnya.

  • Sebagai contoh, studi kasus terhadap wanita muda dengan tromboembolisme vena dan membandingkan dengan kelompok kontrol tanpa embolisme vena, untuk mencari perbedaan pemakaian kontrasepsi oral sebelumnya.

  • Hasilnya menunjukkan hubungan kuat antara pemakaian kontrasepsi oral dengan tromboembolisme vena.


4 studi case control1

4. Studi case-control

  • Studi case-control berguna jika ingin mempelajari kemungkinan ganda penyebab suatu penyakit, dapat dipelajari sejumlah paparan yang merupakan faktor resiko potensial terhadap kelompok kasus dan kelompok kontrol.

  • Rancangan ini juga berguna jika akan dilakukan studi terhadap penyakit ang jarang dengan ukuran sampel yang lebih kecil dibanding studi cohort.

  • Contohnya, studi dietilstilbestrol dan adenocarcinoma sel vagina hanya membutuhkan 8 kasus dan 40 kontrol, sedangkan studi Cohort untuk kasus ini membutuhkan ribuan subjek terpapar dietilstilbestrol.


4 studi case control2

4. Studi case-control

  • Informasi untuk studi ini umumnya didapat secara retrospektif dari kejadian sebelumnya, baik dari rekam medis, kuesioner atau interview.

  • Hal ini menyebabkan keterbatasan validitas informasi retrospektif. Selain itu pada pemilihan kontrol juga sulit dihindari seleksi bias.

  • Namun demikian, jika dirancang dengan benar studi ini akan memberikan hasil setara dengan studi Cohort dan uji klinis acak, serta sangat berguna dalam studi farmakoepidemiologi.


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Case-control study*

Controls sampled

Treated

Non-Random process

Untreated

Observation Period

Study population

= Study outcome

(*using “risk-set sampling”)


5 studi cohort

5. Studi Cohort

  • Studi Cohort merupakan studi yang mengidentifikasi kelompok populasi yang telah ditentukan dan mengikuti hingga waktu tertentu untuk mengetahui perbedaan efeknya.

  • Studi Cohort umumnya dilakukan untuk membedakan pasien terpapar dengan pasien tak terpapar, atau pasien terpapar A dan terpapar B.


5 studi cohort1

5. Studi Cohort

  • Contohnya, studi perbandingan wanita usia reproduktif pengguna kontrasepsi oral dengan pengguna kontrasepsi metode lain, untuk mencari perbedaan frekuensi kejadian tromboembolisme vena.

  • Penelitian ini bertujuan mengkonfirmasi hasil temuan dari studi kecenderungan sekuler atau studi case-control.

  • Studi Cohort dapat dilakukan secara prospektif atau retrospektif (dari rekam medis, interview atau kuesioner).


5 studi cohort2

5. Studi Cohort

  • Perbedaan utama studi cohort dan studi case-control ada pada pasien yang diambil sebagai sampel (gambar ).

  • Pasien pada studi case-control diambil berdasarkan ada tidaknya penyakit, dan kemudian dipelajari paparan obat sebelumnya.

  • Pasien pada studi Cohort diambil berdasarkan ada tidaknya paparan, kemudian diteliti muncul tidaknya penyakit.


5 studi cohort3

5. Studi Cohort

  • Keuntungan utama studi Cohort adalah bebas dari kesulitan utama dari studi case-control, yaitu seleksi kelompok kontrol, serta studi Cohort propektif bebas dari masalah validitas yang dialami studi retrospektif.

  • Studi ini juga berguna untuk mempelajari kemungkinan efek ganda dari paparan obat tunggal.

  • Tetapi studi Cohort membutuhkan ukuran besar sampel dan waktu yang lama untk mempelajari efek tertunda obat.


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Cohort study

Treated

Non-Random process

Untreated

Observation Period

Study population

= Study outcome


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Rate Ratio = Events / person-time in exposed

Events / person-time in unexposed

A RCT is just a special case of a cohort study


Cohort vs case control

Cohort vs. Case-Control

  • Advantages of cohort studies

    -Can calculate incidence

    -Can directly calculate relative risk

    -Less measurement error?

    -Can study multiple outcomes of single exposure

  • Advantages of case-control studies

    -Need exposure and confounder info on fewer subjects

    -Often quicker, less expensive

    -Can study multiple causes of a single disease


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Studi Case-control

Penyakit

Studi Cohort

Faktor

Studi Cohort dan studi case-control memberikan informasi yang sejenis, tapi pengumpulan data dilakukan dari arah yang berbeda


6 studi eksperimental

6. Studi Eksperimental

  • Studi eksperimental atau studi uji klinis acak adalah studi dimana peneliti mengontrol terapi yang diterima oleh tiap pasien.

  • Umumnya peneliti menggunakan kontrol di antara kelompok pasien.

  • Contoh, secara acak mengelompokkan wanita usia reproduktif pada kelompok pengguna kontrasepsi oral dan yang tidak menggunakan, kemudian menguji perbedaan kejadian tromboembolisme vena.


6 studi eksperimental1

6. Studi Eksperimental

  • Kekuatan utama studi ini adalah rancangan acak, yang memastikan peluang hubungan tak langsung sebanding pada kedua kelompok uji.

  • Kelemahan studi ini adalah di sisi etika dan logistik, serta mahal.

  • Studi ini biasanya dilakukan pra-marketing untuk menguji efikasi dan keamanan obat, dan tidak perlu dilakukan postmarketing.


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Randomized Trial

Treated

Random process

Untreated

Observation Period

Study population

= Study outcome


Rancangan dan prinsip dasar penelitian farmakoepidemiologi

Rate Ratio = Events / person-time in exposed

Events / person-time in unexposed


Rancangan untuk studi farmakoepidemiologi

Rancangan untuk studi farmakoepidemiologi


Pembahasan

PEMBAHASAN

  • Telah diuraikan serangkaian rancangan studi yang berbeda, dengan keuntungan dan kerugian masing-masing.

  • Laporan kasus, seri kasus, analisis tren sekuler, studi case-control dan strudi cohort merupakan rancangan studi observasi atau studi non-eksperimental, sedangkan studi klinik acak merupakan studi eksperimental.

  • Dalam studi non-eksperimental, peneliti tidak dapat mengontrol terapi, hanya melakukan observasi dan mengevaluasi hasil yang dicapai setelah pengobatan.


Pembahasan1

PEMBAHASAN

  • Laporan kasus, seri kasus dan analisis tren sekuler merupakan studi deskriptif.

  • Studi case-control dan uji klinik acak menggunakan kelompok kontrol, dan merupakan studi analisis.

  • Rancangan studi analisis diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, berdasarkan bagaimana subjek studi diseleksi dan bagaiman data untuk studi dikumpulkan.

  • Studi case-control menyeleksi subjek berdasarkan ada atau tidaknya penyakit, sedangkan studi cohort menyeleksi subjek berdasarkan ada atau tidaknya paparan.


Pembahasan2

PEMBAHASAN

  • Dari sudut pandang ini uji klinik acak dapat dilihat sebagai studi cohort subset, suatu tipe studi cohort di mana peneliti juga mengontrol terapi, tidak hanya mengobservasi.

  • Dari sudut pandang waktu, data dapat dikoleksi secara prospektif, yaitu secara simultan selama studi, atau secara retrospektif, yaitu setelah suatu kejadian berakhir, menggunakan rekam medik, kuesioner atau wawancara.


Pembahasan3

PEMBAHASAN

  • Data juga dapat dikumpulkan dengan studi cross-sectional, yaitu suatu studi yang dilakukan pada satu waktu tertentu.

  • Pada prinsipnya baik studi cohort atau studi case-control dapat dilakukan dengan berbagai patokan waktu tersebut, walaupun studi case-control tidak lazim dilakukan secara prospektif.

  • Uji klinik random harus dilakukan secara prospektif, sehingga peneliti dapat mengontrol terapi yang diberikan.

  • Tabel berikut menyajikan.


Klasifikasi studi farmakoepidemiologi

Klasifikasi studi farmakoepidemiologi


Kesimpulan

KESIMPULAN

  • Studi laporan kasus dan seri kasus berguna untuk menarik sebuah hubungan dan untuk analisis tren.

  • Sedangkan studi case-control berguna untuk menjelaskan hubungan ini.

  • Studi cohort dan uji klinis random bertujuan untuk mendapatkan hubungan yang lebih definitif.


Kesimpulan1

KESIMPULAN

  • Sebagai contoh, untuk menjawab pertanyaan apakah kontrasepsi oral dapat menyebabkan tromboembolisme, mula-mula hubungan ini dapat diperkirakan dengan studi laporan kasus atau seri kasus, kemudian diuji lebih lanjut dengan analisis tren dan studi case-control.

  • Mengingat pentingnya kontrasepsi oral, banyaknya jumlah wanita yang menggunakan, dan fakta bahwa pemakaianya umumnya adalah wanita sehat, selanjutnya dilakukan studi cohort skala besar.


Metode saintifik

METODE SAINTIFIK

Metode saintifik adalah proses 3 tahap.

  • Studi sebuah sampel dari subjek studi

  • Generalisasi informasi yg didapat dari sampel, menggambarkan kesimpulan tentang populasi secara umum (asosiasi).

  • Membuat sebuah kesimpulan tentang teori saintifik (causation).


Metode saintifik1

METODE SAINTIFIK


Contoh

CONTOH

  • Pada studi klinik random tentang efikasi enalapril dalam menurunkan tekanan darah, dipilih 40 pria dewasa pertengahan penderita hipertensi untuk mendapatkan enalapril atau plasebo, dan diobservasi TD nya 6 minggu kemudian.

  • Harapannya, 20 orang dengan terapi enalapril akan turun tekanan darahnya, dibanding 20 orang penerima plasebo.

  • Nyatanya, sampel studi tidak sungguh-sungguh mewakili populasi, karena tdk mungkin mengidentifikasi setiap individu & kemudian memilih secara acak  tetapi sampel diperlakukan sebagai sampel acak dari populasi target.


Contoh1

CONTOH

  • Pada kondisi ini peneliti cenderung membuat generalisasi bahwa enalapril menurunkan tekanan darah pada pasien pria dewasa pertengahan penderieta hipertensi.

  • Tetapi harus diperhatikan bahwa jika pada observasi terjadi suatu kebetulan akibat variasi random.

  • Untuk mengevaluasi kemungkinan ini, dapat dilakukan uji statistik, yang memungkinkan perhitungan propabilitas terjadinya perbedaan di antara dua kelompok akibat kebetulan.

  • Jika hasilnya menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik, dapat dikatakan ada suatu hubungan. Pada tahap ini terjadi pertimbangan statistik.


Contoh2

CONTOH

  • Jika tidak ada perbedaan bermakna, proses metode saintifik harus dihentikan.

  • Jika ada hubungan, dilanjutkan pada generalisasi hasil, sehingga dapat dikatakan bahwa enalapril merupakan obat antihipertensi.

  • Pada tahap ini terjadi pertimbangan saintifik atau biologis, dan menghasilkan sebuah kesimpulan tentang sebab akibat, bahwa enalapril sungguh menurunkan tekanan darah pada populasi pasien hipertensi.


Contoh3

CONTOH

  • Untuk membuat kesimpulan seperti ini, terjadi generalisasi terhadap populasi yang tidak diwakili oleh sampel studi, yaitu wanita, anak-anak dan geriatri.

  • Dibutuhkan data relevan lain untuk mendukung keputusan subjektif ini, serta dapat digunakan “Kriteria untuk Hubungan Sebab-Akibat” yang akan dibahas lebih lanjut.

  • Sebelumnya perlu diperhatikan lebih dulu, jenis-jenis kesalahan yang dapat dilakukan dalam suatu penelitian.


Jenis jenis kesalahan yang dapat dilakukan dalam suatu penelitian

Jenis-jenis kesalahan yang dapat dilakukan dalam suatu penelitian

  • Tidak ada hubungan

  • Hubungan artifaktual, baik palsu atau salah.

  • Hubungan tidak langsung, menunjukkan variabel lain yang berhubungan secara tidak langsung dengan studi.

  • Hubungan sebab akibat (langsung)


2 hubungan artifaktual baik palsu atau salah

2. Hubungan artifaktual, baik palsu atau salah.

  • Hal ini dapat terjadi melalui dua mekanisme : kebetulan atau bias.

  • Kebetulan bersifat tidak sistematis, acak atau bervariasi. Tujuan uji statistik adalah untuk mengevaluasi kemungkinan ini, mengestimasi kemungkinan hasil yang diobservasi terjadi karena kebetulan.

  • Sedangkan bias merupakan variasi sistematik yang terpola secara konsisten bila 2 kelompok diperlakukan atau dievaluasi secara berbeda.


2 hubungan artifaktual baik palsu atau salah1

2. Hubungan artifaktual, baik palsu atau salah.

  • Salah satu contoh bias bisa terjadi pada studi yang melibatkan wawancara, di mana wawancara dilakukan dengan tingkat kecermatan yang berbeda di tiap kelompok.

  • Contoh lain pada studi obat yang menginduksi cacat janin, seorang ibu dengan bayi cacat akan lebih akurat mengingat obat yang dikonsumsi semasa hamil dibanding ibu dengan bayi normal, karena pengalaman tidak baik yang dialaminya.

  • Sekali bias terjadi, tidak bisa dikoreksi, sedangkan statistik tidak bisa mencegah terjadinya bias. Satu hal yang bisa mencegah bias adalah rancangan studi.


3 hubungan tidak langsung

3. Hubungan tidak langsung

  • Menunjukkan variabel lain yang berhubungan secara tidak langsung dengan studi.

  • Contohnya pada studi faktor resiko kanker paru dapat ditemukan hubungan antara ujung jari menguning dengan kanker paru.

  • Hal ini bukan merupakan hubungan sebab akibat, tapi akibat tidak langsung, yang ditemukan pada perokok.


Jenis jenis kesalahan yang dapat dilakukan dalam suatu penelitian1

Jenis-jenis kesalahan yang dapat dilakukan dalam suatu penelitian

  • Jadi ada tiga tipe kesalahan yang bisa terjadi dalam sebuah penelitian, yaitu kesalahan acak, bias dan hubungan tidak langsung.

  • Kemungkinan kesalahan acak dapat dihitung dengan statistik, bias bisa dicegah dengan rancangan studi yang sesuai dan hubungan tidak langsung dapat dikontrol dengan rancangan studi atau rancangan analisis.


Kriteria untuk hubungan sebab akibat

Kriteria untuk Hubungan Sebab Akibat

1. Kesesuaian dengan informasi yang ada.

  • Informasi yang lain meliputi data dari subjek manusia lain, data dari studi dengan pertanyaan lain yang berhubungan, data dari studi hewan coba, atau data dari studi in vitro, atau teori ilmiah.

  • Menggunakan contoh sebelumnya, secara ilmiah tidak ada hubungan antara ujung jari menguning dengan kanker paru.

  • Tetapi ada hubungan antara merokok dengan kanker paru, karena rokok diketahui bersifat karsinogen pada hewan coba.

  • Pada studi manusia diketahui rokok menyebabkan kanker kepala dan leher, pankreas dan empedu.


Kriteria untuk hubungan sebab akibat1

Kriteria untuk Hubungan Sebab Akibat

2. Konsistensi hubungan

  • Salah satu kriteria ilmu adalah reprodusibilitas bila dilakukan dengan berbagai kriteria yang berbeda, termasuk rancangan studi, tempat, populasi, dan lain-lain.


Kriteria untuk hubungan sebab akibat2

Kriteria untuk Hubungan Sebab Akibat

3. Urutan waktu.

  • Misalnya jika ditanyakan pada masing-masing mahasiswa di kelas, apakah mengkonsumsi diazepam, dan apakah mengalami kecemasan, bisa ditemukan ada hubungan yang kuat antara konsumsi diazepam dan kecemasan.

  • Tetapi tidak bisa disimpulkan bahwa diazepam menyebabkan kecemasan, karena tidak dijelaskan mana yang terjadi dulu, konsumsi diazepam atau kecemasan.


Kriteria untuk hubungan sebab akibat3

Kriteria untuk Hubungan Sebab Akibat

4. Spesifitas hubungan.

  • Hal ini berhubungan dengan, apakah penyebab terjadi tanpa menimbulkan efek yang diduga, atau efek terjadi tanpa penyebab yang diduga.

  • Contoh: cacar terjadi karena paparan virus cacar, tapi tidak semua yang terpapar virus cacar kemudian terjangkit cacar.


Kriteria untuk hubungan sebab akibat4

Kriteria untuk Hubungan Sebab Akibat

5. Kekuatan hubungan

  • Kekuatan kuantitatif, berkorelasi dengan ukuran.

  • Hubungan dosis-respon, terjadi jika peningkatan intensitas paparan menghasilkan peningkatan resiko penyakit yang diteliti


Data sources

Data sources

  • Spontaneous reporting systems

  • Ad-hoc studies

  • Health Care data

    • Medicaid

    • General Practice Research Database

    • Tayside Medicines Monitoring Unit

    • Group Health Cooperative of Puget Sound

    • United Health

    • Etc.


  • Login