1 / 67

PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN

PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN. Moch Nukhun . noex_moch@yahoo.co.id. PENDAHULUAN. Semua sel dalam tubuh menghasilkan energi Energi digunakan untuk menyelenggarakan fungsi selulernya

roman
Download Presentation

PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN MochNukhun. noex_moch@yahoo.co.id

  2. PENDAHULUAN • Semua sel dalam tubuh menghasilkan energi • Energi digunakan untuk menyelenggarakan fungsi selulernya • Energi didapat melalui metabolisme zat makanan (gula/ glukosa) dalam rangkaian reaksi kimia dengan menggunakan oksigen • Reaksi kimia menghasilkan : energi, H2O dan CO2

  3. Oksigen merupakan kebutuhan dasar yang paling vital dalam kehidupan • Apabila tubuh < O2  sel mendapat energi dari glikolisis anaerob  menghasilkan energi dalam jumlah sedikit & asam laktat • Glikolisis anaerob berlangsung lama  timbunan asam laktat akan merubah situasi cairan tubuh menjadi lebih asam  menyebabkan aktivitas sel menurun • Dampak penurunan aktivitas sel : * nafsu makan hilang * penurunan jumlah urine * pusing/ sakit kepala * wajah nampak ngantuk * cemas * lelah Pada kondisi lebih berat : penurunan tk kesadaran  koma (diawali klien gelisah & tidak kooperatif.

  4. OKSIGENASI Proses mendapatkan O2 dan mengeluarkan CO2 Melibatkan sistem : • Respirasi • Kardiovaskuler Terjadi melalui 3 tahapan : • Ventilasi paru • Difusi Gas • Transportasi Gas

  5. VENTILASI PARU • Masuknya O2 atmosfir ke dalam alveoli dan keluarnya CO2 dari alveoli ke atmosfir  terjadi saat respirasi (inspirasi & ekspirasi) • Dipengaruhi oleh : a. Tekanan O2 atmosfir b. Keadaan saluran nafas c. Complience & recoil d. Pengaturan nafas

  6. a. Tekanan O2 atmosfir • Merupakan jumlah tekanan berbagai gas yang terkandung dalam udara • Saat inspirasi udara atmosfir akan masuk

  7. b. Keadaan saluran nafas • Selama inspirasi atau ekspirasi udara akan melewati saluran nafas  hidung, pharynx, larynx, trachea, broncus, bronchiolus, alveoli • Gangguan dalam atau diluar saluran nafas ata(sekret, spasme, benda asing, masa, dll) dapat memprsulit ventilasi

  8. c. Complience & Recoil • Daya pengembangan dan pengempisan paru dan thorax • Kemampuan dibentuk oleh : * Gerakan turun naik diafragma melalui kontraksi dan relaksasi otot diafragma untuk memperbesar dan memperkecil rongga dada  gerakan akan terhambat pada : kondisi nyeri pada abdomen akibat trauma/ pembedahan, distensi abdomen * Elevasi dan depresi iga-iga untuk meningkatkan/ menurunkan diameter anteroposterior rongga dada melalui kontraksi & relaksasi otot-otot pernafasan  keadaan ini dpt terganggu pada : bentuk dada yg abnormal, multiple fracture costae, gangguan hubungan saraf-otot, kerusakan pusat nafas

  9. * Elastisitas jaringan paru yg memungkinkan alveoli dapat mengembang & mengempis. Ada 2 kemungkinan dlm abnormal elastisitas jaringan paru : a. Jaringan paru berubah menjadi jaringan ikat  shg complience paru menurun b. jaringan paru dapat berkembang tetapi saat recoil terbatas  shg CO2 tertahan (emphysema) * Adanya surfactant ; yaitu zat phospholipid yg terdpt pada lapisan cairan yg meliputi permukaan alveoli & bersifat menurunkan tegangan permukaan alveoli  shg paru-paru mudah berkembang & mencegah kolaps paru

  10. d. Pengaturan nafas • Pusat pengatur nafas : medulla oblangata & Pons • Area bilateral & bag ventral di dlm Medulla oblangata sangat sensitif terhdp perubahan konsentrasi H2O & CO2 • Pusat nafas terangsang oleh Peningkatan CO2 • Kenaikan CO2  meningkatkan konsentrasi H2O  merangsang pusat nafas • Perangsangan pusat nafas oleh peningkatan CO2 merupakan mekanisme umpan balik yg penting untuk mengatur konsentrasi CO2 seluruh tubuh

  11. Pengkajian keadaan saluran nafas a. Apakah klien merasa sesak atau kesulitan bernafas ? Ya Frekuensi/ tipe pernafasan ? b. Apakah klien batuk ?  ya  batuk kering/ sputum ?  sputum  jumlah, konsistensi, warna ? Adakah hemoptisis ? Apakah batuknya berat ?

  12. c. Bagaimana suara nafasnya ? • Bersihkah ? • Adakah suara nafas tambahan, spt : * Snoring (ngorok)  akibat jalan nafas tersumbat oleh pangkal lidah yg jatuh ke belakang (koma) * Gargling (spt suara kumur-kumur)  terdengar saat terdpt muntahan, atau sekret pada sal nafas besar * Crowing (lengking)  terdengar pada penyempitan larynx akibat spasme atau desakan oleh benda asing • Inspeksi : adanya retraksi sternokleidomastoid yg mengambarkan kesulitan inspirasi akibat sumbatan jalan nafas • Auskultasi paru, adakah : * Wheezing ; terdengar pada penyempitan jalan nafas * Rales ; terdengar pada peningkatan kelembapan saluran nafas * Ronchi ; terdengar pada akumulasi sekret

  13. Palpasi daerah leher : adakah pembesaran thyroid • Adakah klien merasakan nyeri pada thorax atau abdomen ? Kel nyeri akan menghalangi kemampuan batuk

  14. Dx. Keperawatan ventilasi • Jalan nafas tidak efektif, b.d : * Penumpukan sekret/ sekret yg kental/ benda asing * Trauma yg menghalangi batuk * Nyeri dada/ abd yg menghalangi ekspansi dada/paru dan batuk * Tidak sadar oleh karena pengaruh anestesi, coma yg menyebabkan relaksasi otot-otot * Penyakit yg menganggu kemampuan batuk/ pengeluaran sekret * Tidak adekuat hidrasi * Penyakit paru yg meningkatkan penumpukan sekret

  15. Manifestasi klinik : • Suara nafas abnormal • Batuk produktif dg sekresi berlebihan • Batuk tidak produktif • Sianosis • Dispnea • Retraksi otot sternokleidomastoid • Perubahan rate dan kedalaman pernafasan

  16. Intervensi : • Istirahat • Penumpukan sekret : a. Sekret kental : - Berikan cairan yg adekuat - Humidifikasi/ nebulisasi - Kolaborasi pemberian ekspektoran b. Sekret berada pada saluran nafas besar (s.d bronchus) : - Latihan batuk efektif (klien sadar/ koopratif & kemampuan batuk +) - Jika tdk bisa batuk (karena nyeri thorax/ abd  setelah pembedahan atau trauma)  kolaborasi pemberian analgesik - Jika tidak bisa batuk  lakukan penghisapan lendir c. Sekret terdpt pada percabangan saluran nafas yg kecil/ alveoli  lakukan fisioterapi dada dg postural drainage, kmd latihan batuk efektif atau penghisapan lendir.

  17. 3. Tersumbat/ obstruksi : - tersumbat oleh lidah yg jatuh ke belakang  lakukan pemasangan oropharyngeal tube (mouth tube/ goedel) - tersumbat oleh masa, trauma atau peny  lakukan kolaborasi pemasangan endotracheal tube atau tracheostomy - akibat infeksi akut, allergi yg menyebabkan spasme bronchial & edema atau bronchokonstriksi  lakukan kolaborasi pemberian kortikosteroid, anti allergi atau bronchodilator

  18. Pengkajian kemampuan complience dan recoil thorax & paru • Apakah klien mengalami kesulitan bernafas ? • Lakukan pemeriksaan fisik : * Inspeksi : - penggunaan otot-otot pernafasan tambahan (retraksi sternokleidomastoid, retraksi suprasternal, retraksi intercostal, retraksi substernal) - Frekuensi, irama, kedalaman pernafasan, rasio inspirasi & ekspirasi - Adakah distensi abdomen yg akan menghalangi turunnya diafragma * Auskultasi : - bandingkan suara aliran udara paru kiri & kanan - adakah suara nafas tambahan (rales, wheezing, ronchi) * Palpasi : - Keadaan tulang iga  adakah fraktur - Vocal fremitus ? * Perkusi : - Adakah perubahan suara perkusi diatas area paru

  19. c. Adakah klien mengalami masalah pada hub saraf-otot atau masalah system saraf d. Adakah klien mengalami nyeri abdomen/ thorak ? e. Apakah mampu melakukan aktivitas/ immobilisasi ? f. Apakah ada riwayat trauma kepala/ penggunaan obat-obatan narkotik yang menekan pusat nafas ? g. Hasil analisa gas darah ?

  20. 2. Pola nafas tidak efektif b.d : a. Obstruksi jalan nafas b. Ekspansi dada yang tidak adekuat  karena immobilisasi, nyeri dada/ abdomen c. Gangguan neuromuskuler d. Penyakit paru kronis  menyebabkan penumpukan udara/ cairan pada rongga pleura e. Penurunan pengeluaran CO2  karena penyakit paru (empisema) Manifestasi Klinis : Dispnea Peningkatan frekuensi pernafasan Perubahan kedalaman pernafasan Perubahan rasio inspirasi : ekspirasi Retraksi dada Dx. Keperawatan Ventilasi

  21. Intervensi • Intervensi yg sifatnya umum untuk semua perubahan pola nafas : a. Posisi semi fowler/ fowler  meningkatkan kapasitas vital paru b. Perubahan posisi  memberikan kesempatan semua alveoli berkembang secara optimal c. Ambulasi/ exercise  meningkatkan pembentukan energi untuk bernafas & CO2 yg akan merangsang pusat nafas 2. Intervensi spesifik : a. Latihan nafas dalam  untuk pasien dengan pernafasan cepat & dangkal  mencegah atelektasis b. Latihan pursed lip breathing  latihan nafas diafragma/ menggunakan incentive spirometer  untuk pasien dg hambatan dalam ekspirasi/ retensi CO2 3. Intervensi medis : a. Pemasangan WSD  untuk menurunkan tekanan intra pleura akibat efusi pleura, pneumothorak yg menganggu pengembangan paru b. Pemasangan ventilator/ respirator/IPPB  klien yg mengalami kesulitan nafas akibat gangguan pada hubungan saraf otot/ gangguan sistem saraf

  22. DIFUSI GAS • Pertukaran antara O2 dan CO2 alveoli dengan kapiler paru • Dipengaruhi oleh : • Ketebalan membran respirasi • Luas permukaan membran • Koefisien difusi • Perbedaan tekanan

  23. Pemeriksaan • Ketebalan membran respirasi a. Inspeksi : - Retraksi intercostals, retraksi substernal (klien dg edema paru/ radang paru akut) - Pernafasan cepat & dangkal - Pernafasan cuping hidung b. Auskultasi : - Rales (edema paru/ radang paru akut) c. Perkusi : - Redup/ dullness (edema paru/ radang paru akut)

  24. 2. Perubahan luas permukaan paru : - Adakah riwayat operasi  pengangkatan lobus paru - Hasil pemeriksaan thorak photo ? 3. Perkiraan tekanan gas pada alveoli : - Tanda-tanda hambatan ventilasi

  25. Perubahan pertukaran gas  perfusi jaringan tidak adekuat b.d : - Edema paru - Congesti paru Manifestasi klinis : Hipoventilasi Penurunan kesadaran Sianosis Ekstremitas dingin & lembap Gas darah abnormal Dx. Keperawatan Difusi

  26. Intervensi • Istirahat (intervensi utama) • Pemberian O2  untuk meningkatkan perbedaan konsentrasi/ tekanan oksigen antara alveoli dg kapiler • Membatasi intake cairan (pada klien edema paru) • Ambulasi  untuk meningkatkan sirkulasi yg akan memperbaiki rasio perfusi-ventilasi • Kolaborasi : antibiotik (klien radang akut parenkim paru) • Meningkatkan intake protein melalui oral/ pemberian plasma albumin (klien dg hipoalbumin)

  27. TRANSPORTASI GAS Untuk transportasi gas (O2 & CO2) ditentukan oleh aktivitas sistem KARDIOVASKULER

  28. Transport Oksigen Oksigen dapat ditransport dari kapiler paru ke jaringan-jaringan melalui 2 cara : • Secara fisik : larut dalam plasma  3 % • Secara Kimia : berikatan dengan Hb dalam bentuk oxyhaemoglobin/ HbO2  97 %

  29. Transport CO2 Transport dari jaringan ke paru-paru kemudian dikeluarkan ke atmosfir, dilakukan dengan cara : • Secara fisik : larut dalam plasma  5 % • Secara kimia : bergabung dengan Hb membentuk Carbaminohaemoglobin  30 % • Berikatan dengan air dan kemudian membentuk bikarbonat plasma  65 %

  30. Dalam keadaan istirahat sekitar 4 ml CO2 per 100 ml darah ditransport dari jaringan ke paru-paru CO2 penting bagi keseimbangan asam basa

  31. TRANSPORTASI GAS DIPENGARUHI OLEH : • Curah Jantung • Jumlah eritrosit • Exercise • Hematokrit darah • Keadaan pembuluh darah

  32. Curah Jantung • Normal dewasa 5 lt • Melalui darah ditransport sekitar 5 ml O2 & 4 ml CO2 per 100 ml darah • Peningkatan curah jantung  kecepatan transport O2 ke jaringan & CO2 dari jaringan

  33. Jumlah Eritrosit • O2 ditrasport secara kimia berikatan dengan Hb yang terdapat dalam eritrosit • Penurunan eritrosit & konsentrasi Hb  menurunkan transport oksigen

  34. Exercise • Pada gerak badan/ atlet terlatih kecepatan transport O2 ke jaringan meningkat 15-20 kali dari normal • Exercise meningkatkan produksi CO2  merangsang pusat nafas & meningkatkan kecepatan denyut jantung sehingga mempercepat pengiriman CO2 keluar tubuh

  35. Hematokrit • Peningkatan hematokrit akan meningkatkan viskositas darah sehingga beban jantung meningkat  mengakibatkan penurunan curah jantung • Peningkatan HCT menggambarkan jumlah cairan berkurang, sementara 65 % CO2 ditransport dalam keadaan berikatan H2O • Penurunan HCT menggambarkan rendahnya konsentrasi eritrosit dalam darah  menyebabkan penurunan transportasi O2

  36. Keadaan pembuluh darah • Sumbatan/ penyempitan pembuluh darah (arterioslerosis)  penurunan pengiriman darah  berakibat penurunan transportasi O2 ke jaringan • Sumbatan vena  penurunan pengiriman CO2 ke jaringan

  37. Untuk memperkirakan transportasi gas, dilakukan pemeriksaan : • Evaluasi curah jantung : * Apakah klien mengalami nafas pendek, kelelahan, ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari ? * Amati sirkulasi perifer : - Adakah perasaan tidak nyaman pada dada ? - Adakah peningkatan/penurunan BB ? - Adakah pembengkakan ekstremitas ? - Adakah klien mengeluh pusing, sakit kepala, palpitasi ? - Berapa jumlah urine output ? - Amati status mental/ tingkat kesadaran klien * Perkirakan keadaan otot jantung : - Pemeriksaan serum enzim - Pemeriksaan EKG

  38. * Pemeriksaan suara jantung : - S1-S2 - Suara jantung tambahan : S3-S4, murmur * Lakukan pemeriksaan : - Tekanan darah pada berbagai posisi (N. 5-10 mmHg) - Hitung pulse pressure - Radial pulse - Frekuensi denyut jantung - CTR - CVP - Adanya distensi vena jugularis - Adanya hepato jugular reflux - Serum elektrolit • Evaluasi jumlah eritrosit & Hb • Evaluasi keadaan cairan tubuh : - Periksa tekanan darah - Periksa HCT dan bandingkan dengan Hb (N. 3 x Hb) - Amati tanda-tana kelebihan / kekurangan cairan

  39. Evaluasi kondisi pembuluh darah : * Sumbatan arteri : area distal sumbatan menjadi : - Pucat atau sianosis - pada rabaan dingin - Klien mengeluh nyeri terutama saat digerakkan - Kulit nampak kering - nadi kadang-kadang tak teraba * Sumbatan vena : area proksimal sumbatan menjadi : - kemerahan - pada rabaan panas - klien mengeluh nyeri - Tampak bengkak

  40. Dx. Keperawatan Transportasi Gas • Hambatan transportasi gas b.d defisiensi hemoglobin Manifestasi Klinis : - Mudah lelah - Pusing/ sakit kepala

  41. Intervensi • Kolaborasi dengan medis  pemberian transfusi darah ( jika diperlukan ) • Perbaiki diet (TKTP) & banyak mengkonsumsi sayuran berklorophyl

  42. 2. Perubahan curah jantung b.d - Disfungsi jantung akibat penyakit pada arteri coronaria, penyakit katub jantung, abnormal struktur, kegagalan konduksi - Penurunan volume cairan intravaskuler - Cardiac arrest - Imbalance elektrolit Manifestasi Klinis : Arrythmia jantung Perubahan tekanan darah Adanya abnormalitas suara jantung : S3, S4, Murmur Pucat, sianosis pada kulit dan mukosa membran Kulit dingin dan lembab Batuk dengan sputum bercak kemerahan Abnormalitas elektrolit terutama kalium

  43. Intervensi • Untuk mengatasi masalah penurunan curah jantung banyak intervensi medis yang sangat spesifik sesuai dengan penyebabnya • Ners melakukan intervensi sebagai implikasi dari intervensi medis, misalnya :

  44. Disfungsi Jantung (payah jantung) • Intervensi keperawatan : - Istirahat - Batasi intake cairan - Batasi intake natrium • Intervensi medis : - Pemberian digokxin  sebelum pemberian periksa denyut jantung (DJ 60- 80x/mt) kolaborasi untuk perubahan dosis/ hentikan sementara), periksa seum Kalium ( K < 3,5 mEq/l  koreksi kalium)

  45. Penurunan cairan intravaskuler • Intervensi medis : - Pemberian cairan melalui intravenousline (infus) sesuai kebutuhan Implikasi keperawatan : * Tentukan tempat yg sesuai * Observasi kecepatan tetesan & lokasi * Catat intake & output * Observasi tanda-tanda vital

  46. Cardiac arrest • Intervensi : Resusitasi cardio-pulmo-cerebral

  47. Imbalance elektrolit • Intervensi : Koreksi elektrolit

  48. Kebutuhan O2 dipengaruhi oleh : • Ketinggian • Lingkungan (dingin/ panas) • Latihan/ Exercise • Emosi (takut, cemas, marah) • Status kesehatan • Gaya hidup (perokok)

  49. THERAPI OKSIGEN Suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara : • Meningkatkan kadar oksigen inspirasi (FiO2) • Meningkatkan tekanan oksigen (hiperberik)

More Related