1 / 54

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Penyeberangan Selat Sunda; Identifikasi awal

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Penyeberangan Selat Sunda; Identifikasi awal. Triarko Nurlambang Anggota Tim KLHS Dirjen Bina Bangda - DEPDAGRI Pusat Penelitian Geografi Terapan UI. Pengantar: mengapa perlu KLHS? Aplikasi KLHS bagi Kebijakan dan Perencanaan

phila
Download Presentation

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Penyeberangan Selat Sunda; Identifikasi awal

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Kajian Lingkungan Hidup Strategis Penyeberangan Selat Sunda;Identifikasi awal TriarkoNurlambang Anggota Tim KLHS DirjenBinaBangda - DEPDAGRI PusatPenelitianGeografiTerapan UI

  2. Pengantar: mengapa perlu KLHS? • Aplikasi KLHS bagi Kebijakan dan • Perencanaan • Identifikasi awal untuk kebijakan • Penyeberangan Selat Sunda • Contoh Kasus Rehabilitasi dan • Rekonstruksi “Aceh Tsunami”

  3. MASALAH PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Degradasi Lingkungan Hidup dan deplesi Sumber Daya Alam (SDA) Kecenderungan kritikal Meningkatnya disparitas pendapatan Meingkatnya kemiskinan dan marjinalisasi Jumlah dan pertumbuhan populasi Pola dan volume ekonomi Pilihan teknologi Perkiraan kecenderungan Peran Pemerintah Kualitas Lingkungan Hidup Sistem nilai, keinginan/hasrat, dan aspirasi Struktur kekuatan (politik) Pengetahuan dan Pemahaman Kecenderungan tertinggi (ultimate trend) Proses ekologis jangka panjang Kebutuhan kehidupan Dikotomi baru: Ekonomi Berkelanjutan vs Ekologi Berkelanjutan? Dimanakah posisi kita saat ini? Menuju arah keberlanjutan yang mana? Jadi mau kemanakah kita? Apakah akan tercipta Paranoia atau kemitraan

  4. Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan dan peran Kelembagaan (Formal dan Informal) sebagai “Pendorong/Driver” Institusi (Formal dan Informal) Lingkungan Hidup Sosial Ekonomi Sumber: Partidario, 2000

  5. Meningkatkan manfaat pembangunan. Rencana dan implementasi pembangunan lebih terjamin keberlanjutannya. Mengurangi kemungkinan kekeliruan dalam membuat prakiraan/prediksi pada awal proses perencanaan kebijakan, rencana, atau program pembangunan. Dampak negatif lingkungan di tingkat proyek pembangunan semakin efektif diatasi atau dicegah karena pertimbangan lingkungan telah dikaji sejak tahap formulasi kebijakan, rencana, atau program pembangunan. MENGAPA PERLU KajianLingkunganHidupStrategis/ KLHS?

  6. APA KLHS? DEFINISI SEA is a systematic process for evaluating the environmental consequences of proposedpolicy, plan, or program initiatives in order to ensure they are fully included and appropriately addressed at the earliest appropriate stage of decision-making on par with economic and social considerations(Sadler dan Verheem, 1996). KLHS adalahprosessistematisuntukmengevaluasikonsekuensi-konsekuensiterhadaplingkunganhidupdariinisiatifusulankebijakan, rencana, atauprogram (KRP) dalamrangkamemastikanadanyapertimbangan LH yang tepatdandilaksanakanpadatahapansedini/seawalmungkindariprosespengambilankeputusan KRP selainpertimbanganekonomidansosial

  7. KLHS MEMFASILITASI TERINTEGRASINYA ISU-ISU LINGKUNGAN HIDUP DAN KEBERLANJUTAN(UntukKebijakan-Rencana-Program/KRP)

  8. Tujuan KLHS

  9. TIPOLOGI Kebijakan Perencanaan Program Proyek KAJIAN LINGKUNGAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) KLHS Programatik KLHS Kebijakan AMDAL KLHS Regional KLHS Sektoral Source: Partidario, 2000

  10. Nilai Dasar KLHS • Keterkaitan (interdependency) • Keseimbangan (equilibrium) • Keadilan sosial & ekonomi (socio-economic just) Sumber: Tim KLHS ESP-1, 2007

  11. PRINSIP-PRINSIP (Kriteriaperforma) Sesuai tujuan (fit for purpose) Bersifat obyektif (objective led) Dijiwai oleh semangat keberlanjutan (sustainability led) Komprehensif (comprehensive scope) Relevan untuk keputusan (decision relevant) Integratif (integrative) Partisipatif (participative) Efektif biaya (cost-effectiveness) Sumber: IAIA, 2000

  12. BEDA DENGAN AMDAL [lanjutan]

  13. Sumber: WB, 2002

  14. Aplikasi KLHS dalamKonteks Pembangunan di Indonesia Sumber: Tim KLHS ESP-1, 2007

  15. Peran KLHS dalam proses pembuatan keputusan/ kebijakan (merged processes) (integrated processes)

  16. Mana yang paling efektif? • Merged processes: • Opsiterbaikjikaparaperencanamemilikisikap yang positifterhadappermasalahan LH dan KLHS • Integrated processes: • Opsiterbaikuntukkasus yang memilikisikapnegatif (terhadap LH) • Dasar yang terbaik (only?) untukmembuatperaturan • Praktek yang paling banyakditerapkandidunia Sumber: Verheem, 2007

  17. Seberapa ‘dini’ KLHS mulai diterapkan? • ‘Sangat awal’: • Proposal kebijakan belum ada (baru ide/wacana) • Analisis KLHS dibutuhkan untuk mengatasi masalah • KLHS membantu membangun proposal • ‘Awal’: • Sudah ada proposal kebijakan • KLHS mengkaji dampak • Proses KLHS memberi peluang alternatif yang lebih baik Sumber: Verheem, 2007

  18. PEMANFAATAN KLHS DI DUNIA • KLHS sampai saat ini secara luas dimanfaatkan untuk bidang-bidang, diantaranya: • Perjanjian internasional • Privatisasi • Program Operasi Terstruktur • Anggaran Nasional • Rencana Investasi Jangka Panjang • Proposal legislatif • Kebijakan Global dan Sektoral • Kebijakan Strategi Pengentasan Kemiskinan • penataan Ruang dan Perencanaan Tata Guna Tanah • Perencanaan Sektoral (transportasi, pertanian, pariwisata, pertambangan, infrastruktur, dll)

  19. Metode yang sering diterapkan dalam KLHS Penggunaanmetodedanteknik yang cocokdalam KLHS tergantungdarikisaranaspek-aspek yang dikajidandisarankan ‘Taylor Made’ sesuaidengankapasitas yang tersediauntukkajian Metode KLHS yang sering diterapkan Sumber: Thomas B. Fisher

  20. Contoh penerapan metode KLHS; kasus perencanaan transportasi Sumber: Thomas B. Fisher

  21. ANALISIS IMPLIKASI KEBIJAKAN dan STRATEGI TriarkoNurlambang Anggota Tim KLHS DirjenBinaBangda – DEPDAGRI PusatPenelitianGeografiTerapan UI

  22. Upaya penyusunan Kebijakan berbasis KLHS • KLHS adalah upaya “antisipatif dan preventif”: • KLHS dirancang untuk mengintegrasikan perhatian dan pengamanan (safeguards) terhadap kepentingan LH dalam setiap tahapan pengambilan keputusan, mulai dari awal rancangan sampai pemantauan dampak ataupun hasil kegiatan dengan tetap mengutamakan penekanan pada pentingnya menciptakan alternatif-alternatif kebijakan pembangunan • Pendalaman dan Permukaan KLHS (Deep and Shallow SEA) •  Pendalaman KLHS (Deep SEA): • mengkaji secara mendalam akar permasalahan ketidak-berlanjutan • pembangunan (unsustainable development) •  Permukaan KLHS (Shallow SEA): • fokus pada dampak langsung dan segera akibat ketetapan suatu • kebijakan (immediate impact of policy) terhadap kondisi LH

  23. KLHS dan KRP (Kebijakan-Rencana-Program)

  24. Strategi vs Perencanaan Strategi adalah seni untuk memanfaatkan sumberdaya. Merupakan satu studi terhadap sejumlah opsi dan memilih diantaranya yang paling layak/cocok/baik. Seperti dalam permainan catur, strategi dibangun berdasarkan antisipasi terhadap satu kemungkinan kumpulan aksi. Perencanaanberhubungan dengan eksekusi suatu strategi. Sumberdaya apa saja yang diperlukan? Bagaimana kerangka waktunya? Siapa yang akan melaksanakannya? Dan bagaimana jika yang terjadi tidak sesuai dengan rencana?

  25. Strategi apa adanya Strategi yg tdk direalisasi Strategi yang dirancang Strategi apa adanya dan Strategi yang dirancang Maksud Strategi Performa Unggulan dapat Dipertahankan Strategi yang terrealisasi Adapted from: Mintzberg, H. “The Strategy Concept I: Five Ps for Strategy” California Management Review. Volume 30 Number1, Fall 1987.

  26. ARAHAN STRATEGIS Diarahkan secara Formal STRATEGI Kacau Baik Kacau EKSEKUSI Baik Diarahkan oleh Tenaga Ahli

  27. Maria Partidario, 2007 PesanKunci KLHS dapatmenjadiinstrumenuntukmengintegrasikanaksiStrategisjikadioperasikansecaraStrategis

  28. 7 Prinsip KLHS mendasar bagi Strategic-based Approach • Memahami bahwa strategi yang dirumuskan adalah obyek KLHS dan untuk konteks kajian; • Pastikan kajiannya memiliki perspektif jangka panjang, lintas sektor, dan integratif; • 3. Fokus pada faktor-faktor kritis untuk pengambilan keputusan dan bekerja dengan dimensi kecenderungan waktu daripada kondisi saat ini; • 4. Mengadopsi satu sikap yang dapat memfasilitasi, pengambilan keputusan, mendukung para pengambilan keputusan, dan memberdayakan pengambilan keputusan berkelanjutan; • 5. Terus menerus memberikan informasi bagi pengambilan keputusan strategis dan dengan cara yang pragmatis (dapat dilakukan dalam setiap unit pengambilan keputusan), dengan tujuan untuk membantu proses pengambilan keputusan • 6. Gunakan strategi komunikasi, dengan memperhatikan multi perspektif and tindakan berlandaskan good governance • 7. Pastikan proses atau tahapan pengambilan keputusan terpantau dan dikaji secara sistematik terhadap tujuan

  29. ElemenKuncidalamMetodologiberbasisStrategis Menetapkan Critical Factors for Decision (CFD) Critical Factors (Faktor-Faktor Kritis) merupakan isu-isu fokal yang saling terikat – menunjukkan ketidakpastian Titik kritis SI: Strategic Issues (menjelaskantujuanStrategidalamsatuperencanaan) SRF: Strategic Reference Framework (menjelaskanacuankajianberdasarkankondisi LH utama, tujuanpembangunanberkelanjutandanpembangunansektoral; danterkaitdengantujuanperencanaanlainnya – internasional) EF: Environmental Factors (menjelaskanaspekutamakondisi LH saatini; karakteristik LH yang paling berpotensiterkenadampak)

  30. Untuk meningkatkan keefektifan KLHS dibutuhkan: • Pemahaman dalam konteks institusional • Konfigurasi aktor/jaringan • Karakteristik proses pengambilan keputusan • Aturan pengambilan keputusan • Mengadaptasi proses KLHS • Keterbatsan kapasitas dan sumber daya • Norma-norma dan prioritas • Kepentingan dan kekuatan • Rancangan sebagai pendukung kebijakan • Pengintegrasian proses melalui: formulasi permasalahan, tujuan, alternatif, dampak, dan pilihan-pilihan • Kegunaan dan relevansi untuk ketetapan yang sudah diputuskan

  31. Kebijakanadapolitical willuntukmelaksanakan KLHS dandimanfaatkanhasilnyavisidapatdijabarkandalam target dantujuanInstitusiadakapasitasuntukmenilaidanmengnterpretasikanhasil KLHS prosesnyaterorganisirdanterjadwaldenganbaikfungsievaluasiyang mapandanindependenadahubungan yang eratdenganprosespengambilankeputusanorganisasi yang melibatkanseluruhkementerianataudinas yang relevanMetodologikebutuhandaninstrumen yang digunakanuntukmengumpulkan data cocokdandisetujuihasilnyadapatdikombinasikandengananalisisekonomi data dapatdimanfaatkansecaraelektronikadakesepakatandalamhalpembobotanKomunikasihasil KLHS dapatdisampaikansecarasederhanadankomprehensiftmenggambarkanperbadinganalternatif-alternatifthasilnyadapatdisandingkandengantarget nasionalatausektoral Faktor-faktor sukses dalam melaksanakan KLHS

  32. Identifikasi AWAL KLHS bagi Penyeberangan Selat Sunda

  33. "Lingkaran Setan" Problem Pembangunan Penetapan Prioritas Pembangunan Jika menggunakan pendekatan sektoral maka sulit menentukan prioritas diantara sektor-sektor Jika menggunakan pendekatan regional maka akan dilihat lebih holistik /komprehensif (capturing) dan sistemik; prioritas nya adalah kebutuhan stakeholder Relatif lebih mudah Relatif lebih sulit Pengangguran Pertmbhn eko. rendah Tabungan terbatas REGION Jabodetabekcur Sedikit input modern Ouput pertanian kecil Kurang modal Daya beli rendah Keluarga besar Laju kelahiran tinggi Produktifitas rendah Diet jelek Pendapatan/kapita rendah Permintaan tenga kerja tinggi Kesehatan buruk Kurang gizi Kemiskinan Kondisi hidup tak sehat Output/ pekerja kurang Perumahan tak layak Pendidikan kurang Sumber: Triarko N, 2006

  34. Kondisi Krisis Ekologi dan Pembangunan Berbasis Regional Aktifitas Pembangunan Kondisi Pembangunan sudah kritis  Kegiatan Pembangu Utama perlu dibekukan/ dihentikan Tingkat Pembangunan Penyeberangan Selat Sunda-Sumatera/Jawa Tidak Layak untuk melanjutkan kegiatan pembangunan Aktifitas Masyarakat Kondisi Pembangunan mengarah kritis  perlu perlakuan khusus Tingkat Pembangunan Penyeberangan Selat Sunda – Sumatera/Jawa Krisis Ekologi Ambang batas Ambang batas Layak untuk melanjutkan kegiatan pembangunan Tingkat Pembangunan Penyeberangan Selat Sunda – Sumatera/Jawa Kondisi pembangunan yg aman  perlu/ dapat dipertahankan kelangusngannya Waktu Sumber: Triarko N, 2006

  35. Indikasi umum kondisi pulau Sumatera dan Jawa 4. Pangan Alih fungsi lahan sawah Penyusutan luasan sawah terbesar terjadi di wilayah Jawa dan Bali seluas 36.000 ha atau sekitar 3.600 ha/tahun.

  36. Indikasi umum kondisi pulau Sumatera dan Jawa 2007 Threat Status of Natural forest in 38 EFRs Threat Status (Loss since 1985) Critically Endangered (>70% ) Endangered (50-70%) Vulnerable (40-50%) Near Threatened (20-40%) Least Concern (0-20%) Many EFRs in Eastern lowland and Swamp zones are “Critically Endangered ” or “Endangered”. Many EFRs in Western coast, Hill and Montane zones are “Near Threatened” or “Least Concern”. EFR: Eco-Floristic Region

  37. Natural forest loss 1985-2007 by Function by Province Sumber: WWF, 2008

  38. Indikasi umum kondisi pulau Sumatera dan Jawa 5. Air Ketersediaan Air Ketersediaan air per kapita (m3/kapita/th) Catatan: *)Termasuk Banten Kondisi umum LH pulau sumatera dan jawa mengarah pada situasi kritis

  39. Identifikasi AWAL PenyeberanganSelatSunda (1) • UU Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup tahun 2009: • Pasal 15 • Pemerintah (Pusat) dan Pemda wajib membuat KLHS untuk memastikan prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi dasar dan terintegrasi dalam kebijakan, rencana, dan/atau program (KRP) pembangunan • Pemmerintah dan Pemda wajib melaksanakan rekomendasi KLHS dalam penyusunan RPJP (N/D), RPJM (N/D), dan RTRW (N/D) • Pasal 16 • KLHS mencakup daya dukung dan daya tampung, perkiraan resiko LH, kinerja jasa ekosistem, efisiensi SDA, resiliensi dan kapasitas adaptasi perubahan iklim, ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati • Pasal 17 • KLHS menjadi dasar KRP di suatu wilayah • Pasal 18 • Tata laksana KLHS diatur dalam PP • Pasal 19 • Perencanaan tata ruang wajib didasarkan KLHS untuk menjaga kelestarian fungsi LH dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung

  40. Contoh Simplifikasi Integrasi Keterkaitan Sistem LH dan Sistem Ekonomi (Kerangka Pemahaman KLHS) Sistem Lingkungan Hidup Sistem Ekonomi Perubahan pada SD Air, Penggunaan Tanah, Permodalan, Ketenagkerjaan, dan Produktifitas Tekanan LH Perubahan Iklim dan Variasinya Naiknya permukaan air laut Perubahan pada pola produksi dan konsumsi Kejadian ekstrim (bencana) Kerentanan Dampak pd LH Dampak pd Ekonomi Ketersediaan SD Air, udara dan tanah berkualitas Tekanan Ekonomi KEBIJAKAN Mitigasi Adaptasi Perubahan pada emisi dan tutupan lahan

  41. Identifikasi AWAL Konsekuensi Penyeberangan Selat Sunda (2) • Pendekataanperhitungandampakkumulatif: • Teknikperhitungan • - linier • - non-linier • - kombinasi (system • dynamic) • b. Orientasi output • - Trade-off? • - Zero sum game? • - Positive sum game? Daya dukung- Daya tampung ( minus ) 10 – 15 tahun ? ? ? Daya dukung- Daya tampung ( maksimum ) ? Titik Kritis Ekologis ? • Solusi Strategis: • ‘ bend-down the curve’ • Sumatera berpotensi sebagai hinterland Jawa  aliran (barang dan manusia) dari Sumatera- Jawa dialihkan sebaliknya secara berimbang (urusan penataan ruang) • Pola konsentrasi pembangunan linier (mengikuti jalur “life in the fast lane” trans Sumatera dan Pantura Jawa) perlu dipecah/disperse secara terkendali sesuai daya dukung dan daya tampung ? Daya dukung- Daya tampung ( surplus ) Tahap awal Tahap operasi penuh Sebelum konstruksi JSS Saat konstruksi JSS Setelah beroperasi JSS

  42. Dampak Positif secara ruang • Akan lebih memberikan multiplier effect ekonomi mengikuti jalur transportasi daripada nodal /pusat pengembangan di mulut penyeberangan (seperti pengalaman Eurotunnel) • Pertumbuhan ekonomi dapat lebih cepat karena transaksi barang dan jasa lebih lancar • Peluang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat lebih terbuka seiring dengan lebih banyak modal mengalir Dampak Negatif secara ruang • Pada jalur linier transporatsi Sumatera-Jawa akan lebih cepat mengalami tekanan dan konsekuensi alih lahan. • Struktur sosial budaya dan pola kehidupan sehari-hari akan berubah ke arah yang lebih rasional. • Mengingat lemahnya daya saing pada sektor sekunder dan tersier maka tekanan pada sektor primer akan menjadi titik utama, artinya eksploitasi SDA akan meningkat tajam. Tekanan terhadap biodiversitas meningkat. • Ekosistem berubah  peluang percepatan perubahan iklim • Bagaimana perhitungan portofolio terhadap total aset (tangibel/intangibel) demi PB? • Jika SDA dan daya dukung semakin terbatas bagaimana siklus ekonomi nya? Berapa tahun “golden period”nya ?

  43. CONTOH PENETAPAN STRATEGI DAN SOLUSI DIKAITKAN DENGAN PERATURAN YANG BERLAKU UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tema-tema yang dianalisisdenganmenggunakan KLHS

  44. Contoh Penerapan KLHS dalam Kasus Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi “Aceh Tsunami” Tim CEPP-BAPPENAS 2006

  45. Skenario Makro Critical Pressure Points Di Aceh Berbasis Pemahaman Pembangunan Berkelanjutan Perlu adanya Intervensi Kebijakan untuk mengurangi Dampak Negatif Pembangunan Tingkat Kegiatan Pembangunan Critical Pressure Points of Natural Resources aspect (physical Environment) Critical Pressure Points on Social-Economic aspects Kegiatan pembangunan dan masyarakat ? Kegiatan pembangunan dan masyarakat ? Sebelum Bencana Gempa dan Tsunami Masa Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masa setelah Rehabilitasi dan Rekonstruksi Terjadinya Bencana Gempa dan Tsunami serta Masa Gawat Darurat

More Related