1 / 12

Mempersiapkan Awam sebagai Saksi Kristsus

Mempersiapkan Awam sebagai Saksi Kristsus. Kaum awam adalah juga anggota Gereja Setiap anggota Gereja WAJIB mewartakan Kabar Gembira (Mat 28:18-20) Pewartaan Kabar Gembira selalu diawali dengan PENTAKOSTA.

omana
Download Presentation

Mempersiapkan Awam sebagai Saksi Kristsus

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Mempersiapkan Awam sebagai Saksi Kristsus

  2. Kaum awam adalah juga anggota Gereja • Setiap anggota Gereja WAJIB mewartakan Kabar Gembira (Mat 28:18-20) • Pewartaan Kabar Gembira selalu diawali dengan PENTAKOSTA. • Jadi kaum awampun harus mengalami PENTAKOSTA, pengalaman dikasihi Allah yang mampu mengubah hidupnya.

  3. Seperti halnya para rasul, setiap orang yang akan “DIUTUS” akan diajak Yesus melalui beberapa tahap PEMURIDAN, termasuk juga para awam • DIPANGGIL , kesadaran akan keagungan rahmat baptisan • DIPILIH, kesadaran akan panggilan perutusan, berlatih berkomitmen • DIBERKATI, kesadaran akan segala berkat baik jasmani maupun rohani khususnya hidup yang kekal. Dengan semua kekayaan tradisi dan pengajaran Gereja • DIDIDIK, diajak makin bertumbuh “menyerupai” Dia, dibentuk menjadi Kristus- Kristus yang lain. • DIUTUS, kita diutus untuk menjadi saksiNya.

  4. Jadi umat pun perlu dipersiapkan secara cermat baik dalam setiap jenjang usia maupun menurut tahap perkembangan imannya atau yang lebih dikenal dengan formasio iman berjenjang dan berkelanjutan Kekristenan bukanlah sederet aturan, ritual keagamaan, tuntunan moral semata, kekristenan adalah pribadi Kristus sendiri Pemuridan menjadi murid Kristus harus memperhatikan semua aspek iman bukan hanya pengetahuan iman atau ritual iman semata, tetapi harus sampai pada pribadi Kristus sendiri Salah satu bentuk pemuridan awam yang sedang dilakukan dibeberapa keuskupan adalah SEP/KEP

  5. Sekilas SEP / KEP

  6. Sejarah SEP / KEP • Bersumber dari buku “Mission Evangelization, Acourse to Train Evangelist”, yang disusun oleh Rev. Robert Deshaies, Chet Stokloza dan Susan W Blum, 1985, diterbitkan oleh Catholic Evangelism Press, Boca Raton, Florida. • Dibawa ke Indonesia oleh Rm L. Sugiri v.d Heuvel SJ thn 1986, dan SEP mulai diadakan di KAJ thn 1988. • Terus berkembang pesat, dan atas permintaan alumni SEP, maka mulai 1990, diadakan KEP yang pertama di paroki. • Mulai tahun 1990-an ini pula BPK PKK KAS , melalaui Rm Notobudyo Pr mengadakan Sekolah Penginjilan Shekinah di Semarang. • Sampai saat ini SEP telah diselenggarakan beberapa angkatan dan KEP telah melayini di begitu banyak Paroki di KAJ, KAS, dan Keuskupan-Keuskupan lain di Indonesia.

  7. Materi Pokok Buku Misi Evangelisasi : • Introduksi • Evangelisasi, Pendalaman • Perkembangan Iman • Kerajaan dan Keselamatan • Beteman Dengan Orang – Orang • Sharing Iman • Kisah Kristus • Ajakan Bertobat • Integrasi dalam Komunitas • Orientasi Kunjungan Rumah.

  8. Prinsip – Prinsip Dasar SEP / KEP • SEP dan KEP pada prinsipnya memakai materi pokok yang sama, yaitu buku “Misi Evangelisasi”. Hanya materi SEP lebih mendalam karena waktu yang lebih banyak dan disertai latihan spiritual yang lebih intensif, dengan komitmen yang lebih tinggi. • KEP adalah sebuah program PENYADARAN, PENYEMANGATANdan PERTOBATAN, untuk setiap anggota Gereja akan panggilan utamanya mewartakan Kabar Gembira!!! • KEP merupakan rangkaian pengajaran, sharing iman, refleksi, penyemangatan, dinamika berkomunitas, doa (pendukung doa juga), renungan dll.

  9. Dalam semua proses dinamika itu, peserta diharapkan mengalami “perjumpaan pribadi” dengan Kristus yang membawa pada pengalaman sukacita yang mendalam, karena “seorang tidak akan dapat menjadi pewarta kabar gembira, kalau dia sendiri belum mengalami/menyadari kabar suka cita itu”. • Karena KEP adalah suatu PROSES, maka meskipun materinya sangat sederhana, pelaksanaan KEP yang baik tidak bisa “diringkas”, dari pengalaman yang ada, minimal harus diberikan dalam 35x pertemuan, dalam waktu paling tidak tiga setengah bulan. Kecuali dalam keadaan “darurat”, meskipun harus tetap diupayakan agar terjadi “proses pemuridan”. • Karena KEP adalah suatu rangkaian proses, maka setiap bagian nya mempunyai peranan yang penting.

  10. KEP adalah program oleh awam untuk awam, dengan dinamika awam, untuk “penyemangatan” awam. • Menurut pendapat Bapak Kardinal Julius Darmoadmojo SJ, kekuatan SEP/KEP adalah pada KESEDERHANAAN nya. Maka kurang sesuai bila materi KEP terlalu kental dengan ajaran-ajaran teologis. Maka biasanya ajaran-ajaran Gereja diberikan dalam porsi secukupnya saja. • Buah nyata dari KEP dan SEP yang diharapkan adalah umat yang makin beriman dengan mendalam dan tangguh, makin bangga akan iman nya, makin mencintai Gereja nya, makin “BERGEMBIRA DALAM IMAN, dan dengan demikian akan makin “BERGAIRAH DALAM PEWARTAAN”

  11. KEP/SEP bukan langsung mencetak pewarta mimbar, pemadu lingkungan, prodiakon, atau aktivis paroki lainnya • Alumni yang akhirnya lebih tergerak terjun dalam pelayanan Gereja, baik dalam bidang lituri, pewartaan, pelayanan, paguyuban dll adalah buah-buah dari iman yang bertumbuh. Jadi ini BUKAN hasil langsung dari KEP, masih perlu dibina pertumbuhan iman lebih lanjut, untuk mendapatkan pelayan-pelayan Gereja yang “tangguh” dan “berbuah”. • Jadi prinsipnya, dalam KEP, umat diajak menginjili diri sendiri sebelum menginjili orang lain, dan penginjilan kepada orang lain pun hanya dibekali untuk menginjili pribadi – pribadi (EN 46)

  12. Dari pengalaman-pengalaman mendampingi SEP/KEP, saya menemukan bahwa SEP/KEP adalah ret-ret panjang yang berkesinambungan yang dikemas dalam suatu pengajaran yang sederhana. Seluruh dinamikanya menjadi unsur yang esensial, saling berhubungan, menjadi sarana perjumpaan dengan Tuhan secara lebih pribadi, sebagai sarana pertumbuhan iman yang efektif, tempat terjadinya proses pertobatan, belajar melayani, dan akhirnya tergerak untuk terus “bertransformasi” menjadi makin menyerupai Kristus.

More Related