1 / 10

The Perception of Junior High School Civics Education Teacher in Implementing Curriculum 2013 at Bondowoso Regency

The purpose of this study is to: 1) find a picture of the perception of junior high school civics education teachers in implementing Curriculum 2013 in Bondowoso Regency, 2) determine the obstacles and efforts of junior high school civics education teachers to overcome obstacles in the implementation of Curriculum 2013 in Bondowoso Regency. The study uses quantitative descriptive method which is an analysis method of describing or depicting the collected data as it is without making general conclusions. The population in this study is 156 civic education teachers in Junior High School at Bondowoso regency. While the number of samples in this study are 10 respondents. The sampling technique used in this study is random sampling technique which is based on the geographical location and focused on the teachers who have implemented the 2013 Curriculum as the sample. The data analysis technique uses a percentage model while the measurement uses a modified Likert scale. The data analysis results show: (1) the perception of junior high school civics education teacher in Bondowoso Regency in implementing Curriculum 2013; (2) the obstacles and the teachers’ efforts to overcome the obstacles in implementing Curriculum 2013.

maniksukoco
Download Presentation

The Perception of Junior High School Civics Education Teacher in Implementing Curriculum 2013 at Bondowoso Regency

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. THE PERCEPTION OF JUNIOR HIGH SCHOOL CIVICS EDUCATION TEACHER IN IMPLEMENTING CURRICULUM 2013 AT BONDOWOSO REGENCY Manik Sukoco* Arbaiyah Prantiasih** Siti Awaliyah** *Department of Law and Citizenship, State University of Malang, E-mail: itsmanik@fastmail.net **Lecture at Department of Law and Citizenship, State University of Malang, Jalan Semarang 5 Malang 65145 ABSTRACT: The purpose of this study is to: 1) find a picture of the perception of junior high school civics education teachers in implementing Curriculum 2013 in Bondowoso Regency, 2) determine the obstacles and efforts of junior high school civics education teachers to overcome obstacles in the implementation of Curriculum 2013 in Bondowoso Regency. The study uses quantitative descriptive method which is an analysis method of describing or depicting the collected data as it is without making general conclusions. The population in this study is 156 civic education teachers in Junior High School at Bondowoso regency. While the number of samples in this study are 10 respondents. The sampling technique used in this study is random sampling technique which is based on the geographical location and focused on the teachers who have implemented the 2013 Curriculum as the sample. The data analysis technique uses a percentage model while the measurement uses a modified Likert scale. The data analysis results show: (1) the perception of junior high school civics education teacher in Bondowoso Regency in implementing Curriculum 2013; (2) the obstacles and the teachers’ efforts to overcome the obstacles in implementing Curriculum 2013. Keywords: Teacher Perception, Civics Education, Curriculum 2013 Pendidikan adalah proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan, memiliki rasa kebangsaan, dan cinta tanah air (Irianto, 2011:1). Penyelenggaraan pendidikan berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman. Azra dalam Sumarsono (2004) mengatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan tidak saja mendidik generasi muda menjadi warga negara yang cerdas dan sabar akan hak dan kewajibannya dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tetapi juga membangun kesiapan warga negara menjadi warga dunia. Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik (Kemdikbud, 2013: 78). Persepsi guru besar pengaruhnya dalam keberhasilan pelaksanaan Kurikulum 2013 karena pada Kurikulum 2013 guru bertindak sebagai tutor, fasilitator, serta pengendali kegiatan belajar mengajar (Rochadi, 2013:24). diharapkan dapat mewujudkan proses

  2. Persepsi seseorang tentang sesuatu akan mempengaruhi perilakunya terhadap objek atau peristiwa yang dialaminya (Walgito, 2002: 73). Oleh karena itu, persepsi guru yang baik tentu akan berpengaruh positif dalam menunjang keterlaksanaan Kurikulum 2013. METODE Rancangan penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif kuantitatifyaitu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2010: 147). Untuk memperoleh data yang obyektif, maka peneliti harus melakukan penelitian lapangan (field research),dengan menyebarkan angket kepada 10 responden di sekolah-sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013.Teknik yang peneliti gunakan dalam memperoleh data adalah dengan menggunakan angket, observasi, dan studi dokumentasi.Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik random sampling yang didasarkan pada letak geografis dan difokuskan pada guru yang telah menerapkan Kurikulum 2013. Teknik analisis datanya menggunakan uji persentase sedangkan pengukurannya menggunakan skala Likert yang sudah dimodifikasi. Modifikasi terhadap Skala Likert dimaksudkan untuk menghilangkan kelemahan yang terkandung oleh skala lima tingkat (Hadi, 1991: 19-20) HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Sekolah yang Diteliti Sekolah yang diteliti yaitu: (a) SMP Negeri 1 Bondowoso, adalah sekolah menengah pertama di Kota Bondowoso yang mendapatkan akreditasi A. Sarana prasarana yang dimiliki SMPN 1 Bondowoso lengkap dan kondisinya baik. (b) SMP Negeri 1 Grujugan terletak di pinggir jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso. Sarana prasarana yang dimiliki SMPN 1 Bondowoso lengkap dan kondisinya baik, juga lapangan yang cukup luas untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran yang dilakukan di luar kelas. (c) SMP Negeri 1 Sumber Wringin terletak di kawasan pegunungan dengan suhu udara yang sangat dingin. Sarana prasana kurang lengkap namun yang tersedia dapat dikelola dengan baik oleh pihak sekolah. (d) SMP Negeri 1 Taman Krocok, terletak di Jalan Raya Taman yang merupakan daerah kaki pegunungan. Taman Krocok merupakan daerah pemekaran wilayah baru di Kabupaten Bondowoso dan dikategorikan sebagai daerah miskin dan tertinggal. (e) SMP Negeri 1 Tapen, terletak di jalan raya utama yang menghubungkan Kabupaten Bondowoso dengan Kabupaten Situbondo. Transportasi dari dan menuju sekolah cukup baik, termasuk kondisi sarana dan prasarana sekolah. Deskripsi Data Persepsi Guru Mengenai Perencanaan Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 Dari hasil angket yang diperoleh dapat dijelaskan mengenai persepsi guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran, yaitu: (1) responden setuju bahwa menganalisis keterkaitan SKL, KI, dan KD dalam menyusun perencanaan pembelajaran sangat mudah. (2) responden setuju bahwa penyusunan RPP yang sesuai dengan SKL, KI, dan KD mudah dilakukan. (3) responden setuju bahwa menganalisis dan menenentukan tujuan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar mudah untuk dilakukan. (4) responden

  3. beranggapan bahwa penyusunan RPP yang mengacu pada standar proses dan pendekatan scientific mudah dilakukan. (5) setengah responden menyatakan bahwa penyusunan RPP yang mengacu pada model pembelajaran project based learning, problem based learning, dan discovery learning mudah untuk dilakukan. (6) setengah responden menganggap bahwa penentuan metode pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam KBM sangat mudah untuk dilakukan. (7) responden setuju bahwa menentukan media pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam KBM mudah untuk dilakukan. Persepsi Guru Mengenai Materi PPKn dalam Kurikulum 2013 Dari hasil angket dapat diketahui persepsi guru mengenai materi PPKn dalam Kurikulum 2013, yaitu (1) responden setuju bahwa memahami materi, struktur, dan pola pikir keilmuan yang terdapat pada buku guru maupun buku siswa mudah untuk dilakukan. (2) responden sependapat bahwa penguasaan materi pada masing-masing bab serta materi yang berkaitan dengan bidang keilmuan lain dan penerapannya dalam kehidupan sehari- hari, mudah dilakukan. (3) responden setuju bahwa penambahan informasi yang dipandang relevan sebagai pelengkap materi pada buku siswa sangat mudah untuk dilakukan. (4) responden setuju bahwa melatih kemampuan serta keterampilan peserta didik dalam berbagi dan mengolah informasi untuk memperkaya materi PPKn yang ada di buku siswa mudah untuk dilakukan. Persepsi Guru Mengenai KBM dalam Kurikulum 2013 Dari hasil angket dapat dijabarkan persepsi guru mengenai kegiatan belajar mengajar dalam Kurikulum 2013, yaitu: (1) responden berpendapat bahwa memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana sekolah untuk mencapai keterlaksanaan tujuan pembelajaran mudah untuk dilakukan. (2) responden setuju bahwa pemanfaatan TIK sebagai sarana dalam pembelajaran PPKn mudah untuk dilakukan. (3) responden setuju bahwa penggunaan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge sangat mudah dilakukan. (4) responden setuju bahwa meningkatkan kepekaan diri terhadap potensi lingkungan yang nantinya dapat dipergunakan untuk mendukung proses pembelajaran mudah dilakukan. (5) responden setuju bahwa peningkatan komunikasi guru dengan masyarakat untuk membantu ketercapaian tujuan pembelajaran, mudah dilaksanakan. (6) responden setuju bahwa penyelenggaraan KBM di lingkungan sekolah dan masyarakat mudah dilakukan. (7) responden setuju bahwa penyajian mata pelajaran PPKn melalui tindakan dan sikap keseharian mudah dilaksanakan. (8) responden setuju bahwa penanaman nilai imtaq, akhlak mulia, estetika, dan kepercayaan diri pada peserta didik mudah untuk dilakukan. (9) responden setuju bahwa penanaman sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli di sekolah mudah untuk dilaksanakan. (10) responden setuju bahwa penanaman nilai toleransi, gotong royong, kerjasama, dan musyawarah dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar PPKn mudah dilakukan. (11) responden setuju bahwa memanfaatkan potensi keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan gender dalam menunjang KBM, mudah untuk dilakukan. (12) responden setuju bahwa pemanfaatan buku guru dan buku siswa secara optimal untuk ketercapaian tujuan pembelajaran, mudah untuk dilakukan. (13) responden setuju bahwa mengolah informasi dari media massa untuk memperkaya materi dalam buku siswa mudah untuk dilakukan. (14) responden setuju bahwa pemanfaatan internet untuk memperluas cakupan materi PPKn dalam pembelajaran mudah untuk dilakukan. (15) responden setuju bahwa pendekatan scientific pada model pembelajaran project based learning, problem based learning, dan discovery learning

  4. mudah untuk dilaksanakan dalam KBM. (16) responden setuju bahwa mendorong siswa untuk dapat berpikir secara kritis, menumbuhkan inisiatif, dan mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok sulit untuk dilakukan. (17) responden setuju bahwa pelaksanaan proses pembelajaran secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran sulit untuk dilakukan. (18) responden setuju bahwa menganalisis fenomena dan kejadian yang tampak mata dalam kaitannya dengan pelaksanaan KBM mudah untuk dilakukan. (19) responden setuju bahwa penerapan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen (mencoba) mudah untuk dilakukan. (20) responden setuju bahwa menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebuntuan dalam proses pembelajaran adalah hal yang mudah untuk dilakukan. (21) responden setuju bahwa penyediaan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik mudah untuk dilakukan. (22) responden setuju bahwa penerapan project based learning (pembelajaran berbasis proyek) pada mata pelajaran PPKn sulit untuk dilakukan. (23) responden setuju bahwa memfasilitasi, melatih, menasihati, dan menjadi perantara dalam pembelajaran berbasis proyek mudah untuk dilaksanakan. (24) responden setuju bahwa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dalam pembelajaran berbasis proyek mudah untuk dilaksanakan. (25) responden setuju bahwa mendesain perencanaan proyek, memberikan pengalaman kepada peserta didik, mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu secara kolaboratif dengan siswa sulit untuk dilakukan. (26) responden setuju bahwa penerapan problem based learning dalam Mapel PPKn mudah untuk dilakukan. (27) responden setuju bahwa mendorong peserta didik untuk dapat berperan secara aktif memecahkan masalah dalam dunia nyata, mudah untuk dilakukan. (28) responden setuju bahwa pemberian pengalaman belajar bagi siswa dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar, dan materi pembelajaran melalui metode problem based learning mudah untuk dilakukan. (29) responden setuju bahwa penerapan pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning) dalam mata pelajaran PPKn sulit untuk dilakukan. (30) responden setuju bahwa mendorong potensi siswa untuk dapat menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, membuat, dan mencipta produk baru melalui pembelajaran discovery learning sulit untuk dilakukan. (31) responden setuju bahwa bahwa mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented mudah untuk dilakukan. (32) responden setuju bahwa mendorong siswa untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan melalui pembelajaran discovery learning sulit untuk dilaksanakan. (33) responden setuju bahwa pemberian kesempatan pada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya, adalah hal yang mudah untuk dilakukan. (34) responden setuju bahwa mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri dalam kaitannya dengan pelaksanaan discovery learning mudah untuk dilakukan. (35) responden setuju bahwa penerapan materi PPKn yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa dalam kehidupan sehari-hari, adalah hal yang mudah untuk dilakukan.

  5. Persepsi Guru Mengenai Evaluasi Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 Dari hasil angket dapat diketahui persepsi guru mengenai evaluasi pembelajaran dalam Kurikulum 2013, yaitu (1) responden setuju bahwa perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar mudah untuk dilakukan. (2) responden setuju bahwa pelaksanaan penilaian autentik pada pembelajaran PPKn sulit untuk dilakukan. (3) responden menganggap bahwa penskoran dan rekapitulasi penilaian autentik pada proses dan hasil belajar sangat sulit untuk dilakukan. (4) responden setuju bahwa pelaporan penilaian, baik penilaian kinerja, portofolio, maupun proyek, sulit untuk dilakukan. Analisis Data Persepsi Guru Mengenai Perencanaan Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 Dari hasil analisis data hasil angket dapat disimpulkan: (1) persepsi guru dalam menganalisis keterkaitan antara SKL, KI, dan KD dikategorikan sangat baik. (2) persepsi guru dalam penyusunan RPP yang sesuai dengan SKL, KI, dan KD dikategorikan sangat baik. (3) persepsi guru dalam menganalisis dan menentukan tujuan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai dikategorikan sangat baik. (4) persepsi guru dalam memahami materi, struktur, dan pola pikir keilmuan yang terdapat pada buku guru maupun buku siswa dikategorikan baik. (5) persepsi guru dalam penyusunan RPP yang mengacu pada model pembelajaran project based learning, problem based learning, dan discovery learning dikategorikan baik. (6) persepsi guru dalam menentukan metode pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam KBM dikategorikan sangat baik. (7) persepsi guru dalam menentukan media pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam KBM dikategorikan sangat baik. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara umum persepsi guru mengenai perencanaan pembelajaran dalam Kurikulum 2013 sangat baik. Namun dari hasil temuan peneliti, ternyata ada beberapa orang guru yang mengalami kesulitan dalam penyusunan RPP, khususnya dalam menganalisis keterkaitan antara KI dan KD serta menjabarkan langkah-langkah pembelajaran di dalam RPP. Merujuk pada UU No. 81A Tahun 2013, seharusnya guru mampu mengembangkan RPP berdasarkan prinsip- prinsip dasar salah satunya keterkaitan dan keterpaduan antara KI dan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar juga menyesuaikan apa yang dinyatakan dalam silabus dengan kondisi di satuan pendidikan. Persepsi Guru Mengenai Materi PPKn dalam Kurikulum 2013 Dari hasil analisis data hasil angket dapat disimpulkan: (1) persepsi guru dalam memahami materi, struktur, dan pola pikir keilmuan yang terdapat pada buku guru maupun buku siswa dikategorikan sangat baik. (2) persepsi guru dalam penguasaan materi pada masing-masing bab serta materi yang berkaitan dengan bidang keilmuan lain dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dikategorikan sangat baik. (3) persepsi guru dalam memasukkan informasi yang dipandang relevan sebagai pelengkap materi pada buku siswa dikategorikan sangat baik. (4) persepsi guru dalam melatih kemampuan serta keterampilan peserta didik dalam berbagi dan mengolah informasi untuk memperkaya materi PPKn yang ada di buku siswa dikategorikan baik. Hasil analisis data persepsi guru mengenai materi Kurikulum 2013 secara umum sangat baik. Merujuk pada Permendikbud No.81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Garuda, guru dituntut untuk dapat mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD dengan

  6. mempertimbangkan: 1) potensi peserta didik; 2) relevansi dengan karakteristik daerah, 3) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik; 4) kebermanfaatan bagi peserta didik; 5) struktur keilmuan; 6) aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran; 7) relevansi dengan kebutuhan peserta didik, tuntutan lingkungan; dan 8) alokasi waktu. Persepsi Guru Mengenai KBM dalam Kurikulum 2013 Dari hasil analisis data hasil angket dapat disimpulkan: (1) persepsi guru dalam memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana sekolah untuk mencapai keterlaksanaan tujuan pembelajaran dikategorikan sangat baik. (2) persepsi guru dalam pemanfaatan TIK sebagai sarana dalam pembelajaran PPKn dikategorikan baik. (3) persepsi guru dalam penggunaan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge dikategorikan sangat baik. (4) persepsi guru dalam peningkatan kepekaan diri terhadap potensi lingkungan yang nantinya dapat dipergunakan untuk mendukung proses pembelajaran dikategorikan sangat baik. (5) persepsi guru dalam peningkatan komunikasi guru dengan masyarakat untuk membantu ketercapaian tujuan pembelajaran dikategorikan baik. (6) persepsi guru dalam penyelenggaraan KBM di lingkungan sekolah dan masyarakat, bukan hanya di ruangan kelas dikategorikan baik. (7) persepsi guru dalam penyajian mata pelajaran PPKn bukan hanya sebagai pengetahuan, tapi juga melalui tindakan dan sikap keseharian dikategorikan sangat baik. (8) persepsi guru dalam penanaman nilai imtaq, akhlak mulia, estetika, dan kepercayaan diri pada peserta didik dikategorikan baik. (9) persepsi guru dalam penanaman sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, dan santun melalui pembelajaran PPKn di sekolah dikategorikan baik. (10) persepsi guru dalam penanaman nilai toleransi, gotong royong, kerjasama, dan musyawarah dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar PPKn dikategorikan sangat baik. (11) persepsi guru dalam pemanfaatan potensi keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan gender untuk menunjang KBM dikategorikan sangat baik. (12) persepsi guru dalam pemanfaatan buku guru dan buku siswa secara optimal untuk ketercapaian tujuan pembelajaran dikategorikan sangat baik. (13) persepsi guru dalam pengolahan informasi dari media massa untuk memperkaya materi dalam buku siswa dikategorikan sangat baik. (14) persepsi guru dalam pemanfaatan internet untuk memperluas cakupan materi PPKn dalam pembelajaran dikategorikan baik. (15) persepsi guru dalam penerapan pendekatan scientific pada model pembelajaran project based learning, problem based learning, dan discovery learning dikategorikan baik. (16) persepsi guru dalam mendorong siswa untuk dapat berpikir secara kritis, menumbuhkan inisiatif, dan mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok dikategorikan baik. (17) persepsi guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dikategorikan baik. (18) persepsi guru dalam menganalisis fenomena dan kejadian yang tampak mata dalam kaitannya dengan pelaksanaan KBM dikategorikan baik. (19) persepsi guru dalam penerapan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen (mencoba) dikategorikan baik. (20) persepsi guru dalam menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebuntuan dalam proses pembelajaran dikategorikan baik (21) persepsi guru dalam memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik dikategorikan baik. (22) persepsi guru dalam penerapan

  7. project based learning (pembelajaran berbasis proyek) dalam mata pelajaran PPKn dikategorikan baik. (23) persepsi guru dalam memfasilitasi, melatih, menasihati, dan menjadi perantara pembelajaran berbasis proyek dikategorikan baik. (24) persepsi guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dalam pembelajaran berbasis proyek dikategorikan baik. (25) persepsi guru dalam mendesain perencanaan proyek, memberikan pengalaman kepada peserta didik, mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu secara kolaboratif dengan siswa dikategorikan baik. (26) persepsi guru dalam penerapan problem based learning (pembelajaran berbasis masalah) dalam mata pelajaran PPKn dikategorikan baik. (27) persepsi guru dalam mendorong peserta didik untuk dapat bekerja dalam tim dan berperan secara aktif untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata dikategorikan baik. (28) persepsi guru dalam pemberian pengalaman belajar dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran melalui metode problem based learning dikategorikan baik. (29) persepsi guru dalam penerapan discovery learning dalam mata pelajaran PPKn dikategorikan baik. (30) persepsi guru dalam mendorong potensi siswa untuk dapat menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, membuat, dan mencipta produk baru melalui pembelajaran discovery learning dikategorikan baik. (31) persepsi guru dalam mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented dikategorikan sangat baik. (32) persepsi guru dalam mendorong siswa untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mengatur bahan serta membuat kesimpulan melalui pembelajaran discovery learning dikategorikan baik. (33) persepsi guru dalam pemberian kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya dikategorikan baik. (34) persepsi guru dalam mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri dikategorikan baik. (35) persepsi guru dalam penerapan materi PPKn yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa di kehidupan sehari-hari dikategorikan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum persepsi guru mengenai KBM dalam Kurikulum 2013 dikategorikan baik. Namun dari hasil temuan peneliti ternyata dalam KBM PPKn, beberapa orang guru masih merasa kesulitan mengenai penerapan model pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran berbasis penemuan karena masih merupakan hal yang baru, sehingga perlu waktu bagi guru untuk dapat memahami serta menguasai bagaimana cara menerapkan model pembelajaran tersebut sesuai dengan yang diamanatkan oleh Kurikulum 2013. Merujuk pada pendapat Sardiman (2005), dalam hal ini guru harus dapat memancing siswa agar mampu belajar secara aktif. Penggunaan berbagai pendekatan, strategi dan metode pembelajaran secara selektif dan bergantian diharapkan dapat memenuhi tuntutan prinsip pembelajaran yang mendidik. Persepsi Guru Mengenai Evaluasi Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 Dari hasil analisis data hasil angket dapat disimpulkan: (1) persepsi guru dalam perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar dikategorikan baik. (2) persepsi guru dalam penerapan penilaian autentik pada pembelajaran PPKn dikategorikan baik. (3) persepsi guru dalam penskoran dan rekapitulasi penilaian autentik pada proses dan hasil belajar dikategorikan baik. (4) persepsi guru dalam pelaporan penilaian, baik penilaian kinerja, portofolio, maupun proyek dikategorikan kurang baik. Dari hasil penelitian di lapangan, penulis menemukan bahwa guru pada dasarnya telah memahami bagaimana cara

  8. menilai dan mengevaluasi pembelajaran namun kendala yang dialami guru di lapangan adalah aspek penilaian yang sangat banyak dan harus dilaksanakan setiap pembelajaran berlangsung. Penilaian autentik dianggap guru sukar untuk direkapitulasi dan dilaporkan. Merujuk pada pendapat Afdee (2007), kesulitan yang dialami guru dalam penilaian autentik sebagian besar dikarenakan ketidakpahaman guru mengenai asesmen autentik. Penilaian autentik seharusnya diterapkan secara kolaboratif antara siswa dan guru (Homepage Pendidikan Network diakses pada tanggal 7 Juli 2014). Hambatan dalam proses pembelajaran maupun penilaian juga dapat diatasi dengan turut berpartisipasi secara aktif dalam forum KKG dan MGMP seperti diamanatkan oleh Kemdiknas (2008). PENUTUP Kesimpulan Persepsi Guru dalam Melaksanakan Kurikulum 2013 Persepsi guru mengenai perencanaan pembelajaran dalam Kurikulum 2013 mencapai 75,71% dan dikategorikan sangat baik; persepsi guru mengenai materi PPKn dalam Kurikulum 2013 mencapai 80,625%, dikategorikan sangat baik; persepsi guru mengenai KBM dalam Kurikulum 2013 sebesar 71,07% dikategorikan baik; dan persepsi guru mengenai evaluasi pembelajaran dalam Kurikulum 2013 mencapai 55%, dikategorikan baik. Secara umum persepsi guru PPKn SMP di Kabupaten Bondowoso dalam melaksanakan Kurikulum 2013 mencapai angka 71,2% sehingga dikategorikan baik. Hambatan dan Upaya Guru dalam Mengatasi Hambatan dalam Pelaksanaan Kurikulum 2013 Hambatan yang dialami guru dalam melaksanakan Kurikulum 2013 antara lain: (a) indikator pada buku guru yang kadang tidak sesuai dengan kompetensi dasar; (b) guru merasa kesulitan untuk merancang RPP yang mengacu pada pembelajaran proyek dan pembelajaran berbasis penemuan, (c) guru kesulitan dalam menentukan media yang sesuai dengan KBM; (d) koneksi internet yang sulit dijangkau sehingga menghambat guru untuk mendapatkan informasi serta materi tambahan; (e) kurangnya dukungan masyarakat dalam penanaman sikap, tanggung jawab dan disiplin; (f) penerapan metode pembelajaran berbasis proyek dan masalah, dan penemuan terkendala waktu dan biaya; (g) kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung KBM; (h) penilaian yang dilakukan setiap hari sulit untuk direkapitulasi; (i) penilaian yang harus dibuat guru meliputi aspek yang sangat banyak dan rumit. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013, yaitu: (a) dengan melakukan diskusi/sharing antar sesama guru PPKn di tingkat Kabupaten melalui forum MGMP PPKn; (b) bertanya pada instruktur Kurikulum 2013, (c) memanfaatkan dana BOS untuk penyediaan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran, (d) bekerjasama dengan orangtua murid dalam hal penanaman nilai imtaq, akhlaq mulia, disiplin, dan sopan santun; (e) lebih membuka diri pada perubahan serta belajar dari pengalaman pribadi maupun orang lain, (f) melatih diri supaya dapat beradaptasi dengan Kurikulum 2013. Saran Saran peneliti: 1) bagi sekolah, hendaknya menyediakan alat-alat praktikum maupun sarana prasarana yang memadai untuk mempermudah proses belajar mengajar; 2) bagi guru, sebaiknya guru berpartisipasi aktif dalam forum MGMP PPKn, membangun komunikasi yang baik dengan orang tua murid dan lembaga masyarakat, meningkatkan

  9. kompetensi siswa dengan penerapan model project based learning, problem based learning, dan discovery learning dalam KBM, lebih membuka diri pada perubahan, belajar dari pengalaman pribadi maupun orang lain, dan terus melatih diri supaya dapat beradaptasi dengan Kurikulum 2013; 3) bagi pemerintah, hendaknya tetap memberikan bantuan berupa alat-alat praktikum, penambahan koleksi buku perpustakaan dan perbaikan sarana prasarana sekolah, dan terus mengadakan kegiatan pendampingan/evaluasi sepanjang pelaksanaan Kurikulum 2013. DAFTAR RUJUKAN Afdhee. 2007. Kegagalan Guru dalam Melakukan Evauasi. Artikel. Diakses dari Homepage Pendidikan Network pada tanggal 17 Pebruari 2010 Ahmadi dan Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta. Atkinson, R. 2008. Pengantar Psikologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Azzahi, Ghana Syakira. 2010. Sikap Manusia Teori Skala dan Pengukurannya. Jogjakarta: Jendela Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta Depdiknas. 2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Kewarganegaraan. Jakarta: Depdiknas Djarwanto. 1998. Statistik Nonparametrik. Jakarta: PT. Rineka Cipta Fajar, A. 2004. Portofolio dalam Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Furchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Hadi, Sutrisno. 1991. Analisa Butir untuk Instrumen Angket, Test, dan Skala Rating. Jogjakarta: Andi Offset Hanafiah, Nanang. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama Hanafie, Imam. 2007. Plus Minus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Surabaya: PT. Serba Jaya Hamid Hasan, Said. 1988. Evaluasi Kurikulum. Jakarta: P2LPTK Depdikbud Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia Irianto, Petrus. 2011. Pola Interaksi Konflik dan Reaktualisasi Pendidikan Karakter: Studi Survey Eksplanatori di Universitas http://repository.upi.edu Kemdikbud. 2013. Modul Pelatihan Kurikulum 2013. Jakarta: PSDMPK-PMP __________. 2014. Materi Pelatihan Guru. Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014. Jakarta: PSDMPK-PMP __________. 2013. Permendikbud No. 54 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan __________. 2013. Permendikbud No. 64 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan __________. 2013. Permendikbud No. 65 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud. 2013. Permendikbud No. 66 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Cenderawasih Jayapura Papua

  10. __________. 2013. Permendikbud No. 81A tentang Implementasi Kurikulum. Jakarta: Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Kemdiknas. 2008. Standar Pengembangan KKG danMGMP. Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Mar’at, Prof, Dr. 1999. Sikap Manusia, Perubahan Serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia Munandar, Utami. 1999. Kreativitas dan keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi kreatif & Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Munir, Abdul. 2005. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik. Jakarta: Departemen Agama RI Pemerintah Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta __________. 2013. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta Radar Jember. (2012). Percepatan Pembangunan di Kabupaten Bondowoso Tanggal 18 Nopember 2012 Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Metode Penelitian Komunikasi: Dilengkapi dengan Contoh Analistik Statistik. Bandung: Rosdakarya. Rochadi, Tofik, S.Pd, MPd. 2013. Kajian Kurikulum. Jogjakarta: Jendela Rusmono. 2012. Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning Itu Perlu. Bogor: Ghalia Indonesia Siagian, Sondang. 1995. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: PT Rineka Cipta Sindo. (2014). Problematika Implementasi Kurikulum 2013 Tanggal 7 Oktober 2013 Sugiaryo.(tanpa tahun). Penerapan pendidikan karakter perguruan tinggi. Jurnal ilmiah widya wacana. ejournal.unisridigilib.ac.id/index.../widyawacana Sudijono, Anas. 2000. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta ________. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Sukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya Sumarsono, S. 2004. Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Tempo. (2013). Problematika Implementasi Kurikulum 2013 Tanggal 7 Oktober 2013 Tempo. (2013). Guru Belum Siap Menerapkan Kurikulum 2013 Tanggal 26 Oktober 2013 Waidi. 2006. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher Walgito, Bimo. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Jogjakarta: Andi Offset

More Related