Advertisement
1 of / 35

Sambungan Las


Learning Outcomes. Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu :Mahasiswa dapat memilih penggunaan sambungan las struktur baja.. Outline Materi. Macam-macam lasPanjang las netto. SAMBUNGAN LAS (WELD) . PROSES PENGELASAN Las Otohin dengan gas asetelin dan zat asam (untuk

Download Presentation

Sambungan Las

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use only and may not be sold or licensed nor shared on other sites. SlideServe reserves the right to change this policy at anytime.While downloading, If for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.











- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -




Presentation Transcript


Sambungan las

Matakuliah : S0094/Teori dan Pelaksanaan Struktur Baja

Tahun : 2007

Versi : 0

Sambungan Las


Learning outcomes

Learning Outcomes

Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa

akan mampu :

  • Mahasiswa dapat memilih penggunaan sambungan las struktur baja.


Outline materi

Outline Materi

  • Macam-macam las

  • Panjang las netto


Sambungan las weld

SAMBUNGAN LAS (WELD)

PROSES PENGELASAN

  • Las Otohin dengan gas asetelin dan zat asam (untuk

    sambungan pipa, pelat-pelat tipis dan panjang las

    yang kecil).

  • Las Busur Cahaya Arang, bisa dilakukan tanpa

    tambahan bahan.

  • Las Busur Cahaya dengan kedua ujung sambungan

    sebagai pool (misal : pada mata rantai, batang baja

    beton, pipa pemanas uap).


  • Las Titik, untuk menggabungkan pelat-pelat yang agak tipis menjadi satu.

  • Las Busur Cahaya, dengan batang las / batang Elektrode (LAS LUMER / LAS LISTRIK).

    Bentuk Las :

  • Las Sudut (80% Fillet Weld)

  • Las Tumpul (Groove Weld)

    Las Sudut :

  • Las Cekung (Gbr A).

  • Las Cembung (Gbr. B).

  • Las Pipih (Gbr. C).


las cekung

a

las cembung

las pipih

a

a

Gambar 1-A

Gambar 1-B Gambar 1-C


  • Las sudut yang letaknya diujung, disebut las Kepala (K).

  • Las Sudut yang letaknya di kanan-kiri disebut Las Tepi (T).

  • Umumnya Las Sudut dibuat sama sisi.

  • Bila Las Sudut dibikin tidak sama sisi dan lebih dari satu

    lapis, maka pelaksanaannya seperti berikut :

    Gambar 1-E Gambar 1-F


s

S

Las Tumpul :

A. Tanpa Pekerjaan Pendahuluan (Pelat Tipis).

  • las satu belah (Gbr. 2-G)

  • las dua belah (Gbr.2-H)

    • = 1 s/d 4 mm

      Gambar 2-G

      Gambar 2-H

= 4 s/d 8mm


70 + 90

B. Dengan Pekerjaan Pendahuluan :

  • Las satu belah V Gbr.2-I)

    Gambar 2-I

    Las V – terbuka (hanya untuk Konstruksi yang tidak

    memikul beban dinamis)


a

b

0.5…….3

8……..20

 70

3……..28

Min. 2

Las V – terbuka

60

Las V – tertutup

- cacat

Ruang kosong – bahaya takik


70+90

  • Las dua belah, las V dengan las balik (Gbr.2-J dan Gbr.2-K)

  • Las dua belah, las X-simetris (Gbr.2-K) dan las X-tidak (Gbr.2-L)

4 - 12

S = 4 s/d 12 mm

Gbr.2-J


70 + 90

S

takik

celah (kosong)

Las X – simetris

 70

1/2 s

3

12 40

1/2 s

 70

Gambar 2-K

Gambar 2-L

S = 12 s/d 40 mm


2/3 s

3

12 30

1/3 s

Las X – tidak simetris

 70

Gbr. 2-M


Sambungan las1

Matakuliah : S0094/Teori dan Pelaksanaan Struktur Baja

Tahun : 2007

Versi : 0

Sambungan Las


Learning outcomes1

Learning Outcomes

Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa

akan mampu :

  • Mahasiswa dapat memilih penggunaan sambungan las struktur baja.


Outline materi1

Outline Materi

  • Perhitungan sambungan las


Perhitungan Sambungan Las

Perumusan Umum :

Jika tidak bertentangan dengan ke-seimbangan dari bagian-bagian kons-truksi yang disambungkan, maka gaya yang harus dipindahkan dianggap ter-bagi rata atas potongan memanjang yang terkecil dari rigi-rigi las.

Syarat-syarat Umum untuk Merencanakan

  • Dihindarkan berkumpulnya rigi-rigi las.

  • Titik berat dari potongan rigi-rigi las diletakkan pada garis

    kerja dari gaya yang dipindahkan.


  • Dihindarkan adanya perubahan mendadak dari potongan.

  • Pengelasan dalam kedudukan yang sulit agar dihindarkan.

  • Mengambil ukuran dari bagian-bagian yang hendak disambung-kan sebesar mungkin, agar penge-lasan menjadi sesedikit mungkin.

  • Pengelasan di tempat pembangun-an dibatasi.

  • Memasang las penutup pada sela-sela yang dapat kemasukan air dan menimbulkan karatan, dengan mempergunakan batang las dari bahan yang mudah mengulur. Sedangkan antara las sudut kepala dan las sudut tepi dibuatkan bentuk peralihan yang baik.

    .


  • Perhitungan harus jelas dan mudah dapat dikontrol.

    Bentuk dan ukuran dari las harus mudah dibaca dari

    gambar.

    Perhitungan

    A) Panjang Netto Las-Sudut :

    (Peraturan Tentang Sambungan Las / PPBB I Ps. 8-5).

    Tiap rigi las mempunyai tebal “a” dan panjang :

    L netto = L bruto – 3a

    Agar panjang dikedua ujung las tidak meleleh, maka panjang las dibatasi :

    L < 40 a

    L > 8 @ 10 a, atau L > 4 cm


a

I netto

kepala

kawah

I bruto

9

t

Gambar 3-A


Catatan :

Jika diperlukan panjang las > 40a, maka pengelasan harus dilakukan terputus-putus sbb :

  • Batang Tekan

    Jarak antara bagian-bagian las  16 t atau 30 cm.

  • Batang Tarik

    Jarak antara bagian-bagian las  24 t atau 30 cm.


S

1

a

S

2

t = tebal terkecil antara elemen yang dilas

B)Tebal Rigi-rigi las (a)

Dihitung berdasarkan :

  • Dalamnya pembakaran terhadap pelat-pelat yang

    disambungnya :


  • Tebal pelat yang dipegang

    “Rumus STAHL IN HOCHBALL”


Sambungan las2

Matakuliah : S0094/Teori dan Pelaksanaan Struktur Baja

Tahun : 2007

Versi : 0

Sambungan Las


Learning outcomes2

Learning Outcomes

Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa

akan mampu :

  • Mahasiswa dapat memilih penggunaan sambungan las struktur baja.


Outline materi2

Outline Materi

  • Kondisi sambungan las


C. Rumus-rumus dasar untuk penetapan kekuatan

dari pelbagai bentuk sambungan.

  • Tegangan normal yang diizinkan dalam suatu las

    disamakan dengan tegangan tarik yang diizinkan ( ) untuk St.37.

    2. Jika garis kerja dari gaya yang harus dipindahkan

    membuat satu sudut  dengan bidang dari poto-ngan yang memindahkan gaya itu, maka sesuai dengan teori-patahan dari Huber Hencky tegangan yang diizinkan dalam jurusan garis kerja ( ) diperhitungkan dengan rumus:


Dalam hal mana = dari St.37 (lihat Gbr. 3-C)

Untuk  = 0º , jadi gaya terletak dalam bidang potongan

yang memindahkan gaya,  = 0.58

Untuk  = 90º , jadi gaya terletak atas bidang potongan

yang memindahkan gaya,  = 1000


bidang potong yang

memindahkan gaya

garis kerja gaya

T

yang dipindahkan

Gambar 3 -C


a

Q

e

Q

H

V

d

P

d

V

H

e

Q

Q

a

3. Nilai dari  max

Pada Gbr.3-D terlihat bahwa gaya P membagi diri dalam

dua gaya Q yang masing-masing membagi diri lagi dalam

satu gaya V dan satu gaya H. Kedua gaya V saling hapus,

sehingga tinggal P = 2H.


Rumus :


Maka :


Dengan mengambil nilai  meningkat dengan 5º , maka

untuk nilai  = 45º sampai dengan 70º (nilai  yang praktis

masih dipakai) didapat nilai  max.


4. Rumus-rumus dasar tentang besar-nya P yang dapat dipikul oleh satu macam sambungan tertentu.