1 / 11

Indikator Kec A Kec B - Jumlah P5+ 75.000 30.000 - P5+ yg sekolah 2.250 1.200

Data: karakteristik individu, sangat sulit diinterpretasikan karena jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya [nominal, ordinal, interval] dan sifatnya [obyektif/terukur, subyektif/persepsi]

tomai
Download Presentation

Indikator Kec A Kec B - Jumlah P5+ 75.000 30.000 - P5+ yg sekolah 2.250 1.200

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Data: karakteristik individu, sangat sulit diinterpretasikan karena jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya [nominal, ordinal, interval] dan sifatnya [obyektif/terukur, subyektif/persepsi] • Statistik: penyederhanaan [summarizing] data individu ke dalam bentuk aggregasi: persentase, proporsi, rata-rata, rate, rasio, menjadi lebih mudah diinterpretasikan walaupun tidak selalu dapat memberikan gambaran besarnya permasalahan • Indikator: statistik yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran besaran permasalahan: % penduduk miskin, PDRB per kapita, % pertumbuhan ekonomi, angka kematian bayi, produksi padi per hektar, dll

  2. Indikator Kec A Kec B - Jumlah P5+ 75.000 30.000 - P5+ yg sekolah 2.250 1.200 - % P5+ yg sekolah 3,0% 4,0% • Indikator yang tepat untuk menjawabnya adalah ‘Persentase P5+ yang bersekolah’ bukan ‘Jumlah P5+ yang bersekolah’ • Pada kasus di atas, maka Kec B mempunyai partisipasi sekolah P5+ yang lebih tinggi dibanding Kec A

  3. Pengertian • Besaran/nilai yang menggambarkan/mendeteksi kecenderungan suatu fenomena/keadaan atau mengidentifikasi hubungan antara beberapa elemen • Syarat indikator yang baik • Valid, sahih, absah • Reliable, andal, terpercaya, konsisten • Sensitif, mendeteksi perubahan kecil • Spesifik, untuk permasalahan tertentu • Data tersedia, keberlanjutan monev • Tidak semua indikator yang diperlukan tersedia datanya, sehingga harus menggunakan indikator proksi

  4. Indikator Rujukan: informasi statistik tentang besaran kelompok sasaran program • Indikator Input: informasi statistik tentang besaran sumberdaya yang digunakan dalam implementasi program dan kebijakan contoh: jumlah murid, jumlah guru • Indikator Proses: informasi statistik tentang besarnya partisipasi kelompok sasaran pada impelementasi suatu program dan kebijakan contoh: ‘rata-rata jam belajar’ • Indikator Output: informasi statistik tentang hasil dari implementasi program dan kebijakan contoh: ‘persentase anak yang lulus’ - hasilkan ‘banyak anak yang diterima di pt’, manfaatnya ‘banyaknya pekerja terdidik’ dan dampak ‘produktivitas kerja’ • Indikator Outcome: informasi statistik tentang dampak dan manfaat yang diperoleh kelompok sasaran dari program/kebijakan

  5. Indikator Tunggal: statistik yang dihitung berdasarkan satu variabel, S: evaluasi program sektoral; W: eksekutif tertinggi, bupati/ walikota, memerlukan indikator lain untuk memantau kemajuan keseluruhan • satu aspek angka buta huruf, % balita diimunisasi, • multi aspek: angka kemiskinan, angka kematian bayi, status gizi , PDRB per kapita, pertumbuhan ekonomi • Indikator Komposit: statistik yang dihitung dengan formula tertentu dari beberapa indikator: IPM, IMH, IPJ, IKM, IDJ, • W: tidak dapat digunakan untuk evaluasi program spesifik, perlu beberapa angka => intertemporal dan interspatial • S: sederhana, satu angka menjelaskan pencapaian, kemajuan dari banyak aspek, untuk bupati , anggota DPRD

  6. Isu Kesehatan reproduksi ada di MDG’s: • Tujuan 4: menurunkan angka kematian balita, • Tujuan 5: meningkatkan derajat kesehatan ibu • Tujuan 6: memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya • Kesehatan reproduksi (ICPD,1994)didefinisikan: • Keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh, • Tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan • Berkaitan dengan sistem reproduksi serta fungsi dan prosesnya

  7. Kebijakan nasional mengenai kesehatan reproduksi di Indonesia menetapkan bahwa kesehatan reproduksi mencakup lima komponen/program terkait yaitu: • program kesehatan ibu dan bayi baru lahir • keluarga berencana • kesehatan reproduksi remaja • pencegahan dan penanganan penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS • kesehatan reproduksi lanjut usia Saat ini prioritas kesehatan reproduksi di Indonesia baru mencakup empat komponen/program pertama, tidak termasuk kesehatan reproduksi lanjut usia

  8. Indikator yang dicakup Kespro: • Angka Kematian Bayi/AKB (Infant Mortality Rate/IMR) • Angka Kematian Ibu/AKI (Martenal Mortality Rate/MMR) • Kunjungan pemeriksaan ibu hamil (K4) • Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (dokter, dokter ahli kebidanan dan kandungan, bidan, perawat, dan bidan di desa) • Prevalensi kontrasepsi pada PUS • Perkawinan usia dini (PUD) • Kesehatan reproduksi remaja (KRR) • Penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS • Proporsi Penduduk dengan Pengetahuan Komprehensif tentang HIV/AIDS (PPK-HIV/AIDS)

  9. Sumber Data: • Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota bersumber dari registrasi dan pelaporan seperti jumlah kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan, pemeriksaan ibu hamil (K-4), imunisasi TT, surveilans HIV/AIDS • BKKBN bersumber dari pelaporan seperti jumlah PUS, jumlah PUS yang ber-KB, prevalensi KB menurut cara/alat KB • BPS bersumber dari survei (Susenas, SDKI, Supas) dan sensus (Sensus Penduduk)

  10. Masalah utama Kespro remaja adalah • Kehamilan yang tidak dikehendaki dan biasanya diakhiri dengan aborsi tidak aman • Hamil di usia muda yang berisiko tinggi • Seks bebas yang dapat berakibat penularan IMS dan HIV/AIDS • Pelayanan Kespro remaja saat ini ditekankan pada upaya promotif dan preventif yang terfokus pada pelayanan KIE atau konseling

  11. 1. AKB/IMR: Definisi AKB/IMR adalah banyaknya kematian bayi berumur kurang dari satu tahun per seribu kelahiran hidup Rumus perhitungan: Do = Banyaknya kematian bayi di bawah usia satu tahun pada tahun tertentu B = Banyaknya kelahiran pada tahun tertentu. Contoh hasil SDKI 2007: AKB/IMR Indonesia saat ini sebesar 34 per 1.000 kelahiran, artinya dari seribu kelahiran hidup pada tahun 2003-2007 terdapat kematian 34 bayi sebelum mencapai usia satu tahun

More Related