DASAR-DASAR PEMETAAN TTS241 - 2011 - PowerPoint PPT Presentation

slide1 n.
Download
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
DASAR-DASAR PEMETAAN TTS241 - 2011 PowerPoint Presentation
Download Presentation
DASAR-DASAR PEMETAAN TTS241 - 2011

play fullscreen
1 / 106
DASAR-DASAR PEMETAAN TTS241 - 2011
411 Views
Download Presentation
tameka
Download Presentation

DASAR-DASAR PEMETAAN TTS241 - 2011

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. Universitas Katholik Parahyangan Fakultas Teknik - Jurusan Teknik Sipil DASAR-DASAR PEMETAAN TTS241 - 2011 Prof. Dr. Ir. Ishak Hanafiah Ismullah, DEA

  2. BUKU REFERENSI • Ilmu Ukur Tanah - Soetomo W • Ilmu Ukur Tanah - Jacub Rais • Introd. To Modern Photogrammetry - E. M. Mikhail • Remote Sensing & Image Interpretation - Lillesand • Surveying for Civil Engineering - P. Kissam • Surveying for construction - W. Irvine • Terrain Analysis & Remote Sensing - Townshend • Surveying Practice - P. Kissam

  3. Pengguna DATA (GE0)-SPASIAL (PETA) & PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN REAL WORLD - 1 Pengukuran/pengumpulan data Data Sumber Data masukan Tindakan REAL WORLD - 2 Manjemen Data Informasi untuk Pengambilan Keputusan Analisis Pemilihan Data & Analysis

  4. DATA dan INFORMASI DATA & INFORMASI • Data ? ‘bahan dasar’ yang diolah/ diproses sehingga menjadi suatu informasi • Informasi (mungkin saja) diproses kembali menjadi bentuk data baru untuk keperluan membuat informasi lain • Data dapat dikumpulkan, disimpan dan dimanipulasi. • Sumber data: peta, buku statistik, buku telpon, survey lapangan, komputer, dsb.

  5. KONVERSI & VISUALISASI DATA / INFORMASI TEKSTUAL KE DALAM BENTUK GRAFIK / GAMBAR (Statistik , Tabel, Buku dll)

  6. a picture means thousand words

  7. Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5°50' - 7°50' LS dan 104°48' - 104°48" BT dengan batas-batas wilayahnya sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa bagian barat dgn DKI Jakarta dan Propinsi Banten,   sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah. Terdiri atas daratan dan pulau-pulau kecil (48 Pulau di Samudera Indonesia, 4 Pulau di Laut Jawa), luas wilayah Jawa Barat 44.354,61 Km2 atau 4.435.461 Ha. • Kondisi geografis yang strategis ini merupakan keuntungan bagi daerah Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan. Kawasan utara merupakan daerah berdataran rendah, sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah. • JAWA BARAT Informasi Geografis:

  8. INFORMASI DESKRIPTIF DILENGKAPI DENGAN GAMBAR (PETA)

  9. orbit: 149,600,000 km (1.00 AU) from Sun diameter: 12,756.3 km mass: 5.972e24 kg

  10. o o 0 0 SISTEM PROYEKSI/KOORDINAT equator

  11. Yang dipakai di Indonesia o o 0 0 SISTEM PROYEKSI/KOORDINAT SISTEM PROYEKSI/KOORDINAT • Posisi suatu unsur geografik di permukaan bumi dapat dinyatakan oleh nilai lintang (latitude) dan bujur (longitude) unsur tersebut dengan unit satuan derajat. • Selain itu dapat juga dinyatakan dalam sistem proyeksi peta; mis. Mercator, Transvers Mercator, dll. equator • Indonesia menganut sistem proyeksi Tranvers Mercator (TM 6o) dengan sistem koordinat UTM (Universal Tranvers Mercator).

  12. SISTEM PROYEKSI/KOORDINAT DI INDONESIA • Dalam sistem UTM dikenal adanya sistem pembagian zona koordinat. Setiap zona mempunyai lebar 6o sepanjang garis Bujur. 114 102 108 96 120 126 132 138 UTM ZONE 47 UTM ZONE 48 UTM ZONE 49 UTM ZONE 50 UTM ZONE 51 UTM ZONE 52 UTM ZONE 53 6 6 0 0 6 6 114 102 108 96 120 126 132 138

  13. Pemetaan • Suatu pekerjaan yang tujuan akhirnya adalah visualisasi informasi : • umumnya dikenal dalam bentuk lembar peta, • disertai dengan kelengkapan ( simbol, warna, tulisan/texts, keterangan) sesuai dengan bidang aplikasinya • Teknologi pemetaan: • Terestrial, Airborne/Fotogrametri dan Spaceborne • Hasil pekerjaan pemetaan adalah dokumen statis

  14. LUAS AREA PEMETAAN • Untuk Pekerjaan Teknik Sipil umumnya luas area pemetaan • relatif kecil / sempit dibandingkan pekerjaan Tata ruang • atau Tata wilayah ( < 36 km x 36 km ), sehingga area yang • dipetakan dapat “dianggap” bidang datar. Dengan demikian • koreksi-koreksi akibat kelengkungan bimi dapat diabaikan. • Untuk wilayah yang luas, ( > 36 km x 36 km ) distori harus • diperhitungkan, baik distorsi jarak maupun arah.

  15. PETA & KARAKTERISTIK-NYA • Pemodelan (dalam bentuk gambar) Sebagian atau seluruh permukaan bumi ke dalam suatu bidang yang dipilih, misalnya bidang datar atau yg dapat didatarkan dengan skala tertentu dan sistem proyeksi dipilih. • Karakteristik/ketentuan peta: • Skala • Sistem Proyeksi/Koordinat • Sistem Penyimpanan • Sistem Visualisasi

  16. grafis 0 5 10 15 20 25 km SKALA PETA • Jarak merupakan bagian penting dalam hal hubungan spasial diantara unsur-unsur geografik. Jarak sering perlu diketahui/dihitung. • Untuk mengetahui ukuran (jarak) di peta haruslah diketahui perbandingan jarak di peta dengan jarak di lapangan (real world). • Perbandingan jarak di peta dengan jarak di lapangan didefinisikan sebagai skala peta. • perbandingan angka --- 1:100.000 • kesamaan nilai --- 1 cm sama dengan 100.000 Cm • Pada sistem digital skala ini terkait dengan resolusi yaitu “kepadatan” informasi unit satuan luas tertentu. • Meskipun pada sistem digital secara visual peta adalah scale-less, namun kulitas informasi (mis. Ketelitian geometrik) tetap terkait dengan resolusi data pada saat dilakukan pengukuran (acquisition).

  17. SISTIM PROYEKSI • Bidang Datar • Azimuthal Normal, Miring, Transversal Proyeksi ini biasanya hanya digunakan untuk wilayah kutub (selatan maupun utara)

  18. Bidang yang dapat didatarkan • - Kerucut Normal, Miring, Transversal • - Selinder Normal Miring, Transversal Proyeksi ini biasanya hanya digunakan untuk wilayah (negara) yang berlokasi di lintang tertentu

  19. Proyeksi ini umumnya digunakan untuk negara-negara di ekuator ( Normal dan Transversal)

  20. SISTIM KOORDINAT • Sistim Koordinat Cartesian • - 2 Dimensi • - 3 Dimensi Y Setiap posisi dinyatakan dalam X dan Y Contoh : P ( Xp , -Yp) 0 X P

  21. Z Y P 0 X Posisi setiap titik dinyatakan dalam X, Y dan Z Contoh : P (-Xp, Yp, Zp)

  22. b. Koordinat Polar U Setiap titik dinyatakan dalam jarak dan azimuth Contoh : P ( Sp, θp ) θp Sp P

  23. c. Koordinat Geografi P Setiap titik dinyatakan dalam Lintang dan Bujur. Contoh : P ( θp, λp ) Gr φ λ

  24. UNIT SATUAN YANG DIGUNAKAN DALAM PEMETAAN • Panjang/Jarak • - Metrik : Km, Hm, Dm, M, dm, cm, mm • - Non Metrik : Mil, Yard, Feet, Inch • 2. Sudut • - Sistim Sexagesimal, Derajat, Menit, Detik • - Sistim Centisimal, Grade, Centigrade, CcG

  25. PENGERTIAN KUADRAN 0/360 0/400 IV I 90/100 270/300 II III 180/200

  26. HITUNGAN KOORDINAT, AZIMUTH/ARAH DAN JARAK Y Q(Xq,Yq) φpq θqp Dpq P(Xp,Yp) φpq = Azimuth/arah P ke Q θqp = Azimuth/arah Q ke P Dpq = Jarak dari P ke Q P(Xp,Yp) = Koordinat ttk P Q(Xq,Yq) = Koordinat ttk Q 0 X

  27. Pemetaan • Suatu pekerjaan yang tujuan akhirnya adalah visualisasi informasi : • umumnya dikenal- dalam bentuk lembar peta, • disertai dengan kelengkapan (simbol, warna, tulisan/texts, keterangan) sesuai dengan bidang aplikasinya • Teknologi pemetaan: • terestrial, fotogrametri dan dijital • Hasil pekerjaan pemetaan adalah dokumen statis PETA TOPOGRAFI SPACE MAP (Peta hasil pencitraan satelit)

  28. Data Geografik • Data geografik adalah semua obyek atau unsur geografik (geographic features) baikyang dibawah, diatas dan di permukaan bumi. • Di peta (yang punya geo-referensi) obyek geografik diperlihatkan / digambar dalam bentuk: • Titik(untuk obyek yang memperlihatkan satu lokasi dalam ruang seperti titik kontrol geodesi, titik tinggi, kota, dsb) • Garis (untuk obyek yang bentuknya linier seperti sungai, jalan, batas administrasi, dsb) • Luas / Area (untuk obyek yang bentuknya tertutup seperti persil, kecamatan, kabupaten, dsb). • Permukaan(surface) (untuk obyek berbentuk 3 dimensi)

  29. Bentuk Penyajian Data Geografik • Negara Irak (luas/area)) • Kota Suci Mekkah (titik) • Batas administrasi negara Saudi Arabia dengan Yaman Selatan (garis) • Permukaan (bentuk 3 dimensi) Mekkah

  30. TEKNOLOGI PEMETAAN • TERESTERIAL • Pengukuran langsung ke lapangan ( In – Situ ) • - Pengukuran Jarak • - Pengukuran Sudut • - Pengukuran beda tinggi • - Pengukuran Posisi horisontal • - Pengukuran posisi vertikal (tegak ) • AIRBORNE / Pesawat Terbang • Penggunaan Foto udara sebagai data masukan, sering disebut dengan Teknologi Fotogrametri • SPACEBORNE / Pesawat Antariksa (Satelit dsb ) • Penggunaan citra satelit sebagai data masukan.

  31. TERESTERIAL • a. Pengukuran Jarak • Jarak yang digunakan dalam pemetaan /hitungan adalah • jarak mendatar, sehingga semua hasil pengukuran jarak • harus dikonversi / di-ubah menjadi jarak datar. B θ A Sab = Jarak miring Sab = Jarak mendatar

  32. Peralatan yang digunakan : -Mistar ukur (baja , kayu, plastik, fiber glass ) - Rantai ukur - Pita Ukur ( baja, plastik, ) - Teodolit ( sering disebut dgn jarak optis ) - EDM ( Electronic Distance meter/measurement ) Mana yang paling teliti ?

  33. TEODOLIT , tampak pada lensa okuler dan rambu / mistar ukur ba bt bb ba = benang atas bt = benang tengah bb = benang bawah Lensa Okuler

  34. Pengukuran jarak optis dengan Teodolit ba bt D ≈ 100 (ba – bb ) ? bb ba i p bt bb D

  35. E D M- Electronic Distence Meter / Measurement D D=½ .C . t C = Kecept. Cahaya t = Waktu yg diperlukan, pergi - pulang

  36. TEODOLIT dan Prinsip penggunaannya Sb-2 Sb-1

  37. Berbagai jenis Teodolit dan pembuatnya 1. WILD / LEICA - T0, T1, T2, T3, T4 - Total Station / Digital Teodolit 2. Sokisha / SOKIA - Th16, Th02 3. Topcon 4. Nikon 5. Zeiss 6. Kern 7. Breithaupt 8. D L L

  38. SEBELUM MELAKUKAN PENGUKURAN DENGAN TEODOLIT • Harus dipenuhi hal-hal sebagai berikut : • Sumbu I harus benar-benar tegak • Sumbu II harus benar-benar mendatar • Garis bidik harus tegak-lurus sumbu II

  39. PENGUKURAN SUDUT MENDATAR / HORISONTAL bki Sb-I β β = bka - bki bka Perputaran teropong mengelilingi sumbu I (sumbu vertikal )

  40. METODA PENGUKURAN SUDUT MENDATAR 1. REPETISI B C A Bila pengukuran pada posisi ( B ) = B Maka hasil bacaan ( LB ) akan = B + 180 P D Untuk setiap sudut selalu dilakukan pengukuran dengan posisi Biasa ( B ) dan Luar biasa ( LB )

  41. 2. REITERASI B A C Q D

  42. 3. SCHRIBER B A C R D

  43. PENGUKURAN SUDUT TEGAK - VERTKAL Z h Bila pada posisi teropong mendatar, bacaan = 90 maka yang terbaca adalah sudut Zenith = z Bila pada posisi teropong mendatar, bacaan = 0 maka yang terbaca adalah sudut tegak = h Perputaran teropong mengelilingi sumbu II - ( Sb. Horisontal )

  44. PENGUKURAN BEDA TINGGI Alat Ukur Beda Tinggi 1. Sipat Datar ( Waterpass ) 2. Teodolit ( Metoda Trigonometris ) 3. Barometer ( Metoda Barometris ) 4. GPS (Global Positioning Systems)

  45. ALAT UKUR SIPAT DATAR - WATERPASS Pada alat ukur ini, hanya ada sumbu-1 ( vertikal) Teropong mengelilingi sumbu ini