1 / 28

BUDIDAYA LABU SIAM

BUDIDAYA LABU SIAM. (sechium edule). Klasifikasi.

ronat
Download Presentation

BUDIDAYA LABU SIAM

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. BUDIDAYA LABU SIAM (sechium edule)

  2. Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)Sub Kelas : DilleniidaeOrdo : ViolalesFamili : Cucurbitaceae (suku labu-labuan)Genus : SechiumSpesies : Sechium edule (Jacq.) Sw.

  3. Karakteristik • Labu siam ( Sechium edule ) disebut juga waluh siem, labu jepan, atau labu jipang. Tanaman ini tumbuh merambat. Panjang batangnya dapat mencapai 12 m. daunnya lebar dan sedikit berbulu. Bunganya berkelamin satu, tetapi tidak mengalami kesulitan dalam proses penyerbukan karena bunga jantan dan betinanya terdapat pada satu pohon ( monoecus ). Tandan bunga jantan bertangkai panajang, berjumlah banyak dan kecil – kecil. • Sedangkan tandan bunga betina lebih bulat dan lebih besar. Buahnya berkulit tipis, berdaging tebal, bergetah, dan banyak mengandung air. bijinya tunggal dan berada di dalam buah.

  4. Syarat Tumbuh • Tanaman labu tergolong mudah ditanam. Tak heran bila wilayah tanamnya menyebar di berbagai belahan dunia, dari daerah beriklim tropis sampai subtropis. Dataran tinggi berhawa dingin maupun dataran rendah berhawa panas cocok ditanami labu. • Labu siam tumbuh dengan baik pada ketinggian 200-1.000 m dpl. Adaptasi labu terhadap perilaku cuaca juga sangat baik. Labu tak hanya mampu berantisipasi terhadap kurangnya air di musim kemarau, melainkan juga terhadap kelebihan air di musim hujan.

  5. Labu akan tumbuh optimal pada tanah yang kering, berdrainase dan aerasi baik, gembur, serta kaya bahan organik. Tanah yang cenderung asam dengan pH 5-6,5 justru disukainya. Untuk rata-rata lahan di Indonesia yang berkecenderungan asam, proses pengapuran untuk menaikkan pH bisa diabaikan.

  6. Benih dan Bibit • Pemilihan Benih Labu siam bibitnya dapat dibuat sendiri dengan cara membeli buah labu siam yang sudah tua di pasar, kemudian diperam di tempat yang lembab sampai tumbuh tunasnya. Petani labu siam lebih banyak memperoleh bibit dari sesama petani lainnya.

  7. Jumlah Benih yang Dibutuhkan • Jumlah benih yang dibutuhkan dipengaruhi oleh jarak tanam. Makin rapat jarak tanam, makin banyak benih dibutuhkan. • Cadangan benih disediakan untuk mengganti benih yang tidak baik pertumbuhannya. • Kebutuhan benih pada labu siam yang jarak tanam anjuran adalah 4 x 4 m, membutuhkan benih sebanyak 650 biji.

  8. Benih • Labu dikembangbiakkan lewat biji. Untuk labu siam dapat diperoleh bijinya dengan memetik buah yang sudah tua benar. • Kemudian diperam di tempat yang lembab hingga keluar tunasnya. Kebutuhan benih untuk labu siam 650 biji/ha, Penanaman Tanah yang sudah diolah dengan pencangkulan 2 kali hingga gembur diberi pupuk kandang. • Pupuk kandang sebaiknya ditaruh sekitar lubang tanam. Tanah tak perlu dibedeng atau gulud.

  9. Akan tetapi, perlu dibuat parit pengairan sederhana dengan menggali parit kecil di sekeliling lahan dan di antara beberapa baris tanaman. • Lubang penanaman dibuat dengan tugal. Masukkan 2-3 biji benih ke dalam lubang. Labu siam yang ditanam dengan para-para menggunakan jarak tanam 4 x 4 m dengan lubang tanamnya harus besar. Pada lubang tanam dimasukkan buah labu siam tua yang sudah bertunas. • Tutupi buah dengan tanah dan pelihara tunasnya agar tumbuh dengan baik.

  10. Pemeliharaan • Sebelum tanaman labu tumbuh merambat atau menjalar, tindakan penyiangan harus sering dilakukan. Tanah yang belum tertutup seluruhnya gampang sekali ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Tanah di sekitar batang utama tanaman perlu juga ditinggikan. • Caranya tarik tanah ke dekat batang tanaman sehingga pada pokok tanaman tanah menjadi lebih tinggi. Setelah tanaman keluar sulur-sulurnya kita perlu membuat para - para .

  11. Para - para dibuat dari bambu yang dibelah 2. Tancapkan bambu di sekitar pokok batang. Tinggi bambu dari permukaan tanah sekitar 1,5 m. Jadi bambu dipotong lebih dari itu agar bisa ditancapkan ke dalam tanah dengan kuat. • Masing-masing bambu yang dijadikan tiang rambatan disambung dengan bambu lain di bagian atasnya. Jadi, dari atas para-para terlihat seperti kotak-kotak yang saling bersambung. Tambahkan bambu-bambu lagi dalam posisi melintang dan membujur agar bidang kotak menjadi sekitar 30 x 30 cm atau 50 x 50 cm.

  12. Pengecilan bidang kotak pada atap para-para dimaksudkan agar buah labu siam dapat tumbuh sempurna dan mudah dipetik. Agar sambungannya kuat lakukan pengikatan atau pemakuan. Para-para harus dibuat sekuat mungkin karena nantinya akan menyangga buahnya yang berat. • Pemangkasan pada labu dilakukan saat tanaman berumur 3-6 minggu. Pemangkasan cabang diusahakan agar tunas menyebar dengan baik sehingga buah tumbuh merata dan banyak. Cabang tua yang tidak tumbuh memanjang lagi dipotong ujungnya agar bisa bertunas.

  13. Daun tua yang tidak produktif lagi juga dibuang. Pemupukan Kebutuhan pupuk kandang ialah 5 kg per lubang tanam. Selain itu tambahkan NPK sebanyak 100 g/lubang atau 60-100 kg/ha. Pemberiannya dilakukan pada awal penanaman. Pupuk ini dibenamkan dekat batang pokok.

  14. Hama • Hama ulat grayak (Spodoptera litura / Prodenia litura) • Gejala • Serangan terjadi pada malam hari, daun tanaman bisa ludas tak terselamatkan lagi. Keesokan harinya hanya tinggal tanaman yang rusak, sedangkan hamanya tersembunyi di dalam tanah. • Penyebab • Penyebab kerusakan daun tersebut adalah ulat grayak atau Spodo lutira. Ulat ini termasuk keluarga Noctuidae. Hama ini bersifat pilofag ( makan bermacam – macam famili tanaman ). Ulat dan ngengat ulat grayak hanya keluar pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari.

  15. Pengendalian a. Diberantas secara mekanis Telur yang ada dan yang baru menetas diambil bersama – sama dengan daun tempat menempelnya. Pengambilan ini jangan sampai terlambat sebab apabila ulat telah besar, akan bersembunyi di dalam tanah. b. Diberantas secara biologis Disemprot dengan Bacillus thungiriensis atau Borrelinasvirus litura.

  16. c. Diberantas secara kimia Disemprot dengan insektisida, misalnya Azodrin, sedini mungkin sebelum ulat bersembunyi di dalam tanah. Dosisnya 2 cc/l air. d. Pembersihan gulma supaya tidak menjadi tempat berkembang biak dan bersembunyi ngengat dan ulat.

  17. Kumbang Aulacophora silimis • Gejala • Tanaman layu karena jaringan akarnya dimakan larva dan daunnya dimakan kumbang. • Penyebab • Gejala tersebut disebabkan oleh kumbang Aulacophora silimis. • Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida yang bersifat racun perut dan sistemik, misalnya Curacron 500 EC. Pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan gropyokan ( dengan menangkapi kumbang yang sedang menyerang ).

  18. Penyakit • Penyakit embun bulu ( downy mildew ) • Gejala • Gejala penyakit dapat lokal atau sistemik. Serangan pada daun menampakkan gejala bercak – bercak kuning, lalu berubah warna menjadi cokelat kemerahan, dan akhirnya tanaman mati. Jika tanaman tidak mati, maka buah yang terbentuk tidak normal, rasanya hambar dan aromanya tidak ada. • Penyebab • Gejala tersebut disebabkan oleh cendawan Pseudoporonospora cubensis. Penyebaran cendawan ini melalui spora yang disebarkan oleh angin pada keadaan cuaca kering. Setelah ada embun, spora berkecambah pada daun.

  19. Pengendalian a. Pemangkasan dan pembakaran tanaman yang sakit b. Penanaman varietas yang resisten c. Disemprot dengan fungisida, misalnya Benlate berdosis 2 g/l air, dengan frekuensi penyemprotan 3-5 hari sekali pada musim hujan dan 10-14 hari sekali pada musim kemarau. d. Mengadakan pergiliran tanaman.

  20. Penyakit virus • Gejala • Gejala serangan tampak jelas pada daun – daun muda. Penyakit ini menyerang semua stadium tumbuh. Bibit tanaman yang terserang biasanya tidak dapat tumbuh normal. Tanaman dewasa yang terserang kadang – kadang dapat mengalami penyembuhan ( tergantung kondisi tanaman ). Jika tidak sembuh, buah yang terbentuk tidak akan normal. • Penyebab • Penyebab gejala tersebut adalah cucumber misaic virus ( CMV ).

  21. Pengendalian • Pengendalian dilakukan dengan cara memusnahkan tanaman yang terserang, memberantas vektor virus ( serangga ), menyeleksi bibit yang akan dipindahkan ke lapang dan pemupukan yang seimbang agar kondisi tanaman lebih baik.

  22. Panen • Umur panen • Umur panen labu siam bervariasi, tergantung jenis, tingkat kesuburan dan tujuan penanaman. Ada jenis – jenis labu siam yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang. Tingkat kesuburan tanah sangat mempengaruhi umur panen. Pada tanah yang subur, kecepatan pertumbuhan generatif akan terangsang sehingga pembentukan buah pun berlangsung lebih cepat. Berdasarkan tujuan penanamannya juga bisa menyebabkan perbedaan waktu panen. Untuk tanaman labu siam buah, umur panennya 4 bulan setelah tanam.

  23. Sedangkan labu siam pucuk, umur panennya relatif lebih pendek dibanding labu buah, yaitu sekitar 3-4 bulan. • Labu buah yang siap dipanen mempunyai berat sekitar 0,5 kg. jadi, ukurannya bisa diperkirakan untuk berat sebesar itu. Warna labu yang sudah tua biasanya hijau muda kekuning – kuningan. Sedangkan labu siam pucuk tanda siap panennya cukup mudah, yaitu ketika berumur 3-4 bulan.

  24. Cara pemanenan • Buah labu siam yang telah cukup umur dipetik, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Untuk menjaga kualitas, buah labu yang dipanen jangan sampai jatuh karena dapat menyebabkan cacat atau luka. Perlu diketahui bahwa buah labu siam yang sudah masak mudah jatuh. Di samping itu posisi buahnya berdempetan dengan jumlah 3-5. • Karena pemetikan labu di atas sedangkan karung di bawah, sebaiknya pada saat pemetikan perlu tempat sementara sebelum masuk ke karung besar.

More Related