1 / 17

ARIS MUNANDAR Dampak ekowisata lingkungan,

METODE PEMANTAUAN PROGRAM EKOWISATA Hand-out kuliah Kebijakan dan Pengelolaan Ekowisata, PS PSL IPB, Bogor, April 200 8. ARIS MUNANDAR Dampak ekowisata lingkungan, pengalaman ( experiential or psychological impacts ), pengunjung ekonomi, sosio-kultural

rane
Download Presentation

ARIS MUNANDAR Dampak ekowisata lingkungan,

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. METODE PEMANTAUAN PROGRAM EKOWISATAHand-out kuliah Kebijakan dan Pengelolaan Ekowisata, PS PSL IPB, Bogor, April 2008 ARIS MUNANDAR Dampak ekowisata lingkungan, pengalaman (experiential or psychological impacts), pengunjung ekonomi, sosio-kultural managerial (or infrastructural impact). Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  2. Langkah pembangunan sistem monitoring • Pembentukan SC (pengelola area terlindungi, pengelola ekowisata, LSM lokal dan perwakilan warga) • Proses pendidikan penghuni/warga tentang dampak ekowisata dan pelibatan warga dalam proses monitoring • Proses mengidentifikasi dampak dan indikator yang akan dimonitor • Proses menyeleksi metode pengukuran • Mendidentifikasi LAC dan berbagai tools monitoring lainnya dengan masukan dari stakeholders • Mengembangkan operational monitoring plan • Melatih staff, manajemen dan perwakilan warga tentang teknik, analisis data dan mempengaruhi perubahan-perubahan pengelolaan • Melaksanakan monitoring dan memeriksa data • Mempresentasikan hasil monitoring kepada stakeholders • Mengevaluasi program-program monitoring dan membangun jaringan kerjasama (outreach) Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  3. Key issues (Brandon, 1996): • Commodification of culture – can cause peoples to “stage authenticity” and thereby impede or arrest natural cultural evolution • Change in social structure – can include increases in crime and alcoholism, fracturing of relationships, and changes in individual roles and responsibilities • Cultural knowledge – can include a loss of traditional knowledge, skills and religious practices • Use of cultural property – can affect historical and archaeological property, religious sites and significant natural features. Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  4. Characteristic and values (Bruner, 1993): • Management issues - legitimacy, who and how • Amount of input of villagers in the development of the sanctuary • Level of communication between local people and the NGO(s) involved • Level of compensation from economic, aesthetic and service sources • Attitudes towards tourism development • International recognition/pride • Conservation attitudes/knowledge • Economic status/land use Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  5. Kriteria penilaian (review Farrell dan Marion, 2002) • Mudah, cepat, tidak mahal dan cost-effectiveuntuk diimplementasikan • Mampu menilai secara berhasil dengan dampak pengunjung minimum • Mempertimbangkan berbagai penyebab atau sumber dampak • Memfasilitasi pemilihan sejumlah variasi tindakan manajemen • Menghasilkan keputusan mampu melindungi (defensible decisions) • Memisahkan antara informasi teknis denganvalue judgments; • Meng-encourage keterlibatan masyarakat, shared learning, dan pembentukan konsensus • Menginkorporasi penggunaan sumberdaya lokal dengan issu-issu manajemen sumberdaya. Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  6. Metode: • Recreation Opportunity Spectrum (ROS) (Clark and Stankey, 1979); • Limits of Acceptable Change (LAC) (Stankey and McCool, 1972; Stankey et al., 1985, McCool and Stankey, 1992); • Visitor Impact Management (VIM) (Graefe et al, 1990; Loomis and Graefe, 1992; • Visitor Experience and Resource Protection (VERP) (Hof et al, 1993; NPS, 1995); • Tourism Optimization Management Model (TOMM) (Manidis, 1997), Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  7. ROS • Mengintegrasikan dan mengkoordinasikan aktivitas rekreasi secara spatial dan temporal dengan penggunaan sumberdaya dan kegiatan-kegiatan manajemen ~ recreational landscape classification system (recreational LCS) • Konsep ROS diperbaiki dengan sistem baru “micro-ROS” (Parkin et al., 2000) • Keunggulan sistem baru: • Menghargai atau menganggap sama penting area-area kecil atau recreation nodes dari suatu setting rekreasi dengan area rekreasi yang luas dalam hal penyediaan peluang-peluang (opportunities) rekreasi Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  8. LCS recreation opportunities • Partisipasi dalam akktivitas yang diinginkan atau disukai • Penggunaan setting (range-nya sangat luas: dari ekosistem yang alami hingga urban)yang spesifik • Pencapaian atau perolehan recreational experience • Penilaian dilakukan secara numerik (skala, misalnya 1-9) terhadap descriptor biofisik, kelas sosial dan managerial. Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  9. LAC • LAC lama: issue drive • LAC baru: goal drive • Basis penilaian: • Carrying capacity ~ seringkali disinsentif • Goals • Kondisi yang diinginkan Dalam LAC baru goals dan kondisi yang diinginkan di-defined terlebih dahulu dan di-forced sebagai mandat legal dan kebijakan untuk menjadi guide pihak manajemen untuk mengelola dan menyeimbangkan: signifikansi area, keunikan dan niche wisata secara nasional maupun internasional Langkah: 1. Menetapkan goals Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  10. Contoh goals LAC baru untuk wilderness Broad goals: • Preservasi kondisi alam • Memelihara outstanding opportunities untuk solitude • Menghindari restriksi akses • Freedom of behavior Goals spesifik untuk remote wilderness: • Proteksi unique wildlife population • Peluang mendapatkan pengalaman yang menantang • Sense of remoteness Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  11. Goals spesifik untuk small wilderness (dekat kawasan urban) • Peluang akses bagi masyarakat urban • Preservasi spesies langka Penetapan goals perlu dibantu dengan: • Identifikasi indikator • Identifikasi dan implementasi manajemen strategik • Petunjuk/pedoman pengelolaan jika kondisi yang terjadi lebih buruk atau lebih bai • Identifikasi issue, concern, ancaman dan potential barrier untuk mencapai goals yang telah ditetapkan Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  12. Diadakan penilaian, konflikkah? • Kemukakan rasionalnya jika konflik • Mendefinisikan dan mendeskripsikan kelas-kelas peluang: • Wilderness zone • Ultimate zone • Menyeleksi indikator • Terutama indikator output seperti pengalaman (LAC baru), input seperti level penggunaan (LAC lama) • Sebaiknya kuantitatif, jelas, tidak ambiguous dan harus didasarkan pada keilmuan yang relevan • Menspesifikasi standar • Acceptable condition • Tindakan jika standar dilanggar Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  13. Prinsip non-degradation  betul-betul memprotek • Berbasis ilmu pengetahuan dalam menspesifikasi standar spt trampling effect • Perlu dipelajari apakah perubahan standar akan menciptakan solusi atau masalah • Identifikasi management action • Bagaimana membawa lingkungan managejemen agar standar comply thd goals, bukan sekedar listing dari berbagai tindakan manajemen • Implementasi aksi dan monitoring • Masalah dalam implementasi • Kelemahan dalam institutional support Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  14. Perubahan paradigma • Kompromi goals yang mungkin konflik • Lebih berorientasi proses dibandingkan produk • Iteratif, tidak linear Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  15. VIM • Berbeda dengan metode yang berbasis carrying capacity (misal LAC) • Tidak menekankan penggunaan treshold tetapi lebih kepada pemanfaatan expert panel untuk me-review dampak, mengevaluasi efektivitas tindakan manajemen sebelumnya, mempertimbangkan banyak ukuran alternatif dan merekomendasikan potential action • Terdapat dokumentasi tentang hasil-hasil analisis seperti acceptability impact dsb. • Peran publik sangat besar • Dapat menghindari historical trend suatu ekstraksi sumberdaya lokal Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  16. VERP • Berbasis outstandingly remarkable values (ORV) • Karakteristik: ilmiah, berorientasi pemandangan, rekreatif, biologik, kultural, geologik dan hidrologik • Aktivitas perencanaan meliputi: • Membentuk core planning team • Mengembangkan strategi untuk melibatkan masyarakat • Mendefinisikan desired condition • Mengaplikasikan prescriptive management zoning • Aktivitas manajemen operasi: • Mengembangkan indikator dan standar kualitas (Bacon et al., 2006) • Memantapkan program monitoring • Meneruskan usaha kerjasama (outreach) dengan publik • Menentukan alternatif strategi action manajemen Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

  17. TOMM • Berbeda dengan LAC dan VIM • Fokus pada outcome yang optimal dan sustainable bagi turis dan komuniti, pendekatan terpadu dalam manajemen dan mengatasi pembatas pertumbuhan ekowisata dengan (Twyford et al., 2001) • Menghindari term dampak dan limit yang seringkali men-discourage pertumbuhan • Lebih holistik, bukan semata-mata komponen ekologi dan pasar • Menyediakan kesempatan keterlibatan stakeholders melalui pendekatan partnership dan membumikan sistem dalam komuniti • Melayani multitude stakeholders, dan beroperasi pada range yang luas (dari protected area hingga lahan milik swasta) Munandar, A (2008) Kebijakan & Pengelolaan Ekowisata PSL IPB

More Related