1 / 60

Manajemen Pendidikan

Manajemen Pendidikan. Badarudin, S.Pd. Pengertian Manajemen.

nasya
Download Presentation

Manajemen Pendidikan

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Manajemen Pendidikan Badarudin, S.Pd.

  2. Pengertian Manajemen suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang di dalam pelaksanaannya dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menonjolkan kekhasan atau gaya manajer dalam mendayagunakan kemampuan orang lain

  3. Pengertian Manajemen • manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian • manajemen sebagai proses • manajemen sebagai seni

  4. Pengertian Manajemen Dubrin (1990:5) memandang manajemen dari tiga definisi yaitu • manajemen sebagai disiplin ilmu, • manajemen sebagai kumpulan orang-orang yang berkemampuan memanej, dan • manajemen sebagai karier yang menawarkan peluang karier

  5. Tujuan Manajemen Kualitas menunjukkan kepada suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan atau dikenakan kepada barang (products) dan/atau jasa (services) tertentu berdasarkan pertimbangen objektif atas bobot dan/atau kinerjanya (Pfeffer end Coote, 1991).

  6. Tujuan Manajemen Efektivitas adalah ukuran keberhasilan tujuan organisasi. Etzioni (1964:187) mengatakan bahwa “keefektifan adalah derajat dimana organisasi mencapai tujuannya atau menurut Sergiovani (1987:33) yaitu, “kesesuaian hasil yang dicapai organisasi dengan tujuan”.

  7. Tujuan Manajemen Efektifitas dapat juga ditelaah dari : (1) masukan yang merata; (2) keluaran yang banyak dan bermutu tinggi; (3) ilmu dan keluaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun; (4) pendapatan tamatan yang memadai (Engkoswara, 1987).

  8. Tujuan Manajemen Efisiensi berkaitan dengan cara yaitu membuat sesuatu dengan betul (doing things right) sementara efektivitas adalah menyangkut tujuan (doing the right things) atau efektifitas adalah perbandingan antara rencana dengan tujuan yang dicapai, efisiensi lebih ditekankan pada perbandingan antara input/sumber daya dengan output.

  9. Tujuan Manajemen Suatu kegiatan dikatakan efisien bila tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan atau pemakaian sumber daya yang minimal. Efisiensi pendidikan adalah bagaimana tujuan itu dicapai dengan memiliki tingkat efisiensi waktu, biaya, tenaga dan sarana

  10. Tujuan Manajemen Produktivitas adalah perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber yang dipergunakan (input). Produktivitas dapat dinyatakan secara kuantitas maupun kualitas. Kuantitas output berupa jumlah tamatan dan kuantitas input berupa jumah tenaga kerja dan sumberdaya selebihnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan, dsb.).

  11. Pengertian Pendidikan Pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara

  12. Manajemen Pendidikan suatu penataan bidang garapan pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, pembinaan, pengkoordinasian, pengkomunikasian, pemotivasian, penganggaran, pengendalian, pengawasan, penilaian dan pelaporan secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan secara berkualitas.

  13. Manajemen Pendidikan Sistem Pendidikan memiliki garapan dasar yang dikembangkan, diantaranya terdiri dari: • bidang garapan peserta didik • bidang garapan tenaga kependidikan • bidang garapan kurikulum • bidang garapan sarana prasarana • bidang garapan keuangan • bidang garapan kemitraan dengan masyarakat • bidang garapan bimbingan dan pelayanan khusus.

  14. Pertama, terwujudnya suasana belajar dan proses Pembelajaran yang Aktif, Inovative, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM); Kedua, terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara; Ketiga, terpenuhinya kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan (tertunjangnya kompetensi profesional sebagai pendidik dan tenaga kependidikan sebagai manajer); Tujuan Manajemen Pendidikan

  15. Keempat, tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien; • Kelima, terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer pendidikan atau konsultan manajemen pendidikan); • Keenam, teratasinya masalah mutu pendidikan.(Husaini, 2006:8)

  16. ORGANISASI PENDIDIKAN DASAR Organisasi pendidikan dasar mengikuti paradigma baru sesuai tuntutan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang substansinya merupakan legitimasi pemerintah daerah dalam otonomi pemerintahan, berupa penyerahan kewenangan pemerintahan pusat kepada daerah dalam mengatur rumah tangga sesuai dengan aspirasi masyarakat dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia

  17. ORGANISASI PENDIDIKAN DASAR Dekonsentrasi: berarti pemerintah pusat memindahkan wewenang untuk melaksanakan peraturan-peraturan kepada daerah tetapi daerah tidak dapat membuat peraturan-peraturan. Delegasi; berarti pemerintah pusat memberikan wewenang melaksanakan peraturan-peraturan kepada daerah yang sewaktu-waktu dapat ditarik kembali

  18. ORGANISASI PENDIDIKAN DASAR Devolusi; berarti ada wewenang untuk menjalankan peraturan-peraturan yang diberikan kembali oleh pemerintah pusat kepada daerah yang sebelumnya telah ditarik. Privatisasi; adalah wewenang pemerintah pusat diberikan kepada swasta atau penswastaan usaha-usaha yang semula menjadi wewenang pemerintah (McGinn, 1999).

  19. ORGANISASI PENDIDIKAN DASAR Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 052/O/2001, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pendidikan Nasional sbb : • Tingkat Kementerian • Tingkat Propinsi • Tingkat Kabupaten/Kota • Tingkat Kecamatan • Sekolah/Penyelenggaraan Pendidikan

  20. ORGANISASI PENDIDIKAN DASAR Pada tingkat kementerian tugasnya bersifat koordinatif, konsultatif yang melaksanakan koordinasi, Integrasi dan sinkronisasi penanganan pendidikan baik dengan instansi vertikal maupun horizontal. Menteri membawahi Inspektur Jendral, Badan Penelitian Dan Pengembangan dan Sekretariat Jendral selain dibantu oleh Staf Akhli Menteri. (Sumber:http://www.depdiknas.go.id/inlink.php?to=struktur).

  21. ORGANISASI PENDIDIKAN DASAR Ditingkatsekolah, telahdiberlakukanimplementasidesentralisasimelaluipenerapanmanajemenberbasissekolah(school based management). School-based management (SBM) merupakanbentukalternatifsekolahdalam program desentralisasibidangpendidikan, yang ditandaiadanyaotonomiluas di tingkatsekolah, partisipasimasyarakat yang tinggi, dandalamkerangkakebijakankebijakanpendidikannasional, (Worlbank, DepdiknasdanBappenas, 1999)

  22. ORGANISASI PENDIDIKAN DASAR ManajemenBerbasisSekolah merupakanpendekatanpolitik yang bertujuanuntukmemberikankekuasaandanmeningkatkanpartisipasisekolahdalamupayaperbaikankinerjanya yang mencakup guru, siswa orang tuasiswadanmasyarakat. Nanang Fattah (2003)

  23. INDIKATOR EFEKTIFITAS MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR Douglas (1963:13-17) merumuskan prinsip­prinsip manajemen pendidikan sebagai berikut: • memprioritaskan tujuan di atas kepentingan pribadi dan kepentingan mekanisme kerja • mengkoordinasikan wewenang dan tanggung jawab • memberikan tanggung jawab pada personil sekolah hendaknya sesuai dengan sifat-sifat dan kemampuannya • mengenal secara baik faktor-faktor psikologis manusia • relatifitas nilai-nilai

  24. CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF 1. Tujuan sekolah dinyatakan secara jelas dan spesifik • Tujuan sekolah : •  Dinyatakan secara jelas •  Digunakan untuk mengambil keputusan • Dipahami oleh guru, staf dan siswa

  25. CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF 2. Pelaksanaankepemimpinan pendidikan yang kuat oleh kepala sekolah Kepala sekolah:  Bisa dihubungi dengan mudah  Bersikap responsif kepada guru dan siswa > Responsif kepada orang tua dan masyarakat  Melaksanakan kepemimpinan yangberfokus kepadapembelajaran

  26. CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF 3. Ekspektasi guru dan staf tinggi Guru dan staf :  Yakin bahwa semua siswa bisa belajar dan berprestasi  Menekankanpadahasilakademis Memandanggurusebagaipenentuterpentingbagikeberhasilansiswa

  27. CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF 4. Ada kerjasamakemitraanantarasekolah, orang tuadanmasyarakat Sekolah : Komunikasisecarapositifdengan orang tua Memeliharajaringansertadukungan orang tuadan masyarakat Berbagitanggungjawabuntukmenegakkandisiplindan mempertahankankeberhasilan, Menghadiriacara-acarapenting di sekolah

  28. CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF 5. Adanyaiklim yang positifdankondusifbagisiswauntukbelajar Sekolah : Rapi, bersih, danamansecarafisik Dipeliharasecarabaik Memberipenghargaankepada yang berprestasi Memberipenguatanterhadapperilakupositifsiswa Siswa : Menaatiaturansekolahdanaturanpemerintahdaerah Menjalankantugas/kewajibantepatwaktu

  29. CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF 6. Kemajuansiswaseringdimonitor Guru memberisiswa : Tugasyang tepat Umpanbaliksecaracepat/segera Kemampuanberpartisipasi di kelassecara optimal Penilaianhasilbelajardariberbagaisegi

  30. CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF 7. Menekankankepadakeberhasilansiwadalammencapaiketerampilanaktivitasyangesensial Siswa : Melakukanhalterbaikuntukmencapaihasilbelajar yang optimal, baikyangbersifatakademismaupunnonakademis Memperolehketerampilan yang esensial Kepalasekolah : Menunjukankomitmendanmendukung program keterampilanesensial Guru : Menerimabahanyangmemadaiuntukmengajarkanketerampilanyang esensial

  31. CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF 8. Komitmen yang tinggidari SDM sekolahterhadap program pendidikan Guru : Membantumerumuskandanmelaksanakantujuanpengembangansekolah Staf :  Memperkuatdanmendukungkebijakansekolahdenganpemerintahdaerah Menunjukkanprofesionalismedalambekerja

  32. DasarHukumTerkait • KURIKULUM MEMENUHI SI (PERMENDIKNAS NO. 22/2006) MEMENUHI SKL (PERMENDIKNAS NO. 23/2006) SISTEM ADM AKADEMIK BERBASIS TIK • PROSES PEMBELAJARAN MEMENUHI STANDAR PROSES (PERMENDIKNAS NO. 41/2007) MENERAPKAN PEMBELAJARAN BERBASIS TIK • PENILAIAN MEMENUHI STANDAR PENILAIAN (PERMENDIKNAS NO. 20/2007) DIPERKAYA DENGAN MODEL PENILAIAN PADA SEKOLAH UNGGUL DI NEGARA MAJU • PENDIDIK MEMENUHI STANDAR PENDIDIK (PERMENDIKNAS NO. 16/2007) SEMUA GURU MAMPU MEMFASILITASI PEMBELAJARAN BERBASIS TIK

  33. TENAGA KEPENDIDIKAN MEMENUHI STANDAR TENDIK (PERMENDIKNAS NO. 13/2007) – STANDAR KASEK • SARANA DAN PRASARANA MEMENUHI STANDAR SARANA DAN PRASARANA (PERMENDIKNAS NO. 24/2007) SETIAP RUANG KELAS DILENGKAPI DENGAN SARANA PEMBELAJARAN BERBASIS TIK MEMILIKI PERPUSTAKAAN DIGITAL • PENGELOLAAN MEMENUHI STANDAR PENGELOLAAN (PERMENDIKNAS NO. 19/2007) • PEMBIAYAAN PP NO. 48 TAHUN 2008 – PENDANAAN PENDIDIKAN:

  34. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) Badarudin, S.Pd.

  35. MBS? SUATU BENTUK UPAYA PEMBERDAYAAN SEKOLAH DAN LINGKUNGANNYA UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH YANG MANDIRI DAN EFEKTIF MELALUI OPTIMALISASI PERAN DAN FUNGSI SEKOLAH SESUAI DENGAN VISI DAN MISI YANG TEAH DITETAPKAN BERSAMA. DIARAHKAN PADA PENINGKATANKUALITAS PEMBELAJARANDENGAN MENDAYAGUNAKAN SEGALA SUMBER YANG ADA DI LINGKUNGAN SEKOLAH

  36. MENGAPA MBS PERLU DIRINTIS DAN DIKEMBANGKAN • SelarasdenganKebijakanOtonomi Daerah dan DesentralisasiPendidikan • KondisiSekolahyangUnikBerbeda-beda / Bervariasi, yangMenyebabkansetiapSekolahMempunyaiKebutuhandan PermasalahannyaSendiri. • LingkunganSosialBudayayangBervariasi • Keputusan-keputusanKongkretHarusDiambilolehKepalaSekolah, Guru dan MasyarakatSetempat

  37. SIAPA SAJA YANG HARUS BERPERAN DALAM MBS • Pihak-pihak yang diharapkanBerperandalampelaksanaan MBS ataulazimdisebut STAKEHOLDER antara lain : SEMUA WARGA SEKOLAH ORANGTUA SISWA / WALIMURID TOKOH MASYARAKAT, KOMITE SEKOLAH DUNIA USAHA DAN DUNIA INDUSTRI PEMERINTAH , TOKOH PENDIDIKAN, DAN BIROKRASI DALAM KOORDINASI DAN KEPUTUSAN KEPALA SEKOLAH

  38. Tujuan MBS Meningkatkan mutu pembelajaran yang mengarah pada peningkatan mutu output / tamatan yang berkarakter, cerdas dan terampil. Meningkatkan tanggungjawab dan kinerja sekolah untuk menggali potensi dan mengatasi permasalahannya sendiri. Meningkatkan pertanggungjawaban sekolah terhadap masyarakat, orangtua dan pemerintah.

  39. Tujuan MBS Memberdayakan segenap potensi yang ada di sekolah dan lingkungannya Membangun masyarakat yang peduli terhadap pendidikan serta memotivasi untuk berpartisipasi secara aktif mulai dari perencanaan,pelaksanaan,pengawasandan evaluasi sampai ikut bertanggungjawab terhadap hasil pendidikan di wilayahnya.

  40. Prinsip - Prinsip MBS Akuntabel Kemandirian Sekolah Keterbukaan (transparan) Kebersamaan dan Kekeluargaan Pemberdayaan (empowerment) Berorientasi pada Mutu

  41. Komponen MBS l Manajemen Pembelajaran MUTU Peran Serta Masy.

  42. CIRI KHAS MBS • Banyakkeputusan yang diambilkepalasekolahbersamawargasekolahlainnya • Lingkungansekolah yang partisipatif • Komitmen yang tinggiolehwargasekolahuntukmengembangkandanmeningkatkanmutusekolah • Adanyaotonomisekolah yang fleksibel, danresponsif • Rapidanlengkaptataadministrasinya, sertarapifisikdanlingkungansekolahnya

  43. Mulaimelaksanakan MBSmulaidarisekolah • KepalaSekolahbersamawargasekolahlainnyamerenung, refleksi, kontemplasi • Apakekurangan,kelemahan, kelebihandanpotensisekolah • Menetapkankeinginan / mimpisederhana yang paling mungkindilaksanakan • Disampaikanpadapihakterkaituntukmendapatdukungandariberbagaiaspek • Mulaimelaksanakankeinginan / rencana

  44. INDIKASI MBSBERKELANJUTAN Jika KERANGKA, POLA PIKIR DAN PELAKSANAAN MBS TELAH MENJADI KEBIASAAN DAN MEMBUDAYAPADA MASYARAKAT SETEMPAT, SECARA TERUS MENERUS, TURUN TEMURUN, DAN MAKIN LAMA MAKIN SEMPURNA SERTA MEMPENGARUHI SEGALA SEGI KEHIDUPAN DALAM MASYARAKAT SETEMPAT

  45. PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MANAJEMEN Badarudin, S.Pd.

  46. LATAR BELAKANG • Dalam manajemen sekolah, khususnya melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapatdengansuburmemfasilitasisiswadanwargasekolahpadaumumnyamenginternalisasikarakter yang baik. • Keterbukaan, tanggungjawab, kerjasama, partisipasi, dan mandiri merupakan nilai-nilai dalam manajemen sekolah yang memandu kepala sekolah dalam mengelola sekolah yang bernuansa pendidikan karakter, baik bagi kepala sekolah sendiri, para guru karyawan dan para siswa di sekolah, juga bagi para stakeholder sekolah yang bersangkutan.

  47. TUJUAN • Merencanakan, melaksanakan dan melakukan pengawasan terhadap seluruh program sekolah dijiwai oleh nilai-nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan nilai-nilai kebangsaan. • Mengelola komponen dalam persekolahan yang tercakup dalam standar nasional pendidikan dijiwai oleh nilai-nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan nilai-nilai kebangsaan. • Memadukan nilai-nilai karakter dalam manajemen berbasis sekolah seperti kemandirian, kerjasama, partisipasi, transparansi dan akuntabilitas dan sebagainya dengan nilai-nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan nilai-nilai kebangsaan.

  48. PENGERTIAN • Manajemen adalah pemanfaatan dan pemberdayaan seluruh sumber daya (sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya), melalui suatu proses dan pendekatan dalam rangka mencapai tujuan secara efisien dan efektif. • Manajemen sekolah yang berkarakter baik (mengandung nilai-nilai karakter) adalah pemanfaatan dan pemberdayaan seluruh sumber daya yang dimiliki sekolah, melalui proses dan pendekatan dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien, berdasarkan dan mencerminkan nilai-nilai dan norma-norma yang luhur, baik terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama, bangsa maupun lingkungan.

  49. Prinsip-prinsip Implementasi Manajemen Sekolah yang Berkarakter • Kejelasan tugas dan pertanggungjawaban • Pembagian kerja berdasarkan the right man on the right place • Kesatuan arah kebijakan • Keteraturan • Disiplin • Keadilan (Keseimbangan) • Inisiatif • Semangat kebersamaan • Sinergis • Keikhlasan

  50. Implementasi manajemen sekolah yang terpadu dengan nilai-nilai karakter • Implementasi manajemen sekolah yang terpadu dengan nilai-nilai berkarakter dalam perencanaan program • Implementasi manajemen sekolah yang terpadu dengan nilai-nilai berkarakter dalam pelaksanaan program • Implementasi manajemen sekolah yang terpadu dengan nilai-nilai berkarakter dalam pengendalian/pengawasan program

More Related