1 / 42

Spektrofotometri UV – Visibel (Bagian II)

JURUSAN FARMASI FKIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN. Spektrofotometri UV – Visibel (Bagian II). Oleh : Hendri Wasito , S. Farm., Apt . Sinar (Radiasi Elektro Magnetik). Ketika Sinar menabrak benda ???.

kyrie
Download Presentation

Spektrofotometri UV – Visibel (Bagian II)

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. JURUSAN FARMASI FKIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN SpektrofotometriUV – Visibel(Bagian II) Oleh : HendriWasito, S. Farm., Apt.

  2. Sinar (Radiasi Elektro Magnetik)

  3. Ketika Sinarmenabrakbenda ??? Cahaya (sinar) dengan tenaga radian P0 menabrak permukaan pertama sampel dengan ketebalan = b cm Cahaya (sinar) dengan tenaga radian P0 menabrak permukaan pertama sampel dengan ketebalan = b cm Tenaga radian P ditransmisikan (diteruskan) Tenaga radian R2 dipantulkan Harris, 1987

  4. TRANSMISI QUARTZ • Sinardatangdarimedium 1(udaraindeks bias 1,00) tegaklurusmengenaimedium 2yaitupermukaan Quartz (indeks bias 1,46).Berapafraksisinar yang diteruskan ? Jadi Quartz mentransmisikan93% dan memantulkan7% tenagasinadatang

  5. Ketika Sinar Menabrak Sampel ??? Ditransmisikan Diserap Dipantulkan Dihamburkan Apabilasampeltidakmenyerapcahaya, proses yang terjadihanyalah : - pemantulan - transmisi (diteruskan)

  6. Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis

  7. Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis

  8. Penyerapan sinar UV & Visibel oleh Molekul

  9. Penyerapan oleh transisi ikatan dan elektron anti ikatan

  10. electronic molecular orbital energies

  11. TRANSISI ELEKTRONIK Transisi sigma – sigma star (σ – σ*) Transisi n – sigma star (n - σ*) Transisi n – phi star (n – π*) Transisi phi – phi star (π - π*) ------------------- σ* ------------------- π * ------------------- n ------------------- π ------------------- σ Diagram tingkat energi elektronik

  12. Transisi sigma - sigma star (σ – σ*)

  13. Transisi non bonding – sigma star ( n – σ* )

  14. Transisi n – phi star dan phi – phi star(n – π*) dan (π - π*)

  15. Transsisi(n – π*) dan (π - π*)

  16. Perbedaan transisi (n – π*) dan (π - π*) Pengaruh pelarut pada pergeseran n  π*

  17. Transisi π - π* (bathrocromic shift) E Non polar polar Transisi n – π* (hipsocromic shift) E Non polar polar

  18. Pengaruh pH terhadap λ pH 9,2 PHENOBARBITAL SPECTRUM

  19. Kromofor Organik dan Auksokrom

  20. Pengaruh konjugasi terhadap puncak serapan • Ikatan terkonjugasi berupa ikatan rangkap yang berselang-seling dengan satu ikatan tunggal. • Elektron-elektron phi mengalami delokalisasi lanjut sehingga tingkat energi π* menurun dan mengurangi karakter anti ikatan batocromic shift. RIBOFLAFIN

  21. Penyerapan yang elibatkan elektron d dan f

  22. Penyerapan karena perpindahan muatan

  23. Aspek kualitatif dan kuantitatif Spektrofotometri UV-Visibel • Data yang diperoleh dari spektra UV-Vis : λmax, intensitas, efek pH dan pelarut. • Dalam aspek uantitatif, diukur intensitas sinar radiasi yang diteruskan setelah mengenai sampel/cuplikan.

  24. Pembatasan dalam Hukum Lambert-Beer • Sinar yang digunakan dianggap monokromatis • Peyerapan terjadi daam volume yang memiliki penampang luas yang sama • Tidak ada senyawa lain yang menyerap dalam larutan senyawa • Tidak terjadi fluoresensi atau fosforesensi • Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan

  25. Hukum Lambert-Beer Jika sinar monokromatic dilewatkan suatu larutan maka penurunan insensitas sinar berbanding langsung dengan insensitas radiasi ( I ), konsentrasi spesies (c), dan dengan ketebalan lapisan larutan (b). A = =  b c

  26. Absorbtivitas molar () • () merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung pada konsentrasi, tebal kuvet dan insensitas radiasi yang mengenai sampel. • () tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul, dan λ radiasi. • () satuannya M-1cm-1 atau liter/mol. jika konsentrasi dinyatakan dengan % b/v (g/100mL) dapat dinyatakan dengan simbol E 1%1cm () = (BM/10 ) x E 1%1cm

  27. Analisis komponen tunggal • Jika absorbansi suatu seri larutan diukur pada λ, suhu, kondisi pelarut sama, dan A larutan diplotkan terhadap konsentrasinya  kurva baku. • Penentuan konsentrasi komponen tunggal dapat dilakukan dengan : • Menggunakan informasi absorbtivitas molar • Menggunakan persamaan regresi linier kurva baku

  28. Contoh soal Sebanyak 20 tablet furosemid ditimbang beratnya 1,656 g. Diambil sampel 519,5 mg digojog dengan 300 mL NaOH 0,1 N , lalu diencerkan sampai 500,0 mL dengan NaOH 0,1 N. Sejumlah ekstrak disaring dan diambil 5,0 mL lalu diencerkan dengan NaOH 0,1 N sampai 250,0 mL. Absorbansi dibaca pada λ 271 nm dengan blanko NaOH 0,1 N ternyata absorbansinya 0,596. Jika E 1%1cm furosemid λ271 nm = 580, Hitung kadar Furosemid tiap tabletnya ?

  29. Analisis dua campuran secara bersama-sama Dua buah kromofor yang berbeda akan memiliki kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pada suatu λ tertentu, sehingga dengan mengukur kedua λ akan diperoleh konsentrasi masing-masing komponen campuran. A1 = a1 b1 c1 dan A2 = a2 b2 c2, karena tebal kuvet sama maka A1 = a1 c1 dan A2 = a2 c2 sehingga : Aλ1 = (a1c1) λ1 + (a2c2) λ1 Aλ2 = (a1c1) λ2 + (a2c2) λ2

  30. Contoh soal • Absorbansi obat A dengan konsentrasi 0,0001 M dalam kuvet 1 cm adalah 0,982 pada λ 420 nm, dan sebesar 0,216 pada λ 505 nm. Absorbansi obat B dengan konsentrasi 0,0002 M adalah 0,362 pada λ 420 nm dan 1,262 pada λ 505. Absorbansi campuran 2 obat adalah 0,820 pada λ 420 nm, dan 0,908 pada λ 505 nm. Berapakah konsentrasi masing-masing obat A dan B dalam campuran tersebut ?

  31. Hal-hal penting dalam pengukuran spektrofotometri UV-Visibel • Terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna dan akan diukur dengan spektrofotometer Visibel dilakukan derivatisasi. • Waktu operasional (operating time) untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. • Pemilihan panjang gelombang maksimum (λ max) • Pembuatan kurva baku sebaiknya sering diperiksa ulang. • Pembacaan absorbansi sampel/cuplikan sebaiknya dalam rentang 0,2 – 0,8.

  32. Derivatisasi sampel Syarat pereaksi : Reaksinya selektif dan sensitif Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusiel Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama

  33. Operating Time • Ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan. • Pengukuran senyawa harus dilakukan pada saat waktu operasionalnya. Gambar operating time

  34. Pemilihan panjang gelombang (λ) • Panjang elombang yang digunakan adalah λmax. • Alasan : • Kepekaan maksimal • Hukum Lambert-Beer terpenuhi • Kesalahan akan kecil

  35. Pembuatan kurva baku

  36. Pembacaan absorbansi sampel (0,2 – 0,8) Absorban yang terbaca hendaknya A = 0,2-0,8 atau %T = 15 % - 70 % agar kesalahan fotometrik dalam pembacaan transmitan sebesar 0,005 atau 0,5 %

  37. Kalibrasi instrumen • Kalibrasi skala absorbansi  digunakan senyawa kalium dikromat. • Kalibrasi skala λ  dengan larutan holmium perklorat 5 % b/v. • Penentuan daya pisah (resolusi) spektrofotometer  dikontrol dengan lebar celah dengan larutan toluen 0,02 % b/v dalam heksan. • Penentuan adanya sesatan sinar (stray radiation)  dengan larutan KCl 1,2 % b/v dalam air pada λ 200 nm, jika A = 2 maka terjadisesatan sinar.

  38. Latihan Soal • Tolbutamid (BM 270,4) memiliki absorbtivitas molar 703/M.cm, pada λ 262 nm. Jika tablet tunggal tolbutamid dilarutkan dalam air sampai 250,0 mL, absorbansinya 0,520 pada λ 262 nm, dan kuvet 1 cm. Tentukan berat tolbutamid yang terkandung dalam tablet ersebut ! • Absorbansi senyawa murni X dan senyawa Y dengan konsentrasi masing-masing 5 x 10-5 M sebagai berikut ( X A280 = 0,0510 A350 = 0,192 dan Y A280 = 0,335 A350 = 0,150). Salah satu larutan dari keduanya dengan konsentrasi yang belum diketahui mempunyai A280 = 0,395 dan A350 = 0,147. Senyawa manakah (X atau Y) yang tidak diketahui ? Hitung konsentrasi senyawa yang tidak diketahui tersebut !

  39. HATUR NUHUN PISAN ...... Jangan lupa untuk membaca literatur lainnya baik dari buku maupun internet serta banyak latihan soal ... Kita BISA karena BIASA ...

More Related