...
  • KlineOrr63

Albania| Last Login : 06/15/2017
SEJARAH Pahatan JEPARA pada masa lalu, terlihat satuorang raja Jepara yang menyandang isteri amat anggun. Banyak orang memuji kecantikannya, bahkan maharani itu sendiri mau dibuatkan reca dirinya. Lantaran dorongan si maharani, raja sesudahitu mengomandokan patihnya mencari rakyatnya yang menyandang keahlian mengukir. Saat penurut bertandang ke sesuatu desa, bertemulah beliau oleh seseorang laki. Si Patih memohon gejala, di manakah agaknya orang yang pakar mengukir. Adam yang ditemuinya Tentang asal-usul Ki Joko Menunggik, Karmadi beserta Kartadarmadja (1985: 6-7) menyebutkan adanya dua edisi. Pertama, Setia Menjengking Instansi Duwung„ adalah aba angkut Pangeran Hadiri yang bersumber dari negeri Campa. Sebutan asli Setia Sungging ini ialah„ Chi Hui Gwan. http://www.jeparaonline.org/ , dia dijadikan patih oleh Pangeran Hadiri kemudian mengganti julukan jadi Penurut Sungging Dewan Duwung. Di Jepara, seputar tahun 1481, dia dibantu orang kira-kira desa Mantingan, membuat ukir-ukiran motif hiasan Tiongkok beserta Majapahit. Dari Penurut Sungging inilah publik Jepara pertama kali mengetahui ukir-ukiran. Versi kedua, tokoh tanda seni mencukil ialah Prabangkara, satuorang pakar mantri pigura yang hidup era tadbir Raja Brawijaya. Prabangkara memperoleh kewajiban membikin patung rani raja, capai alhasil ia mendapatkan nasib apes karena dicurigai raja, sehingga dihukum atas dinaikkan layang-layang. itu bertepatan ialah semata orang yang sangat pakar mengukir. Laki itu adalah Joko Menunggik. Berpatokan pengakuan Joko Sungging, Sang Patuh selaku suka hasrat. Diajaklah Joko Menjengking berkunjung raja. Dekati di ambang raja, dirinya diminta membuatkan patung permaisurinya. Joko Menyungging berpamitan untuk pergi mencari tiang ke hutan. Kepergiannya diikuti oleh sang patih. Sebaiksajasampai di sedang hutan, ia memperoleh gawang yang aneh, serta menarik dirinya buat beristirahat. Kusen tadi dikencingi. Ketika mengencingi, kemaluan Joko Menjengking tegak berdiri. Yang lebih jarang, kusen yang dikencingi itu justru melontarkan bau yang amat raksi, sehingga oleh Joko Menunggik, tiang itu dinamakan kayu cendana. Dari kusen ini pun arca permaisuri raja diciptakan. Seusai sebagian hari reca dibikin, tinggallah komponen peranti vitalnya yang belum digarap. Durasi itu, tampak lalat-lalat yang berlayangan, sehingga beliau berupaya menamparnya. Tidak diduga, lalat sebetulnya justru menclok pada bagian kemaluan patung yang masih dibuatnya?. Joko Menjengking berfikir, “mung
  • http://www.jeparaonline.org/
  • Login