1 / 19

Saratchandra Chattopadhyay - Devdas-Kisah Cinta Dua Dunia

NENIK MULIATIN NIM: 0803731 No. Ab.: 06 Program: S-1 Du a l Modes Semester: 6 Kelas : Bahasa Indonesia.

kiaria
Download Presentation

Saratchandra Chattopadhyay - Devdas-Kisah Cinta Dua Dunia

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. NENIK MULIATINNIM: 0803731No. Ab.: 06Program: S-1 Dual ModesSemester: 6Kelas: Bahasa Indonesia

  2. Berlatar kehidupan tradisional India, Devdas diawali dengan kisah masa kecil Devdas dan Paro yang diwarnai dengan kenakalan Devdas, anak tuan tanah berkasta brahmana, dan keluguan Paro, seorang gadis cantik anak tetangganya yang berasal dari golongan pedagang.

  3. Devdas yang kelewat nakal dikeluarkan dari sekolah. Dan Paro yang sudah menumbuhkan bibit cinta kepadanya pun emoh jauh darinya, meskipun awalnya Devdas tak segan-segan memukul Paro. Saking tidak inginnya jauh-jauh dari Devdas, Paro membuat akal bulus sedemikian rupa hingga orangtuanya merestui dia keluar sekolah, sehingga ia bisa terus bermain dengan Devdas.

  4. Maka, selama setahun, Devdas dan Paro selalu berjalan runtang-runtung, memonumenkan kedekatan. Hingga kemudian, Devdas dikirim oleh bapaknya ke Kalkuta untuk bersekolah. Pun demikian, Paro yang lebih dulu memiliki hati untuk Devdas tak pernah sedetik pun melupakan buah hati masa kecilnya itu. Maka, mulailah terpasang mata rantai pertama dalam rantai panjang tangis nelangsa.

  5. Sejak ini kepiluan-kepiluan mulai datang silih-berganti layaknya sebuah kisah cinta yang tak ingin sekejap pun membuat pembacanya berpaling. Di satu titik Paro merindu-dendam, namun Devdas bersikap bagai tak tahu-menahu. Di satu titik ada saat-saat ketika Devdas dan Paro membulatkan tekad untuk memperjuangkan cinta, namun kemudian tekad itu ambyar.

  6. Di sudut lain ada perjodohan Paro yang meremukkan harapannya, namun Devdas memandangnya dengan sikap pasrah-serba-tak-tahu-harus-berkata-apa a la Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta.

  7. Di antara jajaran kisah cinta yang kita kenal, Devdas memiliki arti tersendiri karena mengakar kuat pada tradisi sosialnya. Ada elemen unik India yang memainkan peran penting: pembedaan kasta. Persatuan antara Devdas dan Paro tidak dimungkinkan karena perbedaan kasta di antara mereka.

  8. Ditambah lagi kebertetanggaan mereka berdua menjadikan pernikahan memalukan. Hal semacam ini tidak ada dalam kamus masyarakat Indonesia, bukan? Dan ketika akhirnya Paro menikahi seorang duda tua tuan tanah, Paro menunjukkan sikap hormat luar biasa dan mulai mencintai keluarga suaminya yang sudah bau-tanah itu. Maka Devdas pun semakin hancur hatinya.

  9. Seperti halnya kawin paksa dalam Siti Nurbaya yang memicu tragedi cinta, atau permusuhan antar keluarga bangsawan dalam Romeo dan Juliet, atau perbedaan tingkat ekonomi dan profesi dalam Cerita Cinta, perbedaan kasta benar-benar diberdayakan untuk menciptakan tragedi dalam Devdas. Dengan muatan lokal seperti ini, kisah ini menjadi penting artinya dalam jajaran kisah-kisah cinta dunia.

  10. Kisah-kisah cinta yang berdampak besar kepada banyak orang seperti itu mau tak mau mengingatkan kita pada salah satu kritik paling sepuh dalam jagat sastra, yakni kritik tentang tragedi yang dilontarkan oleh Aristoteles.

  11. Dia mengemukakan, tragedi, yang mengisahkan kejatuhan seorang berkedudukan tinggi, bisa membuat seorang penikmat mengidentifikasi diri dengan si tokoh utama, sehingga ketika si tokoh merasakan sakit tak terperi, atau bahkan kematian, sang penikmat akan juga merasakan ledakan perasaan haru, katarsis, yang membersihkan jiwa sang penikmat.

  12. Tanpa bermaksud menyamakan Devdas dengan drama Raja Oedipus karya Sophocles, yang dipandang Aristoteles sebagai contoh ideal tragedi yang berhasil, saya rasa tidak ada salahnya menggunakan cuilan konsep tragedi itu untuk melihat Devdas. Apakah Devdas berhasil sebagai sebuah kisah tragis? Hal-hal seperti itu bisa diserahkan kepada pembaca.

  13. Maka, silakan Anda coba menguji seberapa besar daya katarsis yang dimiliki Devdas yang hadir dalam terjemahan Indonesia yang berani memasukkan kata-kata berbahasa non-Indonesia baku, yang malah membuat kita lebih merasakan gairah cerita itu sendiri. Di satu sisi, pembaca Indonesia akan merasa ada jarak yang terkurangi antara dirinya dan novel itu sendiri.

  14. Saat membaca novel terjemahan, seringkali kita mendapatkan karya-karya yang terasa dingin karena penerjemah menerjemahkannya dengan terlalu halus. Sehingga, kita pun seakan-akan bisa merasakan bahwa suatu karya adalah karya terjemahan atau tidak.

  15. Dampaknya, kita akan merasakan adanya jarak dengan novel itu. Bukan jarak estetis, seperti yang banyak dibilang orang. Kita seakan harus berhadapan dulu dengan bahasa sebelum pada akhirnya menyelami cerita.

  16. Dalam Devdas, untungnya, penerjemah dan penyunting telah banyak berjasa mengurangi penghalang bahasa tersebut dengan mengindonesiakan secara agak tidak biasa. Banyak kata berbahasa Jawa yang dipakai yang malah membuat pembaca—setidaknya saya sendiri—merasa tidak ada lagi halangan kebahasaan.

  17. Coba saja lihat kata “goal-gail”, “senewen”, “gendeng”, “gemblung”, “menguntal”, dan sebagainya. Kita tentu akan melihat bahasa dalam novel itu sebagai bahasa yang natural, bukan bahasa Indonesia yang terlalu baik dan benar, yang ujung-ujungnya: menjemukan. Untuk urusan terjemahan, pantaslah kita menghargai Devdas versi Indonesia yang diterbitkan Kayla Pustaka ini.

  18. Masukilah kisah yang diceritakan dengan sangat ringan dari sudut pandang seorang juru cerita ini. Dan rasakan, apakah Anda bisa merasakan takut dan iba dan temukan juga bagian-bagian—kebanyakan dialog—yang membikin tengkuk kita meremang dan ngerti dengan bagaimana seseorang menyatakan cintanya.

  19. Dengan kentalnya nuansa tradisi melingkupi dan membentuk arah ceritanya, mau tak mau kita akan dipaksa mempertanyakan, setelah Siti Nurbaya, kisah cinta mana lagi karya penulis negeri yang bisa membangkitkan takut dan iba sambil sekaligus juga menghadirkan logika cerita yang matang dan kuat dengan muatan lokal.

More Related