hormatilah ayahmu dan ibumu tinjauan budaya dan teologis n.
Download
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU (TINJAUAN BUDAYA DAN TEOLOGIS) PowerPoint Presentation
Download Presentation
HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU (TINJAUAN BUDAYA DAN TEOLOGIS)

Loading in 2 Seconds...

play fullscreen
1 / 28

HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU (TINJAUAN BUDAYA DAN TEOLOGIS) - PowerPoint PPT Presentation


  • 498 Views
  • Uploaded on

HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU (TINJAUAN BUDAYA DAN TEOLOGIS). Ulangan 5:16 Pdt. Yohanes Bambang Mulyono. “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Ul. 5:16).

loader
I am the owner, or an agent authorized to act on behalf of the owner, of the copyrighted work described.
capcha
Download Presentation

HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU (TINJAUAN BUDAYA DAN TEOLOGIS)


An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
    Presentation Transcript
    1. HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU(TINJAUAN BUDAYA DAN TEOLOGIS) Ulangan 5:16 Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

    2. “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Ul. 5:16).

    3. Dalam pemahaman orang Cina, makna “hormatilah ayahmu dan ibumu” diungkapkan dengan kata “hao”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “berbakti kepada orang-tua”. • Padahal makna “hao” bukan sekedar tindakan etis, adat-istiadat dan budaya; tetapi menyangkut sikap keagamaan.

    4. Itu sebabnya, makian “put-hao” bukan sekedar berarti: “anak yang tidak berbakti”, tetapi sebenarnya mengandung kata “kutukan”. • Ungkapan “put-hao” berarti: setiap anak yang tidak menghormati orang-tua akan dikutuk oleh Tuhan.

    5. Pemahaman “hao” menurut para ahli sudah ada sebelum zaman Kung Fu Tse. Tercatat kerajaan Tjiu yang dibangun tahun 1066 sM, yang mana kaisar Tjiu Bu Ong telah memerintahkan pegawai-pegawai negeri untuk mengawasi sikap anak-anak terhadap orang-tuanya. Pelanggaran tersebut akan dikenai hukuman oleh negara.

    6. Filsafat Kung Fu Tse mengulas masalah keluarga dan tata-negara  yang dijiwai oleh prinsip “hao”. • Konsepsi “hao” terintegrasikan dengan ajaran pemujaan leluhur.

    7. Agar pemujaan leluhur melalui “memelihara abu” dapat berlangsung, maka orang Cina menafsirkan “hao” dengan kewajiban mempunyai anak lelaki. • Anak lelaki  meneruskan kelangsungan dan nama keluarga (“she”), tetapi juga anak lelaki yang akan menggantikan ayahnya untuk “merawat abu” keluarga.

    8. Konsepsi “hao” dalam budaya Cina  penghormatan kepada orang-tua selama hidup;  dan penghormatan kepada orang-tua setelah meninggal dengan memelihara abu,  yang mana anak lelaki (umumnya anak yang sulung) memiliki kewajiban dan bertanggungjawab untuk melaksanakan pemujaan tersebut.

    9. Bentuk ekstrem dari pelaksanaan pemujaan kepada orang-tua dalam konsep “hao” terlihat dalam ritual perkabungan tiga tahun yang disebut “Hao Besar”. • Selama “hao besar” seorang anak wajib berkabung selama 3 tahun dengan membuat gubug di samping makam orang-tuanya. Sehingga ia harus meninggalkan pekerjaannya.

    10. Selama berkabung, bagi orang Cina sangat tabu untuk mengadakan perayaan dan juga tidak boleh menghadiri pesta. • Konsep penghormatan kepad orang-tua  merupakan penghormatan yang menyeluruh baik secara adat-istiadat, budaya, maupun etika; bahkan dianggap sebagai suatu tindakan ritual keagamaan.

    11. Segi-segi negatif dari pelaksanaan “hao”: • Selama berkabung tiga tahun (“hao besar”), orang yang kehilangan orang-tuanya, juga harus kehilangan pekerjaan, tanggungjawab, dan produktivitasnya. • Penekanan dukacita dalam kurun-panjang, sehingga kematian orang-tua dianggap sebagai akibat perbuatan anak yang “put-hao”. • Kedudukan orang-tua begitu tinggi dan mulia, hampir sejajar dengan Allah, sehingga wajib dilakukan pemujaan kepada arwah orang-tuanya.

    12. Konsep “hao” menempatkan diskriminasi secara gender, karena anak laki-laki ditempatkan lebih utama, penting dan sesuatu yang harus ada dalam kehidupan keluarga  menempatkan anak perempuan sebagai pihak yang kurang dipentingkan.

    13. Pengaruh “hao” dalam kepemimpinan keluarga dan negara  menghasilkan pola kepemimpinan otoriterisme. • Gambaran huruf “hao” yang merangkai dua huruf yang berarti “orang-tua” dan “anak”  yang mana anak menggendong orang-tuanya, dipahami sebagai: tindakan berbakti yang total  dimanipulasi menjadi: ketaatan yang tanpa syarat kepada pihak yang lebih “tua” (berkuasa).

    14. Segi-segi positif ajaran “hao”; • Keberanian dan ketulusan untuk berkorban bagi orang-tua agar mereka dapat hidup bahagia. • Keteladanan menghormati orang-tua yang begitu menyentuh (lihat buku “Dji Tjap Si Hao”: kisah 24 anak yang berbakti). H. van Meurs yang telah menterjemahkan buku “Dji Tjap Si Hao” menyebut suatu sastera “ademt een evangelische geest” (bernafaskan nafas kitab Injil). • Upaya untuk senantiasa menjaga “nama baik” keluarga atau orang-tua.

    15. BagaimanakahartidariFirman V, “hormatilahayahmudanibumu”? ApakahartidariFirman V inimemilikiide yang samadengankonsepsi “hao” dalampemikiranfilsafatCina?

    16. Konteks Sepuluh Firman Allah diberikan Allah kepada umat Israel  setelah mereka keluar dari tanah Mesir • Dari sudut usia: umat Israel yang menerima Sepuluh Firman tersebut  status: orang-orang yang sudah dewasa dan mampu secara ekonomis. • Hanya orang dewasa saja yang dapat menerima perjanjian dengan Allah.

    17. Apabila penerima 10 Firman tersebut umat Israel yang sudah dewasa, berarti: kondisi fisik “ayah dan ibu” mereka  sudah lanjut usia (mulai lemah secara fisik, tergantung, dan tidak produktif secara ekonomis) • Apa makna “hormatilah ayahmu dan ibumu” di dalam Alkitab?

    18. Sasaran utama dari firman V: “hormatilah ayahmu dan ibumu” bukan: kepada anak-anak yang masih tergantung, lemah, belum mampu mengambil keputusan. • Firman V ditujukan kepada: “orang-orang dewasa” yang memiliki orang-tua yang telah renta, tidak produktif, dan dalam keadaan tidak berdaya. Mereka justru wajib untuk melindungi dan mengasihi orang-tua mereka tersebut.

    19. Firman V identikdenganAmsal 23:22, yang berkata: “Dengarkanlahayahmu yang memperanakkanengkau, danjanganlahmenghinaibumu kalauiasudahtua”.

    20. Letakpersamaankonsepsi “hao” denganFirman V: • Memilikitujuanluhur agar kitamampumembalasbudibaikorang-tua yang pernahmelahirkandiridanmengasuhdirikita. • Bentuk rasa hormatkepadaorang-tua yang dinyatakandalamtindakan/perbuatannyata. • Nasihatorang-tuadipahamisebagaibagiandarikekayaanhikmat Allah yang diwariskankepadaanak-anaknya. • Tindakanmengabaikanataumenghinaorang-tuaakanmembawahukuman/kutukandari Allah.

    21. Perbedaan konsepsi “hao” dengan Firman V:

    22. Jikalau konteks 10 Firman adalah umat Israel yang sudah dewasa sehingga mampu menerima perjanjian dengan Allah, maka: makna “hormatilah ayahmu dan ibumu” bukan sebagai suatu legitimasi yang boleh dipakai pihak “orang berkuasa” untuk menindas “orang-orang yang lemah”.

    23. Dalam praktek Firman V dipakai untuk mendukung konsep masyarakat feodalistis (yang berorientasi pada kekuasaan), dan masyarakat patriakhalisme (yang berorientasi pada keunggulan dan tempat khusus bagi gender laki-laki). • Konsepsi “hao” lebih rentan dimanipulasi karena mengandung unsur pemujaan kepada yang lebih tua, dan diskriminatif terhadap anak-anak wanita.

    24. MaknaFirman V: mendorongterciptanyapembebasan, belas-kasihan, kemurahanhati, dankeadilankepada “pihak yang lebihlemahdantidakberdaya”; karenadisiniposisi “orang-tua” justrudipahamibukanberadasebagaipihak yang berkuasadankuat.

    25. Makna menghormati “orang-tua”: proses pembebasan diri dari segala bentuk egoisme, individualisme, dan superiorisme diri  melatih dan mendisiplinkan sikap kasih yang tulus, pengosongan diri dan sopan-santun.

    26. Dari sudut pandang Allah, penghormatan kepada orang-tua dinyatakan: “Hai anak-anak, taatilah orang-tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan” (Kol. 3:20).

    27. Karena penghormatan kepada orang tua merupakan yang indah di hadapan Tuhan, maka dalam firman V dinyatakan pula janji berkat, yaitu: “….supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Ul. 5:16).

    28. A M I N SAAT TEDUH