1 / 65

Sifat Fisik Hasil Pertanian (TEP-350) 3(2-1) Dr. Ir. Siswantoro. MP.

Sifat Fisik Hasil Pertanian (TEP-350) 3(2-1) Dr. Ir. Siswantoro. MP. Kontrak Pembelajaran. Absensi 80% Selama kuliah HP tdk boleh dibunyikan (boleh dng digetarkan), dihindari menerima telp/ sms kecuali dianggap penting & menerima diluar ruangan Terlambat tdk lebih dari 15 menit

halil
Download Presentation

Sifat Fisik Hasil Pertanian (TEP-350) 3(2-1) Dr. Ir. Siswantoro. MP.

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Sifat Fisik Hasil Pertanian (TEP-350)3(2-1)Dr. Ir. Siswantoro. MP.

  2. Kontrak Pembelajaran • Absensi 80% • Selama kuliah HP tdk boleh dibunyikan (boleh dng digetarkan), dihindari menerima telp/ sms kecuali dianggap penting & menerima diluar ruangan • Terlambat tdk lebih dari 15 menit • Prosentase nilai • Ujian I  30% • Ujian II  30% • Praktikum  20% • Terstruktur (PR, Paper)  20%

  3. Satuan Dasar • Dimensi dasar untuk sistem utama pengukuran adalah massa (M), panjang (L), waktu (T) dan suhu (θ). • Satuan dasar dalam sistem utama, bersama-sama dengan singkatannya di dalam kurung seperti pada Tabel 1.

  4. A. Pendahuluan • Cara penanganan & pemrosesan produk pertanian antara lain scr mekanis, thermis, elektris, optis, dan lain-lain. • Pada cara-cara penanganan & pemrosesan tsb diatas akan diperlukan informasi ttg sifat-sifat fisik hasil pertanian. Sifat-sifat fisik hasil pertanian scr umum diperlukan dalam • Perancangan alat dan mesin (alsin), proses serta pengendaliannya • Analisis dan perhitungan efisiensi • Pengembangan produk baru • Evaluasi kualitas produk akhir

  5. B. Ciri-ciri fisik produk pertanian • Bentuk, ukuran, volume, luas permukaan, porositas, warna dan lain-lain penting dlm hal perancangan alsin atau analisis perilaku produk dlm proses penanganannya. Sebagai contohnya pada proses: 1. Heating & Cooling perlu informasi tentang bentuk & dimensi untuk membaca kurva serta perhitungan analisisnya • Bilangan Biot (NBi)  Bi = h.r/k  kurva suhu r = dimensi karakteristik  silinder  r = ½ diameter slab  r = ½ tebal 2. Pneumatic Separation perlu informasi tentang bentuk & dimensi serta density & luas permukaan bahan hasil pertanian.

  6. Udara & kotoran ringan keluar Udara & produk masuk Produk berat Gambar Pneumatic separator 3. Analisis heat transferThermal diffusivity = k/ρ.Cp 4. Pneumatic transport  Bilangan Renault  Re 5. Separation sedimentation  setting velocity 6. Selective harvesting, grading & sortasi warna permukaan produk

  7. Volume, Densitas dan Spesific Gravity

  8. Pengantar • Bentuk yang tidak teratur pada kebanyakan produk pertanian dan pangan, bahan-bahan berukuran kecil seperti bijian, dan bahan berpori seperti pellet pakan dan wafer menghadirkan masalah tertentu dalam pengukuran volume dan densitas • Karena bentuk produk tidak beraturan, volume biasanya ditentukan dengan water displacement (pemindahan air) atau seed displacement

  9. Platform Scale • Teknik sederhana yang diterapkan pada obyek berukuran besar seperti buah-buahan dan sayuran adalah platform scale, digambarkan pada Fig 3.7

  10. Buah-buahan pertama kali ditimbang dalam udara dan ditekan kedalam air dengan sinker rod. • Pembacaan kedua pada skala dengan buah dicelupkan dikurangi berat wadah dan air adalah berat air dipindahkan yang akan dipakai dalam pernyataan untuk menghitung volume Berat air dipindahkan (kg) Volume (m3) = Densitas air (kg/m3)

  11. Dengan mengetahui berat dalam udara dan volume, densitas buah selanjutnya diperoleh dari rasio berat terhadap volume • Padatan dalam bentuk partikel, seperti biji-bijian memiliki bulk density dan juga densitas padatan sendiri (single) yang dipertimbangkan. • Gas dan uap, tidak seperti padatan dan cairan adalah dapat dimampatkan (compressible), dan beberapa pangan seperti es krim mengandung udara terperangkap.

  12. Densitas suatu bahan setara dengan massa bahan dibagi dengan volume yang melingkupinya massa densitas = volume • Densitas memiliki dimensi [ML-3] • Dalam satuan sistem SI, diukur dalam kilogram per kubik meter (kg m-3) • Biasanya dinyatakan dengan simbol Yunani rho ( ρ)

  13. Air murni memiliki densitas maksimum 1000 kg m-3 pada suhu 4oC 103 x 103 g 103 kg m-3 = = 1 g ml-1 106 ml • Dalam sistem British, densitas diukur dalam pound per cubic foot (lb ft -3) • Densitas beberapa padatan dan cairan umum seperti dalam Tabel 2.1 dan Tabel 2.2.

  14. Pada kebanyakan kasus engineering, padatan dan cairan dianggap tidak dapat dimampatkan (incompressible), seperti densitas sedikit dipengaruhi oleh suhu dan tekanan • Pada kenyataannya, densitas air dan bahan lain berubah dengan perubahan suhu • Pada kebanyakan kasus, densitas menurun ketika suhu naik. • Tabel 2.3 memperlihatkan perubahan densitas untuk air, alkohol, dan variasi minyak goreng pada kisaran suhu dari -20 hingga 80oC

  15. Densitas Padatan • Untuk bahan partikel (seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan tepung), susu, kopi dan pati, yang menarik adalah densitas partikel individu (satuan, tunggal) dan densitas bulk (ruah, kamba, tumpukan) dari bahan yang memperhitungkan volume celah antara satuan individu • Densitas padatan atau partikel akan mengacu densitas satuan individu • Satuan ini mungkin tidak mengandung pori-pori internal. • Densitas padatan dinyatakan sebagai massa partikel dibagi dengan volume partikel dan akan diperhitungkan adanya pori-pori

  16. Kebanyakan buah dan sayuran mengandung air 75 – 95%, sehingga beberapa densitasnya seharusnya tidak jauh dari nilai densitas air 1000 kg m-3 • Teorinya, apabila komposisi pangan diketahuai, densitas ρf dapat diestimasi 1 ρf = m1/ρ1+ m2/ρ2 + m3/ρ3 + …….+ mn/ρn

  17. Dimana ρf adalah densitas pangan, m1 hingga mn adalah fraksi massa konsituen 1 hingga n, dan ρ1 hingga ρn adalah densitas konsituen 1 hingga n (n adalah jumlah konstituen) • Contoh, untuk apel mengandung air 84,4%, gula 14,55%, lemak 0,6% dan protein 0,2% (densitas adalah dalam kg m-3), ρ air = 1000, ρ gula =1590, ρ lemak =925, ρ protein =1400 kg/m3 hasil ρ apel = 1064 kg m-3

  18. Tetapi, nampak ada keganjilan disini, karena apel biasanya mengapung pada air. • Mohsenin (1970) menyatakan angka 846 kg m-3 pada 29oC • Sehingga, ada jumlah udara terperangkap dalam pori-pori yang harus diperhitungkan. • Udara ini akan hilang ketika blanching

  19. Apabila fraksi densitas dan volume diketahui, densitas dapat dievaluasi dari ρf = V1ρ1 + V2ρ2 + V3 ρ3 + ….+ Vn ρn Dimana V1 hingga Vn adalah fraksi volume konstituen 1 hingga n dan ρ1 hingga ρn adalah densitas konstituen 1 hingga n

  20. Densitas buah-buahan dan sayuran beku adalah lebih rendah daripada segarnya • Densitas padatan dapat ditentukan dengan prinsip flotasi, menggunakan cairan yang diketahui densitasnya. • Densitas padatan berguna pada proses pemisahan/separasi dan transportasi pneumatic dan hydraulic powder dan partikel

  21. Bulk Density • Ketika pencampuran, pemindahan, penyimpanan dan pengemasan bahan partikel seperti tepung, adalah penting untuk mengetahui sifat bahan meruah (bulk) • Ketika padatan dituangkan kedalam wadah, volume total terambil akan mengandung bagian proporsi udara • Porositas (ε) bahan terwadahi adalah fraksi volume total yang diisi oleh udara

  22. porositas (ε) = Volume udara Volume total • Porositas akan dipengaruhi oleh geometri, ukuran, dan sifat permukaan bahan • Ketika wadah diketuk-ketuk, volume total dan juga porositas akan menurun, hingga akhirnya sistem mencapai volume kesetimbangan • Densitas bahan bulk pada kondisi ini umumnya disebut bulk density

  23. Bulk density bahan selanjutnya akan tergantung sejumlah faktor, meliputi densitas padatan, geometri, ukuran dan sifat permukaan dan serta metoda pengukurannya. • Biasanya bulk density ditentukan dengan menempatkan jumlah powder diketahui beratnya (20 g atau 50 g kedalam silinder pengukur, diketuk-ketuk silinder dan ditentukan volume bulk

  24. Massa Bulk density = Volume bulk • Tabel 2.6 memperlihatkan rerata nilai bulk density untuk bahan pangan dalam bentuk powder

  25. Tabel 2.7 memperlihatkan beberapa nilai bulk density untuk buah dan sayuran

  26. Tabel 2.8 mencakup densitas padatan, bulk density dan kadar air untuk serealia terpilih. • Nilai kisaran menggambarkan varietas berbeda yang diukur

  27. Hubungan antara porositas, bulk density dan densitas padatan Hubungannya diberikan dengan volume udara porositas ε = volume sampel bulk Volume sampel bulk – volume padatan sebenarnya = Volume sampel bulk

  28. Volume padatan = 1 – Volume bulk m = V. ρ V = m/ρ Massa padatan dan massa bulk adalah setara, sehingga bulk density porositas = 1 – densitas padatan

  29. ρb = 1 – ρs ρs – ρb = ρs • Porositas dapat dinyatakan sebagai fraksi atau persentase. • Persamaan ini dapat dipakai untuk padatan atau tanpa pori-pori internal

  30. Densitas Cairan dan Spesific Gravity • Air memiliki densitas maksimum 1000 kg m-3 pada 4oC • Suhu naik diatas 4oC, densitas akan turun • Penambahan padatan pada air akan menaikkan densitas (kecuali lemak) • Pengukuran densitas dapat dipakai untuk substansi murni sebagai indikasi padatan total

  31. Namun demikian, sering lebih tepat untuk mengukur spesific gravity SG suatu cairan massa cairan SG = massa air dengan volume setara densitas cairan ρL = densitas air ρw

  32. Caution …. Densitas = berat jenis Specific gravity = bobot jenis

  33. Spesific gravity adalah tidak berdimensi “dimensionless” • Spesific gravity suatu fluida berubah lebih sedikit dibandingkan densitas, ketika suhu berubah • Apabila specific gravity bahan diketahui pada suhu ToC, densitas pada ToC adalah ρL = (SG)T x ρw

  34. Dimana ρL adalah densitas cairan pada ToC (SG)T adalah specific gravity pada ToC, ρw adalah densitas air pada ToC (Tabel) • Specific gravity diukur dengan tepat menggunakan botol densitas, pycnometer atau hydrometer

  35. 1. Botol densitas • Botol densitas (gambar samping) dapat dipakai untuk menentukan specific gravity cairan yang tidak diketahui dan padatan partikel yang disediakan bahwa padatan tidak larut di dalam cairan. • Harus diperhatikan bahwa udara harus dihilangkan dari dalam botol ketika cairan ditambahkan ke padatan.

  36. Pembacaan berikut diambil w1 berat botol kosong w2 berat botol penuh dengan air w3 berat botol penuh dengan cairan w4 berat botol plus padatan w5 berat botol plus padatan plus cairan untuk mengisi Specific gravity cairan sebanding dengan w3 – w1 w2 – w1 = berat cairan/ berat air

  37. Berat padatan adalah w4 – w1, dan • Berat cairan memiliki volume setara dengan padatan adalah w3 – w1 – (w5 – w4) • Sehingga specific gravity padatan setara dengan w4 – w1 w3 – w1 w3 – w1 – (w5 – w4) w2 – w1 Berat padatan x specific gravity cairan Berat cairan dng volume setara • Toluene direkomendasikan sebagai solven yang cocok untuk penentuan specific gravity bahan

  38. 2. Hidrometer • Hidrometer berat konstan bekerja dengan prinsip bahwa badan mengapung menggantikan berat fluidanya • Diagram hidrometer sebagaimana pada gambar • Instrumen diletakkan dalam fluida dan densitas fluida dibaca dari skala batangannya

  39. Volume dasar batang adalah V Luasan penampang melintang batangan A Berat hidrometer W Ketika dicelupkan kedalam cairan dengan densitas ρ, panjang batangan tercelup x Sehingga, volume cairan digantikan adalah Ax + V Berat cairan tergantikan setara dengan ρ(Ax + V), dengan menggunakan prinsip flotasi setara dengan W Sehingga, W ρ = Ax + V Hidrometer adalah mudah penggunaan, dan tersedia dengan kisaran ukuran 1,00-1,100 dan 1,100-1,200 untuk apliasi yang berbeda

  40. 3. Nilai densitas cairan • Spesific gravity larutan sukrosa jika kekuatan berbeda terlihat pada Tabel 2.10.

  41. Tabel 2.12 menunjukkan spesific gravity dan gliserol

  42. Tabel 2.13 menunjukkan specific gravity garam sodium chloride dan calcium chloride

More Related