Download
slide1 n.
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
TERMODINAMIKA LARUTAN: KOEFISIEN AKTIVITAS PowerPoint Presentation
Download Presentation
TERMODINAMIKA LARUTAN: KOEFISIEN AKTIVITAS

TERMODINAMIKA LARUTAN: KOEFISIEN AKTIVITAS

1911 Views Download Presentation
Download Presentation

TERMODINAMIKA LARUTAN: KOEFISIEN AKTIVITAS

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. BAB 4 TERMODINAMIKA LARUTAN: KOEFISIEN AKTIVITAS

  2. LARUTAN IDEAL Gas ideal : sebagai standar pembanding bagi sifat-sifat gas nyata Larutan ideal : sebagai standar pembanding bagi sifat-sifat larutan nyata Pers. (3.23): (3.23) Larutan ideal didefinisikan sebagai larutan dengan: (4.1)

  3. Untuk besaran termodinamika yang lain, hubungannya mengikuti apa yang sudah diturunkan pada Bab 3. Dengan mengingat bahwa: maka (4.2) Dengan cara yang sama: (4.3)

  4. maka substitusi ers. (4.1) dan Karena (4.2) akan menghasilkan: (4.4) Summability relation, pers. (3.11), jika diterapkan pada larutan ideal:

  5. Jika diterapkan pada pers. (4.1) sampai (4.4): (4.5) (4.6) (4.7) (4.8)

  6. ATURAN LEWIS/RANDALL Persamaan (3.42): Untuk kasus khusus berupa larutan ideal: (4.9) Jika persamaan (4.1) dimasukkan ke pers. (4.9): Selanjutnta persamaan (3.27): (3.27)

  7. dimasukkan ke persamaan terakhir: (4.10) Persamaan ini disebut ATURAN LEWIS-RANDALL Jika kedua sisi pers. (4.10) dibagi dengan P xi, maka: (4.11)

  8. EXCESS PROPERTY Definisi: (4.12) (4.13) Definisi ME analog dengan definisi MR ME – MR = – (Mid – Mig) Karena campuran gas ideal juga merupakan larutan gas ideal, maka pers. (4.5) – (4.8) juga berlaku untuk gas ideal:

  9. (4.14) (4.15) (4.16) (4.17) Sehingga: Jika digabung dengan pers. Di slide sebelumnya: (4.18)

  10. Hubungan partial property analog dengan pers. (3.45): (4.19) Fundamental excess property relation: (4.20)

  11. ENERGI GIBBS EKSES DAN KOEFISIEN AKTIFITAS Persamaan (3.42): (3.42) Persamaan (4.9): (4.9) Jika pers. (4.10): disubstitusikan ke pers. (4.9) maka akan diperoleh: (4.9a)

  12. Partial excess Gibbs energy Koefisien aktifitas komponen i dalam larutan Pers. (3.42) dikurangi dengan (4.9a): (4.21) (4.22)

  13. Jika pers. (4.22) dimasukkan ke (4.20): (4.23) (4.24) (4.25) (4.26)

  14. Pers. (4.24–4.26) analog dengan pers. (3.53–3.55) Dapat dihubungkan langsung dengan data PVT dan persamaan keadaan • i dari data keseimbangan uap-cair • VE dan HE dari data pencampuran VE, HE, dan i dapat diukur dalam eksperimen

  15. Diferensiasi pers. (4.26) terhadap P: (4.27)

  16. Dengan cara yang sama akan diperoleh: (4.28) Berdasarkan pers. (4.26): ln i merupakan partial molar property, sehingga mengikuti aturan summability relation: (4.29) Untuk sistem yang terdiri dari n mol, pers. (4.29) menjadi:

  17. Jika dideferensialkan: Pada T dan P konstan, menurut pers. (4.23) berlaku: Jika kedua persamaan terakhir digabung akan diperoleh: (T dan P konstan) (4.30)

  18. KOEFISIEN AKTIFITAS DAN PERS. KEADAAN Definisi koefisien aktifitas menurut pers. (4.21): (4.21) Untuk cairan, fugasitas komponen i murni fi didefinisikan dalam persamaan (3.41): (3.41)

  19. Kriteria keseimbangan untuk sistem 2 fasa (uap-cair) multi komponen adalah kesamaan T, P, dan: (4.31) Jika pers. (3.48), pers. (4.21), dan pers. (3.41) dimasukkan ke pers. (4.31) maka akan diperoleh: (4.32) Atau: (4.33)

  20. merupakan partial molar property, sehingga: KORELASI DATA Menurut persamaan (4.22): (4.22) Atau: (4.34) Untuk larutan biner, korelasi untuk energi bebas Gibbs berupa persamaan empiris.

  21. MODEL SIMETRIS (4.35) Definisi koefisien aktivitas menurut pers. (4.26): (4.26) GE merupakan fungsi x, bukan n  ??

  22. Untuk sistem biner: (4.37) Definisi dari partial molar property:

  23. Jika pers. (4.37) dimasukkan ke pers. terakhir: (4.38) Dengan cara yang sama: (4.39)

  24. Jika pers. (4.38) diaplikasikan ke pers. (4.36):

  25. (4.40) Dengan cara yang sama akan diperoleh: (4.41)

  26. MODEL MARGULES (4.42) (4.43) (4.44)

  27. MODEL VAN LAAR (4.45) (4.46) (4.47)

  28. MODEL WILSON (4.48) (4.49) (4.50) ViL : volume molar komponen cairan i murni

  29. MODEL SCATCHARD-HILDEBRAND (4.51) (4.52) (4.53)

  30. INFINITE DILUTION MODEL SIMETRIS Pada konsentrasi = 0 atau pengenceran tak terhingga: x1 0, maka x2  1, sehingga pers. (4.40) menjadi: Demikian juga untuk x2 0, maka x1  1, sehingga pers. (4.41) menjadi: sehingga (4.54)

  31. MODEL VAN LAAR DAN MARGULES (4.55) (4.56) MODEL SCATCHARD-HILDEBRAND (4.57) (4.58)

  32. MODEL WILSON (4.59) (4.60) (4.61) (4.62)