EKONOMI PENDIDIKAN DAN KETENAGAKERJAAN - PowerPoint PPT Presentation

ekonomi pendidikan dan ketenagakerjaan n.
Download
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
EKONOMI PENDIDIKAN DAN KETENAGAKERJAAN PowerPoint Presentation
Download Presentation
EKONOMI PENDIDIKAN DAN KETENAGAKERJAAN

play fullscreen
1 / 81
EKONOMI PENDIDIKAN DAN KETENAGAKERJAAN
741 Views
Download Presentation
cyrus-rosa
Download Presentation

EKONOMI PENDIDIKAN DAN KETENAGAKERJAAN

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. EKONOMI PENDIDIKAN DAN KETENAGAKERJAAN Oleh: Prof. Slamet PH, MA, MEd, MA, MLHR, Ph.D

  2. MATERI KULIAH A. Ekonomi: arti, tujuan, pandangan, dan makro vs mikro B. Ekonomi Pendidikan 1. Arti dan tujuan ekonomi pendidikan 2. Pendidikan sebagai sistem 3. Anggaran pendidikan (rencana pendidikan, rencana biaya pendidikan, dan rencana sumber dana) 4. Biaya pendidikan (biaya satuan pendidikan, biaya penyelenggaraan dan/atau pengelolaan pendidikan, dan biaya pribadi peserta didik) 5. Efisiensi pendidikan a. Evaluasi output pendidikan b. Nilai ekonomi output pendidikan

  3. C. Ekonomi Ketenagakerjaan 1. Arti dan tujuan ekonomi ketenagakerjaan 2. Komponen-komponen ketenagakerjaan 3. Analisis perencanaan tenaga kerja a. Analisis penyediaan tenaga kerja (pendidikan dan pelatihan sebagai investasi modal manusia) b. Analisis permintaan tenaga kerja c. Analisis pasar kerja 4. Analisis isu-isu ketenagakerjaan

  4. D. Praktek-praktek yang baik dan pelajaran yang dapat dipetik dari kasus-kasus ekonomi pendidikan dan ketenagakerjaan E. Perencanaan Pendidikan (Kejuruan) F. Tantangan ekonomi pendidikan dan ketenagakerjaan di Indonesia G. Presentasi hasil kajian buku/jurnal/hasil penelitian oleh mahasiswa H. Ringkasan kuliah ekonomi pendidikan dan ketenagakerjaan

  5. EKONOMI Arti ilmu ekonomi: studi tentang cara mengalokasikan sumberdaya terbatas diantara penggunaan yang saling bersaing. Dari pengertian tersebut, ada tiga kata penting yaitu alokasi, sumberdaya terbatas, dan penggunaan yang saling bersaing. Pertanyaan: bagaimana caranya (yang terbaik) mengalokasikan sumberdaya terbatas terhadap penggunaan yang saling bersaing? Inilah fokus studi ekonomi. Apa yang harus diproduk, bagaimana caranya, dan untuk siapa produk tersebut?

  6. TUJUAN EKONOMI Tujuan utama ekonomi adalah untuk mensejahterakan rakyat secara merata (tanpa diskrimi-nasi) di seluruh tanah air melalui cara-cara ekonomi makro dan ekonomi mikro. Ekonomi makro dan ekonomi mikro saling terkait.

  7. DUA PANDANGAN/PAHAM EKONOMI • Adam Smith (1776): ekonomi ditentukan oleh pasar tanpa campur tangan pemerintah (pasar/kapitalisme/neoliberal)  negara-nagara barat menganut pandangan ini. • Karl Mark (1848): ekonomi diatur oleh pemerintah karena pasar cenderung kearah eksploitasi (pemerintah/sosialis)  negara-negara komunis menganut pandangan ini. • Dalam kenyataan, tidak satupun negara yang murni menganut salah satu pandangan/paham ekonomi.

  8. EKONOMI MAKRO VS MIKRO • Ekonomi makro: studi tentang perilaku ekonomi agregat (keseluruhan) yang sering menggunakan indikator-indikator nasional, misalnya: tingkat pengangguran, inflasi, pertumbuhan, dan umumnya kurang fokus pada pemerataan (distribusi) • Ekonomi mikro: studi tentang perilaku ekonomi individu (supply-demand) yang merupakan komponen ekonomi makro • Keduanya saling berinteraksi (interdependen)

  9. ANALISIS EKONOMI • Ekonomi normatif: apa yang seharusnya dilakukan, misalnya penciptaan lapangan kerja, mengurangi pengangguran • Ekonomi positif: mendasarkan fakta yang ada dan kemudian dikembangkan cara-cara untuk mencapai tujuan, misalnya mengatasi pengangguran

  10. ARTI EKONOMI PENDIDIKAN Ekonomi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang cara terbaik dalam mengalokasikan sumberdaya pendidikan yang terbatas (terutama dana) antar jalur, jenis, jenjang pendidikan baik negeri maupun swasta; antar jenjang pemerintah-an (pusat, propinsi, dan kabupaten/kota) serta satuan pendidikan; antar kategori input (pendidik, sarpras, dsb.); dan antar daerah (propinsi, kabupaten/kota).

  11. Jalur pendidikan: pendidikan formal, nonformal, dan informal • Jenjang pendidikan: dasar, menengah, dan tinggi • Jenis pendidikan: umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus

  12. Analisis biaya dapat mambantu membeberkan: (1) pemborosan internal sekolah dan inefisiensi serta cara-cara yang dapat mengeliminasi mereka; dan (2) peningkatan efisiensi eksternal dan keuntungan individu dan masyarakat dari investasi pendidikan yang benar-benar terarah dengan baik

  13. ARTI EKONOMI KETENAGAKERJAAN Ekonomi ketenagakerjaan adalah studi tentang cara kerja dan hasil pasar kerja. Lebih spesifiknya, ekonomi ketenagakerjaan adalah studi tentang perilaku pihak pengusaha/manajemen dan pihak pekerja/ serikat pekerja dalam menanggapi/ mengalokasikan upah, harga, keuntungan, dan aspek-aspek bukan uang tetapi terkait dengan uang misalnya kondisi kerja, keselamatan kerja, kesehatan karyawan, rekreasi, dsb. (Ehrenberg & Smith, 1985).

  14. Jadi, ekonomi ketenagakerjaan itu menyangkut pengalokasian/pemanfaatan tenagakerja dengan sebaik-baiknya agar efektif dan efisien dalam menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebanyak mungkin Lebih spesifiknya, ekonomi ketenagakerjaan mempelajari perilaku permintaan tenaga kerja (demand), persediaan tenagakerja (supply), pasar kerja (pertemuan lowongan kerja dan pencari kerja , dan alternatif solusi terhadap kesenjangan antara demand dan supply). Pasar kerja itu bersifat maya tetapi ada.

  15. Suppliertenaga kerja adalah lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan, sedang demandertenaga kerja adalah dunia kerja, baik yang bersifat profit maupun nonprofit Tenagakerja = angkatan kerja + bukan angkatan kerja. Angkatan kerja (labor force) adalah golongan yang bekerja dan golongan yang menganggur dan mencari pekerjaan, sedang golongan bukan angkatan kerja adalah golongan yang bersekolah, golongan yang mengurus rumah tangga, dan golongan yang menerima pendapatan (yang disantuni)

  16. Persediaan TK = angkatan kerja = supply Angkatan kerja = yang bekerja + penganggur Tingkat pengangguran = jumlah penganggur : jumlah angkatan kerja x 100%

  17. MODAL UNTUK MEMPELAJARI EKONOMI PENDIDIKAN Pertama, untuk memahami biaya pendidikan, seseorang harus memahami pendidikan sebagai sistem yang terdiri dari tujuan pendidikan yang akan dicapai dan komponen-komponen pendidikan yang membetuk sistem yaitu konteks, input, proses, output, dan outcome (jangka pendek dan jangka panjang), lihat Gambar 1; Kedua, memahami jenis dan sumber pendapatan yang dibutuhkan untuk memenuhi biaya pendidikan dan bagaimana pendapatan bervariasi dalam situasi yang bervariasi;

  18. Ketiga, siapapun yang ingin mempelajari ekonomi pendidikan harus memahami biaya pendidikan, jenis-jenis biaya pendidikan, faktor-faktor yang mem-pengaruhinya, dan akibat dari faktor-faktor tersebut terhadap jumlah dan jenis biaya pendidikan; • Keempat, memahami segitiga anggaran pendidikan yang meliputi rencana pendidikan, rencana biaya pendidikan (biaya yang dibutuhkan untuk, dan rencana sumber dana pendidikan;

  19. Konteks Input Proses Output Outcome Kualitas dan Inovasi Efektifitas Produktifitas Efisiensi Internal Efisiensi Eksternal Gambar 1: Pendidikan (Sekolah) sebagai Sistem

  20. Tabel 1: Pendidikan sebagai Sistem Komponen Sub-komponen Konteks • Tuntutan pengembangan diri dan peluang tamatan • Dukungan pemerintah & • masyarakat 3. Kebijakan pemerintah. 4. Landasan hukum 5. Kemajuan ipteks 6. Nilai & harapan masyarakat 7. Tuntutan otonomi 8. Tuntutan globalisasi

  21. Komponen Sub-komponen 1. Kurikulum Input 2. Pendidik & Tenaga Kependidikan 3. Sarana & Prasana 4. Peserta didik 5. Dana 6. Regulasi 7. Struktur organisasi 8. Administrasi 9. Peranserta masyarakat

  22. Komponen Sub-komponen • 1. Proses belajar mengajar • Penilaian • Manajemen Proses Output 1. Prestasi akademik 2. Prestasi non akademik 3. Angka mengulang 4. Angka putus sekolah

  23. Komponen Sub-komponen Outcome Jangkapendek: 1. Kesempatan pendidikan 2. Kesempatan kerja Jangka panjang: • Keuntungan ekonomi dan nonekonomi • Keuntungan individual dan sosial • Pengembangan lulusan

  24. Rencana Pendidikan Biaya Pendidikan Sumber Dana SEGI TIGA ANGGARAN PENDIDIKAN

  25. RENCANA PENDIDIKAN • Peningkatan akses, pemerataan, dan keadilan • Peningkatan efektivitas (mutu, relevansi, dan daya saing) • Peningkatan efisiensi Catatan: sekarang rencana pendidikan mencakup ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan, dan kepastian layanan (5K)

  26. Contoh-contoh rencana pendidikan: (1) peningkatan akses, pemerataan, dan keadilan misalnya: beasiswa untuk siswa miskin, pembangunan SD-SMP satu atap, SMP/SMA/SMK Terbuka; (2) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, misalnya: pelatihan guru, kepala sekolah; pengembangan bahan ajar; pengembangan model pembelajaran (pembelajaran tuntas, pembelajaran dengan melakukan, pembelajaran kontekstual, pembelajaran kooperatif, PAIKEM, lessons study, dsb.); pengemban karakter, budipekerti, dsb.); dan (3) peningkatan efisiensi, misalnya pengurang-

  27. an angka putus sekolah, pengurangan angka mengulang, rasio siswa/guru, penggunaan (gedung, ruang, dan fasilitas pendidikan) secara maksimal; modifikasi proses belajar mengajar (team teaching), mengganti tatap muka ke e-learning, dsb. Ekonomi pendidikan lebih cenderung ke efisiensi pendidikan, tetapi tidak bisa mengorbankan mutu. Jadi, meskipun efisien tetapi mutunya rendah (tidak efektif), maka tetap tidak efisien. Misalnya, tidak ada siswa yang putus sekolah dan tidak ada siswa yang mengulang, tetapi hasil belajarnya rendah dan apa yang diajarkan tidak relevan dengan kebutuhan siswa/berbagai sektor ekonomi.

  28. BIAYA PENDIDIKAN Biaya pendidikan meliputi: (1) biaya satuan pendidikan, (2) biaya penyelenggaraan dan/ atau pengelolaan pendidikan, dan (3) biaya pribadi peserta didik (lihat PP 48/2008 tentang Pendanaan Pendidikan dan UU 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan). Dalam ekonomi pendidikan juga dikenal istilah biaya peluang (opportunity cost) atau penghasilan yang hilang (foregone earning) selama seseorang sedang melakukan studi

  29. SUMBER DANA Pusat: APBN (agregasi seluruh pendapatan nasional yaitu PDB, impor-ekspor, dan pinjaman/hibah dari luar negeri) Propinsi: APBD (PAD, DAU, DAK, Dana Bagi Hasil, Pinjaman/Hibah), Dana Dekonsentrasi, dan Dana Tugas Pembantuan) Kabupaten/Kota: APBD (PAD, DAU, DAK, Dana Bagi Hasil, Pinjaman/ Hibah), dan Dana Tugas Pembantu-an)

  30. EFISIENSI PENDIDIKAN Efisiensi pendidikan merujuk pada hasil yang maksimal dengan biaya yang wajar. Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal merujuk kepada hubungan antara output sekolah (pencapaian prestasi belajar) dan input (sumberdaya) yang digunakan untuk memroses/menghasilkan output sekolah, misalnya: peningkatan angka kelulusan, rasio keluaran/masukan, angka kenaikan kelas/transisi, penurunan angka mengulang, angka putus sekolah, dan peningkatan angka kehadiran.

  31. Efisiensi eksternal merujuk kepada hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan lulusan dan keuntungan kumulatif (individual, sosial, ekonomi dan nonekonomi) yang didapat setelah kurun waktu yang panjang diluar sekolah. Tujuan akhir efisiensi eksternal adalah keuntungan dalam jangka panjang dari investasi pendidikan. Contoh-contoh perencanaan peningkatan efisiensi eksternal, misalnya peningkatan relevansi pendidikan dengan kebutuhan siswa dan kebutuhan berbagai sektor kehidupan, dan proporsi jumlah siswa SMK: SMA.

  32. Lalu apa bedanya efisiensi internal dan efisiensi eksternal? Hanya terletak pada dimensi waktu. Efisiensi internal diukur dalam waktu dekat (output dan biayanya) dan efisiensi eksternal diukur dalam waktu panjang (output dan biayanya). Output jangka panjang disebut dampak/impact, baik dampak individual maupun dampak sosial, yang diukur dengan analisis biaya-manfaat (cost benefit analysis). Pisau analisis efisiensi, selain cost-benefit analysis (hanya mengukur nilai moneter), juga cost effectiveness (kombinasi pengukuran ekonomi dan non ekonomi).

  33. Untuk mengukur efisiensi eksternal (apakah investasi pendidikan pada jalur, jenis dan jenjang pendidikan tertentu merupakan investasi yang baik), rasio biaya-keuntungan (cost- benefit ratio) merupakan alatnya. Hasil akhir dari analisis cost-benefit ratio adalah rate of return (nilai balik). Menurut Coombs & Hallak (1987), penelitian-penelitian menyimpulkan bahwa: (1) investasi bidang pendidikan menghasilkan nilai balik lebih tinggi dari pada investasi di bidang-bidang lain (industri, (2) nilai balik investasi di sekolah dasar lebih tinggi dari pasa investasi di sekolah menengah dan perguruan tinggi; dan (3) nilai balik lulusan perguruan tinggi (individual) lebih tinggi dari pada nilai balik sosial secara keseluruhan.

  34. Dari penelitian-penelitian tentang analisis nilai balik (cost benefit analysis) tersebut dapat disimpulkan bahwa investasi di bidang manusia lebih menguntungkan dari pada investasi di bidang-bidang lain dan dengan demikian, investasi di bidang manusia dapat dianggap sebagai human capital yang paling menguntungkan (negara-negara maju cenderung investasi di bidang human resource, man made-resources/teknologi, dan tanpa meninggalkan natural resources).

  35. HUMAN CAPITAL (BECKER, 1985) Education Increased Productivity Increased Earning Economic Development

  36. DUA PENYEBAB INEFISIENSI Pertama, inefisiensi yang disebabkan oleh alasan operasional dan ini terjadi karena: (a) pemanfaatan/penggunaan sumberdaya (SDM, peralatan, perlengkapan, bahan, dan uang) yang kurang optimal (terjadi idle capacity/under utilization/low use factor), (b) penggunaan uang yang kurang tepat akibat struktur pembiayaan yang kurang tepat, (c) para anggota dalam sistem tidak berkontribusi secara maksimal dalam proses transformasi (mengubah kondisi saat ini men-

  37. jadi kondisi yang lebih baik), (d) pemilihan proses yang tidak efisien, dan (e) ketidakpedulian terhadap berbagai penggunaan sumberdaya (listrik, air, genting bocor, dsb.) sehingga terjadi pemborosan yang seharusnya tidak perlu terjadi). Kedua, inefisiensi disebabkan oleh pengambilan keputusan yang keliru yaitu yang tidak mendasarkan pada kriteria efisiensi (biaya terkecil, untung terbesar), dan yang tidak mendasarkan pada informasi yang valid dan reliabel (akurat).

  38. CONTOH INEFISIENSI KARENA ALASAN OPERASIONAL Dua SMK (1 & 2) dengan input yang sama (guru, jumlah siswa, kurikulum, bahan ajar, sarana dan prasarana, dsb.), tetapi lulusan SMK 1 NUN nya lebih tinggi dari pada SMK 2, maka SMK 1 dikatakan lebih efisien; Kelas yang sama diajar Mekanika Teknik pada semester yang lalu dan semester sekarang, dan yang semester sekarang nilainya lebih baik dari pada semester yang, lalu, maka dapat dikatakan bahwa semester sekarang lebih efisien.

  39. Yang menjadi pertanyaan adalah: kalau sistemnya sama (kurikulum, jumlah guru, sarana dan prasarana, dana, jumlah siswa dsb.), mengapa hasil belajarnya berbeda? Hal ini terjadi karena anggota dalam sistem (kepala sekolah, guru, siswa, dsb.) berbeda dalam kemampuan (intelektual, kinestetikal), kesanggupannya (yang dipengaruhi oleh sikap, motivasi/insentif), dan upaya-upaya yang ditempuh untuk bekerja dan belajar, yang pada gilirannya akan mengarah kepada perbedaan kinerja mereka, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap perbedaan prestasi belajar siswa.

  40. CONTOH INEFISIENSI KARENA PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLIRU Dua jenis pelatihan A dan B untuk mencapai tujuan yang sama, tetapi pelatihan A menggunakan pendekatan tatap muka yang biayanya lebih mahal dari pada pelatihan B yang menggunakan paket belajar mandiri dan hasil pelatihan kedua pendekatan A dan B tersebut sama. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa jenis pelatihan dengan pendekatan B lebih efisien.

  41. Misalnya lagi, siswa SMK diajar tentang peralatan mekatronik, tetapi setelah mereka lulus dan bekerja, tidak ada DU/DI yang menggunakan peralatan mekatronik. Jadi hasil belajar (output) nya salah sehingga biaya yang telah dikeluarkan untuk membiayai pembelajaran mekatronik terbuang sia-sia dan ini jelas tidak efisien. Jadi inefisiensi pengambilan keputusan dapat berasal dari pemilihan proses yang berbiaya lebih besar, atau proses yang menghasilkan output salah.

  42. CARA MENGURANGI INEFISIENSI Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja para anggota dalam sistem (sekolah) misalnya guru, kepala sekolah, karyawan, dan siswa; Mengoptimalkan penggunaan/pemanfaatan sumberdaya dalam sistem (misalnya SDM dan fasilitas sekolah); Memperbaiki struktur pembiayaan dengan menerapkan prinsip prioritas (yang harus dibiayai, yang seharusnya dibiayai, dan yang dapat dibiayai);

  43. Mengubah batas-batas proses, misalnya: (1) SD dan SMP yang terpisah pada daerah-daerah terpencil, terpencar, dan terisolir dijadikan SD-SMP satu atap; (2) dari pengelolaan yang sentralistik ke desen-tralistik (misalnya pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan, pengelolaan uang, dan pengelolaan kurikulum); dan Memperbaiki lingkungan kerja misalnya memperbaiki hubungan kerja, memperkuat teamwork, meningkatkan loyalitas kerja, dan memberi insentif bagi yang kinerjanya lebih baik

  44. DISKUSI • Menurut anda, bagaimana alokasi 20% APBN dan APBD untuk pendidikan karena rata-rata kabupaten/kota telah mengalokasikan 28,3% APBD untuk pendidikan namun 96% nya untuk gaji pegawai? • Jika dikaitkan dengan PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan antara Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota, apakah alokasi 20% sudah tepat? • Perubahan proporsi siswa SMA:SMK dari 70%:30% menjadi 30%:70% efisien?

  45. Apakah pemberian (alokasi) tunjangan guru dan dosen cukup efisien dari sudut pandang ekonomi pendidikan karena saat ini di daerah gaji pegawai pendidikan telah menyerap 96% dari APBD? • Akibat desentralisasi pendidikan yang ditekankan di kabupaten/kota, telah terjadi kesenjangan yang sangat lebar antara daerah yang memiliki pendapatan bagi hasil SDA dan yang tidak memilikinya (misal APBD pendidikan di Kutai Kertanegara 750 milyar dan di Kabupaten Bima 50 milyar dengan jumlah penduduk yang justru lebih banyak). Pendapat Anda dari sudut pandang ekonomi pendidikan?

  46. Identifikasikan jenis-jenis inefisiensi akibat alasan operasional dan alasan pengambilan keputusan yang kliru di bidang pendidikan kejuruan dan pendidikan vokasi! • Bagaimana cara mengurangi inefisiensi yang disebabkan oleh kedua alasan tersebut (alasan operasional dan alasan pengambilan keputusan)?

  47. PISAU ANALISIS EKONOMI PENDIDIKAN (EFISIENSI) • Rate of return analysis (Cost-benefit analysis) • Cost effectiveness analysis

  48. COST BENEFIT ANALISIS(RATE OF RETURN ANALYSIS) • Hitung biaya total (total cost) pendidikan, baik biaya langsung maupun biaya tak langsung • Hitung manfaat total (total benefit) hasil pendidikan setelah kurun waktu tertentu, biasanya diukur dengan penghasilan/ pendapatan total alumni pendidikan • Bandingkan total benefit dan total cost (nomor 1 dibagi nomor 2) akan ditemukan rate of return in education

  49. COST EFFECTIVENESS ANALYSIS • Cost effectiveness analysis skopnya lebih luas dari pada cost benefit analysis yang hanya membandingkan nilai moneter. Cost effectiveness analysis mengaitkan keuntungan non moneter dengan biaya moneter • Cost effectiveness analysis mengukur seberapa efektif program pendidikan mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan biaya yang terkecil, atau dengan biaya sama dengan ketercapaian tujuan lebih baik

  50. Cost effectiveness analysis mengukur dua aspek • Mengukur ekonomi program pendidikan, yaitu tujuan kuantitatif ditetapkan, kemudian biaya untuk beberapa alternatif dibandingkan. Tujuan tercapai dengan biaya terkecil adalah yang lebih ekonomis. • Mengukur efisiensi program pendidikan, yaitu dengan biaya yang sama, beberapa alternatif yang berbeda dibandingkan. Level efektivitas ditentukan terlebih dahulu meskipun tidak dalam bentuk uang. Alternatif yang menghasilkan efektivitas yang tertinggi adalah yang terbaik.