1 / 56

Intensitas dan Prevalensi Ektoparasit Pada Ikan Di Hulu Sungai Cimanuk Kabupaten Garut, Jawa Barat

Intensitas dan Prevalensi Ektoparasit Pada Ikan Di Hulu Sungai Cimanuk Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sidang K omprehensif SONAGAR AMIRULLAH 230110080028 Dibimbing Oleh : Prof., Drs., Yayat Dhahiyat MS., Ph.D Ir., Ike Rustikawati MP. LATAR BELAKANG. SUNGAI CIMANUK. KUALITAS PERAIRAN MENURUN.

cormac
Download Presentation

Intensitas dan Prevalensi Ektoparasit Pada Ikan Di Hulu Sungai Cimanuk Kabupaten Garut, Jawa Barat

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Intensitas dan Prevalensi Ektoparasit Pada Ikan Di Hulu Sungai Cimanuk Kabupaten Garut, Jawa Barat Sidang Komprehensif SONAGAR AMIRULLAH 230110080028 Dibimbing Oleh : Prof., Drs., Yayat Dhahiyat MS., Ph.D Ir., Ike Rustikawati MP.

  2. LATAR BELAKANG SUNGAI CIMANUK KUALITAS PERAIRAN MENURUN PENCEMARAN DAMPAK TERHADAP IKAN MUNCULNYA PENYAKIT DAN PARASIT

  3. IDENTIFIKASI MASALAH Mengidentifikasi jenis-jenis ektoparasit yang menyerang ikan dan sejauh mana intensitas dan prevalensi ektoparasit pada ikan yang berada di Sungai Cimanuk .

  4. TUJUAN PENELITIAN Untuk mengetahui jenis-jenis ektoparasit yang menyerang ikan yang terdapat di Sungai Cimanuk Kabupaten Garut Jawa Barat

  5. KEGUNAAN PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat sekitar, mengenai jenis-jenis ektoparasit, intensitas dan prevalensi pada ikan yang terdapat di Sungai Cimanuk Kabupaten Garut, Jawa Barat.

  6. PENDEKATAN MASALAH • Penyebab Menurunnya Kualitas Perairan Cimanuk Hulu : • 1. Penambangan Pasir • 2. Limbah Rumah Tangga • 3. Limbah Pertanian • 4. Limbah Peternakan • 5. Limbah Industri MENURUNNYA KUALITAS AIR CIMANUK HULU DAMPAK TERHADAP IKAN CIMANUK HULU AKAN TERSERANG PENYAKIT DAN PARASIT

  7. WAKTU PENELITIAN Penelitian ini telah dilaksanakan di sepanjang aliran Sungai Cimanuk Hulu berdasarkan stasiun yang telah ditentukan pada bulan Juni hingga Juli 2012

  8. ALAT DAN BAHAN Alat yang digunakan : Akuarium Aerator Jarum Tusuk Gunting Pinset Pisau Petridish Gelas Objek Mikroskop Binokuler Handcouter Termometer pH meter dan DO meter Timbangan Kantong Plastik Penggaris Jaring, Pancing dan Bubu Bahan yang digunakan : Ikan Uji Bahan Kimia : NaCl Alkohol Entellan Giemsa

  9. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Stasiun pengamatan yang akan diamati sebanyak 4 stasiun, dimana penentuan setiap stasiun tersebut berdasarkan kondisi lingkungan sekitar yang berbeda-beda.

  10. STASIUN PENGAMBILAN SAMPEL

  11. Stasiun 1. Daerah Cikajang Desa Cisurupan merupakan aliran mata air mengalir, banyak terdapat bebatuan yang berukuran besar.

  12. Stasiun 2. Daerah Bayongbong Desa Karyajaya, banyak limbah dari pasar dan terdapat saluran irigasi untuk perikanan dan pertanian.

  13. Stasiun 3. Daerah Tarogong Kidul, Desa Sukakarya, kondisi perairan beraliran tenang dan banyak aktifitas penambangan pasir dan batu.

  14. Stasiun 4. Daerah Garut Kota Desa Sukamantri, memiliki kedalaman perairan sekitar 2,5m dan berlumpur. Banyak limbah dari rumah tangga.

  15. Pelaksanaan Penelitian • Pemeriksaan Ektoparasit Pada ikan • Pengambilan Sampel Ikan • Pengukuran Kualitas Air Analisa Data Identifikasi Parasit

  16. Pengukuran Kualitas Air

  17. Analisa Data • Intensitas dan Prevalensi Ektoparasit Jumlah Parasit yang Ditemukan Intensitas (individu/ekor ikan) = Jumlah Ikan yang Terinfeksi Jumlah Ikan yang Terserang Parasit Prevalensi (%) = X 100 % Jumlah Ikan yang Terinfeksi Infestasi (Ekor Ikan) = Jumlah Ikan yang Terinfeksi

  18. Indeks Keragaman dan Indeks Dominansi • Indeks Keragaman • Keterangan : H’ = Indeks Keragaman Shannon-Wiener s = Jumlah Spesies Ektoparasit yang Tertangkap Pi = Perbandingan Jumlah Ektoparasit Spesies ke- i (ni) yang tertangkap Terhadap Jumlah Total Ektoparasit yang tertangkap (N)=ni /N • Kisaran nilai indeks kergaman adalah : 0 – 1,299 : Keanekaragaman Kecil 1,299 – 1,705 : Keanekaragaman Sedang 1,705 – 2,396 : Keanekaragaman Tinggi

  19. 2. Indeks Dominasi Keterangan : D = Indeks Dominasi Simpson’s s = Jumlah Spesies Ikan yang Tertangkap Pi = Perbandingan Jumlah Ikan Spesies ke- i (ni) yang tertangkap terhadap Jumlah Total Ikan yang Tertangkap (N)=ni /N • Kisaran nilai indeks dominasi untuk ikan adalah : 0,00 < D < 0,30 = dominasi rendah 0,30 < D < 0,60 = dominasi sedang 0,60 < D < 1,00 = dominasi tinggi

  20. Hasil dan Pembahasan 1. Komposisi Jenis Ikan

  21. Ikan nila banyak tertangkap karena ikan ini mempunyai kemampuan beradaptasi yang cukup tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, dan ikan nila mampu berkembang biak dengan cepat.

  22. Golsom Red Devil Paray Cingir Puteri

  23. Nila Mujair Sepat Sepat Senggal Gabus

  24. Jumlah Ikan, indeks keragaman dan dominansi

  25. Nilai keanekaragaman paling tinggi berada di Stasiun 4 (Sukamentri) dengan nilai 1,584, namun menurut Odum (1971) apabila nilai H’ 1,299-1,705 maka indeks keanekaragamannya sedang, sedangkan nilai keanekaragaman paling rendah berada di Stasiun 3 (Sukakarya) dengan nilai 1,181 dan menurut Odum (1971) nilai H’<1,299 indeks keanekaragamannya rendah.

  26. Nilai indeks dominansi paling tinggi berada di Stasiun Sukakarya dengan nilai 0,422 yang berarti menurut Odum (1971) nilai dominansi D > 0,30 maka indeks dominansi sedang, sementara nilai dominansi paling rendah berada di Stasiun Sukamentri dengan nilai 0,234 yang berati menurut Odum (1971), nilai dominasi D < 0,30 maka indeks dominansi rendah.

  27. Jumlah Ikan yang Terinfeksi Ektoparasit

  28. Gambar-gambar Ektoparasit yang Menyerang Ikan di Sungai Cimanuk Trichodina Trichodinella Ichtyophthirius Chilodonella

  29. Dactylogyrus Gyrodactylus Transversoterma

  30. Genus ektoparasit dari filum Protozoa yang paling banyak ditemukan adalah Chilodinella sebanyak 237 ekor atau 32,3% dari jumlah keseluruhan ektoparasit yang ditemukan. Chilodinella berkembang biak dengan cara membelah diri, faktor lingkungan yang buruk juga dapat membuat ikan mudah terserang parasit ini (Triamariani, 1985).

  31. Genus ektoparasit dari filum Protozoa yang paling sedikit ditemukan adalah Ichtyophthirius sebanyak 78 ekor atau 10,6% dari jumlah keseluruhan ektoparasit yang ditemukan. Jumlah Ichtyophthirius yang sedikit dikarenakan infeksi parasit ini terjadi pada suhu rendah dan memiliki siklus hidup yang panjang (Sachlan, 1972).

  32. Genus ektoparasit dari filum Helminthes yang paling banyak ditemukan adalah Dactylogyrus yaitu sebanyak 159 ekor atau 21,6% dari jumlah keseluruhan ektoparasit yang yang ditemukan. Hal ini disebabkan karena Dactylogyrus berkembang biak dengan ovipar (bertelur) yang dapat menghasilkan ±100 butir telur setiap individu (Sachlan, 1972),

  33. Genus ektoparasit yang paling sedikit ditemukan adalah Transversoterma sebanyak 35 ekor atau 4,7% dari jumlah keseluruhan ektoparasit yang ditemukan. Transversoterma bersifat inang spesifik, memiliki umur hidup yang lama dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses perkembangannya (Woo, 1995),

  34. Ektoparasit yang Menyerang Organ Ikan

  35. Ektoparasit yang paling banyak ditemukan pada permukaan kulit adalah Chilodinella sebanyak 142 ekor atau 19,5%, dan ektoparasit yang paling sedikit ditemukan adalah Transversoterma sebanyak 35 ekor atau 4,8%, hal ini karena Chilodonella dapat berpindah ke ikan lain dan dapat bereproduksi dengan cepat (Untergasser, 1989).

  36. Ektoparasit yang paling banyak ditemukan di insang adalah Dactylogyrus sebanyak 159 ekor atau 21,6%. Hal ini disebabkan insang dapat menyediakan sumber makanan berupa darah dan media yang cocok bagi Dactylogyrus untuk dapat bereproduksi secara maksimal.

  37. Intensitas Ektoparasit Setiap Stasiun

  38. Intensitas ektoparasit yang terbesar terdapat pada Stasiun 2 dengan nilai sebesar 24,8 yang artinya setiap satu ekor ikan di Stasiun 2 terinfeksi 25 ekor parasit, besarnya intensitas ektoparasit Stasiun 2 karena tingkat pencemaran yang sangat tinggi berupa limbah rumah tangga dan pasar.

  39. Intensitas ektoparasit yang terendah terdapat pada Stasiun 1 dengan nilai sebesar 18,8 yang artinya setiap satu ekor ikan di Stasiun 1 terinfeksi 19 ekor parasit, rendahnya intensitas ektoparasit Stasiun 1 karena merupakan tempat mata air mengalir sehingga kondisi perairan di Stasiun 1 masih baik.

  40. Intensitas Ektoparasit pada Ikan Hasil Tangkapan

  41. Chilodonella memiliki nilai intensitas paling tinggi pada filum Protozoa yaitu 5,93 atau 6 ekor persatu ikan, karena Chilodinella berkembang biak dengan cara membelah diri (Triamariani, 1985) sehingga perkembangan biak Chilodonella sangat cepat. Ichtyophthirius memiliki nilai intensitas paling rendah yaitu 0,9 atau 1 ekor persatu ikan, karena infeksi parasit ini terjadi pada suhu rendah dan memiliki siklus hidup yang panjang (Sachlan, 1972).

  42. Dactylogyrus memiliki nilai intensitas paling besar yaitu 1,87 atau 2 ekor persatu ikan. Nilai Dactylogyrus yang tinggi karena parasit ini bersifat hermaprodit dan ovipar serta dapat bertelur hingga ±100 butir (Sachlan, 1972). Intensitas Transversoterma paling rendah di filum Helminthes yaitu 0,4 atau 1 ekor persatu ikan, karena Transversoterma memiliki umur hidup yang lama dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses perkembangannnya (Woo, 1995)

  43. Ikan Nila yang memiliki intensitas paling tinggi yaitu 25,09. Ikan yang termasuk famili Cichlidae termasuk ikan yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya sehingga menjadi inang yang baik bagi parasit hidup dan berkembang biak (Noble dan Nobel, 1989). Ikan Cingir Puteri memiliki intensitas paling rendah yaitu 7,5. Jumlah ikan ini di Sungai Cimanuk sedikit sehingga menyulitkan ektoparasit untuk beradaptasi dengan kebiasaan hidup ikan tersebut dan ada beberapa ektoparasit yang bersifat inang spesifik.

  44. Prevalensi Ektoparasit pada Ikan di Setiap Stasiun

  45. Prevalensi Ektoparasit pada Ikan

  46. Chilodonella memiliki nilai prevalensi paling tinggi diantara parasit dari filum Protozoa lainnya yaitu sebesar 34,58% atau menginfeksi 35 ikan dari 133 ekor ikan yang diperiksa. Trichodinella memiliki prevalensi paling rendah sebesar 20,3 atau menginfeksi 20 ekor ikan dari 133 ekor yang diperiksa.

  47. Dactylogyrus memiliki nilai prevalensi paling besar diantara semua ektoparasit dengan nilai 44,36%, karena sifat Dactylogyrus yang tidak memiliki inang spesifik sehingga dapat menginfeksi semua jenis ikan. Nilai prevalensi paling rendah adalah Transversoterma sebesar 8,27%.

  48. Grafik Prevalensi Pada Ikan

More Related