1 / 12

Regionalisme ASEAN

Regionalisme ASEAN. Kelompok 2. Kendala ASEAN. Sulit mendapatkan full respect untuk aspek-aspek penting dari diplomasi dan security culture dari negara-negara Asia Timur  prinsip non- intervensi ASEAN.

bin
Download Presentation

Regionalisme ASEAN

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Regionalisme ASEAN Kelompok 2

  2. Kendala ASEAN • Sulitmendapatkanfull respect untukaspek-aspekpentingdaridiplomasidansecurity culture darinegara-negara Asia Timur prinsip non-intervensi ASEAN. • Solusi: Anwar Ibrahim (PM Malaysia)  constructive intervention anggota-anggota ASEAN saling meminta jasa satu sama lain untuk mendorong kemajuan nasional satu sama lain untuk menghindari krisis politik yang dialami oleh Kamboja.

  3. Flexible Engagement (FE) • Dr. Surin Pitsuwan (Menlu Thailand)  flexible engagement  mengkomentari secara publik dan mendiskusikan politik domestik negara anggota lain secara kolektif apabila hal tersebut berimplikasi terhadap regional atau berdampak kurang baik terhadap disposisi anggota ASEAN lain. • Tujuan  sebagai ekspresi kewajiban moral bersama ASEAN untuk menyadari persetujuan akan negara-negara AsTeng yang berpandangan ke luar (outward looking), hidup damai, stabil dan makmur, terikat bersama dalam persekutuan dan perkembangan yang dinamis (Deputy Foreign Minister Thailand, Sukhumbhand Paribatra).

  4. Alasan-alasanuntukMenggunakan FE • Respon terhadap interdependensi, namun setiap peristiwa makin berdampak pada negara lain • Menghadapi ancaman-ancaman keamanan yang baru: gangguan ekonomi dan masalah-masalah keamanan lintas-batas (migrasi internasional, obat-obatan ilegal, kejahatan transnasional, dan degradasi lingkungan • Meningkatkan demokratisasi dan HAM di negara-negara ASEAN.

  5. Alasan-alasanuntukMenolak FE • Kebijakan non-intervention tidak sama dengan acuh tak acuh, sehingga kebijakan tersebut sudah tepat dan juga fleksibel. • Kedua, flexible agreement itu tidak jelas, tidak transparan, dan jauh dari prinsip yang sudah dipegang oleh ASEANketika ada permasalahan antara dua negara, ASEAN bisa menganggap itu bukan urusan ASEAN. • Jika flexible agreement itu disetujui diibaratkan seperti membuka kotak Pandoramenimbulkan perselisihan dan ketidakpercayaan antara satu sama lain • Beberapa negara anggota ASEAN sangsi kebijakan tersebut akan mengurangi keamanan rezim akan muncul intervensi pula dari pihak luar kawasan Asia Tenggara sehingga akan mengikis wewenang negara-negara anggota ASEAN itu sendiri

  6. PentingnyaNilai-Nilaidi ASEAN • Sukses atau gagalnya regionalisme di Asia Tenggara bisa dijelaskan tidak hanya dengan keseimbangan great-power, tetapi juga forces yang bersifat ideasional, termasuk norma-norma dan politik pembangunan identitas, bahkan keduanya menjadi determinan pusat • Empat bagian argumen

  7. Norma-Norma • Pembentukan ASEAN tidak hanya didasarkan pada kondisi yang bersifat struktural, tetapi juga kapasitasnya untuk menyusun norma-norma, termasuk norma non-intervention. • Alasan  menjadi satu alasan mengapa tidak ada konflik militer yang pecah antara negara-negara anggota ASEAN sejak berdirinya ASEAN. Tidak heran, negara-negara ASEAN menganggap flexible engagement diibaratkan seperti membuka kotak Pandora, karena potensi munculnya konflik militer akan semakin besar.

  8. Identitas • Pembangunan identitas regional yang penting dalam hubungannya dengan negara-negara lain di luar ASEAN. • Identitas bisa dibuat dan juga terbentuk secara alami. • Contoh identitas ASEAN yang dibentuk  ASEAN berusaha untuk memisahkan diri dari kerangka regional yang dibuat oleh China dan India ASEAN berusaha untuk menciptakan identitas sendiri tanpa campur tangan dari kerangka identitas regional lain.

  9. Komunitas • ASEAN  komunitas diplomatik. • Masing-masing anggota wajib patuh pada inti norma diplomasi di antara mereka yakni “the non-use of force in intra-mural relations” atau tidak adanya penggunaan paksaan dalam hubungan antar anggota. • ASEAN sebagai suatu komunitas tetap mempertimbangkan penggunaan paksaan sebatas ideational forces dengan tujuan untuk menciptakan susunan atau tatanan dalam lingkup regional.

  10. Kekuasaan (Power) • Salah satu peran penting power  darikritikLeiferterhadapkekurangan atau kelemahan dari ARF (ASEAN Regional Forum) ARF lemah karena belum sepenuhnya menempatkan syarat mutlak yang dibutuhkan bagi keberhasilan ARF, yakni menempatkan keseimbangan kekuasaan yang stabil (stable balance of power) dalam prioritas utama. • Regionalisme merupakan hal yang potensial bagi keadaan perimbangan kekuasaan atau balance of power  selain dengan menggunakan paksaan militer juga dapat dicapai dengan diplomasi maupun ‘institutional-locking’. • Regionalisme dapat memperbesar kekuasaan politik dari masing-masing negara sekaligus sebagai suatu instrumen yang terlegitimasi bagi pembentukan regional order. Norma-norma dan insitusi regional akan lebih berperan terutama ketika negara-negara ‘great power’ mengalami penurunan

  11. Kesimpulan • Peran penting dan potensial ASEAN terwujud akibat adanya pemeliharaan nilai-nilainya dalam membentuk identitas regionalnya. • Kesuksesan ASEAN tidak lahir dari adanya BoPdarimasing-masing negaraanggota, tapi juga karena terpeliharanya ideational forces(norma, identitas, komunitas, kekuasaan) • Kesuksesan ASEAN tidak dapat dilihat melalui pendekatan klasikal (power and BoP) melainkan menggunakan prinsip kerjasamanya berdasarkan pada nilai-nilai yang ada

  12. Referensi • Acharya, A., 2005. Do Norms and Identity Matter? Community and Power in Southeast Asia’s Regional Order. The Pacific Review, 18 (1), pp.95-118 • Haacke, J., 1999. The Concept of Flexible Engagement and the Practice of Enhanced Interaction: Intramural Challenges to the ‘ASEAN Way’. The Pacific Review, 12 (4), pp.581-611

More Related