Download
tantangan dan kesiapan umkm indonesia dalam mea 2015 n.
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
Tantangan dan Kesiapan UMKM Indonesia dalam MEA 2015 PowerPoint Presentation
Download Presentation
Tantangan dan Kesiapan UMKM Indonesia dalam MEA 2015

Tantangan dan Kesiapan UMKM Indonesia dalam MEA 2015

1906 Views Download Presentation
Download Presentation

Tantangan dan Kesiapan UMKM Indonesia dalam MEA 2015

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. TantangandanKesiapan UMKM IndonesiadalamMEA 2015 Oleh I Wayan Dipta Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK

  2. PotensiEkonomi ASEAN • Total GDP (Gross Domestic Product) ASEAN mencapaisekitar US$ 2.327 milyar (ASEAN Secretariat, 2012) denganpasarsebesar 600 juta - memilikidayatarik yang tinggi. • Saatini, sebagianbesar (lebihdari 99%) perdaganganbarang intra-ASEAN menikmatitarif 0% (zero tariff). • ASEAN mampubertahanditengahkrisisdibelahandunialainnya. • ASEAN telahmemiliki 5 (lima) Free Trade Agreement (FTA), yaitudengan RRT (ACFTA), Jepang (AJCEPA), Korea Selatan (AKFTA), India (AIFTA, serta Australia-SelandiaBaru (AANZFTA). • DimulainyanegosiasiASEAN Framework for Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) padaawal 2013 meletakkan ASEAN sebagaidriving force dalampengembanganarsitekturekonomi yang melibatkankawasanlainnya • Hasil survey Japan ASEAN Integration Fund (JAIF) pada 2012 mencatat 73% parapelakubisnisdi ASEAN yang menjadirespondenperpandanganbahwaintegrasi ASEAN akanmemberikanmanfaatpeningkatanekonomi, dan 64 % kalanganpublikmeyakinibahwaintegrasi ASEAN akanmeningkatkankondisiekonomisecarakeseluruhan.

  3. Kesiapan Indonesia Menghadapi MEA 2015 • KEKUATAN: • Pelemahanekonomi AS danausteritymeasures diUniEropatelahmenciptakankebijakanmoneter yang ‘loose’, sehinggaarusinvestasidarikeduakawasantersebutcukupderas. Dari tigapusatpertumbuhandunia (Asia Selatan, AsiaTimurdan Asia Tenggara), yang menikmatipertumbuhantertinggiyaitu Asia Tenggara-ASEAN. Dari seluruhanggota ASEAN, pertumbuhanekonomitertinggidialami Indonesia yaitusebesar 6,4% % (Bank Dunia 2011),beradapadaurutanketigadi Asia, setelah China dan India. • RealisasiInvestasipada 2012 mencapaiRp. 313,2 triliun (tertinggisepanjangsejarah Indonesia) • KelasMenengah (middle class) Indonesia yang terusmeningkat, darihanyasebesar 37,7% pada 2003, menjadi 56,6% pada 2010 ataumencapai 134 jutajiwa (Bank Dunia) • TotalPDB Indonesia sebesar US$846 milyar (2011) terbesardi ASEAN dan ke-16 didunia (satu-satunyaanggota ASEAN yang menjadianggota G20) • Debt to GDPRatio (RasioHutangterhadap PDB) Indonesia cukuprendahdibandingnegara ASEAN lainnyayaitu 24% (2011), sebagaisalahsatuindikatormembaiknyamakro-ekonomi. Sebagaiilustrasi, Debt to GDP Ratio Malaysia mencapai 56%. • Petausiapenduduk Indonesia yang cukupmuda, sumberdayaalam yang besardanpasar yang besarmampumendukungproduktivitasnasional (Pulling Factor).

  4. Kesiapan Indonesia Menghadapi MEA 2015 • TANTANGAN • Mind-set masyarakat, khususnyapelakuusaha Indonesia yang belumseluruhnyamampumelihat KEA 2015 sebagaipeluang. MenurutJournal of Current Southeast Asian Affairs (Guido Benny danKamarulnizam Abdullah – 2011), kesadarandanpemahamanmasyarakatmengenai ASEAN masihsangatterbatas. • Sinkronisasi program & kebijakanpemerintah (pusatdengandaerah) menghadapiMEA 2015, diperlukankesamaanpandangdiantarapejabatpusatdandaerah. Global Competitive Index oleh World Economic Forum menempatkan Indonesia padaurutanke 50, dibawahsebagiannegara ASEAN (Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand). • LemahnyaInfrastruktur, khususnyabidangtransportasidanenergimenyebabkanbiayaekonomitinggi, utamanyasektorproduksidanbagipasar. • Pelakuusaha yang inward-looking. Besarnyapasardomestikmendorongpelakuusahamemprioritaskanpemenuhankebutuhanpasardomestik. • Terbatasnya jumlah SDM yang kompetenuntukmendukungproduktivitasnasional • Birokrasi yang belumefisiendanbelumsepenuhnysberpihakpadapebisnis.

  5. Potensi ASEAN bagi Pelaku Usaha • PELUANG EKONOMI: • Pasar ASEAN sebesar 600 juta, denganjumlahkelasmenengah yang semakinmeningkat. MenurutcatatanAsian Development Bank (ADB), kelas-menengah ASEAN berjumlah 24% pada 2010 akanmeningkatmenjadi 65% pada 2030. • Kebijakanmakroekonomidankondisi yang kondusifdi ASEAN telahmeningkatkanpeluangmasuknyainvestasi (FDI) dariluarkawasan. Sejak 2007 hingga 2010, investasi yang masukke ASEAN dariluarkawasanmeningkatsebesar 75% (Sumber: BKPM). • Perdagangan intra-ASEAN cenderungmeningkat, tetapiporsinyamasihrelatifkecil (25%). Sebagaiilustrasi, perdagangan intra NAFTA 50%, sedangkan EU mencapai 70%. • Potensipengembanganindustrinasionaldanmendorong Indonesia sebagaiproduction base dikawasandenganditopangpasardomestik yang besar, pendudukusiamuda/produktif, investasi yang meningkatdansumberdayaalam yang besar. • Total Wisatawan intra-ASEAN dalamsetahunmencapailebihdari 76 juta (Sumber: WEF 2012). Saatini, namunposisi Indonesia masihdibawah Malaysia, Thailand, Singapura.

  6. Potensi ASEAN bagi Pelaku Usaha • PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA (JOB-CREATION) • Pada 2012, seluruhanggota ASEAN telahmeratifikasiASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA), yang membawadampakpositifbagiikliminvestasidanusahadiseluruh ASEAN – dengansemakinmeningkatnyatransparansi, kepastian-hukum, sertafasilitasi. Sejak 2007 hingga 2010, investasi (FDI) yang masukke ASEAN dariluarkawasanmeningkatsebesar 75% (Sumber: BKPM). Berlakunya ACIA harusdijadikan momentum untukmengakselerasimasuknya FDI, yang secaralangsungmenumbuhkansektorproduksidanindustrinasional. • UKM sebagaitulang-punggungperekonomiannasionaldan regional (ASEAN) berkontribusisecarasignifikanbagi PDB nasionaldanmenyerapsebanyak97,2%dariseluruhtenagakerjadi Indonesia. Denganjumlah UKM lebihdari55,2jutaatauterbesardi ASEAN, Indonesia harusmenjadipenggerakutamapengembangan UKM di ASEAN agar akses UKM terhadappermodalan, teknologidanpasarsemakinmeningkat. • Komitmen-komitmen Negara MitraWicara ASEAN danlembagakeuanganduniauntukmerealisasikanberbagaiproyekpeningkatankonektivitasdikawasantelahmenjadikatalispertumbuhansektor-sektorlainnya. Konektivitas yang handalakanmembukapeluang-peluangusahabarudankegiatanekonomilainnya.

  7. 4 PilarAsean Economic Community Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 Integrasi dengan Perekonomian Dunia Pasar Tunggal dan Basis Produksi Regional Kawasan dengan Pembangunan Ekonomi yang Merata Kawasan Berdaya- saing Tinggi

  8. ArahPengembangan UMKM ASEAN Arahan Menteri Ekonomi dan Leaders ASEAN menuju ASEAN Economic Community pada tahun 2015, berkaitan dengan pengembangan UKM: • Menumbuhkan iklim berusaha yang kondusif bagi UKM; • Pengembangan SDM dan Kapasitas UKM: • Mengembangkan Common Curriculum for Entrepreneurship in ASEAN • Menumbuhkan wirausaha baru yang inovatif • Fasilitasi Akses Pasar • Fasilitasi dan pengembangan teknologi: Inkubator Bisnis dan Teknologi; • Meningkatkan akses finansial bagi UKM: • Pengembangan Fasilitasi Finansial bagi UKM • Pengembangan ASEAN SME Development Fund • Pengembangan Credit Rating System • Membentuk ASEAN Advisory Board;

  9. Posisi UMKM • Perananstrategis UMKM: • Di Indonesia (BPS-2009): • Jumlahnya 52,76 juta unit (99,9%); • Kontribusidalam PDB 56,92%; • Kontribusidalampenyerapantenagakerja 97,30%. • Di ASEAN: • Lebihdari 96 % perusahaan di ASEAN adalah UMKM; • Kontribusidalam PDB 30-57%; • Kontribusidalampenyerapantenagakerja 50-98% • Permasalahan UMKM: • Iklimberusahabelumkondusif (un fair business practices) • Keterbatasanaksespasar • Rendahnyaproduktivitas (teknologirendah) • keterbatasanakseskreditdaribank • Rendahnyajiwadansemangatkewirausahaan

  10. Produktivitas UMKM

  11. Target Pengembangan UMKM tahun 2015 • Produktivitas dan daya saing UMKM meningkat; • Perkembangan ekspor UMKM tumbuh 20% per-tahun; • Tumbuhnya wirausaha baru yang inovatif; • Meningkatnya akses kredit perbankan bagi UMKM, khususnya KUR sebesar Rp.100 triliun;

  12. Tantangan UMUM UMKM dalam MEA • Persainganyang makintajam, termasukdalammemperolehsumberdaya • Menjagadan meningkatkan dayasaing UKM sebagai industri kreatif dan inovatif • Meningkatkan standar, desaindankualitasprodukagar sesuai ketentuan ASEAN (Misal ISO-26000) • Diversifikasi output danstabilitaspendapatanusahamikro  agar tidak “jatuh” kekelompokmasyarakatmiskin • Meningkatkan kemampuan UMKM agar mampu memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang ada, termasuk dalam kerangka kerjasama ASEAN

  13. Isu-isu dan Tantangan Khusus Akses Finansial • Bank masih ragu memberikan pinjaman kepada UMKM, khususnya untuk pengusaha pemula dan UKM inovatif • Kewajiban penggunaan jaminan dalam pinjaman • Tingkat suku bunga yang tinggi bagi Usaha Mikro • Lembaga jaminan kredit belum ada atau terbatas • Pemeringkat kredit dan sistem informasi kredit tidak ada • Lembaga keuangan non-bank kurang berkembangn luas(e.g. venture capital, angel investment, factoring and leasing) • Sebagian terbesar UMKM tergantung pada lembaga keuangan informal Akses Pasar • Kurang paham akan FTAs – implikasi dan manfaatnya • Aktivitas promosi ekspor terbatas • Penggunaane-channel and e-commerce belum meluas • Masih ada hambatan non-tarif • Kurang faham akan fasilitas perdagangan prosedur kepabeanan • Tidak ada marketintelligence di ASEAN dan luar ASEAN • Mahalnya biaya untuk menyesuaikan standar dan sertifikasi internasional(e.g. HACCP, GMP, halal, ISO, analisa sertifikasi) Teknologydan inovasi • Investasi UMKM untuk R&D masih rendah sehinggaproduktivitas dan efisiensinya rendah • Dana untuk komersialisasi R&D tidak tersedia karena ketidakpastian permintaan, pasar dan cash flow • Apresiasi dan promosi UKM inovatif belum berkembang luas • Mahalnya biaya sertifikasi Jasa Konsultasi dan informasi • Informasi masih belum terpusat • Biaya membuat sistem informasi virtual secara komprehensif dan terpusat masih mahal • Perlu melatih konselor bisnis • Kurang faham akan tersedianya layanan konsultasi • Perlu pengembangan template standar, misal perencanaan bisnis dan pemasaran bagi UMKM

  14. Isu-isu dan Tantangan Khusus Kerangka Kebijakan dan Pengaturan • Perlu pengembangan mekanisme pemantauan • Perlu pengembangan kordinasi terpusat untuk mengkordinasikan kegiatan nasional • Walaupun mahal, perlu ada pengkajian terhadap keluaran/dampak AFTA • Mungkin perlu pengembangan SME Policy Index • Pengurangan biaya birokrasi doing business (e.g. import regulation, licensing, registration of business)

  15. Rekomendasi

  16. Rekomendasi

  17. Rekomendasi(lanjutan)

  18. LANGKAH STRATEGI • STRATEGI I: Penguatan Daya Saing Global • Penanganan issue domestik, meliputi: • Penataan lahan dan kawasan industri • Pembenahan infrastruktur dan energi, • Pemberian insentif (pajak maupun non pajak lainnya) • Membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan pengembangan klaster UKM untuk peningkatan daya saing • Perluasan akses pembiayaan dan pengurangan biaya bunga (KUR, Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan syariah, anjak piutang, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, dsb); • Pembenahan sistem logistik; • Perbaikan pelayanan publik (NSW, PTSP/SPIPISE dsb) • Penyederhanaan peraturan • Peningkatan kapasitas ketenagakerjaan

  19. STRATEGI II: Pengamanan Pasar Domestik • OPengawasan di Border • Meningkatkan pengawasan ketentuan impor dan ekspor dalam pelaksanaan FTA • Menerapkan Early Warning System untuk pemantauan dini terhadap kemungkinan terjadinya lonjakan impor • Pengetatan pengawasan penggunaan Surat Keterangan Asal barang (SKA) dari Negara Negara mitra FTA • Pengawasan awal terhadap kepatuhan SNI, Label, Ingridien, kadaluarsa, kesehatan, lingkungan, security dsb. • Penerapan instrumen perdagangan yang diperbolehkan WTO (safeguard measures) terhadap industry yang mengalami kerugian yang serius (seriously injury) akibat tekanan impor (import surges) • Penerapan instrumen anti dumping dan countervailing duties atas importasi yang unfair

  20. STRATEGI II: Pengamanan Pasar Domestik (Lanjutan) o Peredaran barang di pasar Lokal - Task Force pengawasan peredaran barang yang tidak sesuai dengan ketentuan perlindungan konsumen dan industri - Kewajiban penggunaan label dan manual berbahasa Indonesia o Promosi penggunaan produksi dalam negeri - Mengawasi efektivitas promosi penggunaan produksi dalam negeri (Inpres No 2 Tahun 2009) termasuk mempertegas dan memperjelas kewajiban KLDI memaksimalkan penggunaan produk dalam negeri dalam revisi Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/Jasa oleh Pemerintah.

  21. STRATEGI III: Penguatan Ekspor • Penguatan peran perwakilan luar negeri (ITPC) • Pengembangan trading house (PT Sarinah, PT-PPI, SMESCO UKM) • Promosi Pariwisata, Perdagangan dan Investasi (TTI) • Penanggulangan masalah akses pasar dan kasus ekspor • Pengawasan penggunaan SKA Indonesia • Peningkatan peran LPEI dalam mendukung pembiayaan ekspor • Optimalisasi trade financing (bilateral swap) • Pemetaan potensi ekspor produk UMKM ke ASEAN dan negara lain