slide1 n.
Download
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
OBAT KOLINERGIK dan KOlinergiK blocking agent PowerPoint Presentation
Download Presentation
OBAT KOLINERGIK dan KOlinergiK blocking agent

Loading in 2 Seconds...

play fullscreen
1 / 65

OBAT KOLINERGIK dan KOlinergiK blocking agent - PowerPoint PPT Presentation


  • 531 Views
  • Uploaded on

OBAT KOLINERGIK dan KOlinergiK blocking agent. By Warsi, S. Si., Apt. JUNI 2012. Pendahuluan, Arti Kolinergik dan Struktur Pokok Kolinergik. Sistem saraf. A. 1. Pendahuluan . Sistem saraf pusat (CNS). Sistem saraf perifer (PNS) : serat & ganglia . Somatik (sadar). Otonom (di luar sadar).

loader
I am the owner, or an agent authorized to act on behalf of the owner, of the copyrighted work described.
capcha
Download Presentation

PowerPoint Slideshow about 'OBAT KOLINERGIK dan KOlinergiK blocking agent' - alamea


An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript
slide1

OBAT KOLINERGIK dan KOlinergiK blocking agent

By Warsi, S. Si., Apt

JUNI 2012

slide2

Pendahuluan, Arti Kolinergik dan Struktur Pokok Kolinergik

Sistem saraf

A. 1. Pendahuluan

Sistem saraf pusat

(CNS)

Sistem saraf perifer (PNS) : serat & ganglia

Somatik (sadar)

Otonom (di luar sadar)

1. Otak

2. Sumsum tulang

belakang

Simpatis

Parasimpatis

Neuron rasa (afferent)

Neuron gerak

(Motor nerve

= efferent)

Adrenergik

Kolinergik

Kolinergik

Otot rangka

(Skeletal muscle)

slide3

Sistem saraf otonom asetilkolin : mekanisme regulasi

  • fisiologi manusia.
  • Asetilkolin : senyawa normal tubuh yg disintesis pd jaringan
  • saraf (sinapsis kolinergik & dinding usus)
  • Penghantar alam pd sistem kolinergik :
  • Neuron gerak sampai otot rangka (mis: sambungan otot
  • saraf = Neuromuscular junction)
  • Saraf simpatis & parasimpatis ujung saraf preganglionic
  • Saraf simpatik postganglionic kelenjar keringat & ludah
  • Saraf parasimpatik postganglionic serat saraf
slide5

Keterangan gambar :

  • Penghantaran rangsangan pada sistem saraf bersifat listrik :
  • pertukaran antara ion2 Na & K (lingkungan luar & dalam sel)
  • Penghantaran rangsangan pd sistem saraf kolinergik dilakukan
  • oleh neurotransmitter (asetilkolin).
  • Dilepaskan dari tempat penyimpanannya (ujung saraf) saat
  • rangsangan listrik/ potensial-kerja ada.
  • (Adanya perubahan konsentrasi Ca2+ dan Mg2)
  • Asetilkolin menyeberangi celah sinaptik dan berikatan dgn
  • reseptornya perubahan konformasi kanal ion terbuka
  • kation Na+ melintasi celah menuju sel & K+ keluar sel.
  • Terjadi depolarisasi pada membran post sinaptik menginisiasi
  • terjadinya potensial aksi sekitar membran& signal ditransmisikan
  • Kontraksi otot
  • * Otot jantung : hiperpolarisasi (permeabilitas K+ berubah)
slide6

Lanjutan keterangan gambar :

  • Setelah berinteraksi dengan reseptor asetilkolin akan
  • dihidrolisis oleh asetilkolinesterase kolin + asetat
  • Hidrolisis oleh enzim tersebut : cara inaktivasi asetilkolin
  • Kolin diambil kembali (re-uptake) melalui membran neuron untuk
  • sintesis asetilkolin lebih banyak lagi.
  • Pengetahuan ini berguna untuk mendesain obat yang dapat
  • berubah2 kerjanya.
  • Target : - pelepasan asetilkolin pada ujung akson
  • - Antaraksi dengan reseptor
  • - Hidrolisis oleh asetilkolinesterase
  • - Re-uptake asetilkolin
  • - Sintesis asetilkolin
  • - Penyimpanan asetilkolin
slide7

A. 2. Arti Kolinergik

  • Senyawa kolinergik : senyawa yg secara langsung/ tidak
  • langsung dapat menimbulkan efek seperti yang ditimbulkan
  • asetilkolin.
  • Fungsi asetilkolin pd manusia: memori & aktivitas
  • Penyakit : alzheimer, myasthenia gravis & overactive bladder
  • Obat2 yg menimbulkan efek thd saraf parasimpatis
  • parasimpatomimetik
  • Obat2 yg mengeblok saraf parasimpatis parasimpatolitik
slide8

A. 3. Struktur Pokok Kolinergik

  • Aksi kolinergik :
  • Agonis
  • Kolinergik indirect (antikolinesterase)
slide9

B. 1. Reseptor Kolinergik

(a) Reseptor nikotinik

Setiap rantai α : muatan (–) binding site : tempat ikatan dgn gugus amonium kuarterner dari asetilkolin (bermuatan +)

slide11

Ketika asetilkolin berikatan dengan reseptor nikotinik :

  • perubahan permeabilitas membran Na+, K+ depolarisasi
  • Adanya depolarisasi : kontraksi muskular (neuromuscular
  • junction/ ganglia otonom) impuls saraf
  • Timbul efek nikotinik : serupa denga efek yg dihasilkan oleh
  • nikotin suatu alkaloid daun tembakau (Nicotiana tabacum)
  • Efek tsb menyebabkan : peningkatan tonus otot rangka
  • Efek terjadi pd ganglia & motor end plate.
  • Subtipe :
  • (1) Reseptor nikotinik N1: lokasi di neuromuscular junction,
  • berbeda dg letak sarafnya (misal : CNS & ganglia otonom).
  • (2) Reseptor nikotinik N2 : lokasi di ganglia otonom.
slide12

(b) Reseptor muskarinik

5 Subtype :

(tergandeng dg protein G)

slide13

Aktivasi stimulasi reseptor M1 & M3 dimediasi oleh protein G melalui aktivasi fosfolipase C membentuk second messenger (IP3) & DAG.

IP3 : inositol trifosfat; DAG : diasil gliserol; PIP2 : fosfatidil inositol bifosfat

slide14

Reseptor muskarinik : pertama kali dikenal karena mampu

  • mengikat muskarin (senyawa yg berasal dari jamur Amanita
  • muscaria).
  • Aktivasi reseptor ini pd saraf perifer timbul efek muskarinik
  • Efek terjadi : pd reseptor postganglionic parasimpatis :
  • - Berkurangnya frekuensi denyut jantung
  • - Relaksasi pembuluh darah
  • - Konstriksi saluran pernafasan
  • - Peningkatan sekresi dari kelenjar keringat
  • - Kontraksi pupil
  • Di otak cerebral cortex, striatum,
  • hippocampus, thalamus
  • Berpartisipasi dalam : belajar, ingatan
  • & kontrol postur tubuh

Amanita muscaria

slide15

Reseptor M1 berlokasi di kelenjar eksokrin & ganglia otonom.

Tidur REM (rapid eye movement), emosi, depresi, stress.

  • Juga di Kelenjar submukosal : GI & ganglia otonom periferal (dinding perut). Efek stimulasi : sekresi asam lambung.
  • Reseptor M2 berlokasi di atria (jantung); aktivasi pengurangan kekuatan & kontraksi otot.
  • Aktivasi karena adanya level K+ & Ca+ di sel jantung (hiperpolarisasi) bradycardia.
  • Selain itu, juga melalui inhibitor protein G untuk mengurangi aktivitas adenilat siklase menghambat pelepasan asetilkolin
  • Reseptor M3 berlokasi di kelenjar eksokrin & otot polos
  • Aktivasi di sel endotelium vasodilatasi
  • Reseptor M4 = M2 (melalui protein G & menghambat adenilat siklase); Berlokasi di otot polos trakea
  • Reseptor M5 : regulasi pelepasan dopamin
slide16

B. 2. SAR Kolinergik

B. 2.1. Sisi Aktif Asetilkolin

Sisi2 aktif asetilkolin :

Gugus onium (amonium kuaterner) Target

Jembatan etil (atom Cα & Cβ) pengembangan

Gugus ester

  • Asetilkolin : agonis paling kuat terhadap sistem saraf kolinergik.
  • Daya tx lemah (garam amonium kuaterner = mudah larut dlm air & terhidrolisis.
  • Per oral : terhidrolisis asam asetat + kolin ≠ efek farmakologi
  • Dikembangkan dgn modifikasi struktur : melalui sintesis
slide17

B. 2.2. Pengubahan Struktur pada N Kuarterner

  • Gugus onium : penting untuk aktivitas instrinsik & afinitasnya
  • dengan reseptor.
  • N+ : berikatan dengan binding site dari reseptor muskarinik
  • pada residu asam aspartat (bermuatan –).
slide18

Adanya peningkatan jumlah atom yang terikat pada gugus

  • onium {–N+(CH3)3} sampai R = 5 aktivitas meningkat
  • R > 5 aktivitas turun
  • Gugus onium (N–kationik) sangat penting untuk aktivitas
  • kolinergik
  • Penggantian atom N dengan gugus elektronegatif lain (P, S, As)
  • & penggantian gugus metil dengan gugus alkil yg lebih tinggi
  • (etil) aktivitas turun
  • Urutannya : N+(Me)3 > N+(Me)2Et > P+(Me)3 > N+(Me)2H >
  • As+(Me)3 > N+(Me)(Et)2 > N+(Et)3
slide19

B. 2. 3. Pengubahan struktur pada alifatik

Aktivitas nikotinik kuat & aktivitas muskarinik lemah

Isomer (+) & (-) : efek sama

slide20

Aktivitas nikotinik lemah & aktivitas muskarinik kuat

Isomer L (+) sukar dihidrolisis oleh enzim kolinesterase

300x lebih aktif d.p isomer D (-)

  • Pemasukan gugus alkil yang > (etil, propil) pd posisi α atau β
  • menurunkan aktivitas
slide21

B. 2.4. Pengubahan struktur pada gugus ester

* Gugus ester kurang penting untuk aktivitas kolinergik

* Dapat diganti dengan : gugus keton, eter, hidroksil / gugus lain

tanpa kehilangan aktivitas kolinergik.

  • Kontribusi : ikatan dengan reseptor formasi ikatan hidrogen
  • dengan residu treonin dan aspartat pd sisi reseptor.

7–10 x lebih aktif dibanding asetilkolin (reseptor muskarinik)

10 x kurang aktif dibanding asetilkolin (reseptor nikotinik)

slide22

B. 2.5. Penggantian gugus ester dengan amida

  • Aktivitas muskarinik & nikotinik
  • Senyawa lebih tahan terhadap hidrolisis
  • sehingga dapat diberikan per oral

Keduanya sama

slide23

C. Obat Kolinergik Berdasarkan Aktivitasnya

C. 1. Aktivitas Langsung

  • Senyawa kolinergik dgn aktivitas langsung Kolinomimetik/
  • parasimpatolitik
  • Efek muskarinik atau nikotinik saja atau keduanya
  • Mekanisme kerja kolinomimetik :
  • Obat2 golongan ini mpy struktur mirip asetilkolin shg dpt
  • membentuk kompleks dgn reseptor asetilkolin.
  • Mempengaruhi & meningkatkan keselektifan permeabilitas
  • membran terhadap kation
slide24

Sediaan : larutan 1 %

Penggunaan : konjungtiva mata (topikal)

Dosis : 2–3 dd

Per oral : 10–30 mg 3 dd

Sub kutan : 2,5 mg 3 dd

Sub kutan : 10 mg, setelah 20 dapat diberikan 25 mg

slide25

C.1.1. Obat Kolinergik Golongan muskarin

Muskarin : mempunyai 4 macam isomer geometri

reseptor muskarinik : stereoselektif

slide26

C.1.2. Obat Kolinergik dari alkaloid

(1) Arecoline

Arecoline : alkaloid dari buah palm areca (Areca catechu).

Di beberapa negara asia : digunakan bersama daunnya

utk mendapatkan efek stimulat ~ nikotin.

Arecolin : agonis parsial reseptor muskarinik (M1–M4).

Efek parasimpatetik (konstriksi pupil, konstriksi bronkial).

Penggunaan : tx penyakit alzheimer & anthelmintik.

(karsinogen : bukan mrpk obat pilihan).

slide27

(2) Arecoline analog

  • Senyawa c, b, a afinitasnya thd reseptor M1 paling poten.
  • Aktif thd reseptor muskarinik tx alzheimer.
  • Semua senyawa tsb tdk toksik thd saraf kolinergik pd dosis tx.

Kumar et al., 2008, Bioorganic & Medicinal Chemistry, 16, 5157–5163

slide28

C.1.3. Obat kolinergik sintetik

  • Senyawa2 tsb mpy konfigurasi S pd atom C koresponden
  • dengan atom Cβ pd asetilkolin.
  • Aktif terhadap reseptor muskarinik
slide29

C. 2. Aktivitas tak Langsung

  • Senyawa kolinergik dengan aktivitas tak langsung
  • antikolinesterase
  • Mekanisme kerja :
  • Menghambat enzim kolinesterase dgn cara berinteraksi
  • membentuk kompleks dgn enzim tsb shg tdk menghidrolisis
  • asetilkolin melalui ikatan elektrostatik, ikatan hidrogen & ikatan
  • kovalen.
  • Asetilkolin terkumpul pd tempat transmisi kolinergik & bekerja
  • pd perifer, sinaps ganglionik & penghubung saraf otot rangka.
  • Turunan karbamat : Fisostigmin, Neostigmin, Piridostigmin,
  • Edrofonium, Demekarium
slide30

Mekanisme hidrolisis

ACh oleh AChE

Kompleks reversibel ACh–AChE

Asetilasi pada sisi ester

Katalis basa menghidrolisis enzim terasetilasi

Enzim bebas

Keterangan :

Mengikat gugus aril substrat

Berikatan dgn trimetilammonium

Menghidrolisis bagian ester Ach

slide31

Topikal pd konjungtivita (glaukoma)

Larutan 0,25-0,5 %

Dosis : 1 tetes 2-3 dd

Oral :15-45 mg 3-6 dd

slide32

I.V atau I.M :10 mg

Oral :60-80 mg 3-6 dd

Topikal pd konjungtivita (glaukoma)

Larutan 0,125-0,25 %

Dosis : 1 tetes 1-2 dd

slide33

D. KOLINERGIK BLOCKING AGENT (BA)

D. 1. Kolinergik BA Langsung

  • Mekanisme kerja
  • Kompettitif : menduduki reseptor asetilkolin shg menghalangi
  • interaksi asetilkolin dgn reseptornya.
  • Akibatnya endplate potensial turun & tidak terjadi kontraksi
  • otot
  • Tubokurarin & dimetiltubokurarin (reseptor nikotinik N1) Pankuronium, gallamin
  • Kegunaan : - relaksan/ pelumpuh otot (adjuvans dlm anestesi)
  • utk memperoleh relaksasi otot otot rangka,
  • terutama pd dinding abdomen
  • - Reposisi tulang yang patah
slide34

Aksinya : paralisis otot

  • Indikasi : relaksan otot skeletal
  • Dosis besar : depresi pernafasan
  • Aksinya dihambat oleh inhibitor AChE
  • (Neostigmin, Edrophonium klorida)
  • Ekskresi : oleh ginjal dlm bentuk tidak
  • berubah
  • T1/2 : 89 menit
  • Penggunaan : adjuvans pd
  • anestesi (relaksan otot skeletal)
  • Juga digunakan pd tx ventilasi
  • mekanik
  • Efek samping : dpt dikontrol dg
  • neostigmin
slide35

Gallamin triethiiodida : relaksan otot skeletal

  • Aksinya kumulatif dg curare.
  • Reseptornya : antagonis nikotinik & antagonis muskarinik
  • (afinitas M2 > M1).
  • KI : myasthenia gravis
  • Antidotumnya : neostigmin
slide36

D. 2. Kolinergik BA tak Langsung

  • Mekanisme kerja
  • Mengeblok reseptor asetilkolin dgn cara menimbulkan
  • depolarisasi persisten pd endplate
  • Obat2 ini bekerja sbg agonis asetilkolin tatapi tidak segera
  • dipecah seperti halnya asetilkolin
  • Pengeblokan menyerupai efek asetilkolin dosis sangat besar/
  • seperti pemberian antikolinesterase.
  • Efek nikotinik
slide37

Reseptor : nikotinik N1

  • Indikasi : relaksan otot skeletal
  • Reseptor : nikotinik N1
  • Indikasi : relaksan otot skeletal
  • Dosis besar : depresi pernafasan
  • Aksinya kontras dgn tubokurarin
slide38

D. 3.1.Inhibitor enzim kolinesterase

  • Kolinesterase (manusia) : asetilkolinesterase (AChE) &
  • butirilkolinesterase (BuChE).
  • AChE : dihubungkan dgn sel permukaan luar sinaps &
  • menghidrolisis asetilkolin (ACh) kolin + asam asetat.
  • Adanya inhibisi : memperpanjang neurotransmitter di junction
  • efek farmakologi = ACh (sbg agonis kolinergik tdk langsung)
  • Terapi myasthenia gravis, glaukoma, alzheimer
  • BuChE (pseudokolinesterase) : berlokasi di plasma manusia
  • katalisis seperti AChE
slide41

D.3.1.1. Inhibitor AChE reversibel

Sediaan :

Physostigmine

Physostigmine salicylate

Physostigmine sulfate

  • Physostigmine :
  • Topikal : tx glaukoma (larut lemak; dapat diserap dari basis salep
  • Sistemik :
  • - Antidotum pd keracunan atropin
  • - Obat kolinergik peningkatan durasi aksi asetilkolin
  • (inhibisi AChE)
  • - Pemberian bersama kolinomimetik lain (donepezil
  • galantamine, metrifonate, rivastigmine & tacrine)

Alzheimer

slide42

Neostigmin metilsulfat :

  • Penggunaan :
  • - antidotum nondepolarisasi neuromuskular
  • - Myasthenia gravis (autoimmune mecanism) : Ach di
  • neuromuskular junction untuk menormalkan aktivitas muskular
  • * T ½ : 50 menit per oral & iv
  • Mekanisme aksi : inhibisi AChE > Physostigmine
  • Neostigmin bromida
  • Penggunaan : stimulasi pengeluaran urin & myasthenia gravis
slide43

D.3.1.2. Inhibitor AChE irreversibel

  • Inhibitor AChE irreversibel : toksik terhadap saraf insektisida
  • Kelompok senyawa ini disebut : ester organofosfat
  • Struktur umum :

A : O, S atau Selenium

R1 : Alkoksi

R2 : Alkoksi, alkil, amina tersier

X : leaving group {F, CN, thiomalat, p-nitrofenil

slide44

Aktivitasnya : paling tidak 1 hari / bahkan 1 minggu

  • Kombinasi dengan atropin sulfat & magnesium sulfat sifat
  • toksiknya hilang.
  • Atropin sulfat : menetralkan efek muskarinik
  • Magnesium sulfat : menetralkan efek nikotinik
  • Isofluorphate telah digunakan untuk tx glaukoma
slide45

Fosforilasi serin oleh Isofluorphate

Serin terfosforilasi pd esteratic site

Nukleofil (2-PAM) menyerang residu terfosforilasi

Enzim bebas

2-PAM : pyridine-2-aldoxim

methiodide

Kasus keracunan

slide46

Aktivitasnya panjang seperti

  • Isofluorphate
  • Penggunaan : antikolinesterase
  • long-acting pd tx glaukoma
slide47

D.4.1. SAR dari kolinergik blocking agent

  • Substituen A & B : mgd 1 aromatik/lebih kemampuan untuk
  • berikatan van der Waals dg permukaan reseptor & 1 sikloalifatik/
  • hidrokarbon lain utk berikatan dg bagian hidrofobik reseptor.
  • Substituen C : hidrogen/ hidroksil/ karboksamid ikatan
  • hidrogen dg reseptor.
slide48

Bagian kepala kationik

  • Molekul antikolinergik dapat berinteraksi dgn cholinergic site
  • melalui bagian kepala kationik (atom N yg bermuatan +).
  • Muatan (+) tsb dpt dicapai dgn protonasi gugus amina pd pH
  • fisiologis.
  • Substitusi pd bagian kepala : titik kritis aksinya sbg
  • parasimpatomimetik
slide49

Substitusi siklik

  • Obat2 antikolinergik : paling tidak mgd 1 sustitusi siklik.
  • Substitusi aromatik : digunakan untuk berinteraksi dengan
  • bagian asam dari gugus ester.
  • Adanya substitusi aromatik asam : aktivitas antikolinergik
  • namun poten sbg anestesi lokal.
  • Pada kenyataan gugus siklik : diperlukan utk interaksi dg
  • daerah polar dari reseptor (untuk efektivitas ikatan tanpa
  • aktivitas intrinsik).
slide50

Faktor sterik : menyebabkan difusi dari muatan onium (bagian kepala) interaksi obat–reseptor aktivitas parasimpatomimetik

Namun demikian, ikatan hidrofobik penting dlm interaksi obat–reseptor

slide51

Gugus hidroksil (OH)

  • Gugus hidroksil : tdk berperan dlm aktivitasnya, namun
  • letaknya yg tepat aktivitas muskarinik dibandingkan dgn
  • senyawa yg sejenis tanpa OH.
  • Posisi gugus OH relatif terhadap N : titik kritis
  • Kontribusi dlm kekuatan ikatan (ikatan hidrogen), yg kaya
  • elektron dari permukaan reseptor.
  • Gugus ester (R–O–R)
  • Berperan dalam efektifitas ikatan
  • Namun tidak penting untuk aktivitasnya
slide52

D.4.2. Pembagian obat kolinergik blocking Agent (BA)

1. Senyawa BA postganglionik

  • Senyawa2 BA posganglionik antimuskarinik, antikolinergik,
  • parasimpatolitik atau obat kolinolitik.
  • Mekanisme aksi : antagonis kompetitif thd ikatan asetilkolin pd
  • reseptor muskarinik.
  • Penggunaan obat2 antagonis reseptor muskarinik :
  • (1) Efek midriatik : dilatasi pupil mata.
  • (2) Efek antispasmodik : penurunan motilitas saluran GI &
  • saluran genital.
  • (3) Efek antisekretory : Penurunan pengeluaran saliva
  • (antisialagogue), pengurangan perspirasi (anhidrotic) &
  • pencegahan sekresi asam lambung.
slide53

(1) Atropin, Atropin sulfat

  • Atropin : suatu alkaloid dari Atropa belladonna (Solanaceae)
  • Mengeblok semua tipe reseptor muskarinik
  • Juga mengeblok transmisi dari impuls saraf
  • Penggunaan : antispasmodik efek depressan pd saraf
  • parasimpatis otot polos (ureter, bladder).
  • Penggunaan lokal: analgesik pd hemoroid, infeksi kulit, dermatitis
  • T ½ plasma : 2–3 jam & dimetabolisme di hati.
slide55

(2) Skopolamin, Skopolamin hidrobromida

  • Skopolamin: suatu alkaloid dari Hyoscyamus niger, Duboisia
  • myoporoides, Scopolia sp & Datura metel (Solanaceae)
  • Penggunaan : pencegahan penyakit krn gerakan berlebihan
  • Aksi : kompetitif antagonis saraf parasimpatis depresan CNS
  • Aksinya pd pusat saraf yg lbh tinggi dibanding atropin
  • ESO : pikiran kacau
  • Dosis tinggi : tidur ± 8 jam, kesadaran berkurang.
  • Pemberian bersama morfin : amnesia.
slide56

(3) Clidinium bromida

  • Antikolinergik posganglionik sintetik
  • Pemakaian tunggal : antikolinergik
  • kombinasi dg klordiazepoksida (Librax)
  • Penggunaan : peptic ulcer, asam lambung berlebihan, ulcerative,
  • spastic colon, anxiety dg manifestasi GI, nervous
  • stomach,
  • KI : glaukoma, hipertropi prostat pd laki2 usia lanjut retensi
  • urin.
slide57

2. Senyawa ganglionik BA

(1) Depolarizing ganglionic blocking agents

  • Adanya senyawa pengeblok depolarisasi stimulasi ganglionik
  • Nikotin dosis kecil : efek spt asetilkolin (efek nikotinik asetilkolin)
  • Nikotin dosis besar : pengeblokan ganglionik diawali dg
  • depolarisasi antagonis kompetitif.
  • Untuk meneruskan impuls saraf sel harus mengalami
  • polarisasi & depolarisasi
  • Asetilkolin dosis tinggi : autoinhibisi
slide59

Diblok

Relaksasi

Retensi urin

slide60

(2) Nondepolarizing competitive ganglionic blocking agent

  • Mempunyai afinitas thd sisi reseptor nikotinik, namun tdk mpy
  • aktivitas intrinsik thd transmisi impuls saraf.
  • Tdk mpy efek depolarisasi thd sel.
  • Mekanisme aksi : kompetitif dengan asetilkolin dlm berikatan
  • dengan reseptornya.
  • Heksamethonium, trimethaphan (reseptornikotinik N2)
  • Tetraetil ammonium
slide61

Mecamylamine : aksinya kompetitif & nonkompetitif

  • dg asetilkolin dual antagonist
  • Trimethaphan Camsylate : short acting, penggunaannya
  • hanya pd bedah saraf tertentu (perdarahan berlebihan pd
  • daerah operasi) aksinya : vasodilatasi (i.v)
  • Indikasi : hipertensi emergency
slide62

(3) Nondepolarizing noncompetitive ganglionic blocking agent

  • Senyawa2 yg termasuk kelompok ini : efek bukan pd sisi
  • reseptor asetilkolin penting untuk transmisi impuls saraf.
  • Penggunaan obat golongan ini terbatas pd penyakit pembuluh
  • darah perifer (thromboangitiis obliterans, Raynaud disease,
  • diabetic gangrene).
  • Prinsip aplikasi : tx hipertensi
  • Mecamylamine HCl (tx hipertensi moderat sampai berat)
slide63

3. Senyawa papaverin sebagai kolinergik BA

  • Pertama diisolasi dari opium (1 %)
  • th 1848 oleh Merck.
  • Aktivitas ≠ morfin
  • Efek : spasmolitik pd otot polos (direct),
  • relaksan vaskular nonspesifik, cardiac.
  • Broad antispasmodic pd reseptor
  • muskarinik nonspesific antagonist
  • Mekanisme aksi : relaksasi otot dg cara inhibisi nukleotida siklik
  • fosfodiesterase di sel otot polos yg bertanggungjwb pd konversi
  • cAMP 5’-AMP & cGMP (guanosin monofosfat) 5’-GMP.
  • Adanya peningkatan cAMP & cGMP dihubungkan dg relaksasi
  • otot polos melalui fosforilasi rantai myosin kinase.
slide64

4. Senyawa kurariform sebagai kolinergik BA

Atracurium Besylate (Tracrium)

  • Atracurium Besylate : relaksan otot skeletal
  • Mekanisme aksi : nondepolarisasi neuromuscular blocking agent
  • (2,5 x lebih poten dari d-tubokurarin).
  • T ½ 0,33 jam (lebih pendek dari d-tubokurarin).
slide65

SEKIAN

TERIMA KASIH