1 / 17

Relasi Sosial Kiai Dan Blater Di Madura

Relasi Sosial Kiai Dan Blater Di Madura

Download Presentation

Relasi Sosial Kiai Dan Blater Di Madura

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Relasi Sosial Kiai Dan Blater Di Madura

  2. Kondisi Sosial Budaya Madura • Letak dan Keadaan Alam • Terdiri dari 4 kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep; • Terletak di antara 7 LS dan 112° sampai 114° BT; • Iklim di Madura terbagi 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau; • Madura adalah wilayah kering dan gersang; • Lahan pertanian berupa tegal, yang biasanya oleh penduduk ditanami jagung dan singkong dan sawah hanya bisa di tanami ketka hujan (tadah hujan). • 2. Penduduk dan mata Pencaharian • Tahun 1994 adalah 2.979.596 jiwa, rata rata 561,8 per km2; • Masyarakat sebesar 70% - 80% bergantung pada kegiatan agraris; • Madura termasuk salah satu darah paling miskin di Indonesia.

  3. 3. Pola Pemukiman • A. Kampong Meji • Kelompok pemukiman penduduk desa yang satu sama lain saling terisolasi, dan jaraknya berkisar 1 – 2 km. • Konsekuensi sosial kampong mejhi adalah solidaritas internal antar masing masing anggota menjadi sangat kuat • B. Taneyan Lanjeng • taneyan lanjeng hanya dibangun oleh suatu keluarga yang memiliki banyak anak perempuan • Kultural sosial budaya Madura memberikan perhatian serta proteksi secara khusus (berlebihan/over protektif) terhadap kaum perempuan.

  4. 4. Stratifikasi Sosial dan Tingkatan Bahasa Secara garis besar stratifikasi/ pelapisan sosial masyarakat madura meliputi 3 lapis, yakni : • oreng kene’ atau oreng dume’ • Lapisan sosial menengah atau pongghaba meliputi para pegawai terutama yang bekerja sebagai birokrat • Bangsawan keturunan langsung raja raja. • Pelapisan sosial yang mengacu pada dimensi agama, yaitu: • santre (santri); • benni santre (bukan santri).

  5. Kiai dan Blater sebagai Ikon Sosial • Masyarakat Madura sebagai pemeluk Islam • Berbagai aktifitas sosial di salam masyarakat selalu dikaitkan dengan nilai nilai keagamaan • Dalam pelaksanaan ritual keagamaan, warga selalu mengundang atau melibatkan kiai. • Peran kiai sebagai panutan /pemimpinan masyarakat Madura

  6. Mengapa kiai memiliki peranan yang begitu sentraldi Madura ? Mengapa kiai beserta keluarganya mendapat perlakuan yang istimewa di Madura ?

  7. Touwen Bouwsma mencoba menelusuri ke masa silam dengan pendekatan historis antropologis. • Adanya proses Islamisasi di Madura dari abad ke 15 • pertengahan abad ke 18 Madura jatuh ke tangan VOC • Orang orang dalam birokrasi kemudian terasing dengan mereka yang melaksanakan Islamisasi • Realitas ini tidak banyak berubah sampai Indonesia memperoleh kemerdekaan

  8. Blater • Kenapa di sebut blater ? • punya ilmu kanuragan / ilmu magis lainnya; • jaringan pertemanan yg luas; • keterlibatannya dalam dunia kriminalitas (carok, dsb) sehingga disegani karena mendapat predikat jago.

  9. Adakah Relasi Kiai dan Blater ?

  10. Dinamika sosial relasi antara kiai dan blater berlangsung unik dan terkadang juga menegangkan, MENGAPA ?

  11. Politisasi Mitos Syaikhona Kholil • Agama sebagai realitas sosial telah menjadi paradigma yang fundamental bagi diri orang Madura, Prosesi kehidupan sosialnya selalu menyertakan ritual atau rokat keagamaan secara kolektif; • Namun, juga ada tradisi sosio kultural dan keagamaan yang bersifat personal atau privat; • Misal : bersemedi ke tempat angker, dan di anggap keramat.

  12. Di martapuri, Bangkalan ada tempat yg dianggap keramat yg dapat memberi kekuatan batin dan pencerahan; • Yakni, makam Syaikhona Kholil; • Kiai Kholil adalah ulama yng berpengaruh karena kealimannya dan kharismanya, shg dia salah satu kiai yg berpengaruh di Indonesia dan dalam proses islamisasi di Madura pada abad ke 18 • Semua orang di Madura dengan banyak perbedaan latar belakang berkunjung ke makam kiai kholil • Dg tujuan, berdoa, dan mendapat ilmu magis dan kselamatan

  13. Setiap tahun kiai melaksanakan khaul kiai Kholil • Namun kalangan blater jarang mengikuti acara ini, namun bukan berarti blater menolak figur kiai kholi, hnya ada kesan bahwa blater tidak suka dg acara khaul yg diadakan oleh kiai ini • Dari kesan ketidak sukaan ini, seolah ada persaingan terselubung dalam upaya berebut pengaruh di dalam masyarakat • Bagi blater, ekspresi pengakuan terhadap kiai kholil dengan cara bersemedi memperoleh kemampuan magis, sehinga status keblaterannya memperoleh legitimasi yang semakin kuat di tengah masyarakat

  14. 2. Dukungan politik oleh Kiai dan Blater • Pemilihan kepala desa merupakan arena politik yang paling meyedot perhatian banyak orang desa; • Untuk menjadi calon harus melalui prosedur secara administratif dan kultural • studi Elly Touwen Bousma (1989) terjadinya carok yang menewaskan Dura, kontestan yang menang dalam pemilihan kepala desa. Dura terbunuh setelah ia terpilih dalam pemilihan klebun melawan anggota keluarga lama. Keberanian Dura mencalonkan diri dianggap melecehka martabat dan harga diri dari keluarga kepala desa lama yakni haji Abdullah.

  15. Namun, seiring dengan makin menguatnya intitusi pendidikan di pedesaan Madura, sehingga paradigma masyarakat berubah untuk menjadi kepala desa tidak harus jago (blater) • Dan begeser lebih realistis, yakni yg mempunyai kompetensi, kapasitas atau kemampuan seseorang dalam mengurusi seluk beluk tata pemeritahan desa • Sepeti yang tercermin dalam sosok Haji Maimun, yang mengalahkan 2 sosok blater dalam pilkades. Kemenangan ini selain haji maimun punya kapasitas, juga dukungan dari kiai; • Sehingga dapat diketahui, adanya saling dukung mendukung dari kiai dan blater terhadap calon kepala desa.

  16. Relasi Sosial Kultural Kiai dengan Blater • Dalam acara tradisi sosial keagamaan, seperti tahlilan otomatis membuat semua unsur masyarakat berkumpul tak terkecuali kiai dan blater; • Secara latar belakang, kiai dan blater kontradiktif • Namun tidak jadi penghalang, untuk saling berinteraksi • Proses interaksi yg dilakukan oleh kiai kepada blater didasarkan oleh rasa kemanusiaan,

  17. Kesimpulan • relasi sosial kiai dengan blater mempunyai beberapa motif; • relasi sosial kiai dan blater dalam konteks sosio kultural; • Motif ekonomi politik.

More Related