Analisis input output
This presentation is the property of its rightful owner.
Sponsored Links
1 / 89

Analisis Input – Output PowerPoint PPT Presentation


  • 181 Views
  • Uploaded on
  • Presentation posted in: General

Analisis Input – Output. Daftar isi. Pengertian dan konsep dasar Analisis angka pengganda ( multiplier ) Input-output region tunggal Input-output antarregion Analisis keterkaitan antarsektor Model input-output tertutup. Pengertian dan konsep dasar. Input primer ( primary input ).

Download Presentation

Analisis Input – Output

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Presentation Transcript


Analisis input output

Analisis Input – Output


Daftar isi

Daftar isi

  • Pengertian dan konsep dasar

  • Analisis angka pengganda (multiplier)

  • Input-output region tunggal

  • Input-output antarregion

  • Analisis keterkaitan antarsektor

  • Model input-output tertutup


Pengertian dan konsep dasar

Pengertian dan konsep dasar


Proses produksi

Input primer

(primary input)

Pemakai akhir

(final demander/user)

INPUT

OUTPUT

Input antara

(intermediate input)

Pemakai antara

(intermediate user)

Proses produksi


Transaksi input antara

Transaksi input antara

  • Dalam konteks input antara terjadi arus/perpindahan barang antarsektor. Misalkan dari sektor i ke sektor j.

    • Bisa juga terjadi intrasektor, yaitu dari sektor i ke i itu sendiri

  • Xi ialah bahwa total output sektor i,

    zij ialah nilai uang dari arus barang

    --atau nilai transaksi-- dari sektor i ke sektor j

    Yi ialah total permintaan akhir sektor i .

    Jika ada n sektor di ekonomi, dapat dituliskan bahwa

    Xi = zi1 + zi2 + zi3 + . . . zin + Yi


Untuk seluruh perekonomian

Untuk seluruh perekonomian

  • Terdapat n-buah (artinya n-baris) persamaan seperti di atas, yang dapat dinyatakan dalam suatu sistem persamaan seperti berikut


Baris vs kolom

  • Secara kolom, kita melihat distribusi input antara masing-masing sektor

    Dari produsen input antara dan input primer

Baris vs. kolom

  • Secara baris, kita melihat struktur distribusi output antara masing-masing sektor

    Ke pemakai antara dan pemakai akhir


Dalam satu tabel

Dalam satu tabel


Tiga matrix dasar

Tiga matrix dasar


Sampai saat ini

Sampai saat ini …

  • Seluruh informasi mengenai struktur input dan output produksi telah diletakkan dalam suatu tabel yang relatif utuh

  • Tabel tersebut tidak lain adalah suatu gambar atau potret perekonomian di satu titik waktu

  • Kini waktunya untuk analisis lanjutan


Koefisien input output i o coefficient

Koefisien input-output (i-o coefficient)

  • Nama lain: koefisien input langsung (direct input coefficient)

a32 = 0,3 berarti untuk memproduksi setiap Rp 1 output sektor 2, dibutuhkan input antara dari sektor 3 sebesar 30 sen


Matriks teknologi

Matriks teknologi

  • Jika ada n sektor, maka akan ada nxn banyaknya koefisien input-output aij.

  • Keseluruhan koefisien tersebut dapat disajikan dalam sebuah matriks A sebagai berikut

  • Matriks ini disebut pula matriks teknologi

  • Salah satu konsekuensi dari perhitungan koefisien input-output ialah sebagai berikut:


Dengan beberapa manipulasi aljabar

Dengan beberapa manipulasi aljabar …

  • Dengan menyatakan bahwa

    zij = aij . Xj

    maka sistem persamaan kita yang terdahulu dapat dituliskan ulang dalam bentuk berikut


Dan beberapa manipulasi aljabar lagi

Dan beberapa manipulasi aljabar lagi …


Sehingga jika kita bertanya

Sehingga jika kita bertanya:

  • Bagaimanakah efek suatu perubahan eksogen (yaitu perubahan pada nilai permintaan akhir Y) terhadap output X?

    Kita ketahui bahwa (I – A)X = Y. Maka,

X = ( I – A )-1 Y

Matriks

Leontief Inverse


Leontief inverse dan pengganda keynes

Leontief Inverse dan pengganda Keynes


Kasus hipotetis

Kasus hipotetis


Leontief inverse

Leontief inverse


Perubahan final demand

Perubahan final demand


Dalam bentuk tambahan incremental

Dalam bentuk tambahan (incremental)


Beberapa konsep tambahan

Beberapa konsep tambahan


Efek langsung dan tidak langsung

Efek langsung dan tidak langsung

  • Jika terjadi tambahan permintaan akhir tentunya tambahan tersebut haruslah diproduksi, dan otomatis menjadi tambahan output. Di contoh kasus kita di atas, terjadi tambahan permintaan akhir untuk sektor 1 sebesar 200. Otomatis output sektor 1 harus naik setidaknya sebesar 200 tersebut. Inilah yang disebut dengan EFEK LANGSUNG

  • Memproduksi tambahan output akibat efek langsung tadi memerlukan input dan bahan baku dari sektor 2. Bagi sektor 2 ini adalah tambahan permintaan. Namun dalam proses produksinya, sektor 2 membutuhkan input pula dari sektor 1 → sehingga output sektor 1 lag-lagi naik. Kenaikan karena keterkaitan antarsektor ini disebut dengan EFEK TIDAK LANGSUNG


Round by round effect

Round-by-round effect


Jika dilakukan terus menerus

Jika dilakukan terus menerus …

  • Bagaimana membuktikan bahwa jika tahap-tahapan tersebut dilakukan terus menerus hingga tambahan output yang diperlukan oleh setiap sektor adalah nol, maka nilai total output yang diperlukan tersebut akan dapat dinyatakan dalam X = (I – A)-1 Y


Pembuktiannya begini

Pembuktiannya begini:


Konsekuensi efek langsung

Konsekuensi efek langsung

  • Koefisien aii nilainya harus lebih besar dari 1. Membuktikannya?


Presentasi grafis sistem solusi

Presentasi grafis sistem solusi

Dalam model 2-sektor, sistem persamaannya adalah sbb.:

Secara grafis, harus didapatkan sedemikian hingga solusinya ada

di kuadran I (yaitu, jumlah input yang digunakan haruslah positif

Kedua persamaan tersebut dapat

dinyatakan dalam bentuk

X2 = f ( X1)

dan agar solusinya berada di kuadran I maka kemiringan dua garis tersebut haruslah memenuhi syarat tertentu


Syarat solusi yang relevan

Maka harus dipenuhi kendala bahwa:

Dua komponen ini

harus positif

Hawkin-Simons Condition

Ini tidak lain adalah determinan matriks A, sehingga | I – A | > 0

Syarat solusi yang relevan:

Dua persamaan garis


Efek tidak langsung io indonesia 1990

Efek tidak langsung – IO Indonesia 1990

Kode tabel

1 Pertanian

2 Pertambangan

& penggalian

3 Industri

4 Listrik, gas &

air minum

5 Konstruksi

6 Jasa non-publik

7 Jasa publik

& jasa lainnya

8 Kegiatan yg tdk

jelas batasannya


Analisis angka pengganda multiplier

Analisis angka pengganda (multiplier)


Angka pengganda

Angka pengganda

  • Analisis angka pengganda mencoba melihat apa yang terjadi terhadap variabel-variabel endogen, yaitu output sektoral, apabila terjadi perubahan variabel-variabel eksogen, seperti permintaan akhir, di perekonomian

Perubahan

variabel eksogen

--- konsumsi, investasi,

pengeluaran pemerintah ---

Perubahan

variabel endogen

--- output/produksi ---

Angka pengganda

(multiplier)


Tiga macam angka pengganda

Tiga macam angka pengganda

  • Pengganda output (outputmultiplier)

  • Pengganda pendapatan rumah tangga

    (incomemultiplier)

  • Pengganda tenaga kerja (employmentmultiplier)


Angka pengganda output

Angka pengganda output

  • Jika ada tambahan final demand sebesar Rp 1 di satu sektor tertentu (katakan sektor i), berapa besar tambahan output sektor tersebut?

Rp 1 tambahan final demand

di sektor i

--- konsumsi, investasi,

pengeluaran pemerintah ---

Tambahan output

di sektor i

Angka pengganda output

(output multiplier)


Dari contoh kasus hipotetis terdahulu

Dari contoh kasus hipotetis terdahulu

Katakan terdapat tambahan final demand sebesar Rp 1 untuk sektor 1

sementara final demand sektor 2 tidak berubah. Dituliskan,

Dengan menggunakan

Angka pengganda (multiplier) output sektor 1:


Untuk sektor 2 dan seterusnya

Untuk sektor 2, dan seterusnya …

Dengan cara yang sama, jika terdapat tambahan final demand sebesar Rp 1

untuk sektor 2, sementara final demand sektor 1 tidak berubah, maka

Dengan menggunakan

Angka pengganda (multiplier) output sektor 2:

Sehingga secara umum dapat dituliskan


Angka pengganda pendapatan rt

Angka pengganda pendapatan RT

  • Jika ada tambahan final demand sebesar Rp 1 di satu sektor tertentu (katakan sektor i), berapa besar tambahan pendapatan rumah tangga di sektor tersebut?

  • Pendapatan rumah tangga berasal dari penerimaan gaji/upah tenaga kerja – yang pada gilirannya merupakan proporsi tertentu dari output yang diproduksi

Rp 1 tambahan final demand

di sektor i

--- konsumsi, investasi,

pengeluaran pemerintah ---

Tambahan output

di sektor i

Tambahan

pendapatan

rumah tangga

di sektor i

Angka pengganda output

(output multiplier)

Angka pengganda

pendapatan rumah tangga

(household income

multiplier)


Hubungan output pendapatan rumah tangga

Hubungan output-pendapatan rumah tangga

  • Pendapatan rumah tangga berasal dari pembayaran upah/gaji oleh sektor produksi

  • Untuk setiap Rp1 output sektor i, berapakah proporsi yang dikeluarkan untuk membayar upah/gaji?

  • Dapat dilihat pada mat-riks input primer. Biasa-nya diletakkan sebagai input primer pertama

Sehingga, proporsi upah/gaji dalam struktur produksi

Sektor i dapat dilihat pada koefisien an+1,i


Dari contoh kasus hipotetis terdahulu1

Dari contoh kasus hipotetis terdahulu

Tambahan pendapatan rumah tangga:

Ini adalah SIMPLE HOUSEHOLD

INCOME MULTIPLIER, dinotasikan:


Efek awal alternatif type i multiplier

Efek awal alternatif  Type-I multiplier

Di contoh terdahulu, angka multiplier

didapatkan dengan menggunakan

efek awal (initial effect) dari perubahan sektoral, yaitu sebesar Rp 1. Sehingga:

Alternatif lain adalah dengan menggunakan efek awal sebesar proporsi upah/gaji dalam total output, yaitu koefisien an+1,j. Sehingga:

Ini disebut dengan

TYPE-1 HOUSEHOLD INCOME MULTIPLIER


Angka pengganda tenaga kerja

Angka pengganda tenaga kerja

  • Jika ada tambahan final demand sebesar Rp 1 di satu sektor tertentu (katakan sektor i), berapa besar tambahan penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut?

  • Terdapat hubungan yang proporsional antara output yang diproduksi dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan. Jika kita ketahui besar tambahan output yang akan diproduksi, maka dapat dihitung pula jumlah tenaga kerja yang diperlukan

Rp 1 tambahan final demand

di sektor i

--- konsumsi, investasi,

pengeluaran pemerintah ---

Tambahan output

di sektor i

Tambahan

serapan

tenaga kerja

di sektor i

Angka pengganda output

(output multiplier)

Angka pengganda

tenaga kerja

(employment multiplier)


Dari contoh kasus hipotetis terdahulu2

Dari contoh kasus hipotetis terdahulu

Kita membutuhkan data jumlah pekerja

Di setiap sektor. Katakan data yang ada:

Sektor 1 = 4 orang pekerja

Sektor 2 = 10 orang pekerja

Selanjutnya dapat dihitung rata-rata output sektoral untuk tiap pekerja:

Tambahan jumlah pekerja:

Ini adalah SIMPLE EMPLOYMENT

MULTIPLIER, dinotasikan:

Berarti:


Efek awal alternatif type i multiplier1

Efek awal alternatif  Type-I multiplier

Alternatif lain adalah dengan menggunakan efek awal sebesar proporsi upah/gaji dalam total output, yaitu koefisien wj. Sehingga:

Di contoh terdahulu, angka multiplier

didapatkan dengan menggunakan

efek awal (initial effect) dari perubahan sektoral, yaitu sebesar Rp 1. Sehingga:

Ini disebut dengan

TYPE-1 EMPLOYMENT MULTIPLIER


Data input output indonesia 1990

Data input-output Indonesia 1990

Kode tabel

1 Pertanian

2 Pertambangan

& penggalian

3 Industri

4 Listrik, gas &

air minum

5 Konstruksi

6 Jasa non-publik

7 Jasa publik

& jasa lainnya

8 Kegiatan yg tdk

jelas batasannya


Angka pengganda pendapatan rt1

Angka pengganda pendapatan RT


Angka pengganda tenaga kerja1

Angka pengganda tenaga kerja


Input output regional

Input-output regional


Motivasi

Motivasi

  • Mengapa mempelajari input-output tingkat regional?

  • Karakteristik dan ciri suatu perekonomian regional bisa jadi berbeda dengan perekonomian nasionalnya.

  • Semakin kecil suatu perekonomian, semakin besar ketergantungannya kepada faktor-faktor eksogen dari luar perekonomian tersebut

  • Input-output nasional tidak begitu saja dapat digunakan untuk menganalisis suatu perekonomian regional


Input output regional1

Input-output regional

  • Input-output region tunggal

  • Input-output antarregion


Input output region tunggal

Input-output region tunggal


Koefisien teknologi regional

Koefisien teknologi regional

  • Koefisien teknologi regional bisa didapatkan dengan dua cara:

    • Metode survei, menanyakan kepada pelaku ekonomi di region ybs. tentang struktur produksinya

    • Metode non-survei, dengan mengambil suatu patokan (biasanya perekonomian nasional) dan melakukan proses penyesuaian koefisien


Metode survei

Metode survei

  • Perusahaan ditanyai tentang struktur inputnya: input antara dan input primer

  • Untuk mendapatkan koefisien teknologi regional, maka perusahaan juga perlu memberitahukan besarnya input yang berasal dari dalam region sendiri dan besarnya input yang berasal dari luar region

  • Rumit vs. layak?


Metode non survei

Metode non-survei

  • Mengambil patokan (proxy) bagi perekonomian regional yang sedang diteliti

  • Alternatifnya?

    • Perekonomian nasional

      Asumsinya ialah bahwa struktur produksi (atau teknologi) di tingkat nasional sama dengan di tingkat regional

    • Perekonomian region lain

      Bagaimana memilih region lain yang “mirip” dengan region yang sedang diteliti

  • Melakukan proses penyesuaian (adjustment) dari koefisien nasional (atau koefisien regional daerah lain) untuk menunjukkan koefisien regional daerah yang sedang diteliti


Penyesuaian nasional regional

Penyesuaian nasional-regional

Matriks teknologi (A)

Nasional

Matriks teknologi (A)

Regional

Koefisien penyesuaian

(adjustment coefficient)


Koefisien penyesuaian 1

Koefisien Penyesuaian (1)

  • Location quotient

    LQ dapat dihitung dengan data pendapatan atau tenaga kerja

  • Kriteria penyesuaian:

  • Dengan begitu, didapatkan matriks A baru yang relevan untuk region yang sedang diteliti

  • Data yang dibutuhkan hanyalah data untuk menghitung LQ (untuk tiap sektor)


Koefisien penyesuaian 2

Koefisien Penyesuaian (2)

  • Regional supply percentage

  • piR = 0,7 berarti 70% dari keseluruhan persediaan barang sektor i, yang ada di region tersebut, berasal dari produksi region itu sendiri. Selebihnya (yaitu yang 30%) berasal dari luar region

  • Metode penyesuaian:

    Kalikan baris i dari matriks teknologi A dengan regional supply percentage piR . Maka akan didapatkan matriks A baru yang relevan untuk region yang sedang diteliti

  • Data yang dibutuhkan adalah output, ekspor dan impor setiap sektor di tingkat regional


Metode ras partial survey

Metode RAS partial-survey

  • Metode survei seringkali menjadi terlalu mahal untuk dapat membuat matriks transaksi input-output. Di samping itu pertanyaan yang harus dijawab oleh sektor usaha sangatlah rinci dan sulit

  • Namun, metode non-survei seringkali dianggap terlampau sederhana untuk menangkap kondisi perekonomian daerah

  • Metode partial-survey merupakan kompromi, di mana survey yang dilakukan tidak harus serinci metode survey. Sektor usaha tetap dimintakan informasi tentang struktur input-nya, tetapi tidak harus mengidentifikasi region asal input dan region penerima outputnya.


Prinsip dasar metode ras

Total output antara

Total input antara

Total input

Prinsip dasar metode RAS

Matriks transaksi

antara (A)

Total output antara

Nasional

Total input antara

???

Matriks transaksi

antara (A) regional

???

Total input

Regional


Analisis input output regional

Analisis input-output regional

  • Setelah didapatkan matriks koefisien input regional, maka analisis dapat dilakukan seperti halnya dengan input-output nasional

    • Sebagai contoh, analisis angka pengganda (multiplier), analisis keterkaitan antarsektor, dst.


Input output antarregion irio

Input-output antarregion (IRIO)


Struktur io region tunggal

Struktur IO region tunggal

Sektor

1 2 3 . . . n

Permintaan akhir

C I G

1

2

3

:

n

Upah

Profit

Pajak

:

Sektor

Input Primer

Transaksi antarindustri

Koefisien input (A)

Leontief inverse (I-A)-1


Matriks transaksi antarregion

Matriks transaksi antarregion


Struktur io antarregion

2

1 . . . n

3

1 . . . n

1

2 :

n

1

3 :

n

Struktur IO antarregion

Region

Sektor

1

1 . . . n

Permintaan akhir

C I G

Total

Output

1

1 :

n

Input Upah

Primer Profit

:

Total Input


Struktur data survei

Struktur data survei

  • Selain transaksi intraregion, juga dibutuhkan data mengenai transaksi antarregion

  • Lebih spesifik lagi, sektor usaha harus dapat mengidentifikasi dari region mana asal dari setiap input antara dan input primer yang digunakan dalam proses produksi


Efek umpan balik antarregion

Efek umpan balik antarregion


Contoh kasus hipotetis

Contoh kasus hipotetis


Leontief inverse antarregional

Leontief inverse antarregional


Analisis keterkaitan linkage analysis

Analisis keterkaitan (linkage analysis)


Jenis analisis keterkaitan

Jenis analisis keterkaitan

  • Backward Linkage

  • Forward Linkage

  • Beberapa aplikasi:

    • Multiplier product matrix (MPM) analysis

    • Extraction method


Backward linkage keterkaitan ke belakang

Backward linkage – keterkaitan ke belakang

  • Peningkatan output sektor tertentu akan mendorong peningkatan output sektor-sektor lainnya, melalui dua cara.

  • Pertama peningkatan output sektor i akan meningkatkan permintaan input sektor i tersebut.

  • Input sektor i tadi ada yang berasal dari sektor i sendiri, ada pula yang berasal dari sektor lain, katakan (di model dua sektor) sektor j. Sektor i meminta output sektor j lebih banyak dari sebelumnya, yang berarti harus ada peningkatan output sektor j.

  • Peningkatan output sektor j ini, pada gilirannya, akan meningkatkan permintaan input sektor i itu sendiri, Begitu seterusnya, terjadi keterkaitan antarsektor industri tersebut.

  • Keterkaitan antarsektor industri yang seperti ini disebut dengan keterkaitan ke belakang (backward linkage), karena keterkaitannya bersumber dari mekanisme penggunaan input produksi


Ukuran backward linkage

Ukuran backward linkage

  • Direct backward linkage

  • Total backward linkage

    Terdiri dari komponen efek langsung dan efek tidak langsung, di mana b adalah elemen Leontief inverse


Forward linkage keterkaitan ke depan

Forward linkage – keterkaitan ke depan

  • Peningkatan output sektor tertentu akan mendorong peningkatan output sektor-sektor lainnya, melalui dua cara.

  • Pertama peningkatan output sektor i akan meningkatkan distribusi output sektor i tersebut. Hal ini membuat sektor lain memiliki input produksi yang lebih banyak.

  • Karena itu sektor-sektor lain akan meningkatkan pula proses produksinya, yang pada gilirannya mendistribusikan output produksi yang lebih banyak lagi

  • Keterkaitan antarsektor industri yang seperti ini disebut dengan keterkaitan ke depan (forward linkage), karena keterkaitannya bersumber dari mekanisme penggunaan output produksi


Ukuran forward linkage

Ukuran forward linkage

  • Direct forward linkage

  • Total forward linkage

    Terdiri dari komponen efek langsung dan efek tidak langsung, di mana b adalah elemen Leontief inverse


Contoh kasus hipotetis1

Contoh kasus hipotetis

transaksi antarsektor

transaksi antarsektor

transaksi antarsektor

tahun 1

tahun 2

tahun 3


Analisis input output

forward linkage

backward linkage


Multiplier product matrix mpm

Multiplier product matrix (MPM)

  • Beberapa analisis melihat keterkaitan antarsektor lebih dari sekedar penghitungan keterkaitan ke belakang dan ke muka.

  • Satu metode analisis yang dapat digunakan ialah dengan menghitung multiplier product matrix atau MPM.

  • Penghitungan MPM ini dilakukan dengan membuat dua indeks seperti yang diusulkan oleh Rasmussen.

  • Pertama ialah power dispersion for the backward linkage, dan kedua ialah index of sensitivity of dispersion for forward linkage


Bl dan fl sekali lagi

BL dan FL, sekali lagi …

  • Power dispersion for the backward linkage

  • Indices of sensitivity of dispersion for forward linkage

  • Kedua indeks BL dan FL ini dinormalisir dengan rata-rata elemen matriks kebalikan Leontief

    • Membandingkan total kolom/baris matriks kebalikan Leontief bisa jadi bukan perbandingan yang setara. Kesetaraan didapat dengan menormalisir total kolom/baris tersebut dengan suatu nilai rata-rata yang didapatkan dari matriks kebalikan Leontief yang bersangkutan


Formula mpm

Formula MPM

  • MPM pada prinsipnya adalah suatu teknik penyajian peringkat sektor-sektor berdasarkan nilai forward dan backward linkage. Secara formal rumusannya ialah sebagai berikut


Karakteristik mpm

Karakteristik MPM

  • Matriks M ini memiliki karakteristik yang identik dengan karakteristik matriks kebalikan Leontief perekonomian yang bersangkutan.

  • Berdasarkan penjumlahan kolom

  • Berdasarkan penjumlahan baris


Teknik penyajian

Teknik penyajian

  • Kolom dan baris matriks M dapat diperingkatkan menurut peringkat backward linkage (untuk kolom) dan peringkat forward linkage (untuk baris). Dengan demikian kita dapatkan gambaran mengenai hirarki sektor-sektor produksi di perekonomian berdasarkan keterkaitannya baik ke muka maupun ke belakang


Kasus hipotetis terdahulu

Kasus hipotetis terdahulu

tahun 1

tahun 2

tahun 3


Mpm indonesia 19 sektor

MPM Indonesia - 19 sektor

1985 1990 1995


Metode ekstraksi extraction method

Metode ekstraksi (extraction method)

  • Pada awalnya, metode ini diarahkan untuk mencari besarnya tingkat kepentingan suatu sektor di perekonomian

  • Dengan metode ini, pertanyaan yang diajukan adalah:

    Berapa besar dampak output apabila suatu sektor hilang (extracted out) dari perekonomian ?

  • Suatu sektor hilang?


Ekstraksi sektor vs region

Ekstraksi: sektor vs. region

  • Hilangnya suatu sektor

    • Perubahan definisi sektoral

    • Perubahan struktur ekonomi dalam jangka panjang

  • Hilangnya suatu region

    • Perpecahan region dari suatu negara: Ceko-Slovenia, Rusia, TimTim, dsb.

  • Jangka pendek – dari situasi perdagangan ke situasi autarki. Jangka panjang?


Region 1 hilang dari perekonmian

Region 1 hilang dari perekonmian

  • Matriks koefisien input (A) dan kebalikan Leontief (L) dapat dituliskan sebagai berikut:

  • Ekstraksi berarti komponen A1R and AR1 be dipaksa menjadi nol. Output di sistem ini menjadi

  • Selisihnya dengan output ketika belum ter-ekstraksi ialah


Output hilang di region 1 dua dampak

Output hilang di region 1: dua dampak

  • Output hilang di region 1 karena region 1 tidak lagi berhubungan dengan R

  • Dampak langsung atau lokal (local or direct impact) dicerminkan oleh komponen pertama. Ini adalah jumlah output yang tidak akan diproduksi dalam konteks permintaan akhir region 1

  • Dampak tidak langsung (indirect impact) dicerminkan oleh komponen kedua. Ini adalah sejumlah output yang tidak akan tercipta dalam konteks permintaan akhir dari R


Output hilang di region r dua dampak

Output hilang di region R: dua dampak

  • Output hilang di region R karena region R tidak lagi berhubungan dengan 1

  • Dampak langsung atau lokal (local or direct impact) dicerminkan oleh komponen pertama. Ini adalah jumlah output yang tidak akan diproduksi dalam konteks permintaan akhir region R

  • Dampak tidak langsung (indirect impact) dicerminkan oleh komponen kedua. Ini adalah sejumlah output yang tidak akan tercipta dalam konteks permintaan akhir dari 1


Efek hilangnya timor timur

Efek hilangnya Timor Timur


Determinan dampak ekstraksi

Determinan dampak ekstraksi

  • Model dasar:

    di mana EIij adalah dampak output di region i karena ekstraksi region j; Zi dan Zj adalah karakteristik ekonomi region i dan region j.


Hasil regresi

Hasil regresi

Makin tinggi PDRB

 makin tinggi dampak ekstraksi  makin tinggi interaksi

Pengeluaran pemerintah secara umum cenderung meningkatkan dampak ekstraksi

Pengeluaran pemerintah daerah cenderung meningkatkan dampak ekstrasi -- sementara peningkatan pengeluaran pemerintah pemerintah pusat cenderung menurunkan dampak ekstraksi


  • Login