digenetic trematodes
Download
Skip this Video
Download Presentation
DIGENETIC TREMATODES

Loading in 2 Seconds...

play fullscreen
1 / 135

DIGENETIC TREMATODES - PowerPoint PPT Presentation


  • 1045 Views
  • Uploaded on

DIGENETIC TREMATODES. Siklus Hidup. DIGENETIC TREMATODES. CLINOSTOMUM ✓ Clinostomiasis larvaire : penyakit yang disebabkan oleh metacercaria genus Clinostomum , habitat : di bawah kulit, dalam otot, dari bermacam- macam ikan air tawar, katak salamander tiger.

loader
I am the owner, or an agent authorized to act on behalf of the owner, of the copyrighted work described.
capcha
Download Presentation

PowerPoint Slideshow about 'DIGENETIC TREMATODES' - tam


An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript
digenetic trematodes3

DIGENETIC TREMATODES

CLINOSTOMUM

✓ Clinostomiasis larvaire : penyakit yang disebabkan oleh metacercaria

genus Clinostomum, habitat : di bawah kulit, dalam otot, dari bermacam-

macam ikan air tawar, katak salamander tiger.

✓ Habitat Cacing dewasa : dalam rongga mulut, faring dan esofagus bangsa

burung - burung bangau

slide4
✓ Metacercaria berbentuk

nodule/kista, habitat :rongga

tubuh, dibawah kulit di seluruh

tubuh, dan tertanam pada otot

ikan.

✓ Larva cacing ini disebut Yellow Grubs,

menyerang ikan salmon, Cyprinida,

Esocidae dan Siluridae(catfish).

✓ Distribusi: kosmopolit

slide5

Phylum : PlatyhelminthesClassis : TrematodaOrdo : DigeneaFamilia : ClinostomatidaeGenus : ClinostomumSpecies :C complanatum= C microstomum= C piscidum

TAXONOMI/KLASIFIKASI

slide6
Morfologi:
  • Ukuran cacing dewasa 3–10 X 2–3mm
  • Pipih, bagian lateral konkaf
  • Tidak mempunyai faring
  • Caecum sangat panjang
  • Ovarium kecil, terletak diantara testis yang terletak tandem
  • Ukuran telur 105 – 146 X 65 – 75 μm
slide9

Clinostomum dewasa

Metacercaria

slide10
Keterangan :

VB : Ventouse Buccale = Oral sucker

VV : Ventouse Ventral = Ventral sucker

Vg : Vitteline gland

Cae : Caecum

T : Testis

Ut : Uterus

O : Ovari

slide11
Cercaria berbentuk furcocercaria

Metacercaria berukuran 1,5–4/6 mm x 2 mm, warna putih

Siklus hidup :

Inang perantara I : siput air :Lymnea, Planorbis dan Helisoma

Inang perantara II: Bangsa amfibi dan ikan

slide12
Ikan terinfeksi karena termakannya telur cacing yang dikeluarkan hospes definitif (burung pantai/pemakan ikan).
  • Telur dikeluarkan oleh inang definitif (burung) --miracidium di dalam air --- IP I moluska– ------ penetrasi secara aktif melalui jaringan lunak moluska----sporokista----redia induk----redia anak----cercaria dalam bentuk furcocercaria----- keluar dari tubuh siput dan berenang --------- menempel pada kulit IP II : ikan-----------metacercaria dibawah kulit/hipodermis atau pada superfisial dari kulit .
slide15
Jika ikan yang terinfeksi metacercaria

termakan burung pemakan ikan --------

- berkembang menjadi cacing dewasa.

Periode prepaten : 3 hari

Metacercaria terbentuk 2 minggu pasca infeksi dan mencapai masak setelah 20 minggu. Metacercaria dapat membesar setelah 2 tahun dan dapat bertahan sampai 4 tahun

slide16
Patogenesis dan Gejala Klinis :

❐ Ikan ukuran besar dan dewasa lebih sering terinfeksi dari pada ikan kecil dan muda; betina lebih peka daripada jantan.

❐ Nodule/kista 1 – 3 mm diameter, warna krem. Nodule nampak terutama 3 minggu pasca infeksi

slide21
Infeksi berat: kesulitan bergerak,

peredaran darah sub kutan terhambat.--sangat sensitif pada keadaan anaerob-- mati.

Lesi-lesi :

❐ Metacercaria terbungkus jaringan

hospes---- membentuk kulit menjadi

menebal (sampai 0,1 mm tebalnya).

  • Dinding jaringan yang membungkus metacercaria berpigmen hitam
slide22
Diagnosis:

1. Berdasarkan klinis nampak

sejumlah nodule berwarna krem

berukuran kecil dan non-ulceratik.

2.Diagnosis dikonfirmasi dengan

diketemukan metacercaria,

karakternya mirip dengan cacing

dewasa.

slide23
Kontrol penyakit:

❐ Molluscida : niclosamide 10 ppm

memberantas mollusca tapi juga toxic

terhadap ikan ------- IP I yang terinfeksi cercaria-------- menginfeksi ikan

❐ Pemberian desinfektan : alkohol

30%,mercurochrom dan gentian violet 1 %

❐ Public Health : memasak ikan secara sempurna.

transversotremiasis
Transversotremiasis
  • Penyebab: Transversotrema sp- termasuk ektoparasit
  • Habitat cacing dewasa :Kulit dibawah sisik
  • Hospes definitif: ikan kakap (Lates calcafier), ikan blanakan (Mugil sp) dan ikan mujair(Tilapia mossambica)
  • Distribusi : Perairan/ sungai di Tabanan,Bali
slide25
Morfologi :
  • Tubuhnya lebih lebar dari pada panjangnya dan agak melingkar.
  • Oral sucker tidak ada
  • Mulut terbuka langsung kedalam faring
klasifikasi taxonomi
Klasifikasi/Taxonomi
  • Phylum : Platyhelminthes
  • Classis : Trematoda
  • Ordo : Digenea
  • Familia : Transversotrematidae
  • Genus : Transversotrema
  • Species : Transversotremasp
slide28
Inang perantara : siput air Melanoides sp habitat pada fresh water dan brackish-water

Life Cycle: miracidium berenang mencari inang perantara siput air di perairan air tawar dan payau- berkembang menjadi sporokista- redia-- cercaria

Stadium infektif cercaria yang penetrasi dari tubuh siput--- berenang dan menempel pada tubuh inang definitif/ikan dibawah sisik---- berkembang menjadi cacing dewasa

slide29
Gejala Klinis :
  • Kerusakan jaringan kulit
  • Peradangan kulit
  • Stress

Pengobatan:

Dengan CuSO4 0,7 ppm 2 kali dalam waktu 24 jam

slide30
Genus Diplostomulum = Diplostomum

MORFOLOGI:

  • Bagian anteriornya seperti daun
  • Bagian ventral konkaf
  • Bagian posterior pendek dan berbentuk kerucut, dilengkapi muscular pseudo sucker di bagian latero-anterior (pada setiap bagian anterior oral sucker), bentuknya seperti telinga, disebut cotylae
slide33
Larva DiplostomulumdisebutEye flukes
  • Habitat metacercaria : lensa mata disebut juga White Eye, juga di rongga tubuh dan susunan saraf pusat
  • Metacercaria biasanya tidak berbentuk kista tapi membentuk kapsul dari jaringan hospes
  • Dapat menyebabkan kebutaan dan kematian.
  • Cacing dewasa : Diplostomum spp.
slide37
Genus Neascus
  • Disebut White Grubs atau jika dikelilingi pigmen dari hospes dikenal dengan sebutan Black Spot= Black Spot Disease
  • Menyebabkan Melanophore Reaction di sekitar infeksi metacercaria/kista.
slide38
Morfologi :
  • Bagian anterior mirip dengan Diplostomulum.
  • Larva berukuran 2 -3 mm
  • Bagian posterior berkembang dengan baik dan memanjang
  • Tidak mempunyai pseudo sucker lateral (cotylae)
slide39
Metacercaria dikelilingi dinding kista yang tipis
  • Habitat pada kulit
  • Cacing dewasa : Neascus spp.
slide42
Cara Penularan :
  • Ikan sebagai inang perantara II dan inang perantara I mollusca
  • Termakannya telur cacing dari definitive host/burung->miracidium, menembus jaringan tubuh mollusca

/snailsporokistaredia cercaria-metacercaria

slide45
Kontrol penyakit :
  • Praziquantel
  • Pemberian molluscida---- memberantas snail/mollusca
  • Kista dioperasi
digenea dalam saluran pencernaan
DIGENEA DALAM SALURAN PENCERNAAN

Penyebab: Azygia lucii

  • Termasuk digenetik trematoda
  • Morfologi:
  • Ukuran : panjang mencapai 3 cm (1 – 5 cm)
  • Tubuhnya memanjang
  • Kutikula tebal dan tidak berduri tapi kasar
slide47
Ovarium terletak di bagian anterior testes, jarang di bagian posterior testes
  • Glandula vitteline sedikit memanjang terletak di depan testes
  • Uterus bercabang keatas, terletak antara ovarium dan ventral sucker
slide48
Inang perantara : snail/moluska dari jenis Gastropoda
  • Ikan kecil dapat sebagai parathenic host.
slide49
Azygia lucii

Habitat : esofagus, lambung dan usus dari Ikan Percha (Perca fluvitilis)

  • Cercaria dalam bentuk furco-cercaria.
  • Metacercaria dapat membentuk kista dalam tubuh inang

perantara:moluska.

Inang definitif : ikan terinfeksi karena memakan siput/moluska.

slide52
Perubahan Patologi :

❐ Kerusakan-kerusakan lokal pada

selaput lendir usus.

slide53
Familia Hemuridae

Morfologi :

  • Berukuran panjang 1,5 – 5 mm dengan ujung posterior yang langsing
  • Dilengkapi pseudo appendix di bagian posterior/caudal disebut Ecsoma, bersifat retractile dengan tubuh.
  • Sucker berkembang baik; acetabulum lebih prominent dari pada sucker
slide54
Faring pendek
  • Caecum panjang dan mencapai ujung posterior tubuh
  • Testes ovoid terletak tandem atau diagonal, setengah bagian tubuh bagian posterior/anterior.
  • Ovarium di bagian posterior testes
slide55
Vitteline gland terdiri dari 2/3 massa compact, berlobi atau tubuler di bagian posterior ovarium

-Uterus bercabang keatas dan kebawah sampai mencapai glandula vittelina

    • Ukuran telur :20 -30 X 21 – 45 μ, dilengkapi filamen
slide56
Siklus hidup :
  • Telur -----miracidium  sporokista redia---- cercaria tipe cystocerque, disebut cystophore.
  • cercaria----- metacercaria berbentuk kista dalam host atau plankton atau hidup bebas.
klasifikasi taxonomi57
Klasifikasi/Taxonomi

Phyllum : Platyhelminthes

Class : Trematoda Digenea

Ordo : Strigeida

Family : Hemiuroidaedae

Genus : Hemiurus

Spesies : Hemiurus appendiculatus

allocreadium isoporum
Allocreadium isoporum
  • Habitat :
  • usus dan lambung ikan air tawar (ikan lele, ikan mas, ikan gurami, dan ikan nila
klasifikasi taxonomy
KLASIFIKASI/TAXONOMY

Phyllum : Platyhelminthes

Class : Trematoda Digenea

Ordo : Fasciolata

Family : Allocreadiidae

Genus : Allocreadium

Spesies : Allocreadium isoporum

Allocreadium angusticolle

Allocreadium transversale

slide63
Patogenesis :
  • Peradangan dan luka pada usus
  • Infeksi berat dapat menyebabkan inflamasi otot dan luka yang meluas di permukaan tubuh
  • Pembengkakan perut

Gejala Klinis :

  • Gerakan lamban--ikan mudah dimangsa
  • Keseimbangan tubuh terganggu
  • Infeksi berat--- kematian
crepidostomum fariones
Crepidostomum fariones

Crepidostomum fariones

klasifikasi taxonomi67
Klasifikasi/Taxonomi

Phyllm : Platyhelminthes

Classis : Trematoda

Ordo : Digenea

Familia : Allocreadiidae

Genus : Crepidostomum

Species : Crepidostomum fariones

slide68
Morfologi :
  • Cacing dewasa ovoid memanjang
  • Ukuran panjang 1 – 2 mm
  • Mempunyai 2 – 6 papillae di bagian antero-dorsal
  • Oral sucker dibagian terminal dan ventral sucker di pertengahan bagian tubuhnya
  • Faring berkembang baik dan esofagus pendek
  • Testis terletak tandem di pertengahan tubuh
  • Ovarium di bagian anterior testes
slide69
Siklus Hidup :

IH I: Lymnaea snail dan dan IH II : Crustacea,

water fly

Telur menetas- miracidium- penetrasi Lymnaea--- sporokista-- redia-- cercaria--penetrasi crustacea --metacercaria

slide70
Habitat : usus ikan salmon, Cyprinids(ikan mas), catfish (ikan lele) dan ikan air tawar

Patogenesis :

❐Pada infeksi berat dapat

menyebabkan inflamasi berat

intestinal dan kematian, disebabkan

karena lesi dari Enteritis

Catharalis Diffuse.

slide71
Gejala Klinis :
  • Dapat menyebabkan kekurusan

karena nafsu makan menurun

  • Infeksi berat- kematian
  • Hematocrit & Haemoglobin rendah
slide72
Diagnosis :
  • Gejala klinis
  • Pemeriksaan feses
  • Uji laboratorium/tes hematokrit
  • Biopsi/seksi
slide73
Kontrol :
  • Pemberian Anthelminthics pada ikan yang terinfeksi : Bithionol, Oxyclozanide, Benzimidazole groups

2. Pemberian molluscida , menebar kapur atau chloride pada kolam untuk membasmi mollusca

gyliaucheniasis
Gyliaucheniasis
  • Penyebab : Gyliauchen sp
  • Habitat cacing dewasa : usus halus
  • Hospes definitif: Ikan kerapu (Epinephelus sp) dan ikan baronang (Siganus fuscencens)
  • Distribusi : Perairan Sulawesi
slide75
Morfologi:
  • Bentuk tubuh ovoid, ukuran 2,55-2,64 x 0,80-0,85 mm
  • Mempunyai acetabulum > oral sucker
klasifikasi taxonomi78
Klasifikasi/Taxonomi
  • Phylum : Platyhelminthes
  • Classis : Trematoda
  • Ordo : Digenea
  • Familia : Gyliauchenidae
  • Genus : Gyliauchen
  • Species : Gyliauchen sp
slide79
Gejala klinis :
  • Penurunan berat badan
  • Nekrosis dan radang jaringan usus
  • Stress
  • Pengendalian penyakit:
  • Pengobatannya sulit
  • Di China : di-n-butyl tin oxyde, dosis 3% dari BB dicampur dalam pakan
  • Disarankan lebih menjaga proses budidaya agar terhindar infeksi parasit tersebut
gauhatianiasis
Gauhatianiasis
  • Penyebab: Gauhatiana batrachii
  • Habitat cacing dewasa : usus halus
  • Hospes definitif: ikan kerapu (Epinephelus sp) dan ikan lele(Clarias batrachus)
  • Distribusi :Perairan Sulawesi
klasifikasi taxonomi81
Klasifikasi/Taxonomi
  • Phyllum : Platyhelminthes
  • Class : Trematoda
  • Ordo : Digenea
  • Family : Macroderoididae
  • Genus : Gauhatiana
  • Spesies : Gauhatiana batrachii
slide82
Morfologi :
  • Bentuk tubuh ovoid, ukuran 0,81-1,52
  • X 0,35-0,50 mm
  • Ukuran Acetabulum = oral sucker
slide85
Gejala Klinis:
  • Penurunan berat badan
  • Nekrosis dan radang jaringan usus
  • Stress

Pengendalian penyakit:

  • Pengobatannya sulit
  • Di China : di-n-butyl tin oxyde, dosis 3% dari BB dicampur dalam pakan
  • Disarankan lebih menjaga proses budidaya agar terhindar infeksi parasit tersebut
pseudometadeniasis
Pseudometadeniasis
  • Penyebab : Pseudometadena sp
  • Habitat cacing dewasa : usus halus
  • Hospes definitif: Ikan kakap (Lates calcalifer)
  • Distribusi : Perairan sumbawa dan Sulawesi
klasifikasi taxonomi89
Klasifikasi/Taxonomi
  • Phyllum : Platyhelminthes
  • Class : Trematoda
  • Ordo : Digenea
  • Family : Cryptogonimidae
  • Genus : Pseudometadena
  • Spesies : Pseudometadena sp
slide90
Gejala Klinis:
  • Penurunan berat badan
  • Nekrosis dan radang jaringan usus
  • Stress

Pengendalian penyakit:

  • Pengobatan dapat dilakukan dengan CuSO4 0,7 ppm 2 kali 24 jam
  • Disarankan lebih menjaga proses budidaya agar terhindar infeksi parasit tersebut
opegasteriasis
Opegasteriasis
  • Penyebab: Opegaster sp
  • Habitat cacing dewasa : usus halus
  • Hospes definitif: ikan tawes (Puntius javonicus) dan ikan lele(Clarias batrachus)
  • Distribusi : Danau Buyan Buleleng Bali
klasifikasi taxonomi92
Klasifikasi/Taxonomi
  • Phyllum : Platyhelminthes
  • Class : Trematoda
  • Ordo : Digenea
  • Family : Opecoelidae
  • Genus : Opegaster
  • Spesies : Opegaster sp
slide93
Morfologi :
  • Tubuh bulat panjang, bagian posterior bulat dan anterior lonjong.
  • Oral sucker berkembang baik
  • Panjang acetabulum 2 kali > oral sucker
slide95
Gejala Klinis:
  • Penurunan berat badan
  • Terjadi kerusakan atau radang jaringan usus
  • Stress
  • Pengendalian penyakit:
  • Pengobatan dapat dilakukan dengan CuSO4 0,7 ppm 2 kali 24 jam
  • Disarankan lebih menjaga proses budidaya agar terhindar infeksi parasit tersebut
digenea dalam sistem peredaran darah circulatory system
DIGENEA DALAM SISTEM PEREDARAN DARAH/CIRCULATORY SYSTEM

Genus :Sanguinicola

Spesies : S inermis

  • Habitat : pembuluh darah terutama Bulbus arteriosis, pembuluh darah insang dan ginjal.
slide98
Morfologi :
  • Ukuran panjang 1 mm X 300 μ
  • Intestine pendek berbentuk huruf X dengan 4-5 lobus
  • Testis membentuk 2 deretan longitudinal
  • Uterus terdiri dari 2 lobi berbentuk seperti kupu-kupu, hanya mengandung satu telur yang berukuran 30-70 x 30-35 μm
slide100

Furcocercaria

Sanguinicola sp.

slide101
Siklus Hidup :
  • Telur -menetas menjadi miracidium- inang perantara Lymnea- sporokista-- redia->.cercaria disebut cercaria cristata berekor bercabang =furco-lopocerque---penetrasi hospes definitif melalui par enteral perforasi epitel branchial--vena branchial- cacing dewasa di tempat predileksinya
  • Waktu yang dibutuhkan mencapai stadium dewasa 4 bulan
slide102
Gejala Klinis :
  • Infeksi berat --- menyumbat pembuluh darah insang -- sesak nafas.
  • Gumpalan2 telur dapat terbawa aliran darah----- ginjal------ membentuk kista
  • Infeksi berat dapat menyebabkan kematian tanpa diserta gejala klinis
slide103
Diagnosis :

Bentuk sub akut dapat dikenali adanya granuloma branchial nampak jelas, sedang bentuk kronis tidak nampak secara klinis.

Kontrol :

  • Membasmi siput dengan menebarkan kapur kedalam kolam atau Baylusid dengan dosis 0,5 mg/l air yang dimasukkan kedalam kolam sebelum memasukkan ikan kedalam kolam.
clonorchis sinensis opisthorchis sinensis
Clonorchis sinensis= Opisthorchis sinensis
  • Sering disebut Oriental/Chinese Liver Fluke
  • Cacing dewasa mempunyai habitat saluran empedu, kadang2 saluran pankreas dan duodenum.
  • Cacing ini bersifat zoonosis
  • Hospes definitif :
  • Manusia, anjing, kucing, babi dan mamalia pemakan ikan
slide107

CERCARIA

TELUR/EGG

slide108
Morfologi :
  • Pipih dan berukuran 25 x 5 mm, transparan
  • Tubuh posterior melebar dan anterior meruncing
  • Testes bercabang
  • Kutikula berduri pada yang muda dan yang dewasa halus
  • Telur berukuran 27 -35 x 12 – 20 μ berdinding tebal berwarna coklat muda, mempunyai operculum
slide110
Sikilus Hidup :
  • Inang perantara I : siput dari genus Bithynia
  • Inang perantara II : ikan air tawar
slide111
Siklus Hidup :
  • Telur yang dikeluarkan inang definitif menetas miracidium---IP I siput- sporokista-> redia-- cercaria-- keluar tubuh siput berenang dan penetrasi secara aktif melalui kulit/otot ikan (I.H. II)- metacercaria--- infektif.
heteropyes heteropyes
Heteropyes heteropyes
  • Habitat: usus halus
  • Inang definitif:Anjing, kucing, manusia
  • Cacing ini bersifat zoonosis
slide114
Morfologi :
  • Ukuran 1 – 1,7 x 0,3 – 0,7 mm
  • Bagian posterior lebih lebar dari pada anterior
  • Ventral sucker terletak di bagian tengah tubuh
  • Testes oval dan terletak horizontal
  • Telur berdinding tebal berwarna coklat dilengkapi dengan operculum, ukuran 26 – 30 x 15 – 17 μm
slide117
Siklus hidup :
  • Inang perantara I : siput Certhidiacingulata
  • Inang perantara II : ikan
  • Final host terinfeksi karena memakan ikan yang kurang masak/mentah
paragonimus westermanii
Paragonimus westermanii
  • Merupakan cacing paru-paru, disebut Lung Fluke
  • Habitat: paru-paru, kadang-kadang pada otak, spinal cord dan organ-

organ lain.

  • Cacing ini bersifat zoonosis
  • Inang definitif : anjing, kucing, babi, carnivora, sapi, kambing dan manusia
slide119

Morfologi :

Bentuk seperti biji kopi, ukuran 7,5 – 16x 4 – 8 mm, berwarna merah

kecoklatan

Kutikula berduri

Vittelaria berlimpah warna coklat, uterus berkelok-kelok berisi telur berwarna coklat

Oral sucker sedikit lebih besar dari pada ventral sucker

slide123
Faring berotot dan esofagus pendek
  • Caecum memanjang ke ujung posterior tubuh.
  • Testes berlobi diantara ventral sucker dan ujung posterior tubuh
slide124
Ovarium besar bentuk tidak teratur, sebelah kiri sedikit di belakang ventral sucker
  • Uterus terletak berlawanan dengan ovarium
  • Telur berukuran 75 – 118 x 42 -67 μ, kuning kecoklatan, ovoid mempunyai operculum, dinding lebih tebal pada kutub lainnya
slide127
Siklus hidup:
  • Telur---miracidium -- IP I siput air dan siput amfibius :Thiara, Semisulcospira, Bithynella dan Oncomelania.---- sporokista---- redia --- cercaria--- berenang dan mencari IP II : kepiting dan udang ---------- penetrasi------------ metacercaria.
fasciolopsiasis

FASCIOLOPSIASIS

CAUSA : Fasciolopsis buski= Distomum crassum = The Giant Intestinal Fluke

Sejarah dan Distribusi Parasit :

I Ditemukan Busk 1843 dalam duodenum pelaut yang meninggal di London.

Parasit pada manusiadan babi di China Selatan dan Tengah, Taiwan, Vietnam, Thailand, Borneo, Sumatra.

Di Canton, China kadang2 menginfeksi anjing, dan kelinci resisten thd parasit tsb.

slide130

Morfologi dan Biologi Parasit :* Bentuk ovoid memanjang* Ukuran : 20-75x 4-20 mm* Tegumen berspina* Siklus hidup mirip dengan F hepatica* Cacing dewasa menempel pada dinding duodenum dan jejunum. Kadang2 di colon dan pylorus

slide135

EPIDEMIOLOGY :Fasciolopsis buski : endemik di China, Taiwan, South-East Asia, Indonesia, Malaysia and India.PENULARAN :Infeksi terjadi karena mengkonsumsi tanaman air, sayur yang tidak dimasakyang terkontaminasi metacercaria