Digenetic trematodes l.jpg
This presentation is the property of its rightful owner.
Sponsored Links
1 / 135

DIGENETIC TREMATODES PowerPoint PPT Presentation


  • 776 Views
  • Uploaded on
  • Presentation posted in: General

DIGENETIC TREMATODES. Siklus Hidup. DIGENETIC TREMATODES. CLINOSTOMUM ✓ Clinostomiasis larvaire : penyakit yang disebabkan oleh metacercaria genus Clinostomum , habitat : di bawah kulit, dalam otot, dari bermacam- macam ikan air tawar, katak salamander tiger.

Download Presentation

DIGENETIC TREMATODES

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Presentation Transcript


Digenetic trematodes l.jpg

DIGENETIC TREMATODES


Slide2 l.jpg

Siklus Hidup


Digenetic trematodes3 l.jpg

DIGENETIC TREMATODES

CLINOSTOMUM

✓ Clinostomiasis larvaire : penyakit yang disebabkan oleh metacercaria

genus Clinostomum, habitat : di bawah kulit, dalam otot, dari bermacam-

macam ikan air tawar, katak salamander tiger.

✓ Habitat Cacing dewasa : dalam rongga mulut, faring dan esofagus bangsa

burung - burung bangau


Slide4 l.jpg

✓ Metacercaria berbentuk

nodule/kista, habitat :rongga

tubuh, dibawah kulit di seluruh

tubuh, dan tertanam pada otot

ikan.

✓ Larva cacing ini disebut Yellow Grubs,

menyerang ikan salmon, Cyprinida,

Esocidae dan Siluridae(catfish).

✓ Distribusi: kosmopolit


Slide5 l.jpg

Phylum: PlatyhelminthesClassis: TrematodaOrdo : DigeneaFamilia: ClinostomatidaeGenus: ClinostomumSpecies :C complanatum= C microstomum= C piscidum

TAXONOMI/KLASIFIKASI


Slide6 l.jpg

Morfologi:

  • Ukuran cacing dewasa 3–10 X 2–3mm

  • Pipih, bagian lateral konkaf

  • Tidak mempunyai faring

  • Caecum sangat panjang

  • Ovarium kecil, terletak diantara testis yang terletak tandem

  • Ukuran telur 105 – 146 X 65 – 75 μm


Slide8 l.jpg

C complanatum


Slide9 l.jpg

Clinostomum dewasa

Metacercaria


Slide10 l.jpg

Keterangan :

VB : Ventouse Buccale = Oral sucker

VV : Ventouse Ventral = Ventral sucker

Vg : Vitteline gland

Cae : Caecum

T : Testis

Ut : Uterus

O : Ovari


Slide11 l.jpg

Cercaria berbentuk furcocercaria

Metacercaria berukuran 1,5–4/6 mm x 2 mm, warna putih

Siklus hidup :

Inang perantara I : siput air :Lymnea, Planorbis dan Helisoma

Inang perantara II: Bangsa amfibi dan ikan


Slide12 l.jpg

  • Ikan terinfeksi karena termakannya telur cacing yang dikeluarkan hospes definitif (burung pantai/pemakan ikan).

  • Telur dikeluarkan oleh inang definitif (burung) --miracidium di dalam air --- IP I moluska– ------ penetrasi secara aktif melalui jaringan lunak moluska----sporokista----redia induk----redia anak----cercaria dalam bentuk furcocercaria----- keluar dari tubuh siput dan berenang --------- menempel pada kulit IP II : ikan-----------metacercaria dibawah kulit/hipodermis atau pada superfisial dari kulit .


Slide15 l.jpg

  • Jika ikan yang terinfeksi metacercaria

    termakan burung pemakan ikan --------

    - berkembang menjadi cacing dewasa.

    Periode prepaten : 3 hari

    Metacercaria terbentuk 2 minggu pasca infeksi dan mencapai masak setelah 20 minggu. Metacercaria dapat membesar setelah 2 tahun dan dapat bertahan sampai 4 tahun


Slide16 l.jpg

Patogenesis dan Gejala Klinis :

❐ Ikan ukuran besar dan dewasa lebih sering terinfeksi dari pada ikan kecil dan muda; betina lebih peka daripada jantan.

❐ Nodule/kista 1 – 3 mm diameter, warna krem. Nodule nampak terutama 3 minggu pasca infeksi


Slide21 l.jpg

  • Infeksi berat: kesulitan bergerak,

    peredaran darah sub kutan terhambat.--sangat sensitif pada keadaan anaerob-- mati.

    Lesi-lesi :

    ❐ Metacercaria terbungkus jaringan

    hospes---- membentuk kulit menjadi

    menebal (sampai 0,1 mm tebalnya).

  • Dinding jaringan yang membungkus metacercaria berpigmen hitam


Slide22 l.jpg

Diagnosis:

1. Berdasarkan klinis nampak

sejumlah nodule berwarna krem

berukuran kecil dan non-ulceratik.

2.Diagnosis dikonfirmasi dengan

diketemukan metacercaria,

karakternya mirip dengan cacing

dewasa.


Slide23 l.jpg

Kontrol penyakit:

❐ Molluscida : niclosamide 10 ppm

memberantas mollusca tapi juga toxic

terhadap ikan ------- IP I yang terinfeksi cercaria-------- menginfeksi ikan

❐ Pemberian desinfektan : alkohol

30%,mercurochrom dan gentian violet 1 %

❐ Public Health : memasak ikan secara sempurna.


Transversotremiasis l.jpg

Transversotremiasis

  • Penyebab: Transversotrema sp- termasuk ektoparasit

  • Habitat cacing dewasa :Kulit dibawah sisik

  • Hospes definitif: ikan kakap (Lates calcafier), ikan blanakan (Mugil sp) dan ikan mujair(Tilapia mossambica)

  • Distribusi : Perairan/ sungai di Tabanan,Bali


Slide25 l.jpg

Morfologi :

  • Tubuhnya lebih lebar dari pada panjangnya dan agak melingkar.

  • Oral sucker tidak ada

  • Mulut terbuka langsung kedalam faring


Slide26 l.jpg

Transversotremaadult


Klasifikasi taxonomi l.jpg

Klasifikasi/Taxonomi

  • Phylum: Platyhelminthes

  • Classis: Trematoda

  • Ordo: Digenea

  • Familia: Transversotrematidae

  • Genus: Transversotrema

  • Species: Transversotremasp


Slide28 l.jpg

  • Inang perantara : siput air Melanoides sp habitat pada fresh water dan brackish-water

    Life Cycle: miracidium berenang mencari inang perantara siput air di perairan air tawar dan payau- berkembang menjadi sporokista- redia-- cercaria

    Stadium infektif cercaria yang penetrasi dari tubuh siput--- berenang dan menempel pada tubuh inang definitif/ikan dibawah sisik---- berkembang menjadi cacing dewasa


Slide29 l.jpg

  • Gejala Klinis :

  • Kerusakan jaringan kulit

  • Peradangan kulit

  • Stress

    Pengobatan:

    Dengan CuSO4 0,7 ppm 2 kali dalam waktu 24 jam


Slide30 l.jpg

Genus Diplostomulum = Diplostomum

MORFOLOGI:

  • Bagian anteriornya seperti daun

  • Bagian ventral konkaf

  • Bagian posterior pendek dan berbentuk kerucut, dilengkapi muscular pseudo sucker di bagian latero-anterior (pada setiap bagian anterior oral sucker), bentuknya seperti telinga, disebut cotylae


Slide31 l.jpg

Diplostomum


Slide32 l.jpg

Diplostomum metacercaria


Slide33 l.jpg

  • Larva DiplostomulumdisebutEye flukes

  • Habitat metacercaria : lensa mata disebut juga White Eye, juga di rongga tubuh dan susunan saraf pusat

  • Metacercaria biasanya tidak berbentuk kista tapi membentuk kapsul dari jaringan hospes

  • Dapat menyebabkan kebutaan dan kematian.

  • Cacing dewasa : Diplostomum spp.


Slide34 l.jpg

Diplostomulum sp


Slide37 l.jpg

Genus Neascus

  • Disebut White Grubs atau jika dikelilingi pigmen dari hospes dikenal dengan sebutan Black Spot= Black Spot Disease

  • Menyebabkan Melanophore Reaction di sekitar infeksi metacercaria/kista.


Slide38 l.jpg

Morfologi :

  • Bagian anterior mirip dengan Diplostomulum.

  • Larva berukuran 2 -3 mm

  • Bagian posterior berkembang dengan baik dan memanjang

  • Tidak mempunyai pseudo sucker lateral (cotylae)


Slide39 l.jpg

  • Metacercaria dikelilingi dinding kista yang tipis

  • Habitat pada kulit

  • Cacing dewasa : Neascus spp.


Slide41 l.jpg

Neascus sp.


Slide42 l.jpg

Cara Penularan :

  • Ikan sebagai inang perantara II dan inang perantara I mollusca

  • Termakannya telur cacing dari definitive host/burung->miracidium, menembus jaringan tubuh mollusca

    /snailsporokistaredia cercaria-metacercaria


Slide45 l.jpg

Kontrol penyakit :

  • Praziquantel

  • Pemberian molluscida---- memberantas snail/mollusca

  • Kista dioperasi


Digenea dalam saluran pencernaan l.jpg

DIGENEA DALAM SALURAN PENCERNAAN

Penyebab: Azygia lucii

  • Termasuk digenetik trematoda

  • Morfologi:

  • Ukuran : panjang mencapai 3 cm (1 – 5 cm)

  • Tubuhnya memanjang

  • Kutikula tebal dan tidak berduri tapi kasar


Slide47 l.jpg

  • Ovarium terletak di bagian anterior testes, jarang di bagian posterior testes

  • Glandula vitteline sedikit memanjang terletak di depan testes

  • Uterus bercabang keatas, terletak antara ovarium dan ventral sucker


Slide48 l.jpg

  • Inang perantara : snail/moluska dari jenis Gastropoda

  • Ikan kecil dapat sebagai parathenic host.


Slide49 l.jpg

Azygia lucii

Habitat : esofagus, lambung dan usus dari Ikan Percha (Perca fluvitilis)

  • Cercaria dalam bentuk furco-cercaria.

  • Metacercaria dapat membentuk kista dalam tubuh inang

    perantara:moluska.

    Inang definitif : ikan terinfeksi karena memakan siput/moluska.


Slide51 l.jpg

Azygia sp


Slide52 l.jpg

Perubahan Patologi :

❐ Kerusakan-kerusakan lokal pada

selaput lendir usus.


Slide53 l.jpg

Familia Hemuridae

Morfologi :

  • Berukuran panjang 1,5 – 5 mm dengan ujung posterior yang langsing

  • Dilengkapi pseudo appendix di bagian posterior/caudal disebut Ecsoma, bersifat retractile dengan tubuh.

  • Sucker berkembang baik; acetabulum lebih prominent dari pada sucker


Slide54 l.jpg

  • Faring pendek

  • Caecum panjang dan mencapai ujung posterior tubuh

  • Testes ovoid terletak tandem atau diagonal, setengah bagian tubuh bagian posterior/anterior.

  • Ovarium di bagian posterior testes


Slide55 l.jpg

  • Vitteline gland terdiri dari 2/3 massa compact, berlobi atau tubuler di bagian posterior ovarium

    -Uterus bercabang keatas dan kebawah sampai mencapai glandula vittelina

    • Ukuran telur :20 -30 X 21 – 45 μ, dilengkapi filamen


Slide56 l.jpg

Siklus hidup :

  • Telur -----miracidium  sporokista redia---- cercaria tipe cystocerque, disebut cystophore.

  • cercaria----- metacercaria berbentuk kista dalam host atau plankton atau hidup bebas.


Klasifikasi taxonomi57 l.jpg

Klasifikasi/Taxonomi

Phyllum: Platyhelminthes

Class: Trematoda Digenea

Ordo: Strigeida

Family: Hemiuroidaedae

Genus: Hemiurus

Spesies: Hemiurus appendiculatus


Slide58 l.jpg

Hemiurus sp.


Allocreadium isoporum l.jpg

Allocreadium isoporum

  • Habitat :

  • usus dan lambung ikan air tawar (ikan lele, ikan mas, ikan gurami, dan ikan nila


Klasifikasi taxonomy l.jpg

KLASIFIKASI/TAXONOMY

Phyllum: Platyhelminthes

Class: Trematoda Digenea

Ordo: Fasciolata

Family: Allocreadiidae

Genus: Allocreadium

Spesies: Allocreadium isoporum

Allocreadium angusticolle

Allocreadium transversale


Slide63 l.jpg

  • Patogenesis :

  • Peradangan dan luka pada usus

  • Infeksi berat dapat menyebabkan inflamasi otot dan luka yang meluas di permukaan tubuh

  • Pembengkakan perut

    Gejala Klinis :

  • Gerakan lamban--ikan mudah dimangsa

  • Keseimbangan tubuh terganggu

  • Infeksi berat--- kematian


Crepidostomum fariones l.jpg

Crepidostomum fariones

Crepidostomum fariones


Slide65 l.jpg

Crepidostomum


Klasifikasi taxonomi67 l.jpg

Klasifikasi/Taxonomi

Phyllm: Platyhelminthes

Classis: Trematoda

Ordo: Digenea

Familia: Allocreadiidae

Genus: Crepidostomum

Species: Crepidostomum fariones


Slide68 l.jpg

Morfologi :

  • Cacing dewasa ovoid memanjang

  • Ukuran panjang 1 – 2 mm

  • Mempunyai 2 – 6 papillae di bagian antero-dorsal

  • Oral sucker dibagian terminal dan ventral sucker di pertengahan bagian tubuhnya

  • Faring berkembang baik dan esofagus pendek

  • Testis terletak tandem di pertengahan tubuh

  • Ovarium di bagian anterior testes


Slide69 l.jpg

Siklus Hidup :

IH I: Lymnaea snail dan dan IH II : Crustacea,

water fly

Telur menetas- miracidium- penetrasi Lymnaea--- sporokista-- redia-- cercaria--penetrasi crustacea --metacercaria


Slide70 l.jpg

Habitat : usus ikan salmon, Cyprinids(ikan mas), catfish (ikan lele) dan ikan air tawar

Patogenesis :

❐Pada infeksi berat dapat

menyebabkan inflamasi berat

intestinal dan kematian, disebabkan

karena lesi dari Enteritis

Catharalis Diffuse.


Slide71 l.jpg

Gejala Klinis :

  • Dapat menyebabkan kekurusan

    karena nafsu makan menurun

  • Infeksi berat- kematian

  • Hematocrit & Haemoglobin rendah


Slide72 l.jpg

Diagnosis :

  • Gejala klinis

  • Pemeriksaan feses

  • Uji laboratorium/tes hematokrit

  • Biopsi/seksi


Slide73 l.jpg

Kontrol :

  • Pemberian Anthelminthics pada ikan yang terinfeksi : Bithionol, Oxyclozanide, Benzimidazole groups

    2. Pemberian molluscida , menebar kapur atau chloride pada kolam untuk membasmi mollusca


Gyliaucheniasis l.jpg

Gyliaucheniasis

  • Penyebab: Gyliauchen sp

  • Habitat cacing dewasa : usus halus

  • Hospes definitif: Ikan kerapu (Epinephelus sp) dan ikan baronang (Siganus fuscencens)

  • Distribusi : Perairan Sulawesi


Slide75 l.jpg

  • Morfologi:

  • Bentuk tubuh ovoid, ukuran 2,55-2,64 x 0,80-0,85 mm

  • Mempunyai acetabulum > oral sucker


Klasifikasi taxonomi78 l.jpg

Klasifikasi/Taxonomi

  • Phylum: Platyhelminthes

  • Classis: Trematoda

  • Ordo: Digenea

  • Familia: Gyliauchenidae

  • Genus: Gyliauchen

  • Species: Gyliauchen sp


Slide79 l.jpg

  • Gejala klinis :

  • Penurunan berat badan

  • Nekrosis dan radang jaringan usus

  • Stress

  • Pengendalian penyakit:

  • Pengobatannya sulit

  • Di China : di-n-butyl tin oxyde, dosis 3% dari BB dicampur dalam pakan

  • Disarankan lebih menjaga proses budidaya agar terhindar infeksi parasit tersebut


Gauhatianiasis l.jpg

Gauhatianiasis

  • Penyebab: Gauhatiana batrachii

  • Habitat cacing dewasa : usus halus

  • Hospes definitif: ikan kerapu (Epinephelus sp) dan ikan lele(Clarias batrachus)

  • Distribusi :Perairan Sulawesi


Klasifikasi taxonomi81 l.jpg

Klasifikasi/Taxonomi

  • Phyllum: Platyhelminthes

  • Class: Trematoda

  • Ordo: Digenea

  • Family: Macroderoididae

  • Genus: Gauhatiana

  • Spesies: Gauhatiana batrachii


Slide82 l.jpg

  • Morfologi :

  • Bentuk tubuh ovoid, ukuran 0,81-1,52

  • X 0,35-0,50 mm

  • Ukuran Acetabulum = oral sucker


Slide85 l.jpg

Gejala Klinis:

  • Penurunan berat badan

  • Nekrosis dan radang jaringan usus

  • Stress

    Pengendalian penyakit:

  • Pengobatannya sulit

  • Di China : di-n-butyl tin oxyde, dosis 3% dari BB dicampur dalam pakan

  • Disarankan lebih menjaga proses budidaya agar terhindar infeksi parasit tersebut


Pseudometadeniasis l.jpg

Pseudometadeniasis

  • Penyebab: Pseudometadena sp

  • Habitat cacing dewasa : usus halus

  • Hospes definitif: Ikan kakap (Lates calcalifer)

  • Distribusi : Perairan sumbawa dan Sulawesi


Slide87 l.jpg

Lates calcalifer (ikan kakap)


Slide88 l.jpg

  • Pseudometadena


Klasifikasi taxonomi89 l.jpg

Klasifikasi/Taxonomi

  • Phyllum: Platyhelminthes

  • Class: Trematoda

  • Ordo: Digenea

  • Family: Cryptogonimidae

  • Genus: Pseudometadena

  • Spesies: Pseudometadena sp


Slide90 l.jpg

Gejala Klinis:

  • Penurunan berat badan

  • Nekrosis dan radang jaringan usus

  • Stress

    Pengendalian penyakit:

  • Pengobatan dapat dilakukan dengan CuSO4 0,7 ppm 2 kali 24 jam

  • Disarankan lebih menjaga proses budidaya agar terhindar infeksi parasit tersebut


Opegasteriasis l.jpg

Opegasteriasis

  • Penyebab: Opegaster sp

  • Habitat cacing dewasa : usus halus

  • Hospes definitif: ikan tawes (Puntius javonicus) dan ikan lele(Clarias batrachus)

  • Distribusi : Danau Buyan Buleleng Bali


Klasifikasi taxonomi92 l.jpg

Klasifikasi/Taxonomi

  • Phyllum: Platyhelminthes

  • Class: Trematoda

  • Ordo: Digenea

  • Family: Opecoelidae

  • Genus: Opegaster

  • Spesies: Opegaster sp


Slide93 l.jpg

Morfologi :

  • Tubuh bulat panjang, bagian posterior bulat dan anterior lonjong.

  • Oral sucker berkembang baik

  • Panjang acetabulum 2 kali > oral sucker


Slide94 l.jpg

  • Opegaster


Slide95 l.jpg

  • Gejala Klinis:

  • Penurunan berat badan

  • Terjadi kerusakan atau radang jaringan usus

  • Stress

  • Pengendalian penyakit:

  • Pengobatan dapat dilakukan dengan CuSO4 0,7 ppm 2 kali 24 jam

  • Disarankan lebih menjaga proses budidaya agar terhindar infeksi parasit tersebut


Digenea dalam sistem peredaran darah circulatory system l.jpg

DIGENEA DALAM SISTEM PEREDARAN DARAH/CIRCULATORY SYSTEM

Genus :Sanguinicola

Spesies : S inermis

  • Habitat : pembuluh darah terutama Bulbus arteriosis, pembuluh darah insang dan ginjal.


Slide97 l.jpg

Sanguinicola


Slide98 l.jpg

  • Morfologi :

  • Ukuran panjang 1 mm X 300 μ

  • Intestine pendek berbentuk huruf X dengan 4-5 lobus

  • Testis membentuk 2 deretan longitudinal

  • Uterus terdiri dari 2 lobi berbentuk seperti kupu-kupu, hanya mengandung satu telur yang berukuran 30-70 x 30-35 μm


Slide99 l.jpg

Sanguinicola sp.


Slide100 l.jpg

Furcocercaria

Sanguinicola sp.


Slide101 l.jpg

Siklus Hidup :

  • Telur -menetas menjadi miracidium- inang perantara Lymnea- sporokista-- redia->.cercaria disebut cercaria cristata berekor bercabang =furco-lopocerque---penetrasi hospes definitif melalui par enteral perforasi epitel branchial--vena branchial- cacing dewasa di tempat predileksinya

  • Waktu yang dibutuhkan mencapai stadium dewasa 4 bulan


Slide102 l.jpg

Gejala Klinis :

  • Infeksi berat --- menyumbat pembuluh darah insang -- sesak nafas.

  • Gumpalan2 telur dapat terbawa aliran darah----- ginjal------ membentuk kista

  • Infeksi berat dapat menyebabkan kematian tanpa diserta gejala klinis


Slide103 l.jpg

Diagnosis :

Bentuk sub akut dapat dikenali adanya granuloma branchial nampak jelas, sedang bentuk kronis tidak nampak secara klinis.

Kontrol :

  • Membasmi siput dengan menebarkan kapur kedalam kolam atau Baylusid dengan dosis 0,5 mg/l air yang dimasukkan kedalam kolam sebelum memasukkan ikan kedalam kolam.


Clonorchis sinensis opisthorchis sinensis l.jpg

Clonorchis sinensis= Opisthorchis sinensis

  • Sering disebut Oriental/Chinese Liver Fluke

  • Cacing dewasa mempunyai habitat saluran empedu, kadang2 saluran pankreas dan duodenum.

  • Cacing ini bersifat zoonosis

  • Hospes definitif :

  • Manusia, anjing, kucing, babi dan mamalia pemakan ikan


Slide106 l.jpg

Clonorchis sinensis


Slide107 l.jpg

CERCARIA

TELUR/EGG


Slide108 l.jpg

  • Morfologi :

  • Pipih dan berukuran 25 x 5 mm, transparan

  • Tubuh posterior melebar dan anterior meruncing

  • Testes bercabang

  • Kutikula berduri pada yang muda dan yang dewasa halus

  • Telur berukuran 27 -35 x 12 – 20 μ berdinding tebal berwarna coklat muda, mempunyai operculum


Slide109 l.jpg

Metacercaria Clonorchis


Slide110 l.jpg

Sikilus Hidup :

  • Inang perantara I : siput dari genus Bithynia

  • Inang perantara II : ikan air tawar


Slide111 l.jpg

Siklus Hidup :

  • Telur yang dikeluarkan inang definitif menetas miracidium---IP I siput- sporokista-> redia-- cercaria-- keluar tubuh siput berenang dan penetrasi secara aktif melalui kulit/otot ikan (I.H. II)- metacercaria--- infektif.


Heteropyes heteropyes l.jpg

Heteropyes heteropyes

  • Habitat: usus halus

  • Inang definitif:Anjing, kucing, manusia

  • Cacing ini bersifat zoonosis


Slide114 l.jpg

Morfologi :

  • Ukuran 1 – 1,7 x 0,3 – 0,7 mm

  • Bagian posterior lebih lebar dari pada anterior

  • Ventral sucker terletak di bagian tengah tubuh

  • Testes oval dan terletak horizontal

  • Telur berdinding tebal berwarna coklat dilengkapi dengan operculum, ukuran 26 – 30 x 15 – 17 μm


Slide115 l.jpg

Heteropyes heteropyes


Slide116 l.jpg

Heteropyes egg


Slide117 l.jpg

  • Siklus hidup :

  • Inang perantara I : siput Certhidiacingulata

  • Inang perantara II : ikan

  • Final host terinfeksi karena memakan ikan yang kurang masak/mentah


Paragonimus westermanii l.jpg

Paragonimus westermanii

  • Merupakan cacing paru-paru, disebut Lung Fluke

  • Habitat: paru-paru, kadang-kadang pada otak, spinal cord dan organ-

    organ lain.

  • Cacing ini bersifat zoonosis

  • Inang definitif : anjing, kucing, babi, carnivora, sapi, kambing dan manusia


Slide119 l.jpg

Morfologi :

Bentuk seperti biji kopi, ukuran 7,5 – 16x 4 – 8 mm, berwarna merah

kecoklatan

Kutikula berduri

Vittelaria berlimpah warna coklat, uterus berkelok-kelok berisi telur berwarna coklat

Oral sucker sedikit lebih besar dari pada ventral sucker


Slide120 l.jpg

Paragonimus westermanii


Slide122 l.jpg

Paragonimus egg


Slide123 l.jpg

  • Faring berotot dan esofagus pendek

  • Caecum memanjang ke ujung posterior tubuh.

  • Testes berlobi diantara ventral sucker dan ujung posterior tubuh


Slide124 l.jpg

  • Ovarium besar bentuk tidak teratur, sebelah kiri sedikit di belakang ventral sucker

  • Uterus terletak berlawanan dengan ovarium

  • Telur berukuran 75 – 118 x 42 -67 μ, kuning kecoklatan, ovoid mempunyai operculum, dinding lebih tebal pada kutub lainnya


Slide127 l.jpg

  • Siklus hidup:

  • Telur---miracidium -- IP I siput air dan siput amfibius :Thiara, Semisulcospira, Bithynella dan Oncomelania.---- sporokista---- redia --- cercaria--- berenang dan mencari IP II : kepiting dan udang ---------- penetrasi------------ metacercaria.


Slide128 l.jpg

  • Final host terinfeksi karena termakannya kepiting/udang yang kurang masak.


Fasciolopsiasis l.jpg

FASCIOLOPSIASIS

CAUSA : Fasciolopsis buski= Distomum crassum = The Giant Intestinal Fluke

Sejarah dan Distribusi Parasit :

I Ditemukan Busk 1843 dalam duodenum pelaut yang meninggal di London.

Parasit pada manusiadan babi di China Selatan dan Tengah, Taiwan, Vietnam, Thailand, Borneo, Sumatra.

Di Canton, China kadang2 menginfeksi anjing, dan kelinci resisten thd parasit tsb.


Slide130 l.jpg

Morfologi dan Biologi Parasit :* Bentuk ovoid memanjang* Ukuran : 20-75x 4-20 mm* Tegumen berspina* Siklus hidup mirip dengan F hepatica* Cacing dewasa menempel pada dinding duodenum dan jejunum. Kadang2 di colon dan pylorus


Slide132 l.jpg

Telur F buski


Slide133 l.jpg

Cercaria


Slide135 l.jpg

EPIDEMIOLOGY :Fasciolopsis buski : endemik di China, Taiwan, South-East Asia, Indonesia, Malaysia and India.PENULARAN :Infeksi terjadi karena mengkonsumsi tanaman air, sayur yang tidak dimasakyang terkontaminasi metacercaria


  • Login